Treat You Better

Treat You Better
137. Bismillah cinta



Setelah berenang, Adira dan Tristan pergi makan malam di rumah makan yang berada di Resort. Banyak sekali makanan yang di sajikan di sini. Tentunya tidak jauh-jauh dari laut, yaitu seafood. Seperti kepiting, udang, cumi-cumi, ikan, bahkan ada juga olahan gurita yang berada di list menu makanan.


Di restoran tersebut juga terdapat makanan seperti nasi goreng, mie goreng, mie kuah, dan berbagai macam makanan lain yang bisa di temui oleh banyak orang. Hanya saja, di restoran tersebut, semua dicampur dengan makanan laut. Identik sekali dengan lingkungan sekitar.


Setelah melihat buku menu, Adira akhirnya memilih memesan nasi goreng seafood dan satu gelas teh hangat. Sedangkan Tristan, dia memesan kepiting asap, dan juga udang. Makanan yang tidak pernah Tristan lupakan saat makan di restoran. Untuk minumannya, Tristan juga memesan teh hangat sama seperti Adira.


Tujuannya adalah, agar suhu tubuhnya hangat kembali karena terlalu lama berenang tadi.


Setelah memesannya pada waiter, Adira mengedarkan pandangan menatap desain interior restoran tersebut. “Nyaman ya, Mas. Bisa nggak pulang kalau duduk di tempat begini,” ucap Adira memuji desain interior restoran tersebut.


Tristan tersenyum manis dan mengangguk, ucapan Adira memang benar. Dirinya juga merasa betah berada di tempat makan seperti ini. Karena mereka bisa melihat langsung pemandangan pantai yang menampakkan matahari tenggelam di barat. Sangat indah dan menenangkan jiwa.


“Harus balik ke resort dong. Kalau nggak, bagaimana dengan niat awal kita ke sini?” tanya Tristan sambil alisnya naik turun menatap Adira. Adira memutar bola matanya jengah, bibirnya sudah mencebik kesal karena suaminya itu tidak pernah lupa sedetik saja dengan kegiatan yang harus mereka lakukan. Kegiatan yang sudah berlabel ‘wajib’ Karena merupakan tujuan awal mereka.


“Kan harus isi tenaga dulu, Mas sayang ... Kalau enggak ada tenaga, gimana kita mau lakuinnya,” Adira bersuara yang sebenarnya menyuarakan isi perutnya. Ya, perutnya sejak tadi sudah meronta meminta jatahnya. Apalagi, wangi-wangi masakan begitu semerbak masuk ke dalam indera penciuman Adira. Hal itu semakin menambah getar-getar cinta, eh kok getar cinta? Getar-getar lapar maksudnya.


Tristan tersenyum manis dan tangannya bergerak untuk memegang tangan istrinya. “Kamu beneran pengen hamil lagi? Jangan salah paham dulu ya ... Aku tanya begini karena nggak mau kalau kamu sampai tertekan,” Tristan berucap sangat lembut agar tidak menyinggung perasaan Adira.


Tangan Adira terangkat untuk membalas pegangan tangan Tristan. Telapak tangannya Adira tempelkan pada punggung tangan Tristan yang sedang memegang tangannya.


Adira mengukir senyum manisnya menatap Tristan. Adira lalu menjawab. “ Aku memang pengen hamil lagi. Mumpung anak-anak masih umur segituan. Aku pengen punya satu anak perempuan lagi seperti Echa,” Adira sudah tersenyum sambil membayangkan memiliki anak perempuan lagi.


Pasti, rumahnya yang cukup besar itu akan terasa lebih ramai. Adira ingin rumahnya selalu ramai di penuhi anak-anak mereka. Karena tidak ada kebahagiaan yang hakiki selain melihat keriuhan dan keramaian keluarga sendiri.


Tristan langsung mencium punggung tangan Adira untuk mengungkapkan rasa terima kasih padanya. Tristan berterima kasih karena Adira mau menjadi ibu dari anak-anaknya. Sesuatu yang harus melewati banyak usaha dan doa. Adira telah menjadi ibu dan istri yang sangat baik menurut Tristan. Adira mengurus semuanya dengan sangat baik.


“Terima kasih ya, Sayang. Aku merasa beruntung bisa menjadi suami kamu dan juga ayah dari anak-anak kita,”


Momen romantis itu tiba-tiba harus terpotong karena ada waiters yang membawakan pesanan mereka. Adira merasa sedang memerankan adegan romantis dan dipotong oleh sutradara.


“Cut! Cut!” ucap Adira terkikik geli karena kepergok sedang cinta-cintaan dengan suaminya. Tristan pun tergelak melihat wajah Adira yang merasa lucu dan juga malu bersamaan.


Sedangkan waiters yang mengantarkan makanan, dia mengulum senyumnya karena mendengar ucapan sepasang suami istri yang sedang bermesraan itu.


“Maaf mengganggu, Pak, Bu. Saya mau antarkan pesanannya,” ucap waiters meminta izin.


Adira langsung mempersilahkan waiters untuk menata makanan di atas mejanya. Setelah semua pesanan lengkap, sang waiters berkata. “Silakan di lanjut lagi romantis-romantisannya,”


Adira tersenyum malu dan mempersilahkan waiters untuk dari meja mereka. Setelah itu, keduanya langsung menyantap makanan yang masih hangat agar lebih nikmat rasanya.


Mereka makan dalam diam menikmati hidangan yang begitu nendang di lidah masing-masing.


Akhirnya makanan mereka habis. Setelah membayarnya, mereka memilih kembali lagi ke Resort karena tidak tahan dengan udara malam yang terasa dingin menusuk kulit.


Keduanya sama-sama lupa untuk membawa jaket. Saat sudah sampai di Resort, Tristan segera mengajak Adira untuk melaksanakan salat isya berjamaah.


“Allahuakbar,”


Tristan membaca takbir untuk mengawali salatnya yang diikuti oleh Adira. Tristan membaca surat-surat pendek dalam salatnya.


Sekitar sepuluh menit, salat mereka sudah sampai di penghujung dengan tanda terima mengucapkan kalimat salam, “Assalamualaikumwarohmatullah.”


“Assalamualaikumwarohmatullah.”


Adira langsung mencium punggung tangan Tristan setelah salam. Kemudian, Adira membaca beberapa surat pendek sebelum berdoa kepada Allah SWT.


Adira segera memanjatkan doa kepada Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta. Banyak sekali doa yang Adira panjatkan. Intinya, Adira memohon kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup dan matinya.


Doa yang selalu Adira panjatkan sehabis salat ditunaikan. Adira berharap, saat hidup dirinya bersama Tristan, saat sudah mati pun, Adira ingin pergi ke surganya Allah SWT bersama Tristan.


Setelah selesai, Adira tidak langsung melepas mukenanya. Dia duduk bersila sambil menatap suaminya dengan tersenyum bahagia.


Seketika lagu bismillah cinta yang di populerkan oleh Pasha ungu dan juga Lesti kejora terngiang-ngiang di pikiran Adira.


Adira sangat mengingat bait yang mewakili isi hatinya.


Bismillah cinta..


Percaya padaku percaya cinta..


Yakin kita bisa lalui semua..


Segala cobaan yang datang mendera..


Adira percaya Tristan dan dirinya pasti bisa melalui semua cobaan yang datang di kehidupan rumah tangga mereka.


"Adira? kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Tristan heran, dahinya sudah mengernyit bingung menatap Adira.


Adira langsung tersadar dari lamunan syahdunya dan menatap suaminya itu dengan kikuk. "Nggak papa, lagi bayangin aja, bila nanti kita masuk ke surga sama-sama," ucap Adira tidak sepenuhnya berbohong. Tangannya sudah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa salah tingkah.


Tidak mungkin jika Adira menceritakan lagu syahdu yang terngiang-ngiang di pikirannya hingga membuat Adira senyam -senyum sendiri.


Adira segera melepas mukena yang melekat pada tubuhnya. Kemudian dia melipat dan menaruhnya di atas meja.


Lagi-lagi suara Tristan mengagetkan Adira karena suaminya itu sudah berada di belakangnya dengan jarak yang sangat dekat.


"Kenapa?" tanya Adira sambil mengangkat dagunya.


"Pakai baju dinasnya ya, Sayang ...."