
Akhirnya, Adira dan Tristan pindah ke rumah baru mereka.
Rumah yang cukup luas menurut Adira.
Rumah baru mereka terletak di pinggiran kota yang tidak jauh dari rumah orangtuanya.
Saat memasuki pintu gerbang, Adira benar-benar dibuat terpana.
Entah berapa jumlah uang yang berhasil Tristan gelontorkan untuk membeli rumah sebesar itu.
Rumah tersebut memiliki dua lantai.
Bagian teras depan rumah begitu luas dan terdapat taman yang nantinya bisa Adira tanam berbagai macam tumbuhan.
Saat sudah memasuki rumah, Adira dibuat takjub lagi. Desain interior bagian dalam begitu rapi dan minimalis.
Adira menyukai tipe rumah yang seperti itu.
Dia dan Tristan berjalan-jalan lagi untuk melihat semua ruangan yang berada di rumah barunya.
Setelah semua ruangan berhasil dijelajahi, keduanya mulai duduk di lantai yang tersedia.
Memang belum ada perabot dan semacamnya di dalam rumah itu.
Mereka berdua berencana untuk membelinya bersama.
“Kita harus catet semua yang kita butuhkan. Aku cuma baru pesen ranjang dan kasur untuk kamar kita.” ucap Tristan sambil tersenyum miring.
Adira berdecak sebal.
“Soal di atas ranjang aja, kakak gerak cepat.” gerutu Adira kemudian.
“Loh ... Aku bener kan? Kalau aku nggak pesan ranjang, kita mau tidur dimana malam ini?” tanya Tristan sambil menaik turunkan alisnya.
Adira hanya bisa geleng-geleng kepala dan memilih mengalah.
Jika Adira mendebat, yang ada pekerjaannya tidak akan cepat selesai.
“Ya udah iya deh. Sekarang kita catet dulu yang kita butuhin selain ranjang ya, Sayang.” ucap Adira menahan kesal.
Tristan terkekeh dan mengangguk.
Lalu keduanya sibuk membahas semua barang yang mereka butuhkan. Setelah catat-mencatat selesai, keduanya memilih pergi ke toko perabot.
Mereka tidak akan menunda untuk membelinya. Kalau udah ada duit, kenapa harus di tunda bukan?
Tristan melajukan mobilnya menuju toko perabot yang menjual berbagai furniture rumah tangga.
Setelah sampai, dia segera memarkirkan mobilnya dan masuk bersama Adira ke toko perabot yang sudah terkenal itu.
Mereka mencari-cari yang warnanya matching.
Tanpa terasa, sudah empat jam mereka berada di toko perabot tersebut.
Mereka juga telah menemukan banyak furniture yang akan mereka beli dan dipasang di rumah baru mereka.
Setelah sepakat, keduanya segera mencari barang persediaan di ruang bawah tanah.
Memang seperti itu sistemnya. Mereka melihat-lihat dahulu, setelah cocok, mereka harus mencatat kode yang tertera di produk tersebut.
Baru, setelah itu mereka mengambil barang di lantai bawah tanah dengan mencocokkan nomor yang sudah tertera dan di catat.
Setelah selesai mengambil barang, yang tentunya juga dibantu oleh pekerja yang ada disana, mereka membayar belanjaan mereka.
Setelah proses pembayaran selesai, barang mereka di angkut ke mobil pengantar barang.
Setelah beres, mereka menuju mobil mereka dan menjalankan mobilnya menuju rumah barunya.
Mobil yang mengantar pun mengikuti dari belakang.
“Capek juga ya, Kak.” ucap Adira dengan nada lelah.
“Tapi seru sih menurut aku.” jawab Tristan tanpa mengalihkan pandangan karena sedang sibuk menyetir.
“Iya, kita bisa langsung dapat gambaran gitu disana.” Imbuh Adira menyetujui.
Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya mobil sampai.
Tidak berapa lama juga, mobil pengantar barang sampai.
Semua barang belanjaan pun diturunkan dari mobil dan di angkut ke dalam rumah.
Adira dan Tristan mengarahkan dimana barang akan diletakkan.
.........
“Aku berangkat dulu ya.” ucap Tristan sambil menyodorkan tangan kanannya untuk Adira salimi.
Adira menerima uluran tangan Tristan dan mencium punggung tangannya.
“Hati-hati ya. Yang semangat kerjanya.” ucap Adira mendongak dan tersenyum menatap suaminya itu.
Tristan mengangguk dan tersenyum. Kemudian dia mengecup kening Adira dengan sayang dan berjalan menuju mobilnya.
Adira memang sengaja mengantar Tristan berangkat ke kantor sampai di depan rumah.
Dia benar-benar ingin menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.
Setelah dua minggu tidak bekerja, akhirnya Tristan kembali lagi ke kantor.
Pekerjaan sudah menumpuk karena terlalu lama ditinggal.
Setelah mobil yang dikendarai Tristan sudah tak terlihat lagi, Adira masuk kembali ke dalam rumah.
Tidak ada pekerjaan rumah yang Adira kerjakan karena Tristan sudah menyewa asisten rumah tangga sejak dua hari yang lalu.
Masalah furniture dan segala perlengkapan rumah sudah dipasang dan di tata rapi oleh orang suruhan Tristan.
Adira tidak diperbolehkan sampai kelelahan. Padahal Adira merasa bosan jika hanya duduk di dalam rumah tanpa melakukan apapun.
“Teh, aku mau minta tolong dong.” ucap adira pada ART,nya itu.
“Minta tolong apa, Bu?” jawab teh Ratih ramah.
“Hehe. Aku mau kasih pupuk buat tanaman di depan. Tolong angkatin pupuknya yang ada di belakang ya.” ucap Adira meminta tolong dengan sopan.
“Oooh ... Iya Bu. Saya angkatin dulu kalau gitu.” ucap teh Ratih sambil pamit lalu menuju teras belakang untuk mengambil pupuk.
Adira segera berjalan menuju taman depan.
Ya, setelah berada di rumah barunya, Adira membeli berbagai macam bunga untuk menghiasi teras depan rumahnya.
Adira suka pemandangan yang asri.
Adira mengoleksi bunga mawar dengan berbagai macam warna.
Dia juga mengoleksi bunga anggrek dengan berbagai macam warna pula.
Setiap pagi dia akan menyirami bunganya sendiri.
Saat teh Ratih akan membantu, Adira menolak halus.
“Nggak usah Teh ... Aku bisa sendiri kok. Teteh kerjain yang lain aja biar cepet beres.”
Begitulah kira-kira ucapan Adira waktu itu. Dia tidak suka merepotkan orang lain walaupun itu adalah asisten rumah tangga yang Tristan bayar.
Dia merasa tidak enak bila harus meminta tolong kepada orang yang lebih tua dari dirinya.
Teh Ratih berumur sekitar 35 tahunan.
Karena berasal dari Sunda dan masih cukup muda, Adira memilih memanggilnya dengan sebutan “teteh”.
“Ini Bu, pupuknya mau ditaruh mana?” ucap teh Ratih sambil tergopoh membawa pupuk dengan karung lima kiloan.
“Taruh sini aja. Makasih banget ya, Teh.” ucap Adira sambil menunjuk tanah di dekat kakinya berpijak.
“Kaya sama siapa aja Bu Adira mah. Jangan sungkan minta tolong ke saya. Kan emang udah tugas saya melayani Bu Adira sama pak Tristan.” jawab Bu Ratih tanpa ada rasa keberatan.
"Jangan panggil ibu dong, Teh. Ketuaan nggak sih?" tanya Adira sambil terkekeh.
"Terus, maunya di panggil apa dong?" tanya teh Ratih yang juga bingung.
"Neng, Neng aja, Teh. Biar lebih akrab." ucap Adira menemukan ide.
"Baiklah kalau begitu. Saya panggilnya neng aja." Teh Ratih pun menurut.
“Hehe. Makasih banget sekali lagi ya, Teh.” ucap Adira lagi sambil tersenyum manis.
“Ya udah. Kalau gitu saya tinggal ke dalam dulu ya, Neng. Masih banyak kerjaan.” pamit teh Ratih sambil tersenyum ramah.
“Iya Teh. Silahkan ....” jawab Adira tak kalah ramah.
Setelah teh Ratih berlalu, Adira segera melakukan kegiatannya, yaitu memberi pupuk pada tanaman barunya.
.
.
.
.
.
.
.
**makasih yang masih setia baca karya aku ya😊.
aku nggak bakal berhenti bilang makasih buat kalian para readers.
tanpa readers, apalah artinya seorang penulis 🤭
jangan lupa terus dukung karya aku dengan cara like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian:)
dukungan kalian sangat membantu😍**