Treat You Better

Treat You Better
145. Berbelanja



Setelah Adira mengangkat Echa sebagai anak dan saat itu juga Aarav lahir, teh Ratih sudah merubah nama panggilan untuk Adira. Dia sudah memanggil Adira dengan sebutan ibu agar anak-anak Adira tidak mengikutinya memanggil dengan sebutan 'Neng'.


Adira hanya bisa pasrah. Memang yang dikatakan teh Ratih ada benarnya juga. "Terima kasih, Teh, sudah mau mendoakan saya," ucap Adira sambil tersenyum malu-malu.


"Ayah, Bunda! Aarav berangkat dulu ya," ucap Aarav berpamitan dan menyalami kedua orang tuanya. Saat tiba giliran bundanya, Aarav berbisik di telinga bundanya itu. "Bunda kaya bidadari surga cantiknya," setelah mengucapkan itu, Aarav Segera berjalan ke depan untuk berangkat ke sekolah.


Adira tersenyum manis menatap kepergian Aarav ke sekolah. Tidak berapa lama, Echa juga melakukan hal yang sama seperti yang Aarav lakukan. Yaitu berpamitan untuk berangkat ke sekolah. "Echa juga berangkat dulu ya, Bun, Yah," setelah menyalami kedua orangtuanya, Echa segera berlari menyusul Aarav yang sudah berteriak karena dirinya terlalu lama.


Adira hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat interaksi Echa dan Aarav yang selalu saja seperti itu di setiap paginya.


Kemudian, Adira beralih menatap suaminya yang masih saja menatap intens dirinya. "Mas, nanti telat loh, ke kantornya," ucap Adira lalu duduk di sebelah Tristan untuk sarapan.


Tristan tersenyum dan berkata. "Kamu mau ke mana hari ini?" ucapan Tristan sama sekali tidak nyambung dengan hal yang dibahas Adira. Namun Adira tetap menjawabnya.


"Aku ada rencana mau belanja baju. Mas kan tau sendiri, baju aku hampir semuanya terbuka," jawab Adira sambil sibuk mengunyah roti bakar dalam mulutnya.


Tristan tersenyum lagi dan berkata. "Aku nggak ke kantor hari ini. Aku mau temenin kamu belanja aja bagaimana?" ucap Tristan yang berhasil membuat Adira tersedak susu yang sedang dia minum.


Tristan berubah panik dan segera berdiri mendekati Adira. Dia menepuk-nepuk punggung Adira agar tidak tersedak lagi. "Pelan-pelan Sayang, nggak usah buru-buru," ucap Tristan yang tidak menyadari bahwa Adira tersedak karena ucapan dari mulutnya.


Adira hanya memutar bola matanya malas dan mendengus sebal ke arah suaminya itu. Adira lalu berkata. "Kenapa nggak ke kantor? Emang lagi senggang jadwalnya?"


Tristan mengangguk mengiyakan. "Hari ini jadwal aku kosong. Jadi, kesempatan banget biar bisa berduaan sama kamu," ucap Tristan sambil berbisik di telinga Adira.


Adira tersenyum dan mengangguk. Jujur saja, Adira merasa bahagia jika Tristan mau menemani dirinya berbelanja. Sudah lama rasanya Mereka tidak pergi berbelanja bersama. "Ya udah kalau gitu, kita sekalian belanja bulanan juga," putus Adira akhirnya.


Setelah itu, Adira naik ke atas lagi untuk mengambil barang-barang nya yang berada di kamar. Tristan mengikuti dari belakang. Dia juga akan berganti baju dengan baju yang casual. Memakai jas saat menemani istrinya berbelanja, Tristan kira itu terlalu formal.


"Eh! Mas ke kamar juga? Mau ngapain?" tanya Adira yang sudah merasa was-was takut suaminya akan menerkam dirinya begitu saja. Tristan tersenyum meledek pada Adira. Tristan jelas tahu apa yang ada dalam pikiran Adira.


"Aku juga mau ganti dulu , Sayang. Apa kamu mau bermain lagi?" tanya Tristan bermaksud menggoda. Adira langsung menggeleng cepat. "Kan tadi pagi udah. Sekarang kita pergi belanja dulu," jawab Adira yang justru di salah artikan oleh Tristan.


"Berarti nanti boleh dong?" Tristan bertanya sambil alisnya turun naik menatap Adira. "Eh! Kamu cantik tau kalau pake jilbab. Kamu nggak terpaksa kan? Karena perintah aku tadi pagi?" tanya Tristan memastikan.


Adira menggeleng yakin. Dia berhijab bukan karena suaminya melainkan karena sudah menjadi kewajibannya sebagai umat muslim, dia harus menutup aurat. "Ini dari hati aku yang paling dalam. Kalau pun terpaksa, aku juga akan tetap memakainya. Karena lebih baik di paksa masuk surga daripada dengan suka rela masuk neraka,"


Tristan sampai kagum dengan ucapan yang baru saja istrinya ucapkan. Memang benar yang di katakan Adira. Tidak ada salahnya terpaksa melakukan ibadah daripada dengan suka rela melakukan kemaksiatan.


"Aku jadi makin cinta sama kamu, Sayang." ucap Tristan tulus.


"Hati adek meleleh, Bang," jawab Adira berupa gurauan. Lalu keduanya tergelak bersama karena merasa lucu.


Saat ini Adira dan Tristan sedang berada di sebuah butik yang menjual khusus baju tertutup namun tetap stylish. Adira sedang memilih beberapa baju dan juga gamis yang cocok untuk dirinya kenakan.


Tidak lupa, Adira juga membeli banyak sekali kerudung dengan berbagai macam jenis. Ada bergo, pashmina dan juga kerudung instan yang pakainya tinggal blong, beres.


Adira membelinya karena tidak mungkin saat sedang berada di dalam rumah dia akan selalu mengenakan kerudung pashmina. Itu akan sangat ribet dan kurang simpel. Jadilah Adira membeli juga kerudung bergo dan kerudung yang tinggal blong.


"Udah? Segini aja?" tanya Tristan saat Adira menyudahi kegiatannya memilih-milih baju. "Segini aja dulu, Mas. Entar kalau kurang, kan bisa beli lagi," jawab Adira santai.


Pasalnya, setelah Adira membaca buku-buku tentang hadist dan segala macamnya, ternyata, semua barang yang kita miliki akan ada perhitungannya sendiri di akhirat kelak. Akan ada pertanggungjawaban nya sendiri.


Seperti barang-barang brand yang berharga jutaan bahkan milyaran rupiah, itu semua ada perhitungannya. Beruntung, dulu Adira tidak terlalu suka mengoleksi berbagai macam tas keluaran baru, sepatu keluaran baru, dan lain sebagainya.


Adira memang hanya membeli sesuatu jika dirinya memang membutuhkannya. Adira memang tidak suka membelanjakan uangnya untuk hal yang tidak perlu.


"Habis ini, kita langsung belanja bulanan aja ya, Mas," ucap Adira menginterupsi setelah selesai melakikan pembayaran atas baju yang dia beli.


Tristan mengangguk mengiyakan. Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Karena merasa haus, Adira memilih untuk membeli minuman dingin terlebih dahulu agar dahaganya hilang.


"Mas, aku beli minuman itu dulu deh, Mas mau nggak?" tanya Adira memastikan. Kemudian Tristan menjawab. "Beli satu aja yang ukuran large. Kita barengan aja biar romantis," jawab Tristan sambil mengerlingkan satu matanya pada Adira.


Adira menyinyiri ucapan suaminya yang terkesan gombal. "Genit ih!" ucap Adira yang hanya di mulut saja. Namun dalam hatinya, sudah tumbuh ribuan bunga yang bermekaran indah dan berwarna-warni.


Untuk menghindari suaminya melihat semu merah pada wajahnya, Adira segera berlalu untuk memesan minuman kesukaannya. Minuman yang terdapat bulat-bulat lembut dan manis berwarna coklat yang terbuat dari tepung tapioka dan serbuk rasa coklat.


"Mbak, pesan satu yang rasanya luar biasa enak ukuran large ya," ucap Adira saat tiba gilirannya memesan. Dia harus mengantri terlebih dahulu karena banyak juga yang membeli minuman yang sedang hits tersebut.


Setelah mengucapkan iya, penjual tersebut segera membuatkan minuman yang Adira pesan. "Ini Mbak, totalnya jadi tiga puluh ribu aja,"


Setelah itu, Adira mengangsurkan uang berwarna biru untuk membayar. Setelah mendapatkan kembalian, adiea segera mundur dan berjalan mendekati suaminya.


Pluk.


Adira langsung menusuk gelas plastik itu dengan sedotan setelah duduk anteng di sebelah Tristan. "Enak banget ini, Mas. Aku pesan yang rasa luar biasa," ucap Adira berbinar.


Tristan tersenyum dan juga ingin mencicipinya. "Mana coba?" ucap Tristan lalu Adira segera menyodorkan nya pada Tristan.


"Nggak lah, biasa aja. Lebih enak dan manis rasanya bibir kamu,"