
“Bila kembali ke Indonesia lagi, jangan lupa mampir ke rumah ku, Van,” ucap Tristan sesaat sebelum masuk ke dalam mobilnya. Bibirnya mengulas senyum yang tulus saat mengucapkannya.
Elvan mengangguk dan tersenyum hangat menanggapi ucapan Tristan.
Elvan merasa bahagia jika Adira bahagia bersama pilihannya. Walau sebenarnya masih mempunyai cinta untuk Adira, tapi Elvan ikhlas melihat Adira bahagia bersama orang yang dia cinta.
“Itu pasti.” jawab Elvan mantap.
Dia menatap kepergian Adira dan Tristan sambil tersenyum. Namun saat mobil yang di tumpangi keduanya sudah tidak terlihat lagi, senyum itu pudar.
“Semua kesalahan berasal dari diri Gue sendiri. Disaat Adira begitu cinta sama Gue, Gue malah ngedan,” ucap Elvan pada diri sendiri dengan senyum masamnya.
Elvan menyadari, mungkin saja memang Adira bukan jodohnya dan tidak di takdirkan untuk menemani hidupnya.
Elvan mencoba mengikhlaskan semuanya. Tidak semua hal yang ada di dunia ini bisa kita miliki.
...........
Keesokan harinya, Adira dan Tristan menghadiri acara pernikahan Vian dan Kinara.
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu oleh kedua mempelai telah tiba.
Adira tersenyum bahagia ke arah cermin yang memperlihatkan dirinya dan Kinara yang sudah dirias begitu cantik dan anggun.
Kedua tangannya Adira letakkan di pundak Kinara.
Kinara ikut tersenyum bahagia. Hari bahagianya telah tiba.
“Cantik banget sih, gadis cerewet satu ini,” ucap Adira gemas.
Lidya dan Amanda yang juga sedang di rias, mereka terkekeh dan membenarkan ucapan Adira.
“Contoh ngledek berkedok pujian tuh gini,” jawab Kinara sambil mencebikkan bibirnya kesal.
Adira tergelak renyah mendengar jawaban Kinara.
“Tapi ... Biar cerewet, Kinara setia dan pengertian sama sahabat sendiri,” lanjut Adira lagi.
Kinara tersenyum sendu menatap pantulan dirinya di cermin.
Sebentar lagi, dirinya akan resmi menjadi seorang istri dari Avian Samudera.
Tidak berselang lama, mama Kinara datang untuk memberitahukan bahwa prosesi ijab Qabul akan segera dilaksanakan.
Mama Kinara juga menyuruh Kinara untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Setelah yang berada di ruangan menggumamkan kata iya, mama Kinara kembali lagi ke ballroom hotel.
“Untung anak Gue di jagain sama bapaknya. Kalau nggak mah, belum beres Gue dandannya,” ucap Amanda merasa bersyukur.
“Pasti Echa juga pengen di rias juga kali, Man,” ucap Adira sambil terkekeh.
“Pasti itu, orang tadi aja kalau nggak segera di ambil alih sama bapaknya, udah mau pake lipstik. Lucu banget Echa ya,” ucap Lidya menimpali.
“Kalau anak Gue cewek, mau tuh yang kaya Echa,” sambung Lidya lagi sambil mengelus perutnya lembut.
Ya, Lidya sekarang ini sedang hamil besar yang tinggal menunggu hari, bayinya akan segera lahir ke dunia.
“Gue, mau cowok apa cewek, nurut aja sama Allah yang udah ngasih kepercayaan,” ucap Adira menimpali, bibirnya mengulas senyum tanda bersyukur.
“Pada ngomongin anak, lha Gue gimana dong?” tanya Kinara dengan wajah nelangsanya.
“Bikin dulu!” pekik Adira, Amanda, dan Lidya bersamaan.
Saat menyadari mereka mengucapkan hal yang sama, mereka tergelak renyah. Sedangkan Kinara, bibirnya sudah memberengut kesal.
..........
So as long as i live i love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now till my very last breath
This day i’ll cherish
You look so beautiful in white
Tonight ...
Begitulah kira-kira penggalan lagu yang di populerkan oleh Shane Filan yang berjudul Beautiful in White.
Lagu tersebut mengiringi para tamu undangan untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan oleh pihak katering yang telah kedua keluarga sewa untuk kelangsungan acara.
Vian dan Kinara sudah resmi menjadi suami istri satu jam yang lalu.
Keduanya sedang duduk bersanding di pelaminan sambil tersenyum simpul bagaikan raja dan ratu dalam sehari.
Para sahabatnya yang melihat kebahagiaan mengisi seluruh gedung pun turut menggodai dari bawah. Karena mereka juga sedang menikmati hidangan yang telah tersedia untuk tamu undangan.
“Entar malem, si Vian bakal unboxing tuh,” ucap Azka mulai julid.
“Palingan juga cuma gerah doang. Masuknya lama karena masih sempit,” ucap Doni dengan mulut lemesnya.
“Lo juga ngalamin gitu ya?” tanya teistan bermaksud bertanya meledek.
“Kita semua yang ada di sini pasti ngalamin lah. Kan istri kita, wanita baik-baik,” ucap Azka memuji kaum istri.
Para suami jika sudah di satukan di manapun berada, pasti akan mengeluarkan pembahasan konyolnya.
Dan pada saat mendengar ucapan Azka, kaum istri tersenyum bangga dengan pujian yang dilontarkan Azka.
Memang benar, circle persahabatan mereka memang tidak pernah menganut pacaran melanggar batas.
Sudah seharusnya sebagai seorang wanita, mereka harus menjaga mahkota satu-satunya yang berharga dan tentunya hanya akan diberikan kepada suaminya kelak.
Hingga saat mereka menikah, mereka bisa dengan bangga menunjukkan mahkotanya yang masih terjaga dengan rapi tanpa di sentuh oleh yang bukan suaminya.
“Mereka, kalau udah bareng emang adaaaa ... Aja yang di omongin ya,” ucap Amanda yang sambil sibuk menyuapi Echa makan.
Saat ini, Echa sedang berada di gendongannya.
“Aya ... A ... Ya ....” seru Echa menirukan maminya yang berbicara.
“Hahahaha.” Semua tergelak mendengar celotehan Echa dengan suara cadelnya yang lucu.
“Aw! Aw!” pekik Lidya tiba-tiba sambil memegangi perutnya yang membuat panik orang yang ada sekitarnya.
Azka yang mendengar rintihan istrinya langsung menghampiri dan menanyakan keadaannya.
Adira dan Amanda membelalakkan mata saat melihat cairan ketuban keluar dari sela-sela kaki Lidya.
“Lidya! Kayaknya Lo mau ngelahirin. Itu ketubannya udah pecah!” pekik Amanda histeris.
Tentu Amanda sudah paham akan tanda-tanda orang yang akan melahirkan karena dirinya juga pernah melahirkan.
Adira langsung berteriak dan menyuruh Azka untuk segera membawa Lidya ke rumah sakit.
“Bang Azka! Ayo buruan bawa ke rumah sakit!” ucap Adira panik.
Keadaan di ballroom hotel menjadi gaduh karena Lidya mengalami kontraksi tiba-tiba.
Setelah mendengar perintah Adira, Azka langsung bergegas menggendong Lidya ala bridal style. Sebelum keluar hotel, dia berpesan kepada Tristan dan dan Doni.
“Bilangin ke Vian sama Kinara kalo Gue nggak bisa lama karena Lidya mau lahiran. Tolong sampaikan permohonan maaf Gue ke mereka ya,” ucap Azka dengan wajah paniknya.
“Tenang, nanti biar Doni yang bilang. Sekarang Gue sama Adira biar ikut Lo. Doni sama Amanda tetap di sini buat bilang ke Vian sama kinara. Kasihan Echa juga kalau kalian yang harus antar ke rumah sakit,” jelas Tristan berbicara dengan tenang.
“Ide bagus. Udah ayo buruan dibawa ke rumah sakit. Sampe brojol di sini bagaimana!” pekik Amanda histeris lagi.
Echa yang berada di gendongannya sampai ikut menangis mendengar suara teriakan dari maminya.
Setelah itu, Adira dan Tristan mengantar Lidya dan Azka menuju rumah sakit dengan menggunakan satu mobil.
Tristan yang menyetir dan di sebelah kemudi ada Adira menemaninya.
Sedangkan Lidya, dia berbaring di pangkuan Azka di jok belakang.
Mendengar Lidya yang terus merintih, Adira semakin tak tega. Apalagi melihat wajah Lidya yang meringis dan sudah pucat pasi.
“Sebentar ya, Lid. Bentar lagi sampai kok,” ucap Adira menenangkan.
Azka sudah panik tidak karuan mendengar rintihan dan wajah meringis dari istrinya.
Seandainya bisa, Azka ingin menggantikan rasa sakit yang di alami istrinya saat ingin melahirkan.
Biar dia saja yang sakit jika perlu.
Tristan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Beruntung, kondisi jalanan sedikit lengang. Sehingga memudahkan Tristan untuk mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.
Setelah lima belas menit lamanya, akhirnya mobil sampai di pelataran rumah sakit.
Adira segera turun untuk memanggil dan menyuruh petugas rumah sakit untuk membawakan brankar.
Selang beberapa detik, petugas rumah sakit itu datang dengan membawa brankar.
Setelah itu, Azka menggendong Lidya lagi untuk di baringkan di atas brankar.
Lidya sudah berbaring dan brankar itu segera di dorong menuju ruang bersalin.
Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Lidya sepertinya, proses persalinan tidak akan lama lagi.
Setelah mencapai pintu ruangan bersalin, hanya Azka yang di perbolehkan masuk. Sedangkan Adira dan Tristan, keduanya menunggu di depan ruangan.
Tidak lama, setelah Lidya dan Azka masuk, ada empat suster dan dokter yang masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa berbagai alat yang Adira tidak tahu apa kegunaannya.
Setelah itu, pintu tertutup dari dalam.
Adira dan Tristan menunggu dengan was-was di luar ruangan. Mereka duduk dengan gelisah di kursi tunggu sambil merapatkan doa sebisanya dan berharap, proses persalinan alam berjalan lancar dan semua sehar.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan.
“Oek ... Oek ....”
Adira dan Tristan tersenyum dan menghela nafas lega mendengar tangisan bayi dari dalam ruangan tempat Lidya bersalin.
Adira mengucapkan syukur berkali-kali saat mengintip di kaca jendela yang berada di pintu itu.
Dia melihat Lidya sedang tersenyum haru dengan bayinya yang sedang berada di dadanya.
Keduanya selamat dan sehat.