Treat You Better

Treat You Better
123. Tidak pilih kasih



Satu tahun kemudian.


 


Adira sedang menemani anaknya yang sedang bermain bersama Echa. Usia Aarav sekarang sudah menginjak satu tahun.


Aarav sudah mulai belajar berjalan sedikit demi sedikit.


Selama satu tahun itu juga, Echa tidak pernah lelah menanyakan keberadaan kedua orang tuanya.


Adira, Tristan dan semua keluarga memang sudah sepakat akan memberitahu Echa di saat ulang tahunnya yang ke-empat.


Dan sekitar empat bulan lagi, Echa akan tahu semuanya tentang keberadaan orang tuanya.


Bagaimanapun, Echa harus segera tahu walau belum terlalu mengerti akan hidup dan mati.


Suatu saat Echa akan mengerti dan Adira berjanji akan mengajak Echa berziarah ke makam Amanda dan Doni setiap hari ulang tahunnya.


“Kok bunda sama ayah belum pulang?” tanya Echa entah untuk yang ke berapa kalinya. Bicaranya sudah terdengar lancar dan lumayan fasih. Hanya saja, saat mengucapkan huruf ‘R’ Echa masih mengucapkannya dengan huruf 'L'


Adira tampak berpikir untuk mencari jawaban yang tepat agar Echa tidak selalu menanyakan hal yang sama dan beruntun.


Pasalnya, setiap Adira memberikan alasan, Echa selalu menanyakan lebih lanjut hingga jawaban yang Adira berikan berhasil meyakinkan hatinya.


“Mulai sekarang, kamu panggil Onty dengan sebutan Bunda aja ya ... Terus om Tristan, Echa panggilnya ayah aja ya. Echa anggap aja om sama Onty, Bunda dan ayah Echa. Biar Echa ngerasa dekat sama bunda sama ayah,” ucap Adira memberi pengertian semudah mungkin agar bisa di pahami oleh Echa.


“Kenapa?” tanya Echa sambil mengernyit bingung.


“Echa kangen sama bunda dan ayah kan?” tanya Adira.


Echa tampak mengangguk dengan mantap.


“Bunda sama ayah ninggalin Echa lama karena Echa nakal ya?” tanya Echa lagi dengan wajah murungnya.


Adira merasa ingin menangis mendengar pertanyaan yang tidak bisa Adira jawab apa penyebab kedua orang tua Echa meninggalkannya.


Karena tidak tahan, akhirnya Adira menumpahkan air matanya di depan Echa.


“Onty kenapa? Echa nakal ya? Maafin Echa Onty,” ucap Echa merasa bersalah.


“Onty sedih karena Echa nggak mau panggil Onty dengan sebutan Bunda,” ucap Adira sedikit berbohong.


“Maafin Echa ya, Onty. Mulai sekalang, echa bakal manggil om sama Onty dengan sebutan Bunda dan ayah,” putus Echa kemudian karena tidak mau melihat Onty yang sangat menyayangi dirinya menitikkan air mata.


“Coba panggil!” suruh Adira lembut.


“Bunda Adila sama ayah Tlistan,” ucap Echa begitu lancar.


Adira tersenyum haru mendengar sebutan baru yang Echa ucapkan.


“Mulai sekarang, bunda bakal jadikan kak Echa sebagai anak pertama Bunda. Dan adek Aarav anak kedua Bunda,” ucap Adira sambil memeluk Echa lembut.


“Makasih, Bun.” ucap Echa berterima kasih.


“Bunda sayang banget sama, Echa,”


“Echa juga sayang banget sama Bunda sama adek Aalav,” balas Echa tulus.


“Sama ayah Tristan nggak sayang nih?” tanya Tristan mencoba menggoda Echa.


“Sayang dong, sayang banget malahan,” ucap Echa sambil berlari untuk memeluk Tristan yang baru saja pulang dari kantor.


“Ayav–Nda–Yah–Ca–Ca.”celetuk Aarav begitu saja.


Adira sampai menutup mulutnya tidak percaya bahwa Aarav sudah mulai bisa berbicara.


Mereka semua tertawa mendengar celotehan dari Aarav.


“Kamu mulai pintar bicara sekarang ya? Ayah bangga sama kamu sama kak Echa,” ucap Tristan sambil berjalan mendekati Aarav yang sedang memandang ke arahnya.


Tristan juga membawa Echa ke dalam gendongannya.


Walau Echa bukan anak kandungnya, kasih sayang yang Adira dan Tristan berikan tidak pernah pilih kasih.


Mereka selalu adil dalam memperlakukan Aarav dan Echa.


Tristan membawa kedua anaknya itu ke dalam gendongannya dengan Echa berada di kanan dan Aarav berada di kkiri


Tristan memberikan satu kecupan di pipi Echa setelah itu, dia memberikan satu kecupan di pipi Aarav juga.


Adira tersenyum bahagia melihat keluarga kecilnya.


Hidupnya bertambah lengkap dengan kehadiran Echa dan Aarav.


“Ayah mandi dulu, kan baru pulang dari kantor!” pekik Adira saat dirinya juga akan dicium oleh suaminya itu.


Tristan sudah menurunkan Echa dan Aarav dan membiarkan keduanya bermain kembali.


Setelah berada di dapur, Adira tidak bisa melarikan diri lagi karena jalan yang dia pilih adalah jalan buntu.


Dirinya sudah mepet di tembok dengan Tristan yang memepet dirinya.


“Mandi dulu, Mas. Ciumnya nanti aja,” ucap Adira sambil melengos demi menghindari ciuman dari Tristan.


“Kalau aku maunya sekarang gimana?” ucap Tristan setengah berbisik.


Adira langsung menelan salivanya susah payah. Adira jelas tahu maksud dari ucapan Tristan yang menandakan ingin meminta jatahnya sebagai suami.


“Nanti di liatin anak-anak, Mas,” kilah Adira lagi.


“Nggak masalah kalau anak-anak lihat,” jawab Tristan santai.


“Ada teh Ratih sama baby sister juga loh,” ucap Adira lagi masih ingin mencari alasan.


Cup.


“Mas, aku ....”


Cup.


“Anak-an ....”


Cup.


Tristan memberikan kecupan pada bibir Adira setiap kali Adira membuka mulutnya lagi.


Adira hanya bisa mendengus sebal kepada suaminya itu yang sekarang telah bertambah bucin kepada dirinya.


Setelah mempunyai anak, Tristan tidak pernah malu mengumbar kemesraan di depan anak-anak mereka.


“Aku kan belu ....”


Cup.


Ucap Adira terpotong lagi karena kecupan bertubi-tubi yang Tristan berikan.


Adira sampai tidak berani membuka mulutnya lagi atau dirinya akan dicium kembali.


“Sekali bicara membantah, aku cium,” ucap Tristan sambil berbisik di tepat di telinga Adira.


Adira hanya bisa mengumpat dalam hati karena jika dirinya berbicara lagi, suaminya akan menciumnya kembali.


Ting.


Seketika Adira memiliki rencana untuk mengerjai Tristan balik. Adira tampak tersenyum licik menatap ke arah suaminya itu.


Tristan yang tidak tahu maksud Adira hanya bisa mengernyit bingung.


Setelah itu, Adira memeluk Tristan erat dengan wajahnya yang menengadah ke arah wajah Tristan.


Adira tersenyum puas kala melihat wajah Tristan semakin kebingungan karena dirinya.


Cup.


Adira mengecup bibir Tristan lalu menggigitnya pelan.


Tristan langsung mematung dan memegangi bibirnya yang terkena gigit Adira.


Adira tersenyum puas karena berhasil membuat suaminya bungkam dan tidak berani mengancamnya lagi hanya dengan sedikit kecupan dan gigitan.


“Kamu mulai nakal ya, sekarang,” ucap Tristan sambil tersenyum smirk.


Adira hanya membalasnya dengan mengangkat bahunya.


Posisi keduanya masih dalam berpelukan dan mata saling bertatapan.


Keduanya tersenyum menatap satu sama lain untuk menyalurkan rasa sayang dan cinta yang selalu mereka pupuk setiap harinya.


Jika cinta dan sayang tidak di pupuk dalam rumah tangga, semua akan terasa hambar dan berujung kehancuran.


Hal inilah yang selalu Tristan dan Adira terapkan di kehidupan rumah tangganya.


Mereka akan saling mendengarkan dan memahami setiap perasaan pasangannya.


Mereka selalu berbicara langsung dan menegur satu sama lain ketika salah satu dia antara mereka melakukan kesalahan dan melukai salah satunya.


Mereka akan berbicara dari hati ke hati agar bisa di pahami.


“Cie ... Pacalan ....” ucap Echa yang berhasil menyadarkan kedua manusia yang seperti kaum muda yang sedang di mabuk asmara.