Treat You Better

Treat You Better
Metti - Frank



Biarkan aku mendekapmu lagi, sedalam tatapan hangatmu itu.


Mathilda Madison


.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya!😘


.


.


.


.


.


.


Setelah mengantar sahabatnya, pria berlesung pipit itu segera memutar kemudi mobilnya balik ke toko roti tersebut.


Lampu-lampu di toko itu masih saja menyala menandakan tempat itu masih melayani pelanggan. Masih saja ada orang yang berjejer rapi di bagian rak tempat kue-kue berjajaran. Mereka menunjuk dengan tangannya pada kaca etalase, memilih kue yang mereka inginkan.


Pria berambut pirang itu segera mendorong pintu dan memasuki toko itu. Ia berjalan menyusuri tempat itu dan menaiki tangga menuju ke atas.


"Mommy, kenapa belum pulang?" tanyanya ketika ia membuka pintu.


"Eh, kau juga belum pulang? Di mana Charlie?" tanya wanita paruh baya berambut blonde pirang kecokelatan dan bermanik biru safir sepertinya itu sambil menengok ke pintu.


"Sudah pulang."


Wanita yang dia panggil Mommy itu mangangguk. Sebelum melanjutkan, "Pekerjaan mommy masih banyak, bebe."


Lama ia duduk di sana sambil bermain game di ponsel pintarnya. Setelah merasa bosan, ia pamit kepada Mommynya.


"Telepon pria jahat itu saja ya, mommy! Aku masih ada urusan," pamitnya sambil mencium kedua pipi Mommynya.


"Pria jahat yang kau sebut itu suami Mommy, Frank!"


"Apa urusanmu malam-malam begini, Di Vaio?" tanya Mommynya sejurus kemudian.


Ia tersenyum.


"Biasa, Mommy!" serunya sambil beranjak.


Wanita paruh baya itu langsung mengerti dengan maksud sang anak. Ia menggeleng-geleng kepala pasrah. Kelakuan anak tunggalnya itu selalu membuatnya speechless.


Franklyn langsung turun ke tempat yang selalu membuat dadanya berdesir. Dengan gaya kasualnya, ia berjalan mendekat ke meja kasir.


Seorang gadis yang sedari tadi mendiami pikirannya sedang berdiri melayani para pelanggan yang sedang mengantri. Tak ada gurat lelah sedikitpun di wajahnya. Senyum manis tak pernah pudar dari bibirnya yang berwarna merah muda itu. Itulah salah satu kelemahan Franklyn. Memandang senyuman manis gadis itu.


Ia pun turut mengantri di belakang.


Lama juga. Gerutunya dalam hati.


Setelah sedikit sabar menunggu, sampailah gilirannya. Sebelum yang empunya manik biru itu mengangkat wajahnya, ia lebih dahulu menyapa.


"Hola, mi amor! (Halo, kekasih!)"


Gadis itu mengangkat wajahnya dan nampaklah sosok Franklyn di depan antrian.


Gadis itu berdecak sebal.


"Kekasih jidatmu yang lebar itu," umpatnya.


Pria itu terkekeh sambil mengangkat bahu. Kemudian ia masuk ke area kasir dan menggeser printer struk agar lebih dekat ke arahnya.


"Biarkan aku yang di sini. Kau duduklah!" perintahnya pada gadis itu.


"Tidak!" acuhnya.


Beberapa pelanggan yang sedang mengantri itu berbisik-bisik memperhatikan ulah keduanya.


Apakah mereka sepasang kekasih?


Mereka romantis sekali. Lihatlah, gadisnya itu malu-malu.


Franklyn yang mendengar itu hanya tersenyum.


"Kekasihku sedang merajuk, Nona. Dia marah karena aku baru datang," sahut Franklyn pada seorang wanita muda.


Wanita itu tersenyum menggoda ke arah Metti yang membuat pipi Metti memerah.


"Kau sungguh kekasih yang romantis," puji wanita itu sambil tersenyum kepada Franklyn.


"Gracias."


"Somos adecuados?(Apakah kami cocok?)" tanya Franklyn.


"Mucho conveniente. (Sangat cocok)."


Percakapan terakhir wanita itu dan Franklyn terus terbayang-bayang di dalam kepala Metti sehingga pikirannya ambyar.


"Kau sungguh percaya diri ya," sahut Metti


"Aku memang selalu percaya diri."


"Ckck...Siapa yang kekasihmu di sini?"


"Seorang gadis kecil."


Jawabannya itu membuat bahunya mendapat pukulan dari gadis itu.


"Hei anak kecil, aku lebih tua darimu. Harusnya kau menghormatiku."


"Kau memang tua. Tapi lihatlah, aku lebih tinggi darimu," ujar Franklyn sambil merapat ke arah gadis itu yang membuat gadis tersebut refleks menjauh.


"Beraninya kau mengatakan aku tua!"


"Kau yang mengatakannya sendiri!"


"Aku jadi sopirmu malam ini. Boleh?" izinnya ketika percakapan mereka sedikit baik.


"Tidak!" teriak gadis itu membuat Franklyn menutup telinganya.


"Hei...orang tua, tidak boleh teriak malam-malam," hardiknya. Franklyn langsung menarik lengan gadis itu keluar ketika ia terpengaruh oleh hardikannya.


"Lepaskan aku, sialan!"


"Tidak, sampai kau masuk mobil."


"Kau memaksaku?"


*****


Sepanjang perjalanan, telinga Franklyn tersumbat oleh ocehan-ocehan Metti sehingga apapun yang dikatakan gadis itu hampir tidak didengarnya yang membuat gadis itu kesal.


Satu pukulan keras di bahunya membuat ia tersadar dari lamunannya.


"Hei...Apa telingamu benar-benar tuli?"


"Kenapa?"


Pertanyaan singkat dari bibir Franklyn membuat Metti diam seribu bahasa.


"Tidak."


Hening.


Apa yang membuatnya berhenti bicara?


Aku membiarkannya tadi karena kupikir dia akan puas dengan memarahiku. Tapi, ini kenapa? Dia bahkan tidak lagi melihat ke arahku. Sial! Apa sebegini susahnya jatuh cinta? Apa yang harus kulakukan?


Ia mengurangi laju mobilnya dan memberanikan diri menyentuh bahu gadis itu.


Gadis itu menolehkan kepalanya dengan pandangan datar.


Sial! Dia benar-benar marah.


Ia menelan ludahnya kasar. Segera ia menepikan mobilnya di tempat yang sedikit sepi oleh kendaraan.


"Maaf."


Ia benar-benar menyesal sekarang. Ia memandangi wajah gadis di sampingnya dengan wajah menyesal.


"Untuk apa?" tanya gadis itu. Masih dengan wajah tanpa ekspresinya.


"Maaf karena sudah memaksamu pulang bersamaku.


Maaf karena membuatmu marah.


Maaf karena tidak mendengarkanmu ketika berbicara.


Dan untuk semua hal yang membuatmu tidak nyaman. Aku minta maaf!"


Tanpa ia sadari, gadis itu menitikkan air matanya. Namun, ia segera menengadah ke atas berusaha agar tetes air itu tidak jatuh.


"Kau tahu, aku menyukaimu sejak awal. Tapi, kau tidak pernah sedikitpun menaruh rasa yang sama untukku. Aku pikir dengan berdebat denganmu setiap hari, berkencan dengan banyak wanita membuatku bisa melupakanmu, mengikhlaskanmu pergi. Tapi, beginilah aku. Setiap saat terpenjara dalam ruang yang hampa," ungkapnya sambil terkekeh. Ia menyandarkan punggungnya di jok mobil.


Gadis itu masih terdiam. Ia tak mengumpatnya ataupun menertawakannya saat ini. Entah apa yang dipikirkannya, hanya ia dan Tuhan yang tahu.


Merasa tak akan ada tanggapan dari gadis itu, Franklyn melajukan mobilnya lagi menuju tempat tinggal gadis itu.


Jangan tanya Franklyn tahu dari mana alamat gadis itu, karena kau pasti sudah tahu jawabannya. Setiap saat ia membuntuti gadis itu sampai ke tempatnya.


"Sudah sampai," katanya memecah kesunyian yang membelenggu sepanjang perjalanan.


Sebuah kontrakan kecil di perumahan kumuh. Itulah tempat tinggalnya. Ia sudah tak memiliki orang tua. Itulah sebabnya ia bekerja banting tulang demi membiayai kuliahnya. Meski jauh dari kampusnya, ia tak pedulikan. Biayanya yang sedikit murah membuatnya betah berlama-lama di sana.


"Dari mana kau tahu alamatku?" tanya Metti.


Akhirnya, dia berbicara juga.


"Kau tahu jawabannya, Metti," sahutnya sambil tersenyum manis.


"Dasar penguntit!"


Franklyn terkekeh.


"Aku memastikanmu sampai dengan selamat tiap waktu."


Perkataannya membuat gadis itu terdiam lagi.


"Maaf!"


Lagi-lagi ia meminta maaf. Belum pernah ada seorangpun yang membuat pria berlesung pipit itu seperti ini.


"Terima kasih."


Hah! Apa artinya dia memaafkanku?


"Untuk apa?"


"Tumpangannya."


Ia menghela napas sebelum mengangguk.


"Aku pergi ya. Que tengas un buen sueño. Adiós! (Semoga mimpi indah. Selamat tinggal)."


Ia melambaikan tangannya meski tak diperhatikan oleh gadis itu.


Ini memang menyakitiku. Namun, bila ini yang akan membuatmu bahagia maka harus kulakukan.


Franklyn Di Vaio


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca!😘


.


.


.


.


.


.


Love,


Xie Lu♡


.


ig @xie_lu13