Treat You Better

Treat You Better
68. Tak bosan-bosan.



Setelah dua jam berada di kafe dan menghabiskan tiga gelas kopi, Doni akhirnya memilih pulang.


Dia yakin setelah ini, dia tidak akan bisa tidur karena overdosis kopi.


Saat sudah selesai membayar tagihan, dia segera berjalan sambil menundukkan kepalanya.


Dia juga memakai Hoodie yang mempunyai penutup kepala dan memakainya.


Saat sudah akan sampai di depan pintu, tubuhnya seperti menabrak seseorang.


BRAK!


Doni mendengar suara mengaduh di depannya.


Dari suaranya, Doni sangat mengenal pemilik suara tersebut.


“Maaf, nggak sengaja.” ucap Doni tanpa menatap seseorang tersebut.


Dia langsung pergi begitu saja meninggalkan orang tersebut.


Doni segera melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.


 


Setelah kepergian Doni dari kafe, seseorang tadi masih saja terpaku di tempatnya.


Dia menatap kepergian Doni dengan tatapan tidak bisa di artikan.


“Permisi Mbak ... Bisa anda bergeser atau segera duduk? Karena anda menghalangi jalan para pengunjung lain.” ucap waiters penjaga kafe.


Lamunan Amanda langsung buyar. Dia mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar kafe.


Dia mengurungkan niatnya untuk minum kopi setelah bertabrakan dengan Doni tadi.


Dia merasa ada yang berubah dari sikap Doni.


Dan itu sangat menganggu Amanda. Dia ingin Doni yang seperti biasa yang suka adu mulut dengannya.


“Apa kak Doni masih marah ya sama Gue?” lirih Amanda menyesal.


Dia sudah berada di parkiran dan segera masuk ke mobilnya.


Amanda tidak tergesa menjalankan mobilnya.


Amanda memilih berdiam diri dahulu di dalam mobil.


Sekuat apapun Amanda mencoba menepis perasaannya pada Doni, dia tetap tidak bisa.


Sebenarnya, Amanda sudah mulai ada rasa pada Doni.


Tapi karena rasa gengsi, dia enggan untuk mengakuinya.


Dia juga teringat akan perkataannya dulu saat bersama teman-temannya.


“Sampai dunia kiamat pun, Gue mending nggak nikah bila orangnya bang Doni.”


Begitulah kira-kira ucapan Amanda tempo hari yang membuat gengsinya membumbung tinggi.


Amanda mengusap wajahnya frustasi.


Dia juga bingung dengan pikirannya sendiri. Terlalu rumit.


“Gue tetep harus bicara. Gue harus berusaha singkirin ego Gue.” Tekad Amanda dalam hati.


Setelah itu, Amanda segera melesatkan mobilnya menuju rumahnya.


Dia belum siap jika harus menemui Doni saat ini juga.


Dia akan meminta saran para teman-temannya dahulu.


Amanda tidak ingin salah langkah.


 


.............,............


 


“Lagi?” tanya Adira sedikit merengek.


Tubuhnya sudah sangat lelah dan perutnya sangat lapar.


Namun, Tristan seperti enggan untuk berhenti dari kegiatannya.


“Sekali lagi ya, Sayang. Habis ini kita makan.” ucap Tristan lembut dan ******* kembali bibir ranum milik Adira.


Pengantin baru tersebut benar-benar menghabiskan waktunya seharian ini hanya berada dalam kamar.


Mereka melakukan penyatuan tanpa kenal lelah.


Bahkan, Adira yang mengatakan sudah lelah pun masih sanggup untuk mengimbangi permainan Tristan.


Setelah keduanya mencapai puncak surga dunia, mereka langsung membersihkan diri.


Tristan yang merasa tak tega melihat Adira yang susah berjalan, dia langsung menggendong tubuh  Adira menuju kamar mandi.


Tristan pun memandikan Adira dengan lembut.


Saat Adira berusaha menolak, Tristan tidak mau mendengarkan dan tetap melanjutkan kegiatannya.


Adira pun menurut layaknya bayi yang belum bisa apa-apa.


Sampai memakai baju pun, Tristan yang memakaikannya.


Padahal Adira masih bisa sendiri jika hanya mandi dan berganti baju.


Tapi mau bagaimana lagi, Tristan tetap kekeh ingin melakukannya.


Begitulah kira-kira ucapan Tristan.


Mereka telah bersiap untuk pergi restoran hotel tempat mereka menginap.


Mereka menggunakan lift agar cepat sampai karena sang perut sudah tidak bisa di ajak kompromi.


Saat sudah sampai, Adira mengambil piring untuk Tristan dan menanyakan apa yang akan Tristan makan.


Walau perutnya yang lebih meronta, sebagai istri yang baik, Adira akan mengutamakan suaminya dahulu.


“Aku ambil sendiri aja. Kasian kamu, Sayang.” ucap Tristan sambil mengambil alih piring yang berada di tangan Adira.


“Kamu mau makan apa? Biar aku ambilin sekalian. Kamu duduk aja ya ....” ucap Tristan lagi begitu lembut.


Adira tersenyum manis merasa sangat dimanjakan oleh suaminya itu.


“Aku nasi uduk aja hehe.” ucap Adira cengengesan lalu melangkah menuju kursi kosong untuk duduk.


“Oke.” Jawab Tristan sambil terkekeh.


Beberapa menit kemudian, Tristan sudah kembali membawa dua porsi nasi untuk mereka makan.


Tristan meletakkan makanannya di atas meja. Lalu dia berdiri lagi untuk mengambil minum.


“Kamu, minumnya mau apa?” tanya Tristan sebelum melangkahkan kaki.


Adira yang sudah mulai melahap nasinya pun mendongak menatap Tristan.


“Green tea aja deh, Kak.” ucap Adira dengan mulut penuh.


Tristan mengangguk dan segera mengambil minumannya.


“Ini ... Green tea pesanan Nona ....” ucap Tristan menyodorkan segala green tea dan membungkuk hormat layaknya kepada tuan putri.


Adira tergelak dengan tingkah Tristan.


Dan segera menghabiskan makanannya.


Tristan juga melakukan hal yang sama.


Setelah makan siang tadi, sebenarnya bukan makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.


Itu lebih pantas disebut dengan makan malam bukan?


Adira dan Tristan memilih duduk di balkon kamarnya menikmati pemandangan gunung sambil ditemani secangkir kopi.


Keduanya duduk bersebelahan dengan tangan yang saling bertaut.


Adira juga menyandarkan kepalanya di bahu kekar Tristan.


“Udah enam hari kita disini. Aku kangen banget sama mama.” ucap Adira sendu sambil menatap depan.


“Besok kita pulang ya. Kamu boleh puas-puasin tuh nanti kangen-kangenannya.” ucap Tristan sambil mengelus lembut rambut hitam Adira.


“Emang besok kita nggak langsung pulang ke rumah baru kita?” tanya Adira sambil mendongak menatap Tristan.


Tristan membalas tatapan Adira dengan lembut.


“Nggak dong. Kamu kalau mau nginep dulu di rumah mama papa boleh kok. Entar juga di rumah aku kamu harus nginep dulu. Ntar baru deh, kita pindah ke rumah baru kita.” ucap Tristan menjelaskan panjang lebar.


Adira magut-magut tanda paham dengan ucapan Tristan.


Adira langsung memeluk Tristan erat seakan tak mau kehilangan suaminya itu.


Tristan balas memeluk dan mengecup kening Adira berulang-ulang.


Setelah itu, Tristan langsung menggendong tubuh Adira ala bridal style menuju ranjangnya lagi.


Adira memekik kaget saat tubuhnya seakan melayang dan reflek mengalungkan tangannya di leher Tristan.


Adira sudah melotot ke arah Tristan. Sedangkan Tristan hanya membalas dengan senyum smirknya.


“Kita akan menghabiskan malam yang panjang ini dengan kegiatan yang menyenangkan.” bisik Tristan di telinga Adira.


Kemudian dia membaringkan tubuh Adira lembut diatas ranjang dan segera menindihnya.


“Siapa takut.” ucap Adira menantang.


Keduanya pun menghabiskan malam terakhir mereka di hotel dengan kegiatan panas.


Tristan seakan tak pernah bosan menjamah setiap inci tubuh Adira.


Malah, semua yang ada pada diri Adira telah menjadi candunya.


Dia sangat mencintai istrinya itu.


Dia berjanji akan selalu membuat Adira merasa nyaman berada di dekatnya.


Dia juga akan membuat Adira selalu jatuh cinta kepadanya.


Tidak ada kesempatan untuk orang lain merebut miliknya.


.


.


.


.


.


**jangan lupa dukung karya aku dengan like, comment, vote dan kasiah hadiah semampu kalian yah😘


dukungan kalian sangat membantu**.