
Saat ini, Adira dan Tristan sedang berwisata di Desa Adat Wae Rebo. Wae Rebo sendiri merupakan desa tradisional yang berada di Kampung Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT.
Desa ini terletak di ketinggian 1200 MDPL dan di kelilingi beberapa bukit yang berjajar seperti memagari desa. Sehingg terkesan bahwa desa ini terisolasi. Namun, itu tak membuat desa ini sepi pengunjung. Justru banyak wisatawan yang rela datang jauh-jauh untuk menikmati keindahan setiap sudut Desa Adat Wae Rebo.
Desa ini hanya memiliki tujuh rumah adat berbentuk lumbung kerucut yang disebut Mbaru Niang. Keindahan dan keunikan Desa Adat Wae Rebo inilah yang menjadi daya tarik tersendiri di mata dunia.
"Foto dong, Mas. Indah banget di sini," perintah Adira lembut sambil menarik tangan suaminya untuk mendekati dirinya. Tristan menurut dan merapatkan tubuhnya pada Adira.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Beberapa foto selfie berhasil Adira ambil. Kemudian, Adira teringat sesuatu. "Fotografernya mana, Mas? Pengen foto pake kamera yang bagus nih, hehehe," ucap Adira cengengesan.
Tristan tersenyum dan geleng-geleng kepala. Tristan mengira Adira sudah lupa dengan fotografer yang sudah dirinya sewa. Ternyata perkiraannya salah, Adira masih sangat mengingatnya.
"Dia di sana," ucap Tristan sambil menunjuk seseorang yang sedang memegang kamera dan mengarahkan ksmers itu pada Adira dan Tristan. "Oooh, jadi sejak tadi dia udah ambil foto kita yang kaya candid gitu ya? Tapi aku mau yang di sengaja dong," ucap Adira setengah merengek.
Tristan tersenyum dan mengiyakan permintaan Adira. "Mau pose yang kaya gimana?" tanya Tristan sambil mengacak gemas rambut hitam Adira.
"Aku mau di gendong terus nanti di foto," ucap Adira dengan puppy eyesnya. Tristan menghela nafas dan mengiyakan permintaan Adira. "Ayo mas, tolong fotoin ya," Tristan berucap kepada sang fotografer.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Sudah banyak sekali foto yang berhasil diambil. Karena merasa sudah lelah dan sudah terlalu lama juga di sana, Adira dan Tristan akhirnya memilih untuk kembali ke Resort. Mereka segera naik ke mobil yang telah mereka sewa untuk mengantarkannya ke Wae Rebo.
Karena memang jarak Labuan Bajo dengan Wae Rebo cukup jauh. Butuh waktu enam jam untuk bisa sampai di Wae rebo. Namun saat sudah sampai di tempat, rasa lelah karena lamanya perjalanan seakan langsung hilang begitu saja terbayar dengan keindahan dan keunikan Desa Adat Wae Rebo.
Saat sudah berada di mobil, Adira langsung menyadarkan kepalanya di bahu Tristan. Karena sangat bersemangat, Adira jadi merasa sangat lelah saat perjalanan sudah selesai.
"Capek banget ya , Sayang?" Tristan bertanya sambil mengecupi kepala Adira berulang-ulang. Adira mendongak dan menatap suaminya itu. "Capek, tapi seneng banget perjalanannya," jawab Adira dan memejamkan matanya.
Cup.
Mata Adira terbuka lebar kembali saat suaminya itu tidak pernah melihat-lihat tempat saat akan mencium dirinya. Adira juga sempat melirik pak sopir yang juga melirik dirinya dan juga Tristan lewat cermin di depannya.
Adira langsung memukul lengan suaminya itu cukup kencang. "AW! AW! Sakit, Ra ...." Tristan memekik kesakitan saat tangan Adira mendarat di lengannya. Entah dapat kekuatan dari mana Adira ini, sehingga tenaganya seperti sudah terisi kembali.
Pasalnya tadi, Adira sempat kecapean dan teluhst mengantuk. Seketika di kepala Tristan seperti ada lampu yang menyala. "Kamu kok tenaganya jadi kuat banget. Padahal tadi udah lemes gitu. Pasti karena dapet amunisi dari aku kan?" Tristan bertanya dengan nada sombongnya.
Adira langsung mencebikkan bibirnya kesal dengan tingkat percaya diri suaminya yang tinggi. "Aku malu, Mas. Pak sopir liatin loh," ucap Adira sambil berbisik agar tidak terdengar oleh sang sopir yang berada di jok depan.
"Nggak papa dong. Kan kita udah sah. Jadi, ngapain malu coba?" Tristan bertanya dengan tampang tanpa dosanya. Karena sudah kadung kesal dan harus bertambah kesal lagi dengan jawaban yang suaminya berikan, Adira memilih menegakkan tubuhnya dan melipat kedua tangganya di depan dada.
Pandangan Adira lurus menatap keluar jendela untuk melihat pemandangan kota. Tristan yang menyadari bahwa Adira sudah berubah dalam mode merajuk, dia memilih merapatkan tubuhnya pada Adira.
Tristan juga memeluk Adira dengan erat dan beruntungnya, Adira tidak menolaknya sama sekali. "Jangan marah dong. Kan aku hanya bercanda, Sayang," ucap Tristan sangat lembut untuk membujuk istrinya itu.
Adira tidak membalas pelukan Tristan. Dia melirik sekilas pada suaminya itu dan berkata. "Aku malu tahu, Mas ...." jawab Adira terdengar sangat kesal di telinga Tristan.
"Iya maaf ya, Sayang. Lain kali aku nggak gitu lagi," ucap Tristan berusaha menenangkan. Adira langsung tersenyum dan membalas pelukan yang suaminya berikan.
*
Karena untuk menghemat waktu, Adira dan Tristan mandi bersama. Hanya mandi dan tidak melakukan hal yang iya-iya. Jika mereka bermain walau sebentar, mereka akan kehabisan waktu untuk menunaikan salat magrib.
Setelah memakai sarung, baju Koko dan kupluk, Tristan segera menggelar sajadah yang berjumlah dua yaitu satu untuknya dan satu lagi untuk Adira.
Adira saat ini sedang berganti baju. Tidak berapa lama, Adira selesai dan sudah memakai mukenanya. "Udah di gelar semua?" tanya Adira saat melihat dua sajadah sudah tergelar di atas lantai dengan sempurna.
Tristan tersenyum dan mengangguk sebelum menjawab pertanyaan Adira. "Ayo buruan, keburu waktunya habis nanti," ajak Tristan agar Adira segera mengikuti dirinya.
Adira langsung menempatkan diri di belakang suaminya untuk menjadi makmum. Kedua insan itu salat dengan bersungguh-sungguh karena sedang menghadap Tuhan nya.
Setelah salat dan memanjatkan doa selesai, Adira memilih untuk duduk di balkon. Tujuannya adalah untuk menikmati suasana malam di kota Labuan Bajo, kota yang dijuluki Kota Seribu Sunset.
Matahari sudah kembali ke peraduan dan condong ke barat dengan warna kuning keemasannya. Entah mengapa Adira sangat menyukai segala hal yang berbau sunrise maupun sunset. Mata Adira selalu di manjakan dengan keindahan yang telah Tuhan ciptakan.
"Pengen minum kopi nggak, Sayang?" tanya Tristan sambil mendudukkan dirinya di kursi kosong yang terletak di pinggir tempat duduk Adira. Adira menoleh dan mendapati suaminya sedang menatap dirinya lembut.
Adira tersenyum dan menjawab." Aku mau makan dulu boleh nggak? Habis itu aku pengen minum kopi di sini," pinta Adira pada suaminya.
Tristan langsung terkekeh geli dengan permintaan istrinya itu. " Ya jelas boleh dong. Kamu memang harus makan dulu sebelum minum kopi," jawab Tristan sambil mengacak gemas rambut Adira.
Adira juga ikut terkekeh. Dirinya memang harus makan dahulu sebelum meminum kopi karena dirinya mempunyai riwayat asam lambung. Adira langsung teringat dengan lagu yang sangat cocok menggambarkan kondisinya yang sekarang.
"Aku langsung inget sama lagu yang sempat viral tentang kopi. Ya seperti aku, asam lambung kumat tapi tetap aja minum kopi terus," ucap Adira bercerita.
"Oh ya? Lagu yang mana memangnya?" Tristan bertanya dengan antusias tinggi.
"Yang gini ...
*Gara-gara minum kopi*
*Lambungku kumat lagi*
*Tapi tetap ku minum*
*Kopi setiap hari*
*Lambungku kumat lagi*
*Sesak di ulu hati*
*Oh kopi ... Oh kopi ...*"
Tristan langsung tergelak bukan hanya karena isi lagunya, melainkan cara Adira menyanyikannya sangat mirip sekali dengan yang ada di aplikasi tok tok.