Treat You Better

Treat You Better
122. Aarav Mahendra Wijaya



“Oek ... Oek ....”


Terdengar suara tangis bayi di dalam ruangan tempat Adira bersalin.


Tangis haru tidak bisa Adira dan Tristan hentikan. Mereka sangat bahagia anak pertamanya lahir dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.


“Selamat ya, Pak, Bu. Anaknya laki-laki dan sangat sehat. Berat badannya tiga kilo gram,” ucap sang dokter yang menangani Adira bersalin.


Adira dan Tristan tersenyum bahagia mendengar kabar baik dari Sang dokter.


“Ayo, Pak. Di azankan dulu anaknya. Sudah kami bersihkan ini,” ucap salah satu suster yang juga membantu proses persalinan Adira.


Menurut, Tristan segera mengambil posisi berdiri di sebelah box bayi yang memang sudah Adira dan Tristan siapkan untuk anak pertama mereka.


Tristan mengumandangkan azan tepat di telinga anaknya. Rasa haru dan bahagia seakan menyelimuti hati Tristan.


Dirinya sudah menjadi seorang ayah. Apalagi melihat wajah anaknya yang begitu mirip dengan dirinya.


Sangat tampan dan warna kulitnya begitu putih bersih dan sangat mulus.


Setelah azan selesai, sang dokter pun berkata.


“Habis ini, ibu Adira boleh di jenguk setelah di pindahkan ke ruang rawat inap ya, Pak,” ucap sang dokter memberitahu.


Tristan dan Adira mengangguk bersamaan tanda mengerti.


Setelah dokter keluar, Tristan segera menghampiri Adira.


“Terima kasih ya, Sayang. Perjuangan kamu hebat banget. Kamu berhasil melahirkan anak kita yang sangat lucu dan tampan kaya aku,” ucap Tristan tulus namun di akhiri dengan memuji dirinya sendiri.


Adira hanya bisa terkekeh mendengar ucapan suaminya yang kelewat percaya diri.


“Mau di kasih nama siapa bagusnya?” tanya Adira yang ada benarnya juga.


“Kamu udah siapin nama belum?” tanya Tristan yang malah balik bertanya.


“Aku ada nama depan, nama belakangnya, Mas aja yang kasih nama,” ucap Adira sambil tersenyum bahagia.


Tidak berapa lama, bu Dewi dan pak Irawan masuk ke dalam ruangan.


“Aduh ... Cucu mama akhirnya lahir juga. Mama udah resmi jadi Oma nih,” ucap bu Dewi bahagia.


“Iya, Ma. Tuh cucu mama mirip banget sama bapaknya. Padahal yang mengandung selama sembilan bulan aku, yang melahirkan juga aku. Eh, buruan udah lahir malah mirip bapaknya,” ucap Adira pura-pura kesal.


Semua tergelak bersamaan mendengar ucapan Adira yang memang ada benarnya juga.


“Iya juga ya. Yang mengandung dan melahirkan ibunya, tapi wajahnya malah mirip bapaknya haha,” ucap pak Irawan membenarkan.


“Ya itu adil dong, Pa. Kan kita sebagai pria juga ikut andil dalam proses pembuatan anak,” sahut Tristan yang begitu frontal.


Seketika Adira menepuk lengan Tristan cukup kasar untuk memberikan pelajaran pada suaminya itu yang bicaranya tidak berfilter.


Semua tergelak kencang hingga membangunkan adik bayi yang sedang tertidur pulas setelah  baru saja lahir.


Semua langsung membungkam mulut. Bu Dewi langsung menggendong cucunya itu ke dalam gendongannya dan memberikannya kepada Adira untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD).


IMD sangat bermanfaat bagi ibu dan anak.


Beruntung, air susu Adira langsung keluar saat baru pertama kali melahirkan.


Mungkin karena berbagai makanan pelancar ASI yang dulu selalu Adira konsumsi saat hamil benar-benar manjur untuk melancarkan ASI.


Awalnya, sang bayi masih kesulitan untuk menempelkan mulutnya pada pucuk kemerahan milik ibunya.


Namun lama-kelamaan, sang bayi mulai bisa menyedot air susu dari ibunya itu.


Adira bisa bernafas dengan lega melihat anaknya yang sudah bisa menyusu dengan baik.


Akhirnya sang bayi berhenti menangis dan tidak berapa lama, anak Adira langsung tertidur kembali.


Adira tersenyum memandangi wajah mungil yang begitu putih bersih di hadapannya.


Adira masih belum percaya bahwa dirinya sudah menjadi seorang ibu.


Setelah anaknya benar-benar tertidur, bu Dewi memindahkan anak Adira ke dalam box kembali agar lebih nyaman dan pulas.


“Udah di kasih nama belum, Tris?” tanya pak Irawan kepada Tristan.


“Belum, Pa. Adira gimana?” ucap Tristan yang justru malah balik bertanya kepada Adira.


Setelah anaknya lahir, Adira sudah berjanji dalam hatinya akan memanggil Tristan dengan sebutan 'Mas'.


Tristan tampak berpikir untuk mencari nama yang baik untuk anaknya itu.


Tiba-tiba nama yang bagus terlintas di otak Tristan.


“Aku kasih nama Aarav Mahendra Wijaya,” putus Tristan kemudian.


“Nama yang bagus. Panggilannya Aarav berarti ya?” tanya pak Irawan sambil tersenyum bahagia.


“Iya, panggilannya Aarav, Pa,” jawab Tristan sambil tersenyum.


.........


Lidya, Kinara beserta para suaminya akan datang mengunjungi Adira di rumahnya.


Adira sudah pulang satu hari setelah melahirkan. Adira memilih pulang ke rumahnya kembali karena sudah lama tidak di tempati.


Bu Siska dan pak Hendra juga sudah tidak masalah bila Adira dan Tristan kembali ke rumah mereka.


Keduanya sudah mulai mengikhlaskan kepergian Amanda dan Doni dan menjalankan aktifitas seperti biasanya kembali.


Saat mobil Azka dan Vian sudah terparkir di depan rumah Adira, mereka segera masuk ke dalam untuk segera bertemu dengan keponakan baru mereka.


Setelah sampai di dalam, mereka semua menyapa semua yang berada di sana.


Ada bu Dewi, pak Irawan, bu Siska, pak Hendra lengkap bersama dengan Echa.


“Hai Echa ... Kamu udah punya adek ya sekarang? Seneng nggak?” tanya Lidya kepada Echa dengan antusias.


“Ceneng anet. Ayaf anteng,” ucap Echa lengkap dengan suara cadelnya. (Seneng banget. Aarav ganteng).


Jari jempolnya juga terangkat untuk mengekspresikan diri dalam memuji adik barunya itu.


Semua tersenyum mendengar ucapan Echa yang masih sangat lucu karena suara cadelnya.


Kemudian, terlihat Adira bersama Tristan sedang menuruni tangga untuk menemui para sahabatnya.


Dengan Aarav berada di gendongan Tristan dengan anteng.


“Widih ... Udah jadi bapak aja ya,” ucap Azka menyapa untuk pertama kali saat melihat Adira dan Tristan berjalan mendekat.


“Emang cuma Lo aja yang bakal jadi bapak. Kita juga bakal kebagian,” jawab Tristan nyeleneh.


Vian mengangguk menyetujui ucapan Tristan. Dirinya juga sebentar lagi bakal menjadi seorang ayah.


Para istri hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah para suaminya.


Jika mereka sudah di satukan, pasti akan banyak lelucon yang keluar dari mulut semuanya.


Seketika Adira mengingat Amanda dan Doni yang selalu mengisi persahabatan mereka dengan kata-kata lelucon.


“Amanda, Doni ... Gue kangen banget sama kalian. Kalian pasti udah bahagia kan, di sana? Kalian sudah punya keponakan nih. Seandainya kalian ada di sini, pasti kalian lah yang paling heboh,” gumam Adira dalam hati mengingat kenangannya dulu bersama dua manusia yang sangat Adira sayangi dan Adira rindukan.


“Boleh gendong nggak, Ra?” tanya Kinara yang membuyarkan lamunannya.


“Eh, boleh dong. Tapi Lo harus hati-hati karena kehamilan Lo masih terbilang muda. Nggak boleh angkat yang berat-berat,” ucap Adira memberikan sedikit nasihat.


“Kan Aarav belum berat menurut Gue. Jadi, insyaallah aman kalau Gue gendong keponakan,” jawab Kinara meyakinkan.


Kemudian, Adira meminta Tristan untuk mengalihkan Aarav ke dalam gendongannya. Setelah itu, Adira menyuruh Kinara untuk duduk agar lebih mudah dan tidak membuat Kinara kelelahan dalam menggendong anaknya.


Menurut, Kinara duduk dengan anteng menunggu Aarav segera di letakkan di dalam gendongannya.


“Hai keponakanku yang ganteng. Nanti main sama Zain sama anak Tante juga ya ... Tapi anak Tante masih comingsoon,” cerocos Kinara yang sama sekali belum Aarav mengerti.


Walaupun Aarav belum mengerti dengan ucapan Kinara tetapi, tatapan Aarav lurus menatap Kinara berbicara.


“Belum mudeng lah kalau Lo ngomong gituan. Zain aja yang udah empat bulan baru senyum dan kalau ketawa, suaranya hanya sedikit doang. Padahal ketawanya sampai terbahak-bahak,” ucap Lidya memberitahu.


“Emang gitu. Pertumbuhan bayi kan harus bertahap. Di bulan ini bisa apa, di bulan depan bisa apa sampai seterusnya,” ucap bu Dewi nimbrung yang memang dari tadi hanya setia mendengarkan obrolan anak muda.


“Ooh, jadi gitu ya, Tan.” jawab Kinara mengangguk tanda mengerti.