
Jangan lupa meninggalkan jejak ya!😘
.
.
.
.
.
.
Hari yang baru memiliki semangat yang baru. Itulah yang dirasakan oleh warga di pusat kota itu. Mereka beraktifitas sesuai dengan passion mereka masing-masing. Banyak penjajal makanan dan minuman bertengger di pinggir jalan. Adapula yang duduk meminta belas kasihan orang lain dengan bernyanyi dan melakukan atraksi-atraksi menakjubkan. Ada yang menjual bermacam-macam bunga dan mainan anak-anak. Cuaca yang mendukung membuat mereka lupa waktu.
Semua orang disibukkan dengan kegiatannya masing. Begitu pula yang terjadi di sekolah menengah ternama itu. Semua siswa sibuk dengan tugas mereka. Hingga bunyi bel menandakan waktu istirahat, mereka berhamburan keluar.
Ada yang menghabiskan waktunya di lapangan basket, voli, ada pula yang menghirup udara segar di taman bunga belakang. Sebagian besar dari mereka sedang antrian di kantin.
"Kapan kalian bimbingan?" tanya Izzy setelah mereka mendaratkan bokongnya di kursi kantin.
"Setelah jam pulang sekolah," gadis yang ditanya menjawab seadanya saja.
Gadis di hadapannya itu mendesah.
"Kenapa?" tanyanya.
"Aku ingin mengajakmu ke pestanya Casey sebentar malam," jelas Izzy sambil menyondorkan sebuah kartu undangan.
"Casey?" gumamnya sambil mengingat-ingat. "Oh astaga, kekasihmu itu? Aku hampir lupa kalau dia berulang tahun."
"Cih...Belum tua sudah pelupa."
"Hei...jangan mengatakan itu. Kau membuatku malu saja. Apa tema pesta itu?" tanya Abbie penasaran.
"Romance Night."
"Oh Yesus. Aku tidak punya pasangan," desah Abbie sambil mengerucutkan bibir.
Izzy terkekeh.
"Bawa saja salah satu dari ribuan pemujamu itu," bisik Izzy sambil terkekeh pelan.
"Apa kau gila? Papaku bisa saja menebas leherku kalau sampai itu terjadi," jawabnya sarkas.
Kebiasaan Abbie datang ke pesta bukanlah hal baru. Apapun tema pestanya, ia selalu datang sendiri tanpa pasangan.
Pernah suatu hari, salah satu teman sekelasnya berulang tahun. Ia diundang ke pesta itu dengan mengharuskannya membawa pasangan. Abbie yang waktu itu tidak punya kekasih tidak ingin mengikuti alur pesta itu.
Hingga sebuah ide gila terlintas di benaknya. Ia mengajak seorang teman laki-laki di kelasnya sebagai pasangannya.
Sang ayah mengetahui hal itu sehingga ia disiksa secara materi. Semua kartunya dibekukan selama sebulan.
"Come on, girl. Malam ini saja, please!" melas temannya itu.
Ia terlihat berpikir sejenak.
"Apa kau punya saran tentang pasangan yang cocok untukku nanti ke sana?"
Lama Izzy berpikir sebelum tertawa lebar yang membuat Abbie menatapnya aneh dan curiga. Abbie tahu, meminta saran dari temannya adalah sesuatu yang sangat konyol. Ia menyeringai dan membisikkan sesuatu ke telinga Abbie.
"What?!"
Teriakan Abbie membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian. Ada yang menatap heran, ada yang menatap benci, adapula yang memuja dan bahkan sebagiannya acuh karena kebiasaan anak dari induk jutawan memang seperti itu.
Abbie seketika sadar bahwa mereka ada di kerumunan banyak siswa. Ia tersenyum kaku ke arah teman-temannya yang terusik oleh suaranya.
Izzy terkekeh melihat muka Abbie yang memerah padam. Bukan marah, tapi terkejut oleh ide gilanya.
"Bagaimana bisa kau merekomendasikan dia?" bisik Abbie pelan.
Izzy mengangkat bahu tak peduli.
"Itu secepat kilat terlintas di benakku," ujarnya. "Sepertinya kalian berdua cocok, like beauty and the beast," bisiknya pelan di akhir kalimat sambil terkekeh.
"Sialan kau, Izabel."
*****
Jam pelajaran telah berakhir menandakan dimulainya proses belajar lanjutan Abbie dan Charles. Mereka tetap di kelas meski teman-temannya yang lain telah meninggalkan kelas beranjak ke rumah mereka masing-masing.
Abbie masih terpikirkan oleh ide gila temannya itu.
Bagaimana bisa ia menyuruhku menjadikan 'dia' pasanganku di pesta pacarnya?
Bagaimana kalau papa menyiksaku lagi nanti?
Akhh...ini membuatku gila! Apa aku tidak usah ikut saja?
No, no...
Bagaimanapun juga aku harus menghargai pemilik pesta itu. Tapi...
Lagipula, siapa juga yang mau berpasangan dengannya?
Pikirannya berkecamuk hingga ia tak menyadari tatapan tajam milik Asesino itu seolah memotong lehernya.
Charles yang menyadari hal itu segera menendang kaki Abbie dari bawah meja. Bersamaan dengan itu, sebutan nama belakangnya membuatnya gelagapan.
"D'alejjandra?!"
Ia terkejut oleh suara itu. Ia berusaha mengendalikan fokusnya. Ia terperangah.
Anjing rabies asesino?
"Lo siento."
Ia menunduk takut.
Bagaimana bisa aku langsung melakukan kesalahan?
Charles di sampingnya hanya tersenyum tipis.
Abbie hanya bisa mengumpat di dalam hati.
"Sekarang fokuslah. Kita mulai. Berdoalah terlebih dahulu!"
Keharusan yang tidak boleh ditiadakan. Mereka berdoa dalam diam menghadap hadirat Yang Maha Kudus dengan sungguh-sungguh.
Selama proses itu, sebagian rasa takut Abbie terhadap gurunya itu perlahan memudar. Benar kata orang, 'bisa karena terbiasa' sekarang terjadi pada Abbie. Ia bertanya tentang hal-hal baru yang belum mereka pelajari di kelas ini. Interaksi itu membuatnya sedikit banyak tidak gugup ketika menatap dan berbicara pada gurunya.
Hingga tak terasa mereka memerlukan waktu selama dua jam. Tepat jam empat sore mereka mengakhirinya.
Hanya mereka berdua yang tersisa di sekolah itu. Abbie segera ke tempat parkir dan menyalakan mesin mobilnya. Sementara Charles segera berjalan menyusuri jalan ke tempatnya biasa menunggu kendaraan umum. Suara klakson mobil mengalihkan fokusnya. Ia menoleh.
Seorang gadis menjulurkan kepalanya dari Bugatti LVN hitamnya.
"Ayo!"
Apa-apaan itu cewek? Mau mengajak perang lagi ya?
Namun, ia mendekat juga.
"Masuk!"
Charles segera membuka pintu mobil mewah itu. Ia terkejut. Ternyata bagian interior mobil itu sangat luar biasa. Ia nyaman duduk di sana.
Abbie segera menancap gas ke suatu tempat.
"Ini bukan arah rumahku!" protes Charles ketika ia menyadari arah tujuan mobil itu.
"Diamlah," sahut Abbie kesal.
Aku pasti sudah gila membawa cowok kampungan ini ke sini.
"Turunlah!" perintah Abbie ketika mereka sampai di tempat yang dituju.
Charles segera mengikuti instruksi. Seperti seorang bawahan melakukan perintah atasannya. Ya, memang Abbie-lah atasannya di sini. Dialah bosnya. Tidak ada yang berani membantahnya bahkan sepatah katapun.
Mereka masuk ke dalam bangunan itu. Mata Charles langsung dimanjakan oleh pakaian-pakaian mahal yang berkilauan.
Gadis itu tampak berbicara dengan seorang wanita dan menyondorkan kartu debitnya.
Tak lama kemudian, muncullah wanita itu dan memanggilnya masuk ke sebuah ruang ganti. Charles yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi mengikutinya. Wanita itu menyodorkan sebuah setelan jas berwarna navy kepadanya.
Sekarang ia paham.
Setelah mencoba setelan jas itu, ia keluar. Tampaklah Abbie berdiri di sana. Senyum samar tercetak di bibirnya.
"Lumayan," komentarnya.
Dari sana, mereka pergi ke sebuah salon kecantikan. Abbie tak banyak bicara. Entah apa yang di pikirannya saat ini.
"Buka kacamata bodohmu itu," sahut gadis itu ketika rambut Charles ditata.
"Tidak."
Segera Abbie menarik benda itu, tapi Charles menahannya. Terjadilah tarik-menarik di antara keduanya sehingga terjadilah sesuatu yang membuat Abbie terkejut.
Benda itu patah.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca!😘
.
ig @xie_lu13