
"kamu meremehkan Oma sama Opa? Mentang-mentang kami sudah tua?" ucap Oma pura-pura tidak terima, kedua lengannya sudah berkacak pinggang, dan matanya menatap lurus pada Echa.
Semua yang ada di ruangan tersebut langsung tertawa terbahak-bahak melihat Echa yang senang sekali menggodai Omanya. "Ampun! Ampun permaisuri!" ucap Echa sambil menyatukan kedua telapak tangannya seperti menyembah.
"Udah, kalian tuh ada-ada aja tingkahnya," ucap Adira menengahi keduanya. Tristan juga menyahuti ucapan istrinya barusan. "Benar. Kan kita harus siapin semuanya dulu. Bentar lagi teman-teman ayah bakal datang buat bantuin kita," ucap Tristan bermaksud memberi tahu.
Tanpa Adira dan Tristan sadari, diam-diam Echa bersorak gembira mendengar ucapan ayahnya itu. Jika teman-teman ayahnya di undang, besar kemungkinan, Echa akan bertemu dengan seseorang yang dia suka.
"Karena waktu udah mulai sore, Echa pamit untuk mandi dulu ya," ucap Echa yang di angguki oleh semuanya tanpa ada yang curiga sama sekali. Termasuk Adira. Dia juga belum mengetahui siapa seseorang yang telah berhasil membuat Echa jatuh cinta.
Setelah berada di dalam kamarnya, Echa tidak bisa berhenti tersenyum saking bahagianya. *Bunda ... Kayanya aku mulai suka deh sama dia,* monolog Echa pada dirinya sendiri seakan-akan sedang berbicara langsung dengan Amanda. Mata Echa menatap lurus pada pigura yang berada di atas nakas.
Itu merupakan foto kedua orang tua kandungnya. Yaitu Amanda dan Doni.
*
Pada malam harinya.
Semua teman-teman ayahnya sudah datang dan siap ikut mendoakan Echa. Namun seseorang yang Echa tunggu sama sekali belum muncul dan menampakkan dirinya.
"Tante, Ananta nggak jadi ke sini pasti ya?" tanya Echa pada Lidya dengan wajah yang dibuat biasa saja agar tidak terlalu kentara bahwa dirinya sedang menunggunya.
Ananta merupakan keponakan Azka yang berasal dari Bogor. Dia kuliah di Jakarta dan kebetulan satu fakultas dengan Echa. Hanya berbeda jurusan dan beda semester. Oleh sebab itu, Ananta tinggal di rumah Azka dan Lidya atas perintah dari kedua orang tuanya.
Orang tuanya jelas tidak bisa tenang jika Ananta harus hidup sebagai anak kost. Apalagi pergaulan jaman sekarang sudah sangat miris. Akhirnya, mereka memilih untuk menitipkan anaknya pada adiknya yang berada di Jakarta. Yaitu Ananta.
Azka dan Lidya memperlakukan Ananta layaknya anak sendiri dan tidak pernah membeda-bedakan dengan anak kandungnya sendiri.
"Wah, Tante kurang tau juga, Cha. Tapi sih tadi, Raya udah kirim pesan ke Tante katanya lagi di jalan gitu," jawab lidya yang juga tidak tahu menahu.
Membicarakan soal nama Raya, dia merupakan anak kedua dari Lidya dan Azka. Dia merupakan adik dari Zain, yang merupakan anak pertama. Zain dan Raya hanya berbeda 3 tahun saja.
"Assalamualaikum." ucap seseorang dari arah pintu. Echa yang semula murung langsung mendongak dan mendapati seseorang yang dia tunggu akhirnya datang.
"Waalaikusalam." Semua menjawab dengan serentak tak terkecuali Echa yang senyumnya sudah kembali mengukir di bibirnya.
Setelah itu, acara doa bersama akhirnya di mulai. Hanya butuh waktu tiga puluh menit, akhirnya doa selesai. Kini tiba waktunya makan-makan dan mengobrol bersama.
"Echa, selamat ulang tahun ya, Sayang. Semoga kamu bisa menjadi gadis yang pemikirannya dewasa. Kamu udah genap berumur delapan belas tahun, itu berarti, kamu harus bisa bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat. Semoga kamu selalu di limpahi kebahagiaan," ucap Adira memberikan ucapan selamat pada anaknya itu.
Lalu giliran Tristan yang mengucapkan selamat. "Selamat berkurangnya umur sayang. Semoga semakin bertambah dewasa, kamu bisa mengambil keputusan dengan bijak. Jangan pernah gegabah atas apapun. Semoga kamu selalu bahagia," Tristan juga memberikan doa-doanya untuk Echa agar Echa selalu di berikan kebahagiaan.
Namun tak urung, Echa mengucapkan terima kasih kepada Aarav. Siapa tahu, memang dirinya sangat menyebalkan dan menyebalkan itu akan sedikit berkurang setelah mendapatkan doa dari Aarav.
Lalu giliran semuanya mengucapkan selamat ulang tahun untuk Echa. Mereka juga memberikan bingkisan yang sudah mereka siapkan dari rumah khusus untuk Echa.
Setelah semuanya mengucapkan selamat, tiba giliran Ananta yang mengucapkannya. Echa merasa salah tingkah saat Ananta hanya berdiri di hadapannya sambil menatap dirinya. Echa benar-benar tidak bisa menyembunyikan degup jantungnya yang sudah bertalu-talu karena terlalu dekat dengan Ananta. Entah Ananta bisa mendengar apa yang dia rasakan atau tidak? Echa berharap, Ananta tidak mendengarnya.
"Echa ...." panggil Ananta lembut dan berhasil membuat jantung Echa semakin tidak karuan. Adira yang sejak tadi mengamati interaksi Echa dan Ananta pun mulai tau, jika di antara keduanya ada sesuatu. Adira berusaha menyembunyikan dengan pura-pura biasa saja.
"Selamat ulang tahun ya," ucap Ananta memberi selamat. Echa mengangguk dan tersenyum malu-malu karena Ananta masih saja menatap dirinya dengan tatapan yang bikin Echa meleleh.
Kemudian, Ananta melanjutkan kalimatnya lagi. "Semoga kamu lekas mau jadi pacar aku," Ananta berbisik tepat di telinga Echa. Echa semakin salah tingkah dibuatnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. *Apa Anan sedang menembakkan?* tanya Echa dalam hati.
Echa berusaha mendongak karena tinggi badannya hanya sebahunya Ananta. Echa tersenyum dan menggumamkan terima kasih karena sudah datang di hari ulang tahunnya.
"Kalian kenapa sih? Kok kaya lagi kasmaran aja?" tanya Vian bermaksud meledek. Azka hanya tersenyum melihat keponakannya seperti terlihat menyukai Echa. Sedangkan Tristan, wajahnya sudah berubah serius dan menatap kedua insan itu dengan tatapan tajam. Tidak, hanya kepada Echa Tristan menatap tajam.
Karena sadar akan tatapan tidak bersahabat dari ayahnya, Echa memilih memutuskan kontak mata. Ananta yang sadar akan tatapan om Tristan, dia segera mundur dan bergabung bersama yang lain lagi.
*
Setelah acara doa selesai, semua tamu pulang termasuk teman-teman Tristan beserta anak-anaknya. Adira sudah berada di kamarnya bersama Tristan. Dia sedang marah dengan Tristan karena tidak bisa memposisikan dirinya dengan baik saat acara doa untuk Echa.
"Kamu tau nggak sih? Echa tuh takut banget waktu kamu tatap dia dengan tajam. Anan aja sampai takut dan memilih mundur," omel Adira merasa kesal dengan tingkah suaminya yang sudah overprotektif.
Tristan yang sedang duduk di pinggiran ranjang, mendongak untuk bisa menatap istrinya yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang. "Ini demi kebaikan Echa. Dia masih kecil dan nggak boleh pacaran dulu," ucap Tristan memberi alasan.
Adira memutar bola matanya jengah. Sejak kapan gadis berusia delapan belas tahun itu masih kecil? "Echa tuh udah delapan belas tahun. Dengerin, de-la-pan be-las ta-hun. Sudah jelas?" Adira berucap sambil mengeja kata delapan belas tahun agar suaminya paham bahwa Echa sudah bukan anak kecil lagi. "Dia itu udah gede, Mas. Namanya juga anak muda, pasti mulai deh ada perasaan cinta terhadap lawan jenis. Kamu kaya nggak pernah muda aja deh," omel Adira lagi merasa sangat kesal.
Setelah mengucapkan itu, Adira segera keluar dari kamar untuk menemui Echa yang pasti merasa sedih karena tingkah berlebihan ayahnya.
BRAK!!
Adira menutup pintu dengan kasar hingga membuat Tristan berjenggit kaget. Tangannya sudah Tristan gunakan untuk mengelus dadanya yang berdegup kencang karena bunyi gerakan pintu yang Adira buat.
*Sungguh, kekuatan seorang wanita yang sedang marah itu begitu kuat,*
Tristan berucap pada dirinya sendiri.