
Happy reading!😊😘
*****
Ketiga pria yang baru saja menyelesaikan sesi curhat alaynya itu bangkit dari tempatnya. Ketika menyadari bahwa Charles akan menuju ke dapur, Franklyn menarik lengannya agar mengikuti keduanya keluar.
"Aku harus bekerja."
"Biar aku yang urus."
Ia berjalan perlahan ke arah Metti meninggalkan Charles dengan kebingungan. "Cih, bilang saja kalau kau ingin mencari kesempatan berbicara padanya." Charles bergumam.
Ia berbisik pada Metti. "Aku pinjam Charles-mu, beritahu Mommy-ku kalau dia bertanya."
Perkataannya itu membuat Metti blushing dan itu justru membuat Frank merasakan perih di dadanya. Ia merasa bahwa gadis itu masih mencintai Charles. Melihat reaksi Franklyn yang seperti itu membuat Metti terkekeh.
"Aku menunggumu, Frank."
Perkataan Metti membuat dada Frank membuncah, sedikit tidak mengerti dan bingung. "Apa maksudmu?"
Metti tersenyum. "Pergilah, tapi kau harus mengantarku pulang nanti sebagai imbalannya."
Apa ini? Aku tidak punya stok jantung kalau aku sampai jantungan karena perkataannya itu. Dia bercandakan?
Wajahnya memanas mendengar itu namun ia buru-buru menutupinya. Ia masih tidak mengerti kenapa gadis itu tiba-tiba memintanya mengantarnya pulang padahal setiap hari ia menawarkan dirinya untuk itu tetapi ditolak oleh gadis itu.
"Baiklah, aku mengerti."
"Gracias." Metti tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi.
Franklyn berjalan dengan lesu ke luar. Ia berpikir bahwa gadis itu pasti minta imbalan karena ia meminta tolong padanya, apalagi permasalahannya tentang Charles.
"Jaga dia dengan nyawamu." Bisikan Metti masih terngiang di pikirannya. Rasa sakit, cemburu, dan kecewa membuatnya semakin terpuruk dalam imajinasinya. Andai saja ada sedikit perasaan Metti untuknya, pasti dia adalah orang yang paling bahagia sedunia ini.
Ia masih saja cemburu ketika memperhatikan gadis itu tersenyum lebar kepada Charles meskipun ia tahu sendiri bahwa temannya itu tidak menyimpan perasaan untuk gadis itu. Sedangkan kepadanya, Metti hanya sekadar senyum saja jarang apalagi tertawa lebar seperti itu. Meski demikian, ia selalu memaksa gadis itu agar ia mengantarnya pulang setiap malam.
"Ada apa dengan wajahmu itu?" tanya Philip ketika ia tiba di tempat parkir.
"Kenapa dengan wajahku?"
"Kau seperti orang yang kehilangan separuh jiwa saja." Philip terkekeh dan menerka. "Kau ditolak lagi?"
Sialan, tebakannya tepat sasaran.
"Tidak." Ia berdalih dan memalingkan wajahnya karena malu.
"Hahaha, berdalihlah sepuasmu dengan mulutmu itu. Matamu tidak bisa berbohong, Di Vaio."
"Tertawalah sepuasmu sampai rambut putihmu itu rontok semua." Ia merasa kesal bila Philip mengejeknya dan mengungkit hal itu. Ia segera masuk ke mobilnya diikuti Charles di kursi penumpang.
"Kita kemana?" teriaknya pada Philip.
"Ikuti saja aku."
Philip menancap gas diikuti mobil yang dikendarai Frank dan Charles menuju sebuah tempat yang diinginkannya saat ini. Karena tidak ada yang bisa diajak bicara di sana, ia mengambil sebungkus rokok dari laci dashboard dan menyalakan koreknya sehingga asap membumbung dari mulutnya ketika ia menghisap batang penuh nikotin itu.
Sementara itu, Charles yang penasaran akan ekspresi Franklyn yang berubah murung setelah berbincang dengan Metti akhirnya tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tahunya.
"Apa yang dikatakannya padamu tadi?"
"Huh?! Metti?"
"Ya, siapa lagi."
"Dia meminta imbalan."
Charles akhirnya terkekeh. "Hanya itu? Kenapa kau terlihat murung tadi? Itu bisa menjadi kesempatan emas untukmu 'kan."
"Gampang sekali kau mengucapkannya. Tentu saja dia meminta imbalan karena aku mengatasnamakan dirimu, sosok yang dipujanya. Aku tidak mungkin bisa meraihnya, dia menjauh kalau aku berjalan ke arahnya."
"Mencintaiku? Jelas-jelas dia mengkhawatirkanmu," gumam Frank tanpa didengar Charles.
"Apa?"
"Tidak. Dia ingin aku mengantarnya pulang nanti."
"Hahaha... Kau bodoh, brother. Ternyata otakmu tidak sepadan dengan wajah tampanmu. Dia meminta itu jelas sekali kalau dia ingin lebih dekat denganmu. Aku bingung kenapa kau sampai memasang wajah masam seperti tadi. Aku pikir kau ditolak lagi seperti yang dikatakan Philip."
Huh...Dia sangat menyebalkan lagi dibandingkan Philip.
Namun, ia sedikit terenyuh oleh kalimat Charles. Ia berharap semoga saja seperti itu kebenarannya.
"Terseraah."
Mobil yang dikendarai Philip berhenti di depan sebuah bar di pusat kota membuat Charles mengerutkan keningnya.
"Kenapa kita ke sini?"
Franklyn hanya mengedikkan bahunya acuh. "Ikuti saja Philip."
"Sial. Andai saja aku tahu kalau dia punya kebiasaan seperti ini, aku tidak akan mengikutinya sampai ke sini."
Mereka turun dari mobil dan segera menyusul Philip yang sudah masuk mendahului mereka ke dalam.
Bangunan itu mewah penuh dengan botol kaca berisi minuman beralkohol di belakang bartender yang dengan lihai menuangkan minuman ke dalam gelas-gelas kaca.
Philip menarik kursi di depan meja bartender tersebut dan terlihat berbincang dengannya sambil tertawa. "Wine, please," pintanya.
Franklyn dan Charles mengikutinya. Baru kali ini Charles datang ke tempat seperti ini. Dunianya selama ini hanya dipenuhi buku dan buku. Semuanya tentang buku hingga ia tidak memiliki banyak waktu untuk sekadar mampir di tempat-tempat seperti ini.
Setelah bartender tersebut menuangkan wine di gelas, ia memberikannya kepada Philip. Philip menerimanya dan ia menengok ke arah kedua pria yang masih mengikutinya itu. Kemudian, ia menggerakkan kepalanya kepada pria bartender itu sebagai isyarat untuk melakukan sesuatu.
Mengerti dengan isyarat Philip, pria itu menuangkan lagi minuman yang sama ke dalam dua gelas sekaligus dan memberikannya kepada Frank dan Charles.
"Selamat menikmati, Tuan." Ia membungkukkan badannya hormat kepada ketiga pria remaja itu.
"Terima kasih, Miguel." Philip menepuk pundak bartender itu kemudian berdiri dan melangkah ke arah lain dari tempat itu dengan gelas berisi minuman di tangannya disusul oleh Franklyn dan Charles di belakangnya.
Mereka berbelok menuju sebuah pintu yang ada di belokan kanan. Ketika Philip membuka pintu kayu tersebut, suara musik dari seorang Disk Jockey langsung memekakkan telinga mereka sehingga Charles sampai menutup telinganya karena terkejut. Semua penikmat musik itu meliuk-liukkan badannya seiring dengan tempo lagu yang dibawakan.
Philip tersenyum ketika ia melihat raut terkejut Charles. Ternyata benar, temannya yang satu ini tidak pernah merasakan indahnya dunia malam sehingga ia menarik tangan Charles agar mengikutinya.
"Bersenanglah untuk malam ini." Philip mengangkat gelas winenya kemudian disambut ringan oleh Franklyn. Charles yang masih kaku terpaksa mengangkat juga gelasnya dan menubrukkannya ke gelas Philip dan Frank. "Cheers."
Seorang pria bertubuh langsing menyenggol pundak Charles sehingga membuatnya terhuyung ke depan. Untungnya, gelas winenya ia angkat tinggi sehingga tidak menubruk dada Philip yang di depannya.
"Ups...Sorry."
Pria itu membungkukkan badannya kepadanya sambil tersenyum iblis.
"Br*ngs*k," umpat Philip. "Mau cari masalah lagi? Apa belum cukup yang itu, Levin?" Ia memegang kerah baju pria itu dengan tangannya yang kosong.
Levin? Apa dia Levin O'dilo?
Pria yang bernama Levin itu hanya tersenyum sinis ke arah Charles tanpa menanggapi gertakan Philip. "Kau sudah sembuh dari kecelakaan itu rupanya, pria culun kampungan."
Charles terkejut. Bagaimana pria di depannya tahu bahwa ia kecelakaan. Melihat Philip yang semakin menggertakkan giginya menahan amarah, Charles dan Frank langsung menarik tangannya.
"Aku akan membunuhmu, O'dilo. Kau dan keluarga iblismu akan masuk ke neraka," teriak Philip berapi-api.
"Oh, astaga. Aku takut sekali." Ia meremas lengannya sendiri dengan senyuman mengejek ke arah Philip. "Tapi, sebelum itu terjadi aku pastikan terlebih dahulu si kampungan ini menyingkir dari Abbie-ku." Ia menunjuk Charles dengan amarah yang terpendam di dalam maniknya.
"Aku akan membawa adikmu juga ke neraka, Mendes."
*****
ig @xie_lu13