
Saat ini, Adira sedang membuat sarapan untuk suaminya, Tristan.
Dia sudah bangun sejak pukul lima pagi, demi bisa membuatkan sarapan untuk dirinya dan sang suami.
Setelah berada di dapur, dia segera memakai apron dan mengikat rambutnya menjadi satu.
Dia mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan.
Kebetulan, bahan yang dibutuhkan sudah tersedia di dapur.
Menu yang akan di masak Adira kali ini adalah, chocolate croissants.
Dia ingin mencoba resep dari video yang dia tonton di YouTube.
Dia berharap, masakannya berhasil.
Adira tampak sibuk dengan adonan yang sedang dia uleni di genggamannya.
Adira juga bersenandung ria saat membuatnya.
Dia percaya jika masakan ingin terasa enak, ketika seseorang sedang memasak, pastikan bahwa keadaan hatinya sedang bahagia.
Jika keadaan hati sedang bersedih, hasil pekerjaan tangannya juga pasti akan kurang baik.
Saat adonan telah berhasil diisi dengan coklat, Adira menggulung adonan dengan hati-hati.
Yap!
Berhasil.
Adira tersenyum senang melihat hasil karya percobaannya.
Adira meletakkan croissants tersebut di atas loyang yang sudah di olesi mentega tipis-tipis. Tujuannya agar tidak merekat saat sudah matang nanti.
Kemudian, Adira melakukan hal yang sama hingga adonan habis.
Ada lima croissants yang berhasil Adira buat dan Adira letakkan semuanya di atas loyang.
Adira segera meletakkan dua loyang berisi croissants itu ke dalam oven yang tentunya sudah Adira panaskan sejak tadi.
Lalu, Adira mengatur waktu yang pas agar si croissants matang dengan sempurna.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, dan itu pertanda bahwa sebentar lagi Tristan akan bangun.
Adira bergegas memanaskan air yang akan dia gunakan untuk membuat teh.
Lima menit kemudian, air mendidih dan Adira segera membuat dua cangkir teh untuk dirinya dan Tristan.
Setelah selesai, Adira meletakkan kedua teh tersebut di atas meja makan.
Sambil menunggu croissants nya matang, Adira naik ke lantai atas untuk membangunkan Tristan.
Saat sudah sampai di kamar, Adira segera mendekat ke sisi ranjang dan membangunkan Tristan dengan lembut.
“Kak, bangun dong. Aku udah bikinin sarapan spesial buat Kakak,” ucap Adira sambil menepuk pelan pipi Tristan.
Tristan terdengar menggumam dan membuka matanya perlahan.
“Cium dulu, baru aku mau bangun dan mandi,” jawab Tristan sambil tersenyum.
Adira mencebikkan bibirnya, namun Adira segera melakukan apa yang suaminya inginkan.
Cup.
Cup.
Cup.
Adira mengecup pipi kanan dan kiri Tristan dan berakhir di bibir Tristan.
Tristan tersenyum puas, lalu dia segera duduk dari tidurnya.
“Aku sebenarnya udah bangun dari tadi karena mencium bau enak dari dapur,” ucap Tristan santai dan tersenyum tanpa dosa.
“Nyebelin banget sih. Ayo buruan bangun. Nanti tehnya keburu dingin,” perintah Adira dan menarik Tristan agar segera mandi.
Tristan menurut dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Bersamaan dengan itu, oven berdenting tanda makanan sudah matang.
Ting.
Adira segera berjalan menuju dapur lagi.
Setelah sampai, dia segera mengeluarkan hasil panggangannya.
Dan, Tada ....
Chocolate Croissants yang Adira buat berhasil dan begitu sempurna.
Adira tersenyum puas melihat hasil karyanya.
Adira sudah tidak sabar ingin mendengar komentar dari sang juri, Tristan.
Saat melihat Tristan menuruni tangga, senyum Adira semakin lebar menyambutnya.
“Udah jadi nih. Nanti kalau ada yang kurang pas, bilang aja ya, Kak,” ucap Adira tersenyum.
Dia menarik kursi kosong untuk Tristan duduki.
Tristan yang mendapat perlakuan manis dari Adira pun tersenyum bahagia dan menggumamkan terima kasih.
“Terima kasih istriku tersayang.” ucap Tristan setelah berhasil duduk.
“Sama-sama. Ayo, sekarang cobain deh,” ucap Adira.
Dia segera duduk berhadapan dengan Tristan dan berpangku tangan. Dia menunggu penjurian dari sang suami.
“Iya ... Ini aku mau makan,” ucap Tristan sambil mengangkat garpu dan pisau kue.
Tristan segera memotong Croissants buatan Adira dan menusuknya dengan garpu.
Saat suapan pertama berhasil masuk ke mulutnya, mata Tristan langsung berbinar merasakan manis dan gurih bersamaan.
“Enak banget, Ra. Kamu pinter banget bikinnya,” ucap Tristan memuji masih dengan mulut penuhnya.
“Berarti resep aku berhasil dong ya,” jawab Adira tersenyum senang.
Tristan tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
“Kamu belajar dari mana emang?” tanya Tristan yang sudah habis satu Croissants, dan mulai menyantap Croissants nya yang kedua.
“Belajar dari YouTube. Daripada bosen dirumah, mending cari kegiatan masak atau nanam,” jawab Adira yang masih setia menemani suaminya memakan sarapan buatanya.
“Pinter ... Kalau aku ke kantor nanti, bisa tuh dibawain bekal dari rumah,” ucap Tristan.
Dia sudah menghabiskan dua potong Croissants dan satu cangkir teh.
“Iya ... Nanti aku belajar yang banyak lagi soal menu makan siang ya,” jawab Adira tersenyum senang.
“Oh iya, habis ini kayaknya aku mau belanja bulanan deh, Kak. Aku izin keluar buat belanja ya?” ucap Adira bermaksud meminta ijin kepada suaminya itu.
“Kamu sama siapa? Suruh teh Ratih temenin aja ya,” jawab Tristan.
“Aku sendiri aja nggak papa sama sopir. Kasian teh Ratih lah, Kak. Yang ada, kerjaan nggak beres-beres,” ucap Adira sambil terkekeh.
“Ya udah. Entar kalau udah pulang kabari aku ya. Biar aku nggak khawatir,” ucap Tristan memberi ijinnya.
Adira tersenyum dan mengangguk.
“Aku berangkat kerja dulu ya. Kalau perlu, kamu belanja kebutuhan kamu juga. Pakai uang yang udah aku kirim setiap bulannya, Sayang,” ucap Tristan lembut.
Tristan dan Adira sudah berada di teras.
“Iya, nanti aku belanja kebutuhan aku juga,”
Kemudian, Adira mengambil tangan Tristan untuk dia cium punggung tangannya.
Tristan tersenyum dan mengecup kening Adira dengan sayang.
Lalu Tristan segera masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya menuju kantor di pagi hari itu.
Setelah mobil yang di kendarai Tristan sudah tak terlihat lagi, Adira berjalan masuk kembali ke meja makan.
Di dapur sudah ada teh Ratih yang sedang bersih-bersih karena baru datang lewat pintu belakang.
"Baru datang, Teh?" tanya Adira ramah.
Dia sudah duduk di kursi dan akan sarapan.
"Baru aja, Neng. Ini mau mulai bersih-bersih," jawab teh Ratih tersenyum ramah.
Di tangannya sudah memegang sapu dan serokan.
"Udah sarapan belum, Teh? ini (sambil menyodorkan piring berisi dua Croissants) makan lah, Teh. Yang satu lagi bagiin ke pak Yanto," ucap Adira ramah.
"Makasih ya, Neng." jawab teh Ratih.
Tangannya terulur menerima pemberian dari Adira.
"Tenang aja, ini bukan makan sisa kok, Teh. Aku bikin agak banyakan tadi. Daripada nggak kemakan kan sayang," ucap Adira menjelaskan.
Dia takut, makanan yang dia berikan akan di anggap makanan sisa.
Padahal, belum tersentuh sama sekali.
"Iya ... siapa juga yang ngira makanan sisa, Neng. Enak dan mewah gini. Makanan orang kaya ini mah," jawab teh Ratih tersenyum bahagia.
"Makan dulu lah, Teh. entar baru kerjain lagi kerjaannya," suruh Adira pengertian.
Teh Ratih menurut. Dia menggumamkan kata iya dan pergi menuju pintu belakang untuk memberikan satu Croissants nya kepada pak Yanto.