Treat You Better

Treat You Better
144. Mingkem!



"Adira ... Sepertinya kamu bakal lebih cantik kalau menutup aurat dan memakai jilbab,"


Tristan berucap hati-hati sambil menatap Adira yang malah berdiri mematung di depan lemari baju. Tristan sudah merasa was-was bila saja Adira akan menolak permintaannya lagi.


Sudah sering sekali Tristan menyuruh Adira untuk menutup aurat dan memakai jilbab. Namun jawaban Adira selalu saja belum siap. Tristan tidak kemeja menyerah untuk menyuruh istrinya berubah menjadi lebih baik lagi.


Karena semua yang dilakukan Adira entah baik atau buruk, Tristan juga yang akan mendapatkan semua balasannya karena tidak bisa mendidik istrinya dengan baik.


Adira terlihat menatap Tristan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Ucapan suaminya sudah sering kali terdengar di telinganya. Dan memang benar, suaminya ingin yang terbaik untuk dirinya.


Adira masih enggan menjawab dan malah sibuk mencari baju yang berada di lemari. Tristan menghembuskan nafasnya lelah saat Adira lagi-lagi tidak menjawab perintahnya.


Karena merasa percuma saja, Tristan langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah Tristan menghilang di balik pintu, Adira langsung tersenyum manis menatap pintu kamar mandi.


*Suamiku ini tidak pernah kenal lelah mendidik aku agar lebih baik lagi. Baiklah, aku akan menutup aurat.*


Adira berucap dalam hatinya dengan bersungguh-sungguh. Keinginannya untuk menutup aurat dan memakai jilbab bukan semata-mata hanya karena perintah dari suaminya. Dia ingin melakukan itu dengan tulus tanpa paksakan. Itu merupakan murni keputusan Adira.


Adira segera memakai mukenanya dan menggelar dua sajadah untuk dirinya dan suaminya. Adira duduk di atas sajadah dan berzikir untuk menunggu suaminya selesai.


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka dan Tristan segera berjalan ke lemari baju untuk mengambil baju terbaiknya karena akan menemui Allah dalam sholatnya.


*Mungkin aku harus berdoa lebih keras lagi agar Adira segera mendapatkan hidayah untuk berjilbab,* Tristan bermonolog di dalam hati. Setelah itu, Tristan segera menempatkan dirinya di sajadah depan sebagai imam.


Keduanya salat dengan bersungguh-sungguh di hadapan Tuhannya.


Setelah sholat selesai, Adira mengambil tangan suaminya untuk di cium punggung tangannya. Adira bisa melihat raut murung dari wajah suaminya itu. Hal itu membuat Adira berpikir bahwa suaminya mulai lelah untuk mengingatkan dirinya.


"Senyum dong, Mas. Emang nggak mau ibadah? Cemberut begitu," goda Adira yang ingin menghibur suaminya. Tristan tersenyum sangat tipis menanggapi ucapan Adira dan tidak berucap sepatah kata pun sebagai jawaban.


Cup. Cup. Cup.


Adira mengecupi bibir Tristan berulangkali agar tidak manyun terus menerus. Dan benar saja, bibir itu langsung merekah kembali. Saat Tristan ingin memperdalam ciumannya, Adira segera mundur karena belum melepas mukenanya. "Aku masih pake mukena. Aku copot dulu ya, Mas," Adira berucap untuk meminta izin dari suaminya itu.


Tristan tersenyum lebar dan mengiyakan ucapan Adira. Setelah Adira melepas mukenanya, dia segera mendekati suaminya lagi untuk melanjutkan ciumannya yang sempat tertunda.


Adira langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Tristan dan menatap mata setajam elang milik suaminya. Tatapan Adira begitu lembut dan penuh cinta. Sampai-sampai Tristan terbuai dengan begitu mudahnya.


Tristan sudah tidak bisa berpaling lagi dan malah menunggu sesuatu hal yang akan Adira lakukan terhadap dirinya. "Mau lanjut lagi nggak ciumannya?" tanya Adira dengan nada bicara yang terdengar mendayu-dayu.


Adira bisa tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Tristan menginginkannya. Dengan begitu, suaminya tidak akan mendiamkannya selama beberapa jam ke depan.


*


Saat ini, Tristan beserta anak-anaknya sedang melakukan sarapan pagi di meja makan. Mereka sarapan dengan roti bakar yang sudah Adira siapkan sejak tadi.


Namun yang membuat semua heran adalah, Adira tidak kunjung turun setelah tadi berpamitan untuk berganti baju. Memang, Adira masih menggunakan baju piyama yang semalam dia pakai jika akan memasak.


Setelah selesai memasak sarapan untuk keluarganya, Adira akan berganti baju dengan baju yang bersih dan sudah di cuci.


Saat sarapan Tristan dan anak-anaknya hampir habis, Adira belum juga muncul dan bergabung untuk sarapan. Tidak biasanya Adira seperti itu. "Bunda kok belum turun lagi ya, Yah?" tanya Aarav yang sudah berhasil menghabiskan dua roti bakar isi selai coklat.


"Itu bunda ... Wow! Bunda cantik banget!" pekik Echa antusias saat melihat Adira sedang menuruni tangga. Tristan dan Aarav sampai terpana dengan mulut keduanya yang lebar menganga.


Pasalnya, penampilan Adira yang sekarang sudah berbeda. Tristan bisa melihat bahwa Adira terlihat sangat, sangat cantik setelah memakai jilbab dan memakai pakaian yang tertutup.


Ya,Adira mengenakan jilbab pashmina berwarna merah maroon dan di padukan dengan tunik setelan lengkap dengan celana standarnya berwarna mocca. Sangat cantik.


"Mingkem!" ucap Adira saat sudah berada di meja makan dan mendapati Aarav dan suaminya mulutnya terbuka. Tristan dan Aarav belum juga tersadar dan masih bengong.


Echa tertawa terbahak-bahak melihat Aarav dan ayahnya begitu terkejut dengan penampilan baru bundanya. Dia juga sempat terkejut namun, Echa sebisa mungkin menguasai dirinya kembali.


"Bunda cantik banget sih, makanya dia laki-laki beda generasi ini sampai tidak berkedip dan melongo," ucap Echa di sela tawanya yang sangat renyah.


Tristan dan Aarav segera tersadar dari keterkejutan dan rasa kagum pada sosok di depannya. "Bunda cantik banget kalau pake jilbab," ucap Aarav memuji kecantikan bundanya.


Adira tersenyum menanggapi ucapan Aarav. Tristan membenarkan ucapan yang baru saja Aarav ucapkan. "Iya, kamu cantik banget, Sayang. Aku senang banget sama keputusan kamu kali ini. Terima kasih ya," ucap Tristan yang sudah berkaca-kaca karena saking bahagianya.


Doa panjangnya sudah Allah SWT kabulkan. Doa yang tidak pernah terlupa di sepanjang malam Tristan beribadah. Dia selalu memohon kepada Tuhannya agar memberikan hidayah pada istrinya untuk menutup aurat. Kini doanya sudah terkabul. Tristan benar-benar sangat bahagia dan terharu.


"Jadi nggak pengen ke kantor kalau begini," sambung Tristan lagi yang masih menatap Adira tanpa ingin berpaling sedikitpun. Aarav dan Echa hanya menyaksikan ayah dan bundanya itu dalam diam.


"Assalamualaikum, maaf baru datang kare–," ucap teh Ratih terpotong saat melihat penampilan Adira yang sudah berbeda. Teh Ratih yang seorang wanita juga sampai takjub, apalagi yang seorang laki-laki termasuk suaminya sendiri.


"Bu Adira geulis pisan pakai jilbab," ucap teh Ratih memuji dan menelisik penampilan Adira dari atas sampai bawah.


"Semoga Istiqomah ya, Bu. saya turut merasa senang jika Bu Adira mau menutup auratnya,"