Treat You Better

Treat You Better
131. Cemburu buta



Malam semakin larut, Elvan dan Imelda berpamitan untuk pulang.


Adira dan Tristan mengantar kedua tamunya itu sampai depan pintu bersama Aarav yang berada di gendongan Tristan yang sudah tertidur pulas.


Sedangkan Echa, dia juga sudah tidur di kamarnya bersama baby sisternya.


Setelah mobil Elvan sudah benar-benar menghilang dari pandangannya, Adira kembali masuk dengan memeluk pinggang suaminya itu.


Sejak pertama kali Elvan datang ke rumahnya, suaminya itu jadi uring-uringan.


Adira mengerti bahwa suaminya itu sedang dalam mode cemburu buta.


Padahal sudah jelas sekali kedatangan Elvan ke rumah mereka adalah, untuk mengundang Adira dan Tristan menghadiri acara pertunangannya.


Suaminya itu kalau sudah cemburu, tidak pernah pandang bulu. Cemburu boleh saja, asalkan jangan terlalu.


Setelah menaruh Aarav dalam box bayinya, Tristan segera melenggang pergi ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudu.


Adira memperhatikan setiap pergerakan yang suaminya itu lakukan.


Setelah keluar dari kamar mandi, Adira bisa melihat wajah Tristan yang terlihat basah karena air wudu.


Adira masih diam memperhatikan setiap apa pun yang suaminya itu lakukan.


“Kamu belum salat isya,” ucap Tristan datar dan terdengar dingin.


Tristan belum tahu saja bahwa Adira sedang kedatangan tamu bulanannya.


“AC udah aku kecilkan, tapi kenapa masih terasa dingin ya?” tanya Adira menyindir nada bicara suaminya itu.


Tristan hanya melirik sekilas ke arah Adira dan kembali fokus pada kegiatannya.


Tristan segera melaksanakan salat isya yang sempat tertunda tadi.


Karena terlalu fokus menatap suaminya itu, perlahan mata Adira terasa berat dan terpejam untuk menggapai alam mimpi.


Setelah selesai salat, Tristan mengalihkan pandangan menatap wajah istrinya.


“Maafkan aku yang sudah terlalu cemburu ya, Ra,” gumam Tristan sambil menatap wajah damai istrinya yang sedang tertidur pulas.


Tangannya sibuk melipat sajadah yang baru saja dirinya kenakan.


Setelah mengganti sarungnya dengan celana pendek, Tristan segera ikut bergabung, masuk ke dalam selimut yang Adira gunakan untuk menutup tubuhnya.


Tristan langsung memeluk Adira yang posisi tubuhnya membelakangi dirinya.


“Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah.”


Setelah mengucapkan itu, Tristan mengecup kening Adira cukup lama hingga membuat sang empunya menggeliat dan berbalik badan menghadapnya.


Sekarang, Tristan bisa melihat dengan jelas wajah cantik Adira yang sangat terawat. Tentunya karena berbagai perawatan yang Adira lakukan demi menjaga kekencangan dan kecantikan wajahnya.


Setelah cukup lama memandangi wajah istrinya, mata Tristan mulai terasa berat dan perlahan, mata itu terpejam untuk menggapai alam mimpi menyusul Adira.


*


Di kantor Wijaya Investama.


 


Tristan sedang sibuk mengecek berkas-berkas penting tentang perusahaan yang mengajukan dana suntikan kepada perusahaannya.


Tristan harus benar-benar teliti untuk urusan kerjasama dengan perusahaan lain. Apalagi dana yang dibutuhkan oleh perusahaan klien tidak sedikit.


Untuk mencegah adanya penipuan, Tristan juga mengecek langsung data-data yang diserahkan dan mencocokkannya dengan data yang di dapat dari mata-matanya.


Jika banyak kesamaan, perusahaan klien akan lulus dan akan segera mendapat suntikan dana.


Namun jika ditemui banyak kecurangan dan kebohongan, Tristan tidak akan segan untuk menolak perusahaan tersebut.


Tok. Tok. Tok.


Fokus Tristan harus terbagi karena ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.


“Masuk!” perintah Tristan dari sambungan interkom.


Ceklek.


“Saya akan menyeleksinya sendiri. Kamu taruh saja di atas meja semua data kandidatnya. Sebentar lagi saya akan melakukan interview,”  jawab Tristan memberitahu.


“Baiklah, Pak. Saya akan menyuruh para kandidat untuk bersiap-siap,” ucap laki-laki tersebut sebelum pamit keluar dari ruangan atasannya.


Setelah selesai mengecek semua berkas, Tristan melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.


Satu jam lagi jam istirahat kantor akan tiba. Tristan tampak menimbang-nimbang apakah akan melakukan interview sekarang atau nanti, setelah jam istirahat selesai.


“Sekarang aja deh. Lebih cepat lebih baik. Sepuluh orang dalam satu jam? Cukuplah,” monolog Tristan pada dirinya sendiri.


Setelah itu, Tristan terlihat menghubungi seseorang lewat sambungan telepon kabel.


“Suruh para kandidat masuk satu persatu ke ruangan saya,” perintah Tristan kepada seseorang yang berada dia seberang sana.


Setelah telepon terputus, tidak perlu menunggu lama, ada seseorang yang mengetuk pintunya.


“Masuk!” perintah Tristan kepada seseorang yang berada di depan sana.


Setelah orang tersebut masuk, Tristan menelisik penampilan seseorang yang menjadi kandidat sekretarisnya.


Terkesan seronok karena perempuan tersebut mengenakan rok span yang sangat pendek hingga menampakkan paha mulusnya.


Tristan tidak suka dengan sekretaris yang seperti itu. Seketika Tristan bergidik ngeri melihat perempuan itu berjalan ke arahnya dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya.


Tanpa menunggu perempuan itu duduk, Tristan segera berbicara.


“Kamu di tolak, silakan keluar kembali,” ucap Tristan datar dan terdengar dingin.


Perempuan itu terdengar mengesah karena kalah sebelum berperang.


Setelah perempuan itu keluar, kini giliran kandidat selanjutnya yang masuk.


Lagi-lagi Tristan merasa tidak cocok dengan kandidat yang katanya telah di seleksi oleh orang kepercayaannya.


Sudah ada sembilan kandidat yang masuk ke dalam ruangan Tristan untuk di interview. Itu berarti, masih tersisa satu kandidat lagi yang harus di interview.


“Suruh kandidat terakhir masuk ke dalam ruangan!” perintah Tristan lewat sambungan interkom.


Tok. Tok. Tok.


“Masuk!” perintah Tristan.


Ceklek.


Pintu terbuka dan menampakkan seorang gadis muda dengan pakaian yang sopan dan lebih tertutup.


Dalam artian, gadis tersebut mengenakan rok selutut dan kemeja berlengan panjang dan berkerah tinggi.


“Silakan duduk!” ucap Tristan memerintah.


Gadis itu menurut dan mendudukkan dirinya di kursi kosong yang tersedia di sana.


“Perkenalkan, nama saya Briana, Pak,” ucap perempuan itu malu-malu.


“Baik Briana, apa tujuan kamu ingin bekerja menjadi sekretaris saya?” tanya Tristan mulai menginterogasi.


“Saya ingin bekerja demi membayar hutang kedua orang tua saya, Pak,” jawab gadis bernama Briana itu sambil menunduk malu.


Tristan menjadi ragu apakah dia harus menjadikan Briana sebagai sekretarisnya. Sedangkan berbicara dengannya saja, Briana selalu menunduk dan enggan menatap dirinya.


Bukan tanpa alasan, Tristan takut gadis yang ada di depannya ini tidak bisa menyesuaikan diri saat ada meeting di adakan bersama perusahaan besar.


Dan itu berarti, Briana akan bertemu dengan orang yang lebih banyak lagi.


Jika Briana terus menunduk saat berbicara, bagaimana kliennya akan percaya dengan perusahaannya?


“Baiklah, kamu boleh keluar sekarang juga. Masalah kamu di terima atau tidak, biar pihak kami yang akan menghubungi kamu nanti,” ucap Tristan tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan.


“Tolong terima saya, Pak. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini,” ucap Briana memohon dengan sangat hingga menyatukan kedua telapak tangannya.