
Hari sudah berganti kembali. Tristan sudah bangun sejak tadi saat matahari masih gelap di luar kamar hotelnya.
Dia menggelar sajadah panjangnya demi menunaikan kewajibannya kepada Yang Maha Kuasa.
Setelah ritual ibadahnya selesai, dia berdoa kepada Allah SWT untuk memaafkan semua dosa-dosanya.
Tidak lupa, dia juga berterima kasih kepada Sang Khalik yang masih memberinya kesehatan dan umur panjang.
Dia juga mendoakan kedua orangtua dan juga Adira. Seseorang yang tidak pernah lupa Tristan sebut dalam setiap doanya.
Setelah selesai, Tristan kembali melipat sajadah dan sarung yang dia bawa dari rumahnya. Pihak hotel tidak menyediakan fasilitas untuk ibadah kecuali kita mendatangi mushola yang berada di hotel.
Tristan segera menelepon pihak hotel untuk membawakan sarapan ke dalam kamarnya. Hari ini juga Tristan akan ke rumah Adira lagi.
Tristan masih akan berusaha untuk mendapatkan hati Adira kembali.
Tidak akan semudah itu Tristan melepaskan Adira. Tristan masih akan mengusahakan yang terbaik agar mereka bisa bersama-sama lagi.
Untuk membunuh kebosanannya, Tristan memainkan ponselnya dengan membuka sosial media yang memposting berita.
Tidak berapa lama, suara bel berbunyi tanda ada tamu yang datang. Tristan segera berdiri dan berjalan untuk membukakan pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka dan menampakkan petugas hotel yang membawakan sarapan untuknya.
Tristan menyuruh petugas tersebut menaruh sarapannya di atas meja. Petugas itu menurut dan berjalan dengan mendorong troli berisikan makanan.
Setelah semua tertata di atas meja, petugas tersebut pamit undur diri dan Tristan segera mengucapkan terima kasih dan memberikan sedikit uang tips untuknya.
Tristan segera memakan sarapannya yang berupa bubur dengan lauk bebek bakar dan topping kacang goreng, telur, dan sayuran juga.
Bubur ayam bintang lima.
Tristan menyebutnya seperti itu. Sangat mewah, semewah hotelnya.
Saat pertama kali merasakannya, lidah Tristan langsung dimanjakan dengan kelembutan tekstur bubur. Bebek bakar yang dagingnya sudah di bakar hingga matang dan empuk.
Ini merupakan sarapan bubur yang sangat enak menurut Tristan.
Setelah beberapa menit, akhirnya Tristan berhasil menghabiskan sarapannya. Dan saat itu juga, tidak terasa waktu sudah beranjak siang.
Tepat pukul delapan lewat lima menit, Tristan keluar hotel dan segera melajukan kuda besinya menuju tempat tinggal Adira.
..........
Adira dan juga kedua orangtuanya saat ini sedang melakukan sarapan bersama.
Bu Dewi yang melihat sarapan Adira seperti tidak berselera akhirnya dia memilih bertanya.
“Ra? Apa ada masalah yang serius hingga kerjaan kamu malah semakin melamun terus setelah ketemu Tristan?” tanya bu Dewi akhirnya.
Adira mendongak dan menatap mamanya itu.
“Aku minta cerai sama kak Tristan,” ungkap Adira dengan wajah lesunya.
Pak Irawan yang sedang mengunyah makanannya pun sampai tersedak mendengar penuturan Adira.
Sama halnya dengan pak Irawan, Bu Dewi sampai membelalak tak percaya saking terkejutnya.
“Kamu serius? Apa sudah tidak bisa di perbaiki lagi? Hingga jalannya sampai harus berpisah?” tanya pak Irawan dengan raut tidak percayanya.
“Aku juga nggak tahu apakah keputusanku sudah benar. Aku akan pikirkan lagi nanti,” jawab Adira masih dengan wajah lesunya, tatapannya kosong menatap isi dalam piring sarapannya.
Pak Irawan dan bu Dewi hanya bisa menghela nafasnya lelah. Keputusan hubungan Adira dan Tristan berada di tangan keduanya sepenuhnya.
Sedang berselang lama, pintu diketuk dari arah depan. Bu Dewi yang sarapannya sudah selesai, dia segera berjalan untuk membukakan pintu.
Ceklek.
Setelah pintu terbuka, bu Dewi hanya bisa terdiam menatap seseorang yang sudah berdiri di depan pintu.
“Adiranya ada kan, Ma? Boleh aku ketemu dia lagi?” tanya Tristan memastikan.
“Ada, ayo masuk, Tris!” perintah bu Dewi tidak lupa, dia juga memasang senyum terbaiknya.
Tristan tersenyum dan mengangguk.
Setelah bu Dewi mempersilahkan untuk duduk, Tristan segera duduk di sofa ruang tamu. Kemudian, bu Dewi menghilang dan masuk ke dalam.
Tidak berselang lama, pak Irawan dan Adira muncul bersamaan dari arah dalam. Tristan segera menyalami papa mertuanya itu dengan mencium punggung tangannya.
Kemudian, tatapannya beralih kepada Adira yang masih terdiam menatap dirinya juga.
“Kalian berdua duduk dulu, ada yang mau Papa omongin sama kalian,” perintah pak Irawan yang langsung mendapat anggukan dari Adira dan Tristan.
Setelah semuanya duduk dengan posisi Adira bersebelahan dengan Tristan, dan pak Irawan duduk sendiri di sofa yang berseberangan, pak Irawan segera membuka pembicaraanya lagi.
“Papa nggak mau ikut campur urusan kalian berdua terlalu jauh, tapi Papa mau memberikan sedikit saran untuk hubungan kalian,” ucap pak Irawan membuka pembahasan.
Adira dan Tristan hanya diam dan masih setia mendengarkan.
“Sebaiknya kalian segera selesaikan kesalahpahaman di antara kalian. Jangan saling egois mementingkan diri kalian sendiri. Pikirkan juga anak kalian yang sebentar lagi akan lahir. Apa kalian tidak kasihan dengan dia? Belum juga dia lahir, tapi kedua orangtuanya malah saling meninggikan ego masing-masing,” lanjut pak Irawan lagi memberikan nasihatnya.
Tristan dan Adira saling pandang dan merasa tersentil dengan perkataan pak Irawan.
Benar, papanya memang benar. Dirinya terlalu egois dan tidak memikirkan masa depan anaknya. Pikir Adira.
“Dan untuk kata cerai, jangan pernah sekali-kali kalian main-main dengan kata tersebut. Hati-hatilah dalam berucap dan bertindak. Kalau papa lihat, kalian itu masih saling cinta dan saling menginginkan. Bisakah kalian berdamai dan kembali lagi seperti semula? Apa kalian tidak tersiksa hidup berpisah terus menerus?” tanya pak Irawan yang masih mempertahankan nada tegasnya.
Tristan dan Adira langsung termenung dengan ucapan pak Irawan.
Kalau di pikir-pikir, untuk apa saling menyiksa diri dan saling menyalahkan satu sama lain. Bukankah memang tidak ada rumah tangga yang berjalan dengan mulus? Setiap manusia pasti akan mendapat ujiannya masing-masing.
Termasuk hubungan Adira dan Tristan yang sedang mengalami ujian terberatnya.
Bukankah selama ini juga Adira dan Tristan berhasil melewati bahtera rumah tangganya? Bukankah keduanya juga saling menguatkan satu sama lain?
Adira langsung menatap wajah suaminya itu yang juga menatapnya.
Sudah cukup rasanya Adira menyiksa batinnya sendiri dan juga Tristan.
Adira sadar, sepertinya Tristan juga sama menderitanya seperti dirinya.
“Papa akan kasih kalian waktu untuk memikirkan ucapan papa. Papa pamit ke dalam dulu. Selesaikan Masalah kalian dengan kepala dingin,” ucap pak Irasan sebelum benar-benar berlalu meninggalkan sepasang suami istri itu.
Setelah kepergian pak Irawan, keduanya masih saling diam dengan pikirannya masing-masing.
Kemudian, Adira membuka suaranya dan memecahkan keheningan.
“Maafin aku, Kak. Sepertinya perkataan papa memang benar, aku terlalu egois,” ucap Adira dengan wajah menunduk. Air matanya sudah luruh ke lantai.
“Ssst ... Jangan ngomong begitu, aku yang seharusnya minta maaf sama kamu. Aku udah nyakitin kamu banyak banget. Tolong maafin aku ya, Ra,” ucap Tristan menenangkan.
Namun yang ada, keduanya malah saling menumpahkan tangis dengan saling berpelukan satu sama lain.
Tangis bahagia, tangis menyesal, tangis karena rindu seakan sudah menjadi satu hingga membuat tangis keduanya semakin pecah.
Bu Dewi dan pak Irawan yang mengintip keduanya pun sampai terharu melihatnya.
Akhirnya, keduanya bisa berdamai kembali setelah badai yang datang kemarin.
Keduanya berhasil melewati ujian rumah tangganya.
“Semoga mereka bisa hidup bersama selamanya ya, Pa,” ucap bu Dewi yang sudah berada di pelukan suaminya.
Pak Irawan tersenyum dan mengangguk menanggapi. Dia begitu bahagia hingga tak bisa mengeluarkan suaranya.