
Satu keluarga kecil itu terdiam menatap anak laki-laki yang memanggil Tristan dengan sebutan ‘Daddy’.
Tepatnya hanya Adira dan Tristan yang terdiam karena rasa terkejutnya.
Sedangkan Echa, dia hanya menatap bingung ke arah anak laki-laki tersebut.
“Ken, apa kamu mengenal Om itu?” tanya seorang laki-laki yang tidak Tristan tahu siapa namanya.
“Dia Daddy. Mommy pernah bilang, kalau dia Daddy nya, Ken,” jawab Ken tanpa ragu.
Ya, anak laki-laki tersebut adalah Kenrick anak dari Sindy.
Tristan tidak tahu pasti siapa pria yang saat ini bersama Ken tersebut.
“Hai, apa benar jika anda adalah ayah dari Kenrick?” tanya pria tersebut yang bisa Tristan tafsir usianya sekitar tiga puluh tahunan.
“Ya, aku mengenalnya karena Sindy,” jawab Tristan yang sudah tersadar dari rasa terkejutnya.
Pria tersebut tampak mengernyit bingung karena merasa tidak mengerti dengan ucapan Tristan.
Bukankah Kenrick memanggilnya Daddy?
Lalu kenapa dia mengenalnya dari Sindy?
Begitulah kira-kira pertanyaan yang ada di benak pria tersebut.
“Bisa kita berbicara di sebelah sana,” ucap pria tersebut memohon sambil menunjukkan salah satu kafe yang lumayan dekat dengan pekan raya.
Tristan tampak menatap Adira untuk meminta persetujuan.
Setelah melihat Adira mengangguk, Tristan menjawab dengan mengiyakan permintaan pria tersebut.
*
Saat ini, mereka sudah berada di kafe yang lumayan ramai pengunjungnya. Karena tidak punya pilihan, pria tersebut akhirnya memesan ruangan VIP untuk mereka berbicara masalah yang serius mengenai Kenrick.
Tristan dan Adira tidak mengerti tujuan pria yang ada depannya itu apa. Hingga dia rela mengajak keduanya minum kopi di sebuah kafe yang cukup mahal harganya.
“Perkenalkan, nama saya Rizal. Saya yang mengadopsi Ken dari panti asuhan. Saya mengira, Ken sudah tidak punya keluarga. Tapi, mendengar Ken memanggil anda dengan sebutan Daddy, saya menjadi penasaran siapa sebenarnya anda. Maaf mungkin pertanyaan saya terlalu lancang,” ucap pria bernama Rizal itu menjelaskan maksud dan tujuannya.
Tristan tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mungkin Tristan harus jujur kepada pria di hadapannya itu. Agar suatu saat bila Ken sudah besar, dia tidak akan mencarinya lagi sebagai ayah kandungnya.
Karena memang dirinya bukan ayah biologisnya.
Tapi, Tristan akan dengan senang hati membuka pintu rumahnya dengan lebar menerima kedatangan Ken berkunjung ke rumahnya.
Tristan tidak mau Ken salah paham sampai dewasa nanti.
“Saya akan menjelaskan semuanya,” jawab Tristan tanpa ada keraguan.
Kemudian, Tristan mulai bercerita pertemuan pertama dengan Ken yang telah Sindy rencanakan.
Sindylah yang mengatakan kepada Ken bahwa dirinya merupakan ayah kandung dari Ken, padahal bukan.
Sindy mempunyai seorang anak dari pria bernama Luwis yang sampai sekarang, Tristan tidak tahu menahu tentang kabarnya.
Sindy memohon bantuannya karena tidak mungkin mempertemukan Ken dengan ayah kandung yang tidak mengakui keberadaannya.
Jadilah Ken memanggil dirinya dengan sebutan Daddy.
Tristan juga menceritakan bahwa itu semua sudah berlalu dan Tristan tidak mau berbohong terlalu lama dengan Ken bahwa dirinya bukanlah ayah kandungnya.
Tristan juga menceritakan sedikit tentang kisah rumah tangganya yang hampir hancur karena adanya Sindy di kehidupan rumah tangga mereka.
Sejak saat itu, Tristan memutus hubungan dengan segala hal yang berkaitan dengan Sindy termasuk Ken, anaknya.
“Kira-kira begitu ceritanya,” ucap Tristan akhirnya bisa bernafas lega.
Rizal tampak mengangguk tanda mengerti dengan cerita panjang lebar yang Tristan ucapkan.
“Terima kasih informasinya. Pasalnya, Ken selalu bercerita tentang ibunya yang telah tiada dan kadang menyebut nama ‘Daddy’. Saya tidak tahu Daddy mana yang Ken maksud,” ucap Rizal sambil matanya menerawang jauh.
“Jika anda berkenan, silahkan ceritakan kisah suami saya kepada Ken bahwa suami saya bukanlah ayahnya. Jujur, saya merasa cemburu setiap kali masalah Ken atau Sindy di ungkit. Maaf, mungkin saya terlalu sensitif dan tidak mau kejadian yang dulu saya alami harus terjadi lagi,” ucap Adira lengkap dengan nada tegasnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Rizal, Adira segera berdiri dan berjalan mendekati kedua anaknya yang sedang bermain bersama Ken.
Entah mengapa, setiap kali Adira melihat Ken, rasa sakit dihatinya seakan terbuka kembali.
Tristan memohon maaf atas kelakuan istrinya yang kurang berkenan dan segera menyusul Adira.
Tristan tahu bahwa Adira sedang tidak baik-baik saja jika masalah Sindy ataupun Ken dibahas kembali.
Melihat istrinya yang terlihat kesusahan, Tristan mengambil alih Aarav yang berada di troli dan mendorongnya.
Adira hanya melirik sekilas dan diam seribu bahasa.
Setelah berada di dalam mobil, Adira tidak mau duduk di depan dan mengurus Echa untuk duduk di depan menemani Tristan.
Dirinya beralasan ingin menyusui Aarav agar tidak rewel. Beruntung, Echa mau di ajak kerjasama
Di sepanjang jalan, Adira hanya diam menatap ke arah luar jendela.
Moodnya tiba-tiba hilang begitu saja.
Tristan yang memahami sikap berbeda yang Adira tunjukkan akhirnya memilih diam untuk memberikan waktu kepada Adira.
Tristan sesekali melirik dari kaca spion yang ada di depannya.
Setengah jam kemudian, mereka sampai rumah. Tristan menyuruh baby sister Aarav dan Echa untuk segera membawa kedua anak tersebut ke kamar anak.
Tristan harus segera berbicara dengan Adira. Jika tidak, maka akan terjadi adalah yang berkelanjutan.
Adira tampak turun dari mobil dengan langkah cepatnya.
Karena tidak mau tertinggal, Tristan segera berlari untuk menyusul Adira yang pastinya akan pergi ke kamar.
Benar saja, Adira masuk ke dalam kamar dan dengan secepat kilat, Tristan segera mendorong pintu yang hampir saja tertutup rapat dari dalam karena pasti Adira akan menguncinya.
Saat dirinya sudah masuk, Tristan segera mengunci pintu itu.
Adira menatap Tristan dengan tatapan kesalnya.
Kemudian Adira berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tristan masih saja mengikuti dirinya.
Adira menghela nafasnya lelah melihat kegigihan suaminya itu.
Mungkin, Adira buang air besar pun Tristan akan tetap mengikuti dirinya.
“Aku mau mandi. Bisa nggak, keluar dulu,” ucap Adira merasa jengah dengan sikap suaminya itu.
“Nggak bisa. Aku mau lihat istri kesayanganku mandi” jawab Tristan santai disertai senyuman manisnya yang selalu berhasil meluluhkan hati Adira.
Hampir saja Adira goyah dengan pendiriannya. Sesegera mungkin Adira membuka seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya.
Tristan hanya bisa menelan salivanya susah payah melihat pemandangan yang menggoda iman ada di depannya.
Senjatanya yang berada di bawah sana sudah terbangun karena melihat tubuh polos Adira.
Tristan mencoba menahan dirinya untuk tidak tergoda.
Setelah itu, Adira segera berjalan menuju shower untuk mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin.
Adira langsung bisa merasakan kesegaran pada kulit kepalanya yang tadi seakan mengeluarkan asap dari sela pori-porinya.
Tristan semakin tidak tahan melihat tubuh Adira yang bertambah seksi di bawah guyuran air shower.
Dia segera melepas seluruh pakaian yang melekat pada tubuhnya dan merapatkan tubuhnya kepada Adira hingga Adira mepet ke tembok.
“Mau ngapain?” tanya Adira merasa panik.
“Mau ini,” jawab Tristan yang tangannya sudah bergerilya di bawah sana.
.
.
.
.
.
numpang promo novel aku yang lainnya juga ya hehe
mohon dukungannya🙏
bila berkenan, silahkan tambahkan ke favorit 🙏😘