
Tepat pukul sepuluh pagi akhirnya Elvan bangun dari masa kritisnya.
Dokter juga telah memeriksa Elvan lagi, tinggal masa penyembuhan luka dan patah tulang dibagian paha kanannya. Juga menunggu luka operasinya kering.
Beruntung mobil truk yang iya tabrak melaju sedang, sehingga tidak menyebabkan luka serius. Sang sopir truk juga telah diurus oleh pihak rumah sakit. Tentunya atas permintaan Randi.
Dia benar-benar tanggung jawab dan mau mengganti rugi.
“Kenapa kamu bisa begini si Van?”. Tanya Randi dengan suara lembut dan merasa kasihan dengan adiknya.
Setelah sadar, Elvan terus melamun entah melamun kan apa. Atau mungkin karena papanya yang sedang berada di luar negeri tak kunjung menemuinya? Atau ada seseorang yang sedang Elvan tunggu?. Karena sejak tadi dia selalu memandang ke pintu masuk ruangannya.
Dia sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Jadi, siapa saja sudah bebas menjenguk di jam besuk tiba.
Elvan masih diam seribu bahasa. Enggan menjawab pertanyaan kakaknya. Padahal kakaknya sudah khawatir setengah mati, yang ditanya malah enggan menanggapi.
“van, bicara sama kakak. Jangan diem terus. Kamu butuh sesuatu?”. Ucap Randi untuk kesekian kali dan belum menyerah.
Elvan hanya menggeleng. Namun dia teringat sesuatu dan segera membuka mulutnya.
“Kak...”. ucap Elvan memanggil Randi. Yang dipanggil langsung sumringah karena adiknya sudah mau membuka mulutnya.
“Iya Van. Bicara sama kakak. Kamu mau apa..” ucap Randi perhatian dan begitu semangat saking senangnya adiknya bicara.
“Semalam yang datang kesini siapa aja?”. Tanya Elvan sambil masih menatap arah pintu. Tatapannya kosong.
“Ada Lidya, Kinara sama pacarnya.” Jawab Randi sambil menunggu reaksi elvan.
“Cuma mereka?”. Tanya Elvan masih menunggu kelanjutan ucapan kakaknya.
“Kamu berharap papa ada disini ya?.” Ucap Randi sambil menghembuskan nafasnya sesak.
“bukan dia. Aku nggak akan berharap dia mau datang buat aku. Aku nggak sepenting itu.” Ucap Elvan tersenyum sinis. Pandangannya masih belum beralih.
“Adira? Maksud kamu Adira?”. Tanya Randi memastikan.
“Iya Adira. Dia ada disini nggak semalam?”. Tanya Elvan langsung fokus menatap Randi karena mendengar nama Adira disebut.
“Iya dia kesini. Sama pacarnya juga kayaknya.” Ucap Randi lagi yang berhasil menghilangkan harapan di hatinya.
Elvan mengusap wajahnya frustasi. Hening kemudian.
Tidak lama kemudian, pintu diketuk dari arah luar. Randi langsung bergegas membukanya. Karena memang ruang yang digunakan Elvan adalah ruang VIP jadi, tidak bisa nyelonong masuk begitu saja.
“Hai kak, Elvan udah sadar?”. Tanya orang tersebut di balik pintu. Randi langsung tersenyum menanggapi.
“Udah ayo kalian masuk”. Jawab Randi mempersilahkan Adira, Lidya , Kinara, Amanda dan Tristan masuk ruangan.
Elvan yang melihat ada Adira di rombongan itu langsung tersenyum begitu lebar.
“Adira!!”. Pekik Elvan kegirangan. Seperti anak kecil yang bertemu dengan ibunya setelah lama berpisah. Dia juga tidak menyadari ada Tristan, karena fokus dia dari tadi adalah Adira dan tidak memperdulikan yang lainnya.
“Iya Van ini gue. Gimana keadaan lo sekarang?”. Jawab Adira sambil berdiri di sisi ranjang Elvan. Tristan dan teman-temannya pun mengikuti yang dilakukan Adira.
“Gimana keadaan Lo Van?”. Tanya Kinara yang merasa iba melihat temannya memakai infus, kepalanya di perban dan kakinya di gantung karena patah.
“seperti yang Lo liat kin.” Jawab Elvan sambil menelisik tubuhnya sendiri.
“aku juga turun prihatin atas kecelakaan yang kamu alami. Semoga kamu lekas sembuh.” Ucap Tristan begitu tulus. Namun tanggapan Elvan hanya melengos dan tidak mengucapkan apapun.
Randi yang melihat itu langsung menegur. Namun jawaban Elvan malah tak terduga yang membuat se isi ruangan menganga tak percaya.
“Gara-gara dia gue kehilangan Adira. Gara-gara dia juga gue kecelakaan”. Ucap Elvan ketus.
Semua mengernyit kan dahi. Bingung dengan ucapan Elvan.
“Iya, nggak ada akhlak banget.” Jawab Lidya tak terima juga.
“Maksud Lo apa ngomong gitu?”. Tanya Adira yang mulai geram dengan sikap Elvan.
“Gue cinta sama Lo Ra. Tapi gara-gara dia datang di hidup Lo dan buat Lo jatuh cinta sama dia, cinta gue nggak terbalas.” Ucap Elvan lembut dan berusaha meraih tangan Adira, namun Adira segera menepisnya.
“Lo ngomong apa si? Gue nggak ngerti”. Ucap Adira tambah geram. Dia tidak rela Tristan dijelek-jelekkan oleh mulut Elvan yang tak berperikemanusiaan.
“Lo masih cinta kan sama gue? Dia Cuma pelarian Lo doang kan? Lo Nerima dia karena kasian kan? Makanya Lo sekarang pacaran sama dia?.” Ucap elvan begitu saja dan langsung mendapat tamparan dari Adira.
Plak!.
Mereka yang berada di dalam ruangan tambah menganga lebar. Drama apalagi yang Elvan ciptakan?. Sedangkan Randi hanya menyaksikan tanpa ingin ikut campur terlalu jauh.
Adira langsung mendekati Tristan dan menggenggam tangannya. Tristan juga membalas genggaman tangan Adira.
“Lo nggak berhak berkata seperti itu. Ini hidup gue, dan gue berhak nentuin hidup gue sendiri. Mau gue terpuruk, mau gue bahagia, itu bukan urusan Lo lagi. Dan gue ..... “Ucap Adira penuh amarah. Lalu telunjuknya menunjuk ke arah Elvan.
“Gue nyesel pernah jatuh cinta dan patah hati karena Lo. Dan karena dia ....” Ucap Adira lagi penuh penekanan dan mengangkat genggaman tangannya ke udara.
“Dia yang berhasil bawa gue lewatin masa patah hati gue. Nggak ada Lo sama sekali. Jadi Lo kalo ngomong mending ngaca dulu”. Ucap Adira dengan nafas naik turun. Lalu berjalan cepat menarik Tristan sesegera mungkin untuk meninggalkan semua yang ada disana termasuk Elvan.
Setelah Adira menghilang dibalik pintu, mereka semua juga ikut pamit.
“Kak, kita kayaknya nggak bisa lama disini. Kita pergi dulu”. Ucap Lidya yang diangguki oleh Kinara dan Amanda.
Mereka akhirnya pergi setelah berpamitan.
Sedangkan Elvan, dia sama sekali tidak merasa bersalah atas tindakan impulsifnya. Dia masih teguh pada pendiriannya. Bahwa dia harus mendapatkan Adira dengan cara apapun.
Sepertinya itu bukan lagi cinta, melainkan obsesi ingin memiliki.
Setelah kepergian semua teman-temannya akhirnya Randi bisa membuka mulutnya yang sudah gatal. Dia tidak suka Elvan seperti itu.
“Van, kenapa Lo gitu ke Tristan. Dia nggak tau apa-apa. Dan dia semalam juga nungguin Lo kayak yang lainnya. Orang sebaik itu Lo bilang menjadi penyebab Lo begini?”. Tanya Randi tak habis pikir dengan sikap Elvan.
“Gue nggak percaya Adira bisa lupain gue secepat itu. Katanya dia cinta sama gue udah dua tahun. Masa Cuma dalam waktu dua bulan, dia bisa lupain gue. Gue yakin Adira masih cinta sama gue. Tristan Cuma pelampiasan.” Ucap Elvan penuh keyakinan.
Randi hanya bisa menatap miris adiknya itu.
“Cinta tuh nggak bisa dipaksa. Kalo memang Adira udah move on kenapa nggak?. Dia bisa jatuh cinta lagi kan.” Ucap randi mencoba menjernihkan otak adiknya yang mulai miring.
“Gue nggak perduli itu. Apapun caranya, gue akan berusaha dapetin Adira lagi.” Ucap elvan dengan tatapan mengerikan.
Randi hanya diam tidak menanggapi. Tapi jika adiknya terus berambisi dan sampai mencelakai orang lain, dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Tristan sebenarnya sedang berada di kantor. Namun mendapat telpon dari Adira yang mengatakan ingin menjenguk Elvan lagi, Tristan memilih untuk ikut serta.
Namun siapa sangka, kedatangannya tidak di terima dengan baik oleh Elvan. Malah dia dituduh yang tidak pernah dia lakukan.
Bukankah Adira mencintainya tulus? Dia bukan pelampiasan kan? Tanya Tristan pada dirinya sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang, Adira hanya duduk diam tanpa ingin menjelaskan. Hal itu memperkuat dugaannya, bahwa dirinya hanyalah pelampiasan.
'mengapa gue sebodoh itu. Nggak mungkin Adira bisa lupa dan jatuh cinta lagi secepat itu. Harusnya Lo menyadari itu. Lo itu terlalu buta!'. Tristan merutuki dirinya dalam hati.
Karena Adira tidak mau bicara, Tristan juga enggan untuk memulai. Pikiran Tristan selalu terngiang dengan perkataan Elvan, dia adalah pelampiasan. TRISTAN HANYA PELAMPIASAN.
Tristan memukul gagang setir begitu keras saking frustasinya. Adira terlonjak kaget. Pasalnya dia sedang memikirkan kata apa yang harus dia ucapkan kepada Tristan agar Tristan percaya bahwa yang dikatakan Elvan tidak lah benar. Tristan bukan pelampiasan. Dan Adira mencintai Tristan tulus.
Tapi entahlah apa yang dipikirkan Tristan saat ini. Adira harus segera menyelesaikannya.