Treat You Better

Treat You Better
Semangkok berdua.



Lidya dan Azka sudah duduk di teras belakang rumah Tristan. Mereka duduk di kursi yang tersedia disana.


Belum ada suara yang membuka keheningan di antara keduanya. Mereka masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


“Mau ngapain kesini?” tanya Lidya yang sudah tidak tahan dengan keheningan.


“Mau berduaan sama kamu. Menepis sebentar dari para teman gesrek” jawab Azka dengan menatap Lidya.


Entahlah, Lidya selalu salah tingkah jika ditatap seperti itu.


“Teman sendiri dikatain gesrek ck.” Ucap Lidya berusaha menetralkan degup jantungnya.


“Emm.... Makasih ya udah mau terima aku” ucap Azka kemudian sambil menatap Lidya lekat.


Lidya balas menatap Azka tersenyum dan pandangan mereka terkunci.


“I love you Lidya” ucap Azka sambil menggenggam tangan Lidya.


Lidya bertambah gugup. Mungkin karena sudah lama menjomblo mengakibatkan dia haus belaian.


Ya, Lidya memang sudah lama tidak berpacaran. Terakhir kali waktu kelas dua SMA.


Lidya memang gadis yang susah untuk jatuh cinta. Namun sekalinya jatuh cinta, dia bisa menjadi pasangan yang sangat setia.


Lidya akhirnya tersenyum malu-malu. Dan membalas ucapan Azka


“i love you too” jawab Lidya.


......


“Lagi ngapain kira-kira si Lidya?” tanya Kinara penasaran.


“Mulai deh keponya. Kaya Lo nggak pernah pacaran aja” jawab Adira membela.


“Duuuuh... bisa nggak hargai perasaan gue. Gue jomblo disini” ucap Amanda lebay sambil pura-pura mewek.


“udah, Lo sama Doni aja. Gitu-gitu juga ganteng” ucap Kinara mengompori.


“Iya, look nya tuh mas-mas Jawa banget “ ucap Adira ikut mengompori.


“bener, kulitnya sawo matang menambah kesan eksotis seorang Doni” timpal Kinara lagi.


Amanda bingung. Namun dia juga memikirkan perkataan keduanya.


Soal fisik, Doni memang ganteng dan keren. Amanda mengakui itu.


Tapi apakah bisa mereka berhubungan lebih dari teman? Sedangkan bila sedang bertemu saja selalu adu mulut?.


Amanda menggelengkan kepala.


‘kenapa gue mikirm banget sih. Gilak. Nggak mungkin kan gue mulai suka sama doni’. Ucap Amanda dalam hati.


“Kalau suka tuh buruan kejar. Nanti keburu di ambil orang baru deh nangis” ucap Adira lagi seakan mengerti isi pikiran Amanda.


“apaan sih. Mentang-mentang udah pada punya pacar jadi jodoh-jodohin gue gini” ucap Amanda tidak terima.


“Yang namanya jodoh tuh di jemput. Jangan menunggu terus tanpa berusaha” ucap Vian yang lewat dan mendengar percapan para ladies.


“Udah ah. Gue mau pergi dulu. Males gue sama kalian” ucap Amanda kesal. Dia menghentakkan kakinya dan berlalu pergi meninggalkan ketiganya.


Semua terpelongo. Kenapa mesti marah coba?.


Ya, mereka hanya sedang bertiga. Tristan dan Doni sedang asik main game di kamar Tristan.


Vian sebenarnya ikut, tapi kenapa dia ada disini? Dan tidak bergabung bersama para boys?.


“Kenapa kesini yang? Kok nggak gabung sama yang lain” tanya Kinara sangat manis.


Adira memutar bola matanya malas melihat dua sejoli itu. Adira jadi berpikir, apa dia dan Tristan juga seperti itu jika sedang bersama? Kayaknya enggak deh.


“aku kalah terus. Jadi males hehe” ucap Vian cengengesan. Tristan dan Doni kalau sudah masalah game sudah maniak. Wajar jika Vian kalah yang hanya pemain amatiran.


“Pasti di kalahin sama kak Tristan ya?” tanya Adira menyelidik.


“Tau aja Lo. Pacar Lo tuh maniac banget dalam segala hal” ucap Vian kesal namun sebenarnya ada pujian di dalamnya.


Memang seperti itu kenyataannya. Dalam bidang pekerjaan, Tristan mahir, dalam game juga mahir, di dalam pertemanan juga banyak yang menyukai bergaul dengan Tristan.


Emang bawaan orangnya humble dan easy going. Dewasa dan pengertian. Lengkap sudah seperti tidak ada cela.


“Nggak lah kak. Semua manusia tuh pasti punya kurang dan lebihnya masing-masing” ucap Adira membenarkan.


“Iya juga sih hehehe” jawab Vian cengengesan lagi.


“Gue pinjam Kinara dulu ya. Kamu sendiri nggak papa kan?” ucap Vian lagi.


“Ya udah sana. Gue nggak papa kok. Gue baik-baik aja ditinggal sendiri. Lo nggak usah ngerasa nggak enak gitu sama gue kin. Tenang aja” ucap di buat se dramatis mungkin.


Kinara memutar bola matanya jengah. Namun tak urung dia tetap meninggalkan Adira.


“Sorry ya, gue tinggal dulu hehe.” Ucap Kinara sambil cengengesan dan tanpa menunggu jawaban Adira, dia langsung pergi ke depan bersama Vian.


Katanya mau kumpul-kumpul. Yang ada malah pada ngapel sendiri. Huft...


‘amanda kemana ya kira-kira?’ gumam Adira pada diri sendiri.


“lah, mending gue masak mie aja kalo gitu. Udah jamnya makan siang ini” ucap Adira pada diri sendiri sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Memang Adira saat berada di rumah Tristan sudah seperti rumah sendiri. Jadi bebas melakukan apapun termasuk memasak.


Adira berdiri dan segera berjalan menuju dapur.


Saat sudah sampai, Adira segera membuka nakas dan mencari letak mie instan berada. Setelah dapat, dia segera merebus air secukupnya.


Tidak lupa dia juga mengambil telur dan bakso di kulkas. Kebetulan banget nih ada bakso. Nambah nikmat mie nya.


Dia juga menambahkan bawang putih dan merah yang sudah digoreng ke dalam mie.


Setelah air mendidih Adira memasukkan semua bahan dan mie instan ala Adira akhirnya jadi.


Dia segera membawa mie ke meja makan dan bersiap untuk menyantapnya.


Saat akan menyuapkan suapan pertamanya, Adira gagal karena ada suara yang menginterupsi.


“Kamu bikin apa Ra, wangi banget Sampai kamar. Aku jadi laper nih” ucap suara tersebut.


 


................


Tristan dan doni sedang fokus dengan gamenya. Lagi-lagi Doni kalah dari Tristan. Untuk melampiaskan rasa kesalnya, dia membanting stick PS di atas kasur.


“Udah nasib Lo kalah dari gue. Lo nggak bakal menang kalau lawan gue haha” ucap Tristan berbangga diri.


“Iya iya..  yang udah maniak” ucap Doni kesal.


Beberapa detik kemudian, Indra penciuman Tristan mencium bau wangi masakan dari dapur. Perutnya tiba-tiba berbunyi minta di isi.


Dia melihat jam di dinding menunjukkan pukul dua belas. Itu tandanya memang sudah waktunya makan siang.


Akhirnya Tristan memutuskan keluar untuk mencari sumber wangi masakan.


Benar saja, dia melihat Adira sedang menyumpit mie dan akan segera Adira lahap.


“Kamu bikin apa Ra, wangi banget Sampai kamar. Aku jadi laper nih” ucap Tristan begitu saja dan langsung duduk di belah Adira tanpa di minta.


“Mie instan. Laper ku kak” jawab Adira apa adanya. Dia langsung menyantap mie nya dengan nikmat.


Tristan yang melihat itu, air liurnya serasa akan menetes. Apalagi melihat bakso dan telurnya sebagai topping.


Rasanya nikmat sekali.


Adira melihat gerak-gerik Tristan yang memperhatikan nya sedang makan. Adira bisa membaca Jika Tristan ingin mie yang Adira makan.


“kakak mau?” tanya Adira sambil menyodorkan mie yang sudah di gulung disumpit.


Mata tristan berbinar dan tanpa ba bi Bu be bo dia langsung menyambar nya.


Benar-benar nikmat. Entah memang rasanya yang enak, atau karena di suapi Adira. Tapi bisa jadi dua-duanya


“enak ra. Barengan ya hehe. Laper juga nih aku” ucap Tristan sambil tersenyum memohon.


Adira geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah Tristan.


Akhirnya keduanya makan dalam satu mangkok berdua. Mereka juga menambahkan nasi agar lebih kenyang.


Perut orang Indonesia banget. Apapun makanannya, harus pakai nasi biar kenyang. Wkwk


“Enak banget Ra. Padahal hanya mie instan biasa. Tapi rasanya luar biasa kalo kamu yang masak” ucap Tristan memuji setelah makanan habis dan perut kenyang.


“Kan aku tambahin bumbu Buatan sendiri juga biar tambah nikmat” jawab Adira jujur.


Ya, Adira memang menambahkan bawang putih dan bawang merah lagi supaya rasanya lebih nikmat. Dan terbukti benar adanya. Tristan menyukai mie instan buatannya.


Lalu Adira berdiri untuk menyingkirkan mangkok kotor dan mencucinya.


“Lain kali, aku mau dibikinin lagi yah” ucap tristan sambil berjalan mengikuti Adira.