Treat You Better

Treat You Better
Terpilih



Jangan lupa meninggalkan jejak ya!😘


.


.


.


.


.


.


Dengan perasaan campur aduk, keduanya berjalan mengikuti arah langkah Mr. Di Vaio menuju ruang Kepala Sekolah. Jantung mereka tak henti berdebar bahkan keringat dingin sudah mulai membasahi kening. Apalagi saat melihat senyum devil si Asesino, mereka sudah merasa layaknya pelaku kejahatan yang akan menuju ruang eksekusi untuk menerima hukuman mati.


Ada apa ini? Kenapa Si Asesino ini tersenyum seperti itu?


Mr. Di Vaio mengetuk pintu ruangan itu dengan halus seakan benda itu adalah barang paling rapuh yang tidak boleh lecet. Setelah ada suara dari dalam sana yang memperbolehkan mereka masuk, kaki mereka berdua lemas seakan terlepas dari sendinya.


Pintu ruangan itu terbuka menampilkan aura yang sedikit kelabu layaknya perasaan Abbie dan Charles yang tidak karuan saat ini. Dinding ruangan yang bernuansa abu dipadukan dengan sebuah sofa besar dan sofa tunggal berwarna senada menjadi ciri khas ruangan kepala sekolah.


Di meja kebesarannya, tampaklah seorang pria paruh baya dengan kacamata berlensa menempel indah di kelopak matanya yang nampak sedikit berkeriput itu. Manik birunya terlihat tegas, menggambarkan kharismanya sebagai seorang pemimpin. Senyuman di bibirnya langsung terurai ketika melihat kedatangan mereka. Ia segera melepaskan kacamata berlensa itu dan bangkit dari tempatnya menuju sofa yang terletak di depan mejanya. Ia mempersilahkan ketiga tamunya duduk.


Abbie dan Charles terlihat kikuk karena ini pertama kalinya mereka memasuki ruang kebesaran Kepala Sekolah. Apalagi kunjungan ini mendadak atas perintah si Asesino yang terkenal sangar itu.


"Apa yang kau lakukan pada mereka Mr. Di Vaio? Mereka kelihatannya sangat terintimidasi," kepala sekolah memulai percakapan basa-basinya. Si Asesino itu terlihat jengah dengan pertanyaan yang sering dilontarkan oleh kepala sekolah paruh baya itu ketika melihat para murid menundukkan kepala saat di hadapannya.


"Kau yang menyuruhku memanggil mereka 'kan, Tuan?" protes Mr. Di Vaio. "Kau seperti baru mengenalku saja, Tuan Costa. Mereka selalu seperti ini ketika melihatku. Apa aku terlihat seperti pembunuh yang haus mangsa?" Mr. Di Vaio terlihat mulai kesal.


"Kenyataannya seperti itu. Kau selalu menakuti mereka," kepala sekolah terkekeh membuat Mr. Di Vaio mencebik kesal.


Edison Costa -kepala sekolah- segera mengalihkan perhatiannya kepada kedua murid yang menundukkan kepalanya sejak tadi.


"Tegakkan kepalamu!" perintahnya tegas membuat Abbie dan Charles dengan sigap mengangkat kepalanya. "Kalian sekarang berada di ruanganku, bukan di ruangan si Penjahat Di Vaio ini," sindirnya yang membuat Mr. Di Vaio membulatkan mata hendak memprotes atas ucapan kepala sekolah itu. Namun, tangan kanan sang kepala sekolah yang terangkat mengisyaratkannya untuk diam.


"Kalian berdua saya panggil ke sini mengingat sebentar lagi akan diselenggarakan Science Olympic tingkat Nasional, maka sebagai pimpinan di sini saya memilih kalian berdua sebagai utusan dari Ezmeralda High School untuk ikut berpartisipasi dalam ajang olimpiade tersebut." terang kepala sekolah panjang lebar.


Hah! Ternyata ini. Membuatku hampir jantungan saja oleh tatapan intimidasi si Asesino itu. Abbie


Bukan masalah besar seperti yang sempat kupikirkan tadi, ya. Charles


"Dan Mr. Di Vaio yang akan menjadi pembimbing kalian selama itu." Kalimat terakhir kepala sekolah membuat keduanya skakmat.


*****


Di kelas yang sama, para murid mulai heboh atas panggilan mendadak dari Mr. Di Vaio terhadap Abbie dan Charles. Biasanya, hanya murid-murid bermasalah yang berhadapan dengan si Asesino itu. Setahu mereka, Abbie bukanlah siswi bermasalah yang harus dipanggil guru matador Di Vaio.


"Apa Abbie membuat si Asesino itu kesal?" tanya seorang siswa pada Izzy. Izzy mengangkat kedua bahunya pertanda ia tidak tahu apa-apa.


Izzy sendiri bahkan sangat terkejut ketika temannya itu dipanggil guru matador yang melebihi galaknya guru BK tersebut. Ia hanya menerka-nerka tapi sampai detik ini tak menemukan jawabannya.


"Si cupu itu, kenapa juga dia dipanggil? Bukannya dia bahkan tidak pernah terlibat masalah serius dengan kita yang sering mengejeknya?" seorang siswa lain menimpali.


Semakin mereka menggali pertanyaannya, jawabannya tetap sama.


Menuju jalan buntu.


Sementara itu, Charles dan Abbie keluar dari ruangan kepala sekolah meninggalkan Mr. Di Vaio yang masih memperbincangkan hal penting dengan kepala sekolah.


Abbie merasa kesal karena tadi kepala sekolah mengatakan bahwa pembimbing mereka adalah si Asesino itu. Merasa bahwa Charles mengikutinya di belakang membuat Abbie bertambah kesal dan membalikkan badannya dengan cepat. Charles yang terus melangkah dan tetap fokus pada pemandangan di depannya itu terkejut.


Bugh!


Abbie menabrak dada bidang milik cowok tinggi berkacamata itu. Sontak saja Charles mengayunkan lengannya hendak meraih kening Abbie yang menubruknya.


"Jangan menyentuhku, bodoh!" teriaknya sambil menepis tangan Charles yang mana membuat Charles sedikit terlonjak.


Ada apa dengannya? Tadi masih bisa tersenyum di hadapan kedua pria tua itu. Sekarang dia sudah seperti kancil liar berkepala lima saja di hadapanku.


"Berhenti mengikutiku!"


"Aku tidak mengikutimu."


"Lalu, kenapa kau berjalan ke mana saja aku pergi?"


"Hell, kau sudah pikun rupanya." Charles tersenyum tipis.


"Apa? Beraninya kau mengataiku!"


"Aku mau ke kelas!" seru Charles sejurus kemudian


"Lalu? Apa peduliku? Aku menyuruhmu jangan mengikutiku bukan menanyakan ke mana kau pergi, bodoh!"


"Apa pikiran warasmu sudah tidak ada lagi? Kau lupa kalau kita satu kelas?"


Muka Abbie memerah karena malu.


Ahh...benar juga. Kenapa aku lupa? Membuatku malu saja di hadapan si culun ini.


Kami kan keluar bersamaan tadi waktu si Asesino itu memanggilku. Akkhhhh....Aku akan menjulukimu Anjing Rabies lagi Mr. Di Vaio. Karena terlalu kesal padamu, aku terlihat aneh di hadapan cowok kampungan ini.


"Sudah ingat?" tanya Charles meledek melihat perubahan air muka Abbie.


"A..Aku tidak lupa, kampungan!" jawabnya sedikit gugup karena berusaha menutupi fakta. "Bukan itu maksudku. Kau bisa saja kan mencari jalan lain selain berjalan di belakangku."


"Aku mau jalan tercepat."


Abbie menghentakkan kakinya kesal dan membalikkan badannya. Percuma berdebat dengan Charles. Ia pasti akan kalah. Ia melangkah secepatnya agar cowok di belakangnya tidak membuntutinya lagi. Namun, langkah pendek nan cepat milik Abbie kalah cepat dengan langkah lebar milik Charles. Lagi-lagi Charles berjalan di belakangnya.


Ia manis juga kalau sedang kesal. Lihatlah pipinya yang memerah itu. Akhhh...Apa yang aku pikirkan? Sadarlah Charlie, kau bukan siapa-siapa untuknya. Kau dengar 'kan tadi dia bilang apa? Kampungan! Itulah dirimu di matanya.


Sekali lagi. Abbie berhenti namun tidak berbalik.


"Kau duluan saja." ujarnya


"Tidak baik meninggalkan cewek berjalan di belakang." sanggah Charles


"Kau menyebalkan." protesnya


"Aku tahu."


*****


Kelas yang tadinya ramai kini bertambah ramai ketika Abbie dan Charles berjalan beriringan memasuki kelas.


"Apa yang terjadi?"


"Kau tidak apa-apa 'kan?"


"Kau tidak dihukum si Asesino itu 'kan?"


"Dan kenapa si culun itu juga ikut?"


"Apa yang sudah kalian lakukan sehingga membuat si Asesino itu kesal?"


Kira-kira seperti itulah rentetan pertanyaan yang dilontarkan teman-temannya kepada Abbie. Bukannya menjawab, Abbie malah mendudukkan dirinya dengan malas di kursinya. Ia masih memikirkan bagaimana nanti dia akan fokus belajar bila tatapan tajam milik Mr. Di Vaio mengintimidasinya.


"Besok kita akan belajar bersama!" Charles menghampirinya di tempat duduk dan menunjukkan jadwal yang sudah diatur oleh Mr. Di Vaio.


Menyebalkan. Inilah hukumanku teman-teman. Harus belajar bersama si culun ini.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca!😘


.


.


.


.


Love,


Xie Lu♡