Treat You Better

Treat You Better
Perpustakaan



Jangan lupa meninggalkan jejak ya!😘


.


.


.


.


.


.


"Kau kenapa?" tanya Izzy yang sedari tadi melihat keresahan Abbie.


"Aku dan si kampungan itu dipilih kepala sekolah untuk mewakili sekolah kita mengikuti Science Olympic dan ka-.." penjelasannya tertunda karena langsung dipotong oleh Izzy.


"Si kampungan? Siapa maksudmu? Si culun itu?" tanya Izzy bertubi-tubi.


"Memangnya siapa lagi yang kampungan di sini?" ketusnya karena sudah kesal.


"Terus?"


"Si anjing rabies itu yang jadi pembimbing...!"


"Astaga, Abbie. Siapa lagi yang kau juluki anjing rabies itu?"


"El Asesino itu"


"What?" Izzy terbelalak. Abbie memgangguk.


"Dia seperti anjing rabies saja tadi waktu kami masuk ke ruangan kepala sekolah. Aku baru melihatnya tersenyum setelah sekian lama. Sebuah Senyuman devil," gumamnya di akhir.


"Apa kau sudah mengerjakan tugas Matematika dari Ms. Grazie kemarin?" tanya Izzy ketika Abbie tak lagi menanggapi pertanyaannya yang lain. Abbie mengangguk. "Copy, ya?" mintanya sambil menyengir. Abbi mendengus namun tak urung dia juga menyodorkan buku tugasnya kepada Izzy.


Beginilah kebiasaan Izzy, selalu meminta jawaban dari Abbie kalau ada tugas pelajaran Matematika. Otaknya yang sedikit lemah di pelajaran itu membuatnya kurang menyukai pelajaran tersebut.


"Kebiasaan," gumam Abbie.


"Aku bisa mendengarkanmu,"


Cih...


Dasar.


"Cepatlah! Sebentar lagi Mr. Valentio masuk,"


"Iya. Kau tambah cerewet saja setiap harinya," kata Izzy sambil menyalin jawaban dari buku Abbie.


"Aku tahu," sambungnya judes.


"Menyebalkan!"


Benar yang dikatakan Abbie, tak lama kemudian muncullah Mr. Valentio di ambang pintu yang disambut dengan salam selamat pagi dari murid di kelas itu.


Pelajaran Mr. Valentio pagi itu tak terasa telah berakhir. Abbie yang tidak terlalu fokus akibat memikirkan bagaimana harinya kedepan bersama si anjing rabies dan si kampungan sontak terkejut ketika Izzy menepuk bahunya keras.


"Hei...Apa yang kau pikirkan? Aku berbicara panjang lebar sejak tadi tapi kau tampak tak menghiraukanku," tanya Izzy dengan nada sedikit keras.


"Ma...maaf!"


"Memangnya apa yang kau bicarakan?" tanyanya ingin tahu karena tak mendengarkan Izzy tadi.


Sumpah. Ia merasa bersalah sekarang. Gara-gara si kampungan dan anjing rabies itu yang selalu membuatku kesal, aku jadi begini.


"Lihatlah! Kau mulai melamun lagi."


Abbie terkekeh pelan memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


*****


Setelah bel berbunyi menandakan waktu istirahat, semua murid segera berhamburan keluar kelas. Ada yang menuju kantin, adapula yang menuju perpustakaan sekolah.


Seperti biasanya, Charles segera menuju perpustakaan tempatnya menghabiskan waktu istirahat. Menurutnya, menghabiskan waktu di sana lebih bermanfaat daripada menghamburkan uang di kantin demi makanan mewah yang tentu harganya juga selangit. Ia harus menyisipkan sebagian uang sakunya di agar tidak terlalu merepotkan ibunya yang bersusah payah membiayai sekolahnya. Setelah menemukan buku yang dicarinya, ia berjalan pelan ke arah pojok ruangan tersebut agar tidak mengganggu teman-temannya yang lain.


Abbie yang masih merasa kesal tidak mempunyai selera makan lagi sekarang. Ia berpikir dengan belajar dapat menghilangkan kekesalannya. Segera ia meluncur ke perpustakaan sekolah demi menghilangkan rasa bosannya yang sedari tadi hanya berdiam diri di kelas. Temannya, Izzy, tengah menikmati makan siangnya di kantin dan meninggalkannya sendirian di kelas. Ia menolak ketika diajak pergi bersama.


Sesampai di sana, ia linglung. Saking banyaknya lemari buku di sana, ia bingung harus mencari buku yang ia maksud di tempat mana. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia mendekati seseorang yang duduk sendirian di pojok.


"Hei!" sapanya pelan karena takut mengganggu.


Sekali. Dua kali. Tapi orang yang dipanggilnya tidak menyahut. Ia kesal lagi.


"Apa dia tuli? Tapi, setahuku tidak ada siswa penderita tuna rungu di sini" gumamnya sambil berjalan mendekat.


Ditariknya kasar buku yang menghalangi wajah siswa itu, dan alangkah terkejutnya dia karena ternyata orang itu adalah si kampungan yang dikatainya bodoh tadi. Orang yang menjadi alasan berubahnya mood nya.


"Apa?" tanya Charles bingung karena Abbie menarik bukunya.


"Maaf. Bisakah kau membantuku mencari rak novel? Aku mencarinya sejak tadi tapi tidak ku temukan." ujarnya sedikit ragu.


"Lagipula, kenapa kau membaca novel? Harusnya kau fokus pada mata pelajaran Science 'kan?"


Cih.


Untuk apa kau mengaturku? Terserah aku mau apa.


Ehh...Tunggu dulu. Sepertinya dia sedikit kesal. Ada bagusnya juga. Baru kali ini aku melihat ekspresinya yang lain selain senyum membosankannya ketika dikatai. Aku akan membuatmu kesal setengah mati, culun.


Lihatlah pipinya yang mengembung itu. Sudah seperti roti isi yang ada di toko roti di seberang jalan sana saja. Sungguh menggemaskan. Ingin kucubit saja Akhh...tidak, tidak. Apa kau sudah gila Abbie? Apa yang kau pikirkan tadi?


Ia menepuk pipinya sendiri untuk menyadarkannya agar tidak memikirkan hal-hal aneh.


"Hei...Kau kenapa? Kau menjadi aneh. Apa yang kau pikirkan?" tanya Charles ketika tidak mendapat jawaban Abbie tadi, malah ia melihat Abbie tersenyum sendiri dengan pipi memerah.


"Tidak ada."


"Kau bilang tidak ada yang kau pikirkan, tapi lihatlah pipimu memerah," sambil menunjuk pipi Abbie.


Charlie tersenyum aneh. Ia mulai menerka apa yang dipikirkan Abbie.


"Hei...Apa kau berpikiran mesum?"


"Apa? Kau..." ia melotot dengan sedikit berteriak.


Sontak Charles membekap mulutnya dan tersenyum kecil kepada teman-temannya yang terusik oleh suara Abbie tadi. Ia meminta maaf dengan membungkukkan badannya.


"Ini perpustakaan. Jangan berisik!" bisiknya.


"Kau yang memulai."


"Aku tahu. Maaf!"


Sial.


Dia minta maaf? Padahal jelas-jelas aku yang salah. Dasar si culun kampungan.


"Baca yang ini saja!" kata Charles sambil memberikan sebuah buku dengan tulisan di covernya Solusi Eksklusif Materi Sulit.


Apa-apaan ini. Kesal hampir saja melemparkan buku itu ke lantai. Namun, tangannya dicekal oleh Charles.


Kalau saja ini bukan di perpustakaan yang dihuni oleh manusia-manusia yang tak bersuara, sudah pasti dia akan berteriak dan menendang tulang kering si kampungan di depannya itu.


"Ayo keluar!" ajak Charles sambil menarik tangan Abbie ke luar.


Heii....Kau memegang tanganku, br*ngs*k!


Ia segera melepaskan cekalan tangan Charles dan menghempaskannya begitu saja.


"Beraninya kau menarik tanganku, sial*n,"


"Maaf, aku sungguh tidak sengaja. Apa kau membawa Library Cardmu?"


Abbie menggeleng. Setelah itu, Charles meninggalkannya berdiri mematung di depan pintu sedangkan cowok itu masuk kembali ke dalam ruangan itu tanpa Abbie tahu tujuannya apa. Tak lama kemudian, Ia kembali.


"Aku sudah meminjamkan buku itu untukmu atas namaku. Kalau nanti kau selesai dengan soal-soal itu, beritahu aku supaya aku mengembalikannya," sahut Charles. Abbie mengangguk.


Jadi, dia tadi meminjamkan buku ini untukku?


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah membaca!😘


.


.


.


.


.


.


Love,


Xie Lu♡