Treat You Better

Treat You Better
149. Adira vs Tristan



Setelah keluar dari kamarnya, Adira berjalan menuju kamar sebelah yang tentunya menjadi kamar Echa. Adira bisa mengerti perasaan Echa saat di tatap begitu tajam oleh ayahnya.


Setelah berada di depan pintu, Adira mengetuk pintu itu dahulu. Di rumahnya, Adira selalu mengajari untuk mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar yang lainnya. Dan itu berlaku juga untuk dirinya dan Tristan.


Tok. Tok. Tok.


Ceklek.


Pintu terbuka dan memperlihatkan Echa yang sepertinya baru saja selesai mandi karena dia mengenakan bathrobe pada tubuhnya. "Bunda boleh masuk kan?" tanya Adira meminta izin pada pemilik kamarnya.


Echa tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja bunda boleh masuk. Bahkan bunda nggak perlu ketuk pintu dulu juga nggak papa," jawab Echa sambil berjalan menuju lemari tempat bajunya di simpan.


Adira memperhatikan setiap gerakan yang Echa lakukan. Setelah itu, Echa kembali menghilang di balik pintu kamar mandi, mungkin untuk mengenakan pakaian. Adira sudah duduk di pinggiran ranjang sambil menunggu Echa selesai.


Tidak berapa lama, Echa muncul dari balik pintu dengan sudah memakai piyama tidurnya. "Bunda belum mau tidur?" tanya Echa basa-basi karena tidak tahu maksud dari kedatangan bundanya ke kamarnya.


Echa sudah bisa menebak bahwa pasti ada sesuatu yang akan bundanya tanyakan sehingga rela mendatangi kamarnya. Karena Adira selalu datang ke kamar Echa memang saat ingin bertanya sesuatu hal yang penting.


Adira tersenyum dan menepuk space kosong di sebelahnya agar Echa duduk. Echa menurut dan duduk di samping bundanya. "Bunda mau nanya sesuatu," ucap Adira membuka pembicaraan.


*Nah kan, benar dugaanku,* batin Echa pada dirinya sendiri. Kemudian dia bertanya apa yang akan ditanyakan oleh bundanya. Echa bisa menebak lagi jika pertanyaan bundanya pasti akan seputar kejadian yang baru saja terjadi.


"Tanya apa, Bun. Tanya aja, nggak papa kok," jawab Echa sambil tersenyum menatap bundanya. Adira tampak berpikir sejenak untuk merangkai kata di dalam pikirannya.


Kemudian Adira berucap. "Orang yang kamu bilang waktu di pemakaman, itu ...." ucap Adira terhenti karena sudah dipotong terlebih dahulu oleh Echa.


"Iya, Bun. Dia orangnya," jawab Echa sambil menunduk karena merasa salah tingkah. Adira terkikik geli melihat anaknya yang malah menunduk mungkin saja karena malu.


Echa mendongak karena mendengar cekikikan bundanya itu. "Kok bunda malah ketawa sih?" tanya Echa bingung. Kemudian Adira menjawab. "Bunda nggak nyangka ternyata selera kamu tinggi juga," ucap Adira sambil masih tergelak.


Echa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa salah tingkah. Kemudian Echa berucap kembali. "Memangnya Echa nggak cantik ya, Bun?" tanya Echa yang berhasil membuat Adira berhenti tertawa.


Adira memegang kedua bahu Echa dan matanya menatap lembut mata Echa. Jangan lupakan senyum manisnya yang seakan-akan ingin meledek Echa karena sudah mulai mengenal jatuh cinta. Dan Adira juga mengenal baik dengan orang yang Echa taksir.


"Kata siapa kamu nggak cantik? Justru kamu tuh cantik banget makanya seorang Ananta bisa sampai suka sama kamu. Terlepas dari semua itu, kamu juga punya hati yang cantik juga," ucap Adira tulus memuji kecantikan anaknya.


Pipi Echa langsung merona mendengar pujian keluar dari mulut bundanya. "Jadi terbang tinggi nih, aku, Bun," jawab Echa sambil tertawa renyah. "Eh, tapi ayah gimana, Bun?" tanya Echa yang mengingat akan ketakutannya.


Adira tersenyum agar bisa menenangkan Echa. "Soal ayah, biar bunda yang urus. Heran bunda, ayahmu tuh kaya nggak pernah muda aja," gerutu Adira merasa kesal dengan suaminya itu.


Echa langsung berhambur memeluk bunda kesayangannya yang selalu bisa menjadi teman bercerita untuk dirinya. "Terima kasih ya, Bun. Bunda memang yang terbaik," ucap Echa masih dalam pelukan bundanya.


*


"Echa, Aarav! Buruan sarapan! Nanti kalian telat," teriak Adira karena kedua anaknya itu tak kunjung turun untuk sarapan. Tristan yang sudah berada di di meja makan, dia sampai menutup telinga karena suara keras Adira yang begitu memekakkan telinga.


"Kenapa sih, dua anak itu nggak turun-turun? Heran deh ...." ucap Adira yang mulai merasa kesal. Tidak berapa lama, Adira melihat Echa sedang menuruni anak tangga dengan penampilan yang acak-acakan seperti baru bangun tidur.


Adira mengernyit bingung karena Echa sama sekali belum bersiap. Padahal dia harus pergi kuliah. "Echa, kok kamu belum mandi dan ganti baju? Kalau telat gimana coba?" omel Adira panjang lebar.


Echa memutar bola matanya malas dan mengembuskan nafasnya dengan kasar. "Bunda lupa ya? Sekarang kan hari Minggu, Bun," ucap Echa sedikit kesal karena tidur nyenyaknya harus di ganggu.


Adira menatap suaminya yang hanya memakai kaos dan bukan jas formal seperti akan berangkat ke kantor. Tristan hanya membalas tatapan istrinya itu dengan senyum miring. "Kenapa Mas dari tadi diam aja sih ... Bilang dong, kalau hari ini hari Minggu," ucap Adira merasa kesal dengan suaminya yang hanya diam saja.


Tristan menghembuskan nafasnya lelah. Dalam hatinya dia membatin. *Wanita memang tidak pernah salah. Siapa yang lupa, siapa yang kena omelannya.*


"Kan aku nggak pake baju kerja, Sayang ... Kamu nggak perhatiin aku yang sejak tadi?" tanya Tristan berusaha mengontrol nada bicaranya yang ingin sekali menunjukkan kekesalan. Adira menggeleng bodoh karena memang dia tidak memperhatikan apa yang di kenakan suaminya.


"Eits, mau ke mana kamu Echa? Jangan bilang kamu mau tidur lagi. Hari Minggu bukan berarti kamu bisa tidur sampe siang ya," ucap Adira saat ekor matanya menangkap pergerakan Echa yang akan kembali lagi ke kamarnya.


Echa menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Jika sudah berurusan dengan bundanya, pasti tidak akan pernah selesai. "Terus Echa harus ngapain , Bun?" tanya Echa dengan wajah frustasinya.


"Mandi dong, terus sarapan. Pasti tadi pagi kamu nggak salat subuh kan?" tanya Adira lagi penuh selidik. Echa tersenyum karena bundanya itu selalu saja memperhatikan ibadahnya. Mata Echa yang semula mengantuk mendadak terbuka lebar. Kantuk itu menguar entah ke mana.


"Aku emang nggak salat subuh, Bunda. Karena aku lagi tanggal merah," ucap Echa merasa senang. Adira dan Tristan sampai mengernyit heran menatap Echa. "Nih bocah kenapa sekarang malah senyum-senyum? Bukannya tadi kesel ya, sama Bunda?" tanya Adira lalu mendudukkan dirinya kembali di kursi untuk melakukan sarapan.


Echa ikut duduk di kursi kosong sebelah bundanya. "Aku seneng kalau bunda selalu ingetin aku soal ibadah. Nggak ada pacar juga nggak papa, karena ada bunda yang udah perhatian," ucap Echa dengan senyum manisnya. Kepalanya dia topang dengan satu tangannya dan menatap bundanya.


"Ehem."


Echa langsung tersadar bahwa ada ayahnya yang juga mendengar ucapannya. Echa langsung menunjukkan cengiran kudanya menatap sang ayah. Tidak lupa, dua jarinya terangkat membentuk kata 'peace'.


Setelah itu, Echa langsung berlari menuju kamarnya lagi dan berucap.


"KABUUUURRR!!"


Adira langsung tergelak renyah melihat tingkah anak dan bapak itu. Sedangkan Tristan, dia tersenyum dan geleng-geleng kepala memandang Echa yang sudah menghilang dari pandangannya.


Memang benar yang dikatakan istrinya, Echa, anaknya memang sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang sangat cantik. Dan di usianya yang ke 18, sudah di pastikan bahwa Echa pasti sedang merasakan apa yang dinamakan jatuh cinta.