
Pukul setengah empat sore, Tristan sudah berada di rumahnya. Setelah melaksanakan sholat ashar, Tristan bersiap diri untuk berangkat ke Solo.
Beruntung, Tristan mempunyai sekretaris yang bisa di andalkan.
Dia juga sudah menceritakan semuanya tentang papa Irawan dan mama Dewi yang sedang berada di Solo.
Di sana juga ada Adira. Bu Siska dan pak Hendra yang mendengar kabar itu, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia dan bersyukurnya.
Akhirnya, Adira diketahui keberadaannya.
Saat masih sibuk memasukkan bajunya ke dalam koper, pintu terbuka menampakkan sosok mama yang sedang berdiri di ambang pintu.
Ceklek.
“Masuk, Ma!” ucap Tristan mempersilahkan.
Bu Siska segera masuk lebih dalam lagi dan duduk di pinggiran ranjang.
“Tris, kalau Adira nggak mau ketemu kamu gimana?” ucap bu Siska melirih, wajahnya terlihat murung.
Bukan tanpa sebab Bu Siska menanyakan hal itu. Sudah bisa di pastikan bahwa Adira pasti tidak akan langsung menerima dan memaafkan Tristan begitu saja.
“Mama tenang aja, Tristan akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari Adira. Tapi ....” ucap Tristan terhenti, wajahnya mendadak pias.
“Tapi kenapa, Tris?” tanya bu Siska penasaran.
“Tapi, kalau Adira sudah tidak sudi lagi dengan Tristan, itu tidak masalah. Yang terpenting Tristan sudah berusaha untuk membuat Adira kembali,” jawab Tristan menunduk, badannya mendadak lesu bila membayangkan kenyataan tidak sesuai ekspektasi.
Tapi dia juga sadar, bahwa luka yang dirinya torehkan pasti begitu membekas di hati Adira.
“Kamu benar. Kamu harus berusaha dulu. Jangan lupa juga, kamu harus berdoa agar pintu hati Adira terbuka untuk memaafkanmu,” ucap bu Siska menyemangati.
“Mama juga akan mendoakan semoga kamu berhasil membawa Adira kembali lagi ke hidup kamu. Ayo semangat!” sambung Bu Siska lagi, bermaksud menyemangati.
Tristan mengangguk dan tersenyum sendu. Kemudian dia segera menyelesaikan kegiatannya.
Setelah semuanya siap, dirinya juga sudah bersiap, Tristan berpamitan dengan bu Siska untuk berangkat sekarang saja.
Karena jam penerbangannya jam enam sore. Tristan juga harus melakukan perjalanan ke bandara dahulu.
Setelah berpamitan dengan ibunya, Tristan menitip salam untuk papanya yang masih berada di kantor.
Dia sebenarnya sudah pamit sewaktu di kantor, tapi tidak ada salahnya jika dia pamit lagi.
Tanpa menunggu lama, mobil yang di tumpangi Tristan melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai macet itu.
Tristan terpaksa menyewa pak Yanto, yang sekarang menjadi sopir pribadi Amanda, untuk mengemudikan mobilnya menuju bandara.
Dia tidak mungkin membawa mobil sendiri dan harus menitipkan mobilnya.
Butuh waktu empat puluh lima menit, akhirnya Tristan sampai di bandara.
Setelah turun dari mobilnya, Tristan segera check in untuk keberangkatannya.
Tidak terlalu lama menunggu, bunyi pengeras suara yang memberitahukan bahwa pesawat akan berangkat pun terdengar.
Tristan bergegas untuk masuk ke badan pesawat agar tidak tertinggal.
Setelah semua penumpang masuk, pesawat dari bandara Internasional Soekarno-Hatta itu terbang menuju bandara Internasional Sumarmo, Solo.
...........
Di dalam kamarnya, Yoga tampak senyum-senyum sendiri mengingat wajah manis Adira.
Dia tidak tahu rasa apa yang telah mengisi hatinya.
Jelas-jelas Yoga tahu bahwa Adira sudah mempunyai suami bahkan sedang mengandung juga, tapi perasaan di hati Yoga tidak bisa Yoga cegah.
Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya tanpa Yoga minta.
Yoga jadi bertanya-tanya apakah Adira sedang ada masalah dengan suaminya?
Atau Adira sedang kabur dari suaminya itu?
Jika itu benar, terbesit rasa ingin menjaga dan melindungi Adira tumbuh di hati Yoga.
Bagaimana bisa, wanita sebaik dan secantik Adira disakiti oleh suaminya?
Sungguh, dia adalah laki-laki yang sangat bodoh.
Namun, jika Adira dan suaminya sedang bertengkar dan akan berpisah, bukankah itu akan baik untuknya? Baik dalam artian mudah untuk mendekati Adira.
Untuk saat ini, Yoga akan selalu ada untuk Adira dulu. Masalah perasaanya, dia akan pikirkan nanti.
“Adira ... Adira ... Suami kamu sangat beruntung bisa mempunyai istri seperti kamu,” monolog Yoga sambil merebahkan dirinya di atas ranjang.
Tatapannya menerawang menatap langit-langit kamar.
Mungkin besok, Yoga akan mengunjungi rumah Adira lagi untuk membawakan roti rasa coklat kesukaan Adira.
Yoga tentu masih sangat ingat dengan rasa kesukaan Adira. Apalagi jika bukan rasa coklat.
Untuk satu roti, Adira bisa mengoleskan tiga sendok makan penuh, selai coklat ke dalam rotinya.
Sangat berlebihan sekali, namun begitulah Adira.
Hingga Yoga berkata kepada Adira bahwa suatu hari nanti ketika dirinya dewasa, dia akan membuka toko roti dengan berbagai rasa, termasuk rasa coklat kesukaan Adira.
Yoga tersenyum mengingat semua kenangan itu. Kemudian, dia mulai memejamkan matanya untuk menggapai mimpi di tidurnya.
..........
Pagi sudah kembali menyapa semua orang yang berada di bumi ini.
Entah yang sedang bekerja, yang tidak bekerja, yang sedang patah hati, yang sedang bahagia, dan bermacam-macam aktifitas yang akan manusia lakukan, mereka harus segera bangun untuk melanjutkan hidup.
Seperti Yoga saat ini, dia sedang bersiap-siap untuk mendatangi rumah Adira pagi ini juga.
Dia sudah membuatkan beberapa roti berisi coklat dan coklat pisang kesukaan Adira.
Yoga sengaja datang ke tokonya pagi-pagi sekali demi membuat roti yang masih baru dan hangat untuk Adira.
Dia membuatkan roti dari hasil karya tangannya sendiri yang di tunjukkan spesial untuk Adira.
Setelah roti di tata dengan rapi di dalam dus kecil, yoga segera menutupnya dan menaruhnya di dalam paperbag yang bertuliskan nama tokonya.
Yoga tersenyum senang melihat hasil karyanya sendiri yang terlihat sangat menarik.
Para karyawan yang sudah datang sejak tadi hanya bisa mengulum senyum melihat atasannya itu tersenyum sendiri sejak tadi.
Yoga yang menyadari para karyawannya berbisik-bisik membicarakannya pun tidak menanggapi apapun.
Dia tidak peduli dengan kasak-kusuk yang para karyawannya lakukan.
Setelah selesai, Yoga segera keluar dari toko dan mendekati motornya terparkir.
Setelah itu, dia mengstarter motornya dan melajukan dengan kecepatan sedang menuju rumah Adira.
Tidak butuh waktu lama, Yoga sampai di depan rumah Adira. Dia segera berjalan ke arah pintu dan mengetuk pintu tersebut.
Tok. Tok. Tok.
Ceklek.
Pintu terbuka menampilkan Adira dengan perut buncitnya.
Pagi ini, Adira mengenakan dress berwarna coral dengan desain sederhana.
Sangat cantik.
Begitulah satu kata yang bisa menggambarkan penampilan Adira sekarang. Walau sedang hamil, itu tidak membuat kecantikan Adira berkurang sedikit pun. Yang ada, justru malah semakin membuat Adira bertambah cantik.
Yoga sampai terpana saat pertama kali Adira membukakan pintu untuknya.
Namun, keterpanaan itu segera disadarkan oleh suara Adira.
“Yoga ... Ada apa ya, Ga?” tanya Adira sambil mengernyit bingung.
“Eh! Aku mau bawain roti kesukaan kamu,” jawab yoga dengan tergagap.
Kemudian, Adira menatap paperbag yang di tenteng oleh Yoga yang bertuliskan nama sebuah toko roti. Adira berpikir, mungkin itu nama toko roti yang milik Yoga.
Belum sempat Adira bersuara lagi, suara mamanya sudah menginterupsi dari dalam.
“Siapa, Ra?” tanya bu Dewi yang suaranya mulai terdengar mendekat.
“Eh, ada Yoga. Ayo masuk dulu, jangan cuma berdiri di depan pintu!” perintah Bu Dewi mempersilahkan.
Yoga mengangguk dan tersenyum.
“Iya Tante.” jawab Yoga.
Adira menepi untuk mempersiapkan Yoga masuk ke dalam.
Setelah Yoga masuk, Adira tidak menutup pintunya karena takut akan menimbulkan fitnah. Jadi dia membiarkan pintunya terbuka lebar.
Setelah Yoga duduk, Adira juga duduk di sofa yang berseberangan dengan Yoga.
Sedangkan bu Dewi, dia masuk kembali ke dalam dapur untuk memasak. Pak Irawan juga sedang lari pagi.
Setelah bu Dewi masuk, Yoga segera menyodorkan paperbag yang dia bawa kepada Adira.
“Ini Ra. Tolong di terima ya. Aku baru aja buat tadi pagi khusus buat kamu,” ucap Yoga sambil tersenyum.
Adira menatap paperbag yang disodorkan oleh Yoga itu, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.