
Setelah tangis keduanya mulai reda, Tristan merenggangkan pelukan dan menatap wajah Adira. Tristan membelai lembut pipi Adira dan menyelipkan anak rambut yang nakal keluar dari tempatnya.
Mata keduanya sudah terlihat memerah karena tangisnya tadi.
“Maafin aku ya sekali lagi. Aku memang bodoh menyia-nyiakan istri secantik dan sepengertian kamu. Bisakah kita mulai semuanya dari awal lagi?” tanya Tristan dengan lembut.
Adira mengangguk dan tersenyum sambil menatap suaminya itu.
“Jawab dong, jangan cuma ngangguk aja,” goda Tristan yang berhasil membuat pipi Adira bersemu merah.
“Aku mau memulai semuanya dari awal lagi. Kita hadapi badai rumah tangga kita bersama-sama. Tapi dengan satu syarat,” ucap Adira yang tatapannya berubah menjadi serius.
“Apapun syaratnya, aku akan lakukan itu,” jawab Tristan yakin dan mengecup bibir Adira sekilas.
Adira malah salah tingkah karena perlakuan manis dari Tristan. Kemudian, Adira melanjutkan ucapannya lagi.
“Tidak boleh ada orang ketiga lagi kecuali anak kita. Kakak harus meminta pendapatku terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan apapun,” ucap Adira tegas dan menatap tepat di manik dalam Tristan.
Tristan tersenyum senang. Dia pasti akan mengusahakan untuk hal itu. Tristan tidak mau rumah tangganya kembali hancur hanya karena kebodohan dirinya yang mementingkan orang lain ketimbang istrinya sendiri.
Tristan juga akan meminta pendapat dan persetujuan dari Adira untuk setiap hal yang akan Tristan lakukan.
Mulai sekarang, Tristan akan mengutamakan istrinya selalu. Dia akan menjaga kepercayaan yang sudah Adira berikan lagi kepadanya.
“Aku berjanji tidak akan ada lagi orang ketiga dan akan selalu meminta pendapat kamu dalam segala hal,” jawab Tristan mantap.
Adira tersenyum dan kembali memeluk suaminya itu. Akhirnya, dia bisa memeluk suaminya kembali dan melepaskan rasa rindu yang sudah meluap ke mana-mana.
Tepuk tangan tiba-tiba menggema di seisi ruangan. Dan pelakunya adalah bu Dewi dan pak Irawan yang memang menyaksikan perdamaian di antara Tristan dan Adira.
Mereka akhirnya bisa bernafas lega, kedatangan keduanya mengunjungi Adira membawa berkah yaitu berhasil mendamaikan Adira dan Tristan untuk bisa bersama kembali.
Adira dan Tristan langsung berdiri untuk menyambut kedua orangtua yang berhasil membuat mereka kembali bisa berdamai.
Pak Irawan juga sudah paham bahwa ponselnya pasti akan di lacak keberadaanya oleh Tristan. Dia sengaja tidak mematikan ponselnya agar bisa mempertemukan Adira dan Tristan.
Usahanya pun membuahkan hasil yang manis.
“Gitu dong, kalau damai begini kan enak liatnya,” ucap bu Dewi yang langsung memeluk Adira.
“Nggak sia-sia Papa ke sini nggak matiin GPS ya,” ucap pak Irawan sambil tersenyum bangga.
“Ooooh, jadi karena ponsel Papa, kak Tristan bisa tahu tentang keberadaan aku?” tanya Adira dengan nada pura-pura marah.
“Papa memang, Papa mertua terbaik,” ucap Tristan sambil mengedipkan satu matanya genit.
Namun tiba-tiba kebahagiaan mereka harus terhenti karena suara dering ponsel milik Tristan berbunyi.
Setelah berhasil menggenggam ponselnya, Tristan segera melihat siapa sang penelepon. Dan ternyata yang meneleponnya adalah papanya.
Tristan menatap Adira untuk meminta persetujuan menerima telepon tersebut.
Adira yang di tatap seperti itu oleh Tristan pun memberikan mimik wajah bertanya.
Tristan langsung menjawabnya, “Dari papa,” ucap Tristan.
“Angkat aja, siapa tahu penting,” jawab Adira mempersilahkan.
Tristan menurut dan segera menerima panggilan tersebut. Saat panggilan tersambung, Tristan langsung bisa mendengar suara mamanya yang menangis histeris.
Tristan langsung kebingungan apa yang sedang terjadi di seberang sana hingga membuat mamanya menangis sampai segitunya.
Pak Irawan, bu Dewi dan Adira masih setia mendengarkan apa yang dibicarakan oleh anak dan bapak itu.
“Papa? Ada apa, Pa? Kenapa mama nangis sampai kaya gitu?” tanya Tristan membuka suara karena papanya tak kunjung membuka suaranya di seberang sana.
“Tapi kenapa, Pa?” tanya Tristan semakin penasaran.
Helaan nafas pak Hendra terdengar di seberang sana.
“Amanda sama Doni kecelakaan di jalan tol Bandung,” ungkap pak Hendra yang nadanya terdengar tercekat di seberang sana.
“Kamu pulang sekarang buat jagain Echa. Mama sama Papa harus menyusul ke Bandung sekarang juga,”
Setelah itu, telepon terputus.
Ponsel yang di genggam Tristan seketika jatuh ke lantai ketika mendengar ucapan papanya itu.
Tristan begitu terkejut dan tidak menyangka akan mendapat kabar buruk yang begitu menyakitkan.
Tristan langsung terduduk kembali di sofa dengan tubuh yang mendadak lemas.
Adira dan kedua orangtuanya segera mendekati Tristan untuk bertanya apa yang terjadi hingga membuat Tristan tidak berdaya seperti itu.
“Ada apa Kak?” tanya Adira hati-hati.
Tristan langsung menatap Adira dengan tatapan yang begitu sedih. Tanpa menunggu lama, Tristan langsung memeluk Adira dan menumpahkan tangisnya kembali.
Adira terkejut namun dia membalas pelukan Tristan dengan mengelus punggung tegap Tristan berharap bisa memberikan ketenangan di sana.
Adira dan kedua orangtuanya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Tristan menangis sampai sesenggukan seperti itu.
Setelah tangis Tristan reda, Tristan segera melonggarkan pelukannya karena teringat akan Echa yang sedang berada di rumahnya.
Tristan ingat perkataan terakhir papanya bahwa, dirinya di perintahkan untuk menjaga Echa.
“Doni sama Amanda kecelakaan di jalan tol Bandung,” ucap Tristan memberitahukan dengan nada bergetar.
Bu Dewi dan Adira langsung menutup mulutnya tidak percaya dengan kabar yang baru saja mereka dengar.
“Sekarang, keadaannya bagaimana? Echa gimana?” tanya Adira memberondong .
“Aku belum tahu, makanya aku di suruh langsung pulang buat jagain Echa. Dia hanya bersama baby sitternya. Mama sama papa harus segera menyusul ke Bandung,” ucap Tristan lagi dengan masih terisak.
“Kalau begitu, kita semua pulang ke Jakarta sekarang juga. Ayo cepetan! Bereskan semua barangnya. Kamu juga Tris. Kita ketemuan di bandara. Biar Om yang pesankan tiket,” perintah pak Irawan yang memang ada benarnya juga.
Tristan segera pulang lagi ke hotel untuk check out dan mengambil semua barang-barangnya.
Begitu juga dengan Adira dan orangtuanya, mereka membereskan semua barang mereka untuk dibawa ke Jakarta kembali.
Mungkin, inilah saatnya Adira kembali ke Jakarta dan akan melahirkan anaknya di sana.
Tapi, Adira tidak menyangka bahwa dia akan pulang karena kabar Doni dan Amanda yang kecelakaan.
Seandainya Adira bisa meminta, dia ingin pulang untuk bertemu dengan keluarga dan sahabatnya dalam suasana sehat dan bahagia. Bukan dalam suasana seperti ini.
Setelah semua barang sudah dibereskan dan tidak ada yang ketinggalan, Adira sekeluarga memesan taksi online untuk menuju bandara. Pak Irawan sudah memesan tiket dari tadi dan beruntung masih ada tiket yang tersisa untuk penerbangan menuju Jakarta.
Sama halnya dengan Tristan, setelah semua barangnya berhasil di kemas, dia segera menuju meja resepsionis untuk check out.
Setelah proses selesai, tanpa menunggu lama, Tristan segera memesan taksi online untuk membawanya menuju bandara.
Masalah mobil yang dia sewa, dia sudah menelepon sang pemilik sewaan mobil dan menyuruh orang tersebut mengambil mobilnya di hotel.
Jika Tristan yang mengembalikannya, akan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Tristan tidak mau dirinya membuang waktunya terlalu lama di sana.
Masalah pembayaran, Tristan sudah mentransfernya ke nomor rekening pemilik sewaan mobil.