
Beberapa tahun kemudian.
Hari ini adalah hari ulang tahun Echa yang ke delapan belas. Ya, Echa sudah beranjak remaja. Di usianya yang sudah delapan belas tahun itu, Echa tumbuh menjadi gadis periang dan ramah terhadap siapapun.
Echa tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan manis. Apalagi gigi gingsulnya yang terlihat saat dirinya tersenyum merupakan kecantikan paripurna dari seorang Anastasya Wijaya.
Ya, nama panjang Echa adalah Anastasya Wijaya. Mengapa di panggil dengan sebutan Echa? Karena itu merupakan panggilan Echa pada dirinya sendiri sewaktu kecil karena belum bisa berbicara dengan fasih.
Saat ibunya berusaha mengeja, Echa malah mengejanya dengan sebutan Echa. Itulah sebabnya sampai sekarang dia di panggil dengan sebutan Echa.
Itu merupakan panggilan sayang untuk Echa sampai sekarang.
Seperti tahun-tahun yang sudah berlalu, setiap ulang tahunnya, Echa selalu mendatangi makam kedua orang tuanya. Ya, Echa mengunjungi makam Amanda dan Doni, orang tua kandung Echa.
Echa merasa bersyukur dan berterima kasih kepada ayah Tristan dan bunda Adira yang telah sudi merawat dan mendidik dirinya dengan baik. Keduanya merupakan malaikat tak bersayap untuk hidup Echa.
Yang membuat Echa merasa beruntung lagi adalah, dia sama sekali tidak di beda-bedakan dengan Aarav yang notabene adalah anak kandungnya.
Echa benar-benar merasa bahagia karena memiliki keluarga yang hangat dan harmonis.
Adira masih menunggu Echa yang sedang menengadahkan kepalanya menghadap langit. Matanya terpejam dengan bibirnya yang mengulas senyum hingga menampakkan gigi gingsulnya.
Selalu seperti itu.
Sesuatu yang tidak pernah Echa lewatkan saat mendatangi peristirahatan terakhir kedua orang tuanya, yaitu menengadahkan wajahnya menghadap langit.
"Aku ke mobil dulu ya, Bun. Panas banget soalnya," ucap Aarav, pemuda yang usianya sudah menginjak angka 16 itu, berpamitan kepada ibunya.
Adira mengangguk mengiyakan. "Iya, jalannya hati-hati. Bunda nungguin kakak dulu," jawab Adira sambil matanya menatap kepergian Aarav menuju mobil.
"Udah, Bun. Bunda nggak penasaran tadi aku ngomong apa sama ayah dan bunda di atas sana?" tanya Echa mengharap bundanya itu menanyakan sesuatu padanya.
Adira tergelak renyah dan memilih bertanya pada Echa. "Emang tadi kamu ngomong apa sama mereka?" tanya Adira yang memang selalu bisa menjadi teman sekaligus orang tua untuk anak-anaknya.
"Aku bilang ke ayah dan bunda di atas sana, kalau aku lagi suka sama seseorang," ungkap Echa setengah berbisik karena takut terdengar oleh Aarav dan ayahnya.
"Oh ya? Siapa orangnya?" tanya Adira mulai penasaran dan membuka matanya lebar-lebar karena merasa terkejut. Jiwa emak-emaknya mulai muncul lagi di saat dan waktu seperti ini.
"Bunda udah tau dan kenal kok, sama orangnya," jawab Echa tersenyum malu-malu. Saat Adira ingin membuka mulutnya lagi, tiba-tiba suaminya sudah menginterupsi agar segera beranjak dari sana. "Udah belum sih? Udah panas banget nih," ucap Tristan sedikit berteriak karena jarak keduanya lumayan jauh.
"Mulai deh, ngomelnya." gerutu Echa sambil mencebikkan bibirnya merasa kesal dengan ayahnya karena sudah memotong pembicaraannya. Adira terkekeh pelan dan berucap. "Kita lanjut lagi di rumah. Kita pulang dulu sebelum singa jantan mengamuk," lalu keduanya tergelak karena sebutan singa jantan yang baru saja Adira sematkan.
Echa memintanya seperti itu karena selalu mengingat kedua orang tuanya yang sudah tiada. Jadilah acara ulang tahun Echa di rayakan dengan melakukan doa bersama.
Dengan begitu, Echa berharap di umurnya yang semakin bertambah dan semakin sedikit juga waktunya di dunia, akan semakin berkah karena doa orang-orang di sekitarnya.
Seperti kakaknya, Aarav juga merayakan hari ulang tahunnya dengan mengadakan acara doa bersama agar umurnya bertambah berkah.
"Tadi Echa ngomong apa di pemakaman, Sayang?" tanya Tristan saat mereka sudah sampai rumah dan sudah banyak orang yang sedang menyiapkan acara doa bersama di hari ulang tahun Echa.
Adira mengangkat kepalanya untuk menatap Tristan yang sedang berdiri di sebelahnya. "Nggak ngomong apa-apa kok," jawab Adira berbohong dan bermaksud menutupinya dari Tristan.
"Yakin nih, nggak ngomongin apa-apa?" selidik Tristan yang memang mencium bau-bau kebohongan. Adira menghentikan kegiatannya yang sedang memotong kue lapis lalu mendongak menatap suaminya yang masih setia berdiri di sampingnya. *Sudah seperti bodyguard aja sih, pak suami,* gerutu Adira dalam hati.
"Ya emang kenapa kalau kita ngomongin sesuatu? Kan wajar aja karena kita memang anak dan ibu," jawab Adira memberikan alasan yang logis. "Yakin? Hanya ngomong soal anak dan ibu?" seakan belum menyerah dan belum puas dengan jawaban yang istrinya berikan, Tristan memilih bertanya lagi.
"Yakin dong, masa nggak yakin sih," ucap Adira tidak sepenuhnya berbohong. Memang benar bukan, mereka bercerita seperti anak dan ibu? Wkwkwk.
"Ayah kenapa sih? Mesti nanya-nanya segala ke Bunda?" ucap Echa kesal karena mendengar pertanyaan ayahnya yang seperti tidak yakin dengan jawaban bundanya.
Memang seperti itu, Tristan selalu posesif terhadap anak-anaknya. Lalu bagaimana jika Echa mengatakan bahwa dia sedang menyukai seseorang? Sudah di pastikan, se isi rumah akan geger.
"Pada ngobrolin apa sih? Kok kalian ke makam nggak ngajak-ngajak. Kan Oma juga pengen ikut. Biar sekalian," ucap bu Siska yang ikut menimbrung pembicaraan anak dan cucunya.
"Oh iya Oma, tadi kita juga mampir sebentar ke makam opa," ucap Echa mengingat kegiatan tadi pagi.
Ya, pak Hendra telah berpulang ke hadapan Allah SWT menyusul Amanda dan Doni . Pak Hendra meninggal dunia sekitar empat tahun yang lalu. Karena merasa kesepian, Bu Siska memilih untuk tinggal bersama Tristan dan Adira beserta cucu-cucunya.
Untuk rumah yang dulu dia tinggali, setiap minggunya akan ada orang yang membersihkannya. Bu Siska maupun Tristan tidak ingin menjual rumah tersebut karena meninggalkan banyak sekali kenangan.
Entah itu kenangan manis atau kenangan pahit, Bu Siska ingin membiarkan rumah ya tetap ada. Dan jika sewaktu-waktu Bu Siska merasa rindu dengan suaminya, dia akan mengunjungi rumahnya atau mengunjungi makam suaminya yang sudah lebih dulu berpulang.
"Besok mungkin Oma bakal mengunjungi opa," jawab bu Siska yang usianya sudah tidak lagi muda. Rambutnya juga sudah putih semua. Apalagi kacamata dengan kalung yang menggelantung di setiap sudutnya, sudah bertengger sempurna di hidungnya.
"Waah! Udah rame banget ya di sini," ucap seseorang dari arah pintu. Mereka yang sedang duduk-duduk langsung menolehkan kepala dan mendapati Bu Dewi dan pak Irawan datang. Pak Irawan tidak pernah melupakan tongkat yang selalu menopang tubuhnya dan selalu membawanya ke mana-mana.
Maklum, usianya dan usia istrinya sudah terbilang senja. Tidak jauh berbeda dari usia Bu Siska. "Oma! Opa! Kalian udah datang?" pekik Echa girang dan bahagia karena semua keluarganya akan berkumpul di acara doa bersama.
"Kamu meremehkan Oma sama Opa? Mentang-mentang kami sudah tua?"