
Adira memicingkan mata saat merasakan sinar matahari masuk sampai retinanya. Adira sayup-sayup mendengar kicauan burung dari luar kamar. Saat ingin duduk, Adira merasakan ada tangan kokoh yang melingkar di atas perutnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan suaminya.
Adira menyingkirkan tangan Tristan dengan pelan agar tidak membangunkan tidur nyenyak suaminya. Adira mencari-cari pakaiannya yang sejak semalam sudah teronggok tak berdaya di lantai. Namun setelah berperang dengan batinnya, tidak mungkin Adira mengenakan baju dinasnya lagi.
Akhirnya, Adira memilih mengambil kemeja Tristan untuk dia kenakan. Kemeja yang panjangnya hanya sampai pertengahan paha. Adira segera membuka gorden yang menutupi pintu dan juga kaca yang menghubungkan dengan balkon.
Adira menggeliat dan merentangkan kedua tangannya. Bibirnya sudah terangkat membentuk bukan sabit. Suasana pagi yang menenangkan. Apalagi suara deburan ombak dari laut membuat suasana semakin menenangkan.
Tristan yang mulai sadar bahwa gulingnya sudah tidak ada, dia segera membuka matanya untuk mencari istrinya. Tristan tersenyum saat melihat Adira sudah berdiri menatap pemandangan luar. Tanpa suara, Tristan beranjak dari ranjang dan berjalan mengendap-endap menghampiri Adira.
Greb.
Tristan langsung memeluk Adira dari belakang. “Ini masih pagi dan kamu sudah berpakaian minim seperti ini. Kamu bukan hanya membangunkan aku, tapi juga membangunkan adik kecilku,” ucap Tristan lembut dan sangat dekat. Bahkan, Adira sampai bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Tristan yang menyapu tengkuknya.
Adira tersenyum malu-malu, pipinya sudah terasa panas karena bersemu merah. “Kita mandi dulu, terus sarapan ya?” ucap Adira bermaksud negosiasi.
Tristan mengangkat satu alisnya dan tersenyum miring. Kemudian Tristan menjawab. “Kamu lagi nggak bermaksud mengajak suamimu ini mandi bareng kan, Sayang?” Posisi Tristan masih berada di belakang. tubuh Adira.
Adira langsung berbalik dan melepaskan diri dari pelukan suaminya. Kemudian, dia berjalan menuju kamar mandi dengan gaya yang sensual. Tristan sampai geleng-geleng kepala dan tersenyum lebar melihat tingkah istrinya.
Tanpa di duga, setelah berada di depan pintu yang menghubungkan dengan balkon dan kolam renang, Adira melepaskan semua kain yang melekat pada tubuhnya. Tristan menatap penuh puja pada keindahan yang berada di depannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Tristan juga melepaskan semua kain yang melekat pada tubuhnya dan menyusul Adira.
Memang, pagi tadi saat bangun untuk sholat, keduanya sudah mandi. Namun karena air di dalam kolam renang terlihat begitu menggoda, Adira akhirnya memilih untuk menyeburkan dirinya di dalam kolam renang itu.
Byur.
Adira sudah masuk ke dalam kolam renang yang airnya terasa dingin menusuk kulit sampai ke tulang. Tapi Adira sangat menyukainya karena terasa sejuk dan segar.
Byur.
Tristan juga ikut masuk ke dalam kolam renang yang airnya dingin itu. Keduanya saling pandang dan tersenyum melihat tingkah masing-masing yang layaknya anak remaja yang sedang di mabuk cinta.
“Habis ini, aku pengen jalan-jalan, Mas. Bawa aku pergi ya,” ucap Adira yang sebenarnya memerintah. Tristan tersenyum smirk dan berucap. “Kasih amunisi dulu. Baru kita keluar buat jalan-jalan,” sambil Tristan berjalan mendekati Adira.
Adira bergidik ngeri mendengar kata amunisi yang suaminya katakan. Pikiran suaminya sejak memang tidak pernah jauh-jauh dari kemesuman. “Kan semalam udah lima kali, masa mau lagi sih?” Adira berucap sedikit merengek karena tubuhnya sudah sangat lelah akibat permainan suaminya tadi malam.
Tristan tersenyum meledek dan mengangkat satu alisnya. “Siapa juga yang minta lagi. Aku hanya ingin di kasih ciuman mesra. Apa sebenarnya kamu yang mau lagi ya?” tanya Tristan dengan maksud menggodai.
Tristan langsung tergelak saat menyadari Adira sedang menghindari topik pembicaraan keduanya.
*
Setelah pulang sekolah, Echa dan Aarav langsung mandi tanpa bantuan baby sisternya. Mereka sudah bisa mandiri yaitu mandi sendiri. Mereka juga sudah bisa memakai bajunya sendiri tanpa bantuan orang dewasa.
Itulah sebabnya Adira yakin-yakin saja menitipkan kedua anaknya pada sang mama. Keduanya sudah bisa melakukan semuanya sendiri termasuk makan pun sendiri.
“Echa sama Aarav mamam dulu, Sayang. Habis itu boleh telepon ayah sama bunda,” pekik bu Siska saat tak kunjung melihat kedua cucunya itu. Siang itu, Bu Siska yang bertugas menjemput cucu-cucunya dari sekolah. Sedangkan untuk yang mengantar, Bu Dewi yang melakukannya.
Bu Dewi dan Bu Siska bergantian mengurusi cucunya karena mereka juga punya kesibukan. Tapi di samping itu, mereka merasa senang bisa menjaga cucunya secara langsung. Merawat dan menjaga cucunya merupakan kegiatan baru yang sangat mereka gemari. Pasalnya, saat Adira dan Tristan berada di rumah, mereka tidak bisa mengurusi cucunya dengan penuh.
Tidak berapa lama, Echa dan Aarav muncul dan sedang berjalan mendekati meja makan. “Beneran ya, Oma. Habis makan kita bisa telepon ayah dan bunda,” ucap Aarav seperti membuat janji.
Bu Siska yang paham akan sifat Aarav yang sangat hati-hati dan tidak mau di tipu pun tersenyum dan mengangguk. “Iya, Oma janji bakal kasih HP Oma buat telepon ayah bunda,” jawab bu Siska bersungguh-sungguh.
Setelah itu, Aarav dan Echa makan dengan sangat lahap karena sebentar lagi akan menelepon ayah dan bundanya. Mereka menghabiskan makan siang mereka lebih cepat dari biasanya.
Setelah meletakkan sendok di atas piring yang sudah kosong, Aarav bergegas lari mendekati Oma Siska yang sedang duduk di sofa yang terletak di ruang tengah. Echa yang juga sudah selesai makan, dia mengikuti Aarav dari belakang.
Baru di tinggal dua hari oleh kedua orang tuanya, Aarav dan Echa sudah sangat merindukan mereka yang sedang pergi keluar pulau.
“Oma, mana HP,nya? Katanya mau telepon ayah sama bunda,” ucap Aarav saat sudah berada di dekat bu Siska. Bu Siska yang sedang menonton televisi yang menayangkan acara gosip terkini tentang kehidupan para artis di Indonesia, dia langsung menoleh dan melihat Aarav serta Echa sudah menengadahkan tangannya. Bermaksud meminta ponsel.
Bu Siska terkekeh geli dan segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian dia mencari nama Tristan untuk menghubunginya.
Tut. Tut. Tut.
Sudah dering ketiga namun Tristan yang berada di seberang sana belum ada tanda-tanda akan menerima panggilannya. Bu Siska merasa tidak enak hati kepada kedua cucunya itu.
Bu Siska mencoba menghubungi Tristan lagi saat panggilan pertamanya tidak terjawab berharap, panggilannya yang kedua akan segera di jawab oleh Tristan. namun hingga bunyi dering yang kelima, Tristan belum juga menerima telepon darinya.
Bu Siska beralih menatap Echa dan Aarav yang sedang menunggunya dengan tatapan penuh harap. "Sebentar ya ... Oma coba hubungi nomor bunda. siapa HP ayah lagi di silent, jadi nggak denger telepon dari Oma," Bu Siska berucap demikian untuk menenangkan hati para cucunya. Dia tidak ingin cucu-cucunya merasa kecewa.
"Nanti aja, Oma. mungkin ayah sama bunda lagi bikin adek baru buat kita," ucap Echa dengan polosnya. Bu Siska hanya bisa membulatkan mata tak percaya dengan ucapan anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun itu.
Aarav mengangguk dan tersenyum penuh maksud untuk menanggapi ucapan kakaknya. Namun sedetik kemudian, Aarav dan Echa ber high five dan berhasil membuat bu Siska semakin tidak mengerti dengan maksud kedua cucunya itu.