
Saking larutnya berenang, Adira dan Tristan sampai lupa tidak menelepon anak-anaknya yang berada di Jakarta. Setelah ingat, Adira langsung naik ke permukaan dan berganti baju. Tristan juga melakukan hal yang sama dengan yang Adira lakukan.
Saat keduanya sudah berganti baju, bel berbunyi menandakan ada seseorang di balik pintu kamarnya. Adira membuka pintu kamar dan langsung menampakkan seorang petugas Resort yang tangannya sudah memegang troli berisi makanan. Adira sudah bisa menebak bahwa itu merupakan sarapan yang sejak tadi dirinya pesan.
“Bawa masuk aja, Mas. Taruh di atas meja,” suruh Adira dengan ramah dan membuka pintu dengan lebar agar memudahkan petugas itu membawa trolinya.
Sang petugas masuk dan segera meletakkan makanan di atas meja. Setelah kegiatannya selesai, petugas tersebut pamit undur diri dan Adira mempersilakannya.
“Terima kasih ya, Mas.” Tristan berucap saat petugas Resort sudah keluar dari ruangannya. Dia muncul dari dalam kamar. Di Resort tersebut memang ada ruangan seperti ruang tamu namun langsung menghadap ke arah pemandangan pantai. Tepatnya seperti ruang untuk bersantai dan bercengkrama dengan orang tersayang.
“Kita makan dulu, Sayang. Habis ini baru telepon mereka,” ucap Tristan yang memang ada benarnya juga. Dia menepuk tempat kosong di sebelahnya untuk Adira duduki. Adira menurut dan ikut duduk di sofa kosong di sebelah Tristan.
Kemudian, keduanya makan dengan saling suap-suapan. Setelah sarapan selesai, tepatnya makan siang karena mereka makan pada jam sebelas siang.
Mereka malah lupa untuk menelepon keluarganya yang berada di Jakarta. Mereka sepakat untuk duduk di depan sofa yang menghadap pemandangan alam di depannya.
Berhubung hari ini sedang hujan, mereka memilih untuk berada di dalam Resort saja. Mungkin besok mereka akan memulai jalan-jalan mengelilingi kota Labuan Bajo itu.
Adira menyandarkan kepalanya pada bahu Tristan dan matanya menatap lurus ke depan. “Aku suka banget kalau lagi hujan begini dan sedang bersama dengan Mas,” ungkap Adira.
Tristan mulai tertarik dengan pembahasan Adira dan memeluk pinggang Adira. Bibirnya sudah dia gunakan untuk mengecupi pipi dan dahi Adira. “Memang apa alasannya?” tanya Tristan yang mengikuti alur pembicaraan Adira.
Adira tersenyum manis sebelum menjawab pertanyaan suaminya. “Kaya merasa ... Romantis gitu,” ucap Adira kemudian. Tristan terkekeh pelan dan membenarkan ucapan Adira.
“Mau tambah romantis nggak?” tanya Tristan sambil menatap wajah Adira dari samping.
Adira mendongak sebelum menjawab pertanyaan Tristan. Dahinya mengernyit bingung. “Emang bisa? Caranya gimana?” tanya Adira dengan tampang polosnya.
Tanpa di duga, Tristan langsung mengangkat tubuh Adira untuk duduk di pangkuannya. Posisi Adira menghadap Tristan. Adira sempat memekik kaget karena gerakan Tristan yang terlalu tiba-tiba.
Tristan menatap wajah istrinya yang semakin hari semakin cantik saja. Adira balas menatap suaminya dengan wajah yang sudah bersemu merah karena salah tingkah di tatap seintens itu oleh suaminya.
Perlahan, wajah keduanya mulai mendekat. Saat wajah keduanya hanya berjarak lima senti, keduanya saling menatap dengan mata yang sudah berkabut. Senyum manis keduanya terukir indah di bibirnya.
Adira yang memilih me lu mat bibir suaminya itu lebih dulu. Adira merasa sudah tidak tahan untuk mencicipi bibir manis milik suaminya. Tristan membalas lu ma tan itu dengan kasar. Adira yang merasa terpancing pun ikut terbawa suasana dan memberikan ciuman kasarnya.
Keduanya sudah terbakar gairah. Ciuman Tristan turun ke leher jenjang milik Adira dan meninggalkan jejak kemerahan di sana. Ciumannya semakin turun ke bawah dan berakhir di dua gundukan bukit kembar milik Adira.
Tanpa menunggu lama, Tristan langsung melahap habis pucuk kemerahan itu secara bergantian kanan dan kiri. Nafas keduanya sudah terengah-engah tanda sudah siap melakukan kegiatan yang sesungguhnya.
Tanpa menurunkan Adira dari pangkuan, Tristan segera melepas kain yang melekat pada dirinya dan juga pada tubuh Adira. Keduanya sudah sama-sama polos tanpa ada kain yang menutupinya.
Tanpa menunggu lama, mereka segera melakukan penyatuan. Suara laknat mulai terdengar menggema di ruangan tersebut. Keringat sudah bercucuran keluar dari tubuh masing-masing dan menyatu menjadi satu karena dahsyatnya permainan mereka.
Setelah tiga puluh menit naik turun naik turun, keduanya akhirnya mendapatkan pelepasannya yang pertama. Nafas keduanya terengah-engah dengan tubuh yang lemas.
Belum cukup sampai di situ, Tristan langsung membaringkan tubuh Adira di atas sofa. Bercinta di atas sofa ternyata begitu menyenangkan dan sangat menggairahkan.
Adira mengangguk malu-malu dan menggigit bibir bagian bawahnya. Hal itu malah terlihat menggoda di mata Tristan.
Tanpa menunggu lama, Tristan segera membuka kaki Adira lebar-lebar dan menancapkan senjatanya pada milik Adira. Adira terus me nge rang dan men de sah di bawah kungkungan suaminya.
Begitu juga Tristan, dia tiada hentinya mengeluarkan suara laknatnya karena miliknya dijepit dengan sangat erat oleh milik Adira. Tidak berapa lama, keduanya kembali mendapatkan pelepasan.
Permainan keduanya tidak cukup sampai di situ saja. Keduanya masih melanjutkannya dengan Tristan yang membalik tubuh Adira untuk membelakanginya.
Adira sangat menyukai posisi bercinta seperti ini. Dia bisa mendapatkan pelepasannya begitu cepat jika dengan posisi menungging.
Slap.
“Ahh ....”
*
Bu Siska masih terdiam dan bibirnya melongo menatap kedua cucunya yang melenggang pergi untuk melanjutkan mainnya.
Entah diajari oleh siapa sehingga Aarav bisa berucap bahwa ayah dan bundanya sedang membuat adik baru untuknya. Tapi, perkataan Aarav memang ada benarnya juga. Tujuan dirinya dan Bu Dewi mengirim Tristan dan Adira ke Nusa Tenggara adalah agar Adira bisa hamil lagi.
Dia lalu terkikik geli mengingat Adira dan Tristan pasti akan melakukan hal yang iya-iya sepanjang hari. Itu sudah jelas dan pasti akan terjadi.
Bu Dewi yang baru saja masuk ke dalam rumah, dia memilih langsung bertanya. "Kenapa kamu, Sis? Cekikin sendiri?" tanya Bu Dewi kebingungan.
Bu Siska langsung tersadar dan menatap ke arah sumber suara dan sudah mendapati Bu Dewi yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. "Itu tadi di Aarav bisa aja," jawab bu Siska penuh teka-teki dan memang dengan ingin membuat Bu Dewi penasaran.
Bu Dewi berdecak sebal karena besannya ini tidak langsung terus terang. "Si Aarav kenapa memangnya? kok sampe buat kamu cekikikan begini?" tanya Bu Dewi lagi untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Si Aarav tuh jadi anak pengertian banget sama ayah dan bundanya. Dia bilang mau telepon ayah dan bundanya, tapi nggak dijawab. berulang kali aku coba hubungi, tali tetap nggak ada jawaban. akhirnya Aarav bilang apa coba?" ucap Bu Siska sambil bertanya pada Bu Dewi.
"Memang Aarav bilang apa?"
"Dia bilang ... Nggak papa Oma. mungkin ayah sama bunda lagi bikin adek baru buat kita,"
Bu Dewi diam untuk mencerna penjelasan dari besannya. Dia sedang mencari di mana letak kelucuannya. saat menyadari, Bu Dewi langsung tertawa terbahak-bahak.
"Telat!" ucap Bu Siska sambil mencebik kesal.