
Setelah menjelang sore, semua berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Adira dan Tristan mengantar mereka semua sampai depan pintu.
Keduanya melambaikan tangan saat mobil mereka melesat meninggalkan kediamannya.
Adira menatap Tristan yang sedang menatapnya dengan tatapan smirk.
Adira mengernyit bingung dan bertanya.
“Kenapa? Kok liatinnya gitu?” tanya Adira.
“Sekarang waktunya kamu buat aku,” ucap Tristan.
Lalu dia segera menggendong Adira ala bridal style menuju kamarnya.
Adira yang terkejut dengan perlakuan Tristan tiba-tiba, dia memekik kaget dan langsung mengalungkan tangannya di leher Tristan.
Sejak tadi, Adira selalu sibuk dengan yang lain dan tidak terlalu mengurusi Tristan.
Teh Ratih yang sedang membereskan gelas juga melihat kemesraan Tristan dan Adira.
Teh Ratih hanya bisa mengulum senyum.
Setelah sampai di depan kamarnya, Tristan segera membuka pintu dengan Adira masih berada di gendongannya.
Setelah masuk, Tristan segera menutup pintunya kembali dengan kakinya.
Tristan segera membawa Adira menuju ranjang dan menurunkan Adira dengan pelan.
Setelah itu, dirinya juga ikut berbaring dengan tubuh menghadap Adira sepenuhnya.
Salah satu tangannya menumpu kepala, sedangkan tangan lainnya Tristan gunakan untuk memeluk perut Adira.
Tristan mulai menciumi rahang hingga kuping Adira.
Adira hanya bisa pasrah menerima kenikmatan yang Tristan berikan.
Ciuman Tristan beralih ke bibir ranum milik Adira.
Dia menyesap dan menggigit pelan bibir Adira. Adira sampai mengaduh manja karena gigitan dari Tristan.
Gairahnya seakan terpancing, Adira segera membalas ciuman itu dengan agresif.
Tristan tersenyum di sela ciumannya. Dia menyukai Adira yang begitu agresif di atas ranjang dan bisa mengimbanginya.
Tanpa menunggu lama, Adira segera melepas semua yang melekat di tubuh Tristan.
Tristan sampai tertawa renyah melihat Adira yang sudah tidak sabar untuk mengunboxing dirinya.
Adira tidak peduli itu. Dia segera melancarkan aksinya.
Mungkin karena hormon kehamilannya, gairah Adira semakin meningkat.
Adira kembali menciumi bibir Tristan dengan agresif. Kemudian ciuman Adira turun ke leher Tristan.
Adira tergelak melihat tanda yang baru saja dia buat di leher Tristan.
Tristan tersenyum sambil geleng-geleng kepala karena tingkah Adira.
Sudah di pastikan besok saat di kantor, Tristan akan menjadi bahan ledekan papanya karena tanda merah di lehernya.
Tapi Tristan suka, bila Adira membuat tanda merah di lehernya.
Ciuman Adira semakin turun ke bawah, yaitu di perut Tristan.
Belum puas dengan kegiatannya, Tristan sudah membalikkan tubuhnya dari posisi di atas menjadi di bawah.
Tristan akan memulai permainan yang sesungguhnya.
..........
Di tempat lain, Vian dan Kinara sedang memilih cincin untuk pernikahan Mereka.
Mereka juga sudah bertunangan, namun dilakukan secara diam-diam.
Teman-temannya juga tidak ada yang tahu.
Seperti prinsip Azka dan Lidya, Kinara ingin menyontoh keduanya.
Mereka akan mengabari jika pesta pernikahannya sudah dekat.
Dan setelah dari toko perhiasan ini, keduanya akan pergi ke butik untuk fitting baju.
Kinara sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi wajah teman-temannya yang terkejut karena kabar bahagia darinya.
“Habis ini kita langsung cetak undangan kan? Biar besok bisa langsung di bagikan,” tanya Kinara begitu antusias.
Vian mengangguk dan tersenyum menanggapi. Lalu dia menjawab.
“Iya, Sayang. Kamu udah nggak sabar banget pengen nikah sama aku ya?” tanya Vian sambil mengacak gemas rambut Kinara.
“Iya lah. Yang lain udah pada nikah, cuma aku yang belum,” jawab Kinara sambil memanyunkan bibirnya.
“Maaf. Yang terpenting kan sebentar lagi kita akan menikah,” ucap Vian berusaha menenangkan.
Kinara tersenyum dan langsung memeluk Vian karena merasa bahagia.
Sebentar lagi, hubungannya dengan Vian akan resmi menjadi suami istri.
Kinara juga sudah ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang istri.
Dan sebentar lagi, keinginannya akan terwujud.
Setelah fitting baju selama tiga jam, akhirnya mereka menemukan baju yang cocok untuk keduanya.
Keduanya segera melanjutkan tujuan mereka lagi, yaitu mendatangi percetakan undangan.
Setelah sampai, mereka mengatakan bagaimana desain undangan yang mereka inginkan.
Setelah mengatakannya, petugas langsung mencarikan contoh undangan yang sesuai dan meletakkannya di atas meja untuk calon mempelai itu pilih.
“Ini desain dari kami yang sesuai dengan keinginan Mas dan Mbak,” ucap petugas itu.
“Saya lihat-lihat dulu mana yang cocok ya, Mas,” jawab Kinara dan langsung fokus memilih desain undangannya.
“Kalau yang ini aja bagaimana, Yang?” tanya Kinara kepada Vian.
Dia menunjukkan contoh desain undangan berwarna putih kombinasi emas yang di desain dengan simpel dan elegan.
“Boleh. Ini bagus banget. Pilihan kamu memang selalu cocok buat aku,” jawab Vian sambil memuji pilihan Kinara yang memang pilihannya begitu simpel dan elegan.
Setelah itu, mereka menyodorkan contoh undangan itu dan menyebutkan berapa jumlah yang harus dibuat.
Mereka juga menyebutkan nama dan tanggal pernikahan mereka untuk di tuliskan di undangan
Setelah itu, mereka meminta agar undangan segera dicetak karena akan segera disebar.
Kalaupun ada biaya tambahan karena harus dipercepat, mereka tidak masalah dan akan membayarnya.
Kemudian, mereka membayar setengahnya dahulu dari biaya percetakannya.
Setelah itu, mereka pamit dan berterima kasih karena mau mencetakkan undangan lebih cepat dari jadwalnya.