
Malamnya tepat pukul delapan resepsi pernikahan Adira dan Tristan dilaksanakan.
Tamu yang di undang juga orang yang berbeda dari tamu tadi pagi.
Sengaja dibuat dua sesi karena banyaknya kerabat dan teman bisnis dari dua keluarga tersebut.
Adira sudah berganti pakaian begitu juga Tristan.
Teman-temannya yang menjadi Bridesmaids juga berganti kostum.
Di acara resepsi ini lebih santai dari acara akad tadi pagi.
Pengantin hanya duduk di singgasananya menyambut para tamu undangan.
Kejadian tadi siang, soal Amanda yang menggandeng tangan seorang laki-laki tentunya mendapat pertanyaan beruntun dari semuanya.
Pasalnya, Amanda selalu adu mulut dan terlihat tidak suka saat berdekatan dengan lelaki tersebut.
Siapa lagi jika bukan Doni orangnya.
Doni jelas terkejut namun dia juga senang.
Jika yang di ucapkan Amanda benar adanya, Doni tidak keberatan sama sekali.
Justru dia akan menerimanya dengan tangan terbuka.
Namun, setelah kejadian tadi siang, Amanda seolah menghindarinya.
Tidak mengapa. Nanti Doni akan mencoba bicara empat mata dengan Amanda.
“Lo udah mulai suka sama doni?” Tanya Lidya heran.
Adira dan Tristan hanya mendengarkan.
“Hubungan Lo sekarang udah naik tahap nih..? Dari enemy to be love ?” ucap Kinara terkekeh.
“apaan sih.. biasa aja. Gue tadi Cuma kepepet malu di Katain jomblo sama tukang MC. Bisa jatuh martabat gue” ucap Amanda kesal dan membela diri.
“tapi ... Bisa aja setelah kejadian ini justru Lo malah suka sama doni’” goda Lidya lagi.
“Nggak papa kok kalo beneran sama Doni. Lagian kak Tristan juga udah tau kan gimana Doni” ucap Adira membela Doni.
Tristan hanya diam saja. Dia tidak mau ikut campur terlalu jauh. Tapi jika benar Amanda mencintai Doni, dia adalah orang pertama yang akan memberi restu.
Berteman selama beberapa tahun, Tristan paham sifat dan sikap Doni.
Dia adalah lelaki setia hanya kepada satu wanita.
“Udah ya. Gue mau ganti baju dulu. Abang sama Adira juga harus siap-siap buat acara nanti malam. Bye gue pergi... Muach...” ucap Amanda sambil berlalu pergi. Dia memberikan ciuman jarak jauh.
Kebetulan mereka membicarakan Doni saat orangnya tidak ada di antara mereka.
Kembali lagi kepada pengantin baru yang duduk bersanding bersenda gurau..
Ngomong-ngomong soal gaun, Adira juga berganti pakaian.
Dia memakai gaun berwarna baby pink yang menjuntai hingga lantai.
aksen bunga di bagian pinggang menambah keindahan gaun tersebut.
Tristan juga memakai jas yang senada.
Adira dan Tristan begitu menikmati acara resepsi itu.
Mereka mengundang beberapa penyanyi solo yang namanya sering wara-wiri di layar tv untuk mengisi acara.
Sedari tadi, tangan Tristan tidak pernah lepas dari pinggang Adira.
Memeluknya dengan posesif.
“kamu nggak capek Ra? Dari tadi aku liat kamu masih semangat banget” tanya Tristan yang mengamati wajah Adira yang tampak berseri.
“Nggak.. bener ya kata pepatah... Kalau bahagia itu bisa ngilangin lelah” jawab Adira tersenyum lebar.
Dia sedang menikmati musik live yang penyanyi begitu merdu melantunkan lagu.
“Oooh.. berarti entar udah siap dong tenaganya?” tanya Tristan tersenyum smirk.
“Ishh... Bisa nggak bahanya nanti aja” ucap Adira kesal.
“Kalau sekarang aja gimana? Kita bisa kabur sekarang. Acara juga bentar lagi selesai kan?” tawar Tristan.
Adira menatap Tristan dengan tatapan memicing.
“Nggak deh.. nunggu acara selesai kenapa sih..” jawab Adira yang sudah tau kemana arah pembicaraan Tristan.
“Ayolah Ra.. aku udah capek banget dari tadi duduk disini” ucap tristan bernegosiasi.
Adira tampak berpikir. Dia juga lumayan lelah dan ingin merebahkan diri di kasur yang empuk.
“ya udah ayo kalo gitu” putus Adira akhirnya.
Mereka berdiri dan mengamati semuanya.
Semua tampak sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Jadi dengan mudah mereka bisa menuju kamar pengantin mereka.
Saat ingin berdiri, Adira merasakan kakinya begitu perih karena menggunakan high heels.
“Auw!!! Sshhh!!” rintih Adira kesakitan.
“kamu kenapa Ra? Ada yang sakit?” tanya Tristan khawatir.
“kayaknya kaki aku lecet deh. Perih banget... Jadi susah jalannya” ucap Adira sambil meringis.
“Kenapa mesti dipaksain sih. Lepas sekarang.. kamu duduk lagi dulu” ucap Tristan memarahi karena rasa khawatir.
Adira menurut. Dia duduk kembali dengan wajah yang masih meringis.
Dengan lembut, Tristan melepas high heels yang di kenakan Adira.
Setelah terlepas, Tristan memeriksa kaki Adira. Benar saja, bagian mata kaki Adira lecet dan sepertinya lumayan lebar.
“Ya ampun Ra.. sampai begini.. pantes kamu nggak bisa jalan. Ayo aku gendong aja. Kamu harus istirahat” kesal Tristan namun nadanya begitu khawatir.
“Bilang dulu sama mama papa.. nanti dicariin lagi” ucap Adira.
Beruntung Tristan masih membawa ponselnya. Dia menelepon Amanda untuk memberi tahukan keluarganya, bahwa kaki Adira lecet dan butuh istirahat.
Amanda sempat menggodai, namun Tristan sudah tidak perduli lagi.
Setelah telepon terputus, Tristan langsung menggendong Adira ala bridal style menaiki lift menuju kamarnya.
Semua pasang mata menatap sepasang pengantin baru itu dengan tatapan meledek.
Adira jelas sangat malu. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Tristan.
Tristan sudah tidak perduli pada tatapan semua orang.
Saat berpapasan dengan pak Irawan, Tristan memberi tahukan keadaan Adira. Pak Irawan jelas khawatir dan menyuruh Tristan segera membawa Adira ke kamarnya untuk istrirahat.
Masalah tamu, pak Irawan mengatakan di akan meng handle nya.
Setelah sampai, Tristan langsung merebahkan tubuh Adira di atas ranjang yang dihiasi begitu banyak kelopak bunga mawar merah.
“Duuuuh... Sayang banget. Bunganya mesti berantakan “ ucap Adira yang menurut Tristan tidak penting.
“ck... Masih aja peduliin penampilan. Ganti baju kamu dulu Ra. Atau kamu mau mandi dulu? Habis ini aku obatin lukanya” ucap Tristan sambil membantu Adira untuk duduk.
“Aku mandi dulu deh kak.”
“Ya udah... bisa jalan nggak? Kalau nggak aku bisa gendong lagi. Atau kita amndi bareng aja hehe” ucap Tristan sambil mengerlingkan matanya.
“iiish... Yang ada nggak jadi mandi”
Setelah mengucapkan itu, Adira segera berlalu menuju kamar mandi.
Dia mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Tubuh Adira berasa lebih segar.
Setelah setengah jam berada di kamar mandi, akhirnya adira selesai dan keluar hanya menggunakan handuk yang melilit ditubuh dan rambutnya.
Tristan yang melihat itu menelan salivanya susah payah.
Adira terlihat begitu seksi.
juniornya tiba-tiba berdiri.
Adira berjalan menuju kopernya berada. Dia mencari baju tidur yang akan dia kenakan.
Sebelum berhasil menuju ke tempat kopernya, Tristan sudah mencegatnya.
Dia tersenyum Smirk.
Adira baru menyadari bahwa dia tidak lagi sendirian di dalam kamar tersebut.
Di menepuk jidatnya sendiri.
Mengapa Adira sampai lupa bahwa dia sudah menikah?. Mengapa juga Adira tidak berganti pakaian di kamar mandi?.
Walau sudah menjadi suami istri, Adira masih malu jika hanya mengenakan handuk saja.
Dengan cepat, Tristan langsung menggendong Adira ke ranjang lagi.
“Aargh... Kak lepasin. Aku belum pakai baju” pekik Adira kaget karena tiba-tiba tubuhnya terasa melayang.
“Ngapain pake baju. Palingan nanti juga nggak bakalan pake baju” ucap Tristan yang berhasil mengukung tubuh Adira di bawah tubuhnya.
Wajah Adira merona.
Dia mencoba memalingkan wajahnya ke mana saja yang terpenting dia tak menatap Tristan.
“Kamu seksi banget.. aku jadi nggak sabar pengen makan kamu” ucap Tristan dengan suara berat menahan gairah.
Adira merinding dan seperti mendapat sengatan listrik saat nafas Tristan berhembus di telinganya.
“Sekarang aja. Aku udah nggak tahan Ra” ucap Tristan lagi.
Matanya sudah menatap sayu wajah Adira.
Glek.
Adira menelan salivanya susah payah.
Apa ini yang dinamakan malam pertama?.