Treat You Better

Treat You Better
89. Sindyana!



 


Tristan mengemudikan mobilnya di jalanan ibu kota yang tidak pernah sepi walau waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Tristan harus lembur karena begitu banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.


Wajahnya sudah terlihat begitu lelah.


Kemeja yang tadi pagi masih rapi, sekarang sudah lecek di mana-mana.


Tadi pagi, Tristan masih sangat rapi dengan kemeja dia masukkan ke dalam celana. Namun sekarang, kemeja itu sudah keluar dari tempat asalnya.


Di kedua lengannya sudah terdapat lipatan-lipatan karena begitu banyaknya pergerakan yang Tristan lakukan tadi saat di kantor.


Agar lebih cepat sampai, Tristan melewati jalan pintas yang selalu Tristan lewati jika pulang malam.


Jalanan itu cukup sepi dan memudahkan Tristan untuk bisa menaikkan kecepatan kuda besinya.


Setelah berbelok di pertigaan, Tristan segera melajukan mobilnya menuju rumah dengan kecepatan di atas rata-rata.


Tristan khawatir Adira menunggunya dan tak kunjung istirahat.


Dia juga sangat merindukan istrinya itu, yang semakin hari aura kecantikannya seakan meningkat karena sedang mengandung.


Saat sedang asik melamunkan Adira, tiba-tiba ada seorang wanita yang menghadang mobilnya dari arah depan.


Tristan yang terkejut langsung menginjak pedal gas dalam-dalam sampai ban mobilnya mengeluarkan suara decitan.


Beruntung, Tristan mengenakan sabuk pengamannya. Jika tidak, sudah dipastikan kepalanya akan terbentur gagang setir.


Dia menegakkan kepalanya dan mencari sosok yang tadi menghadangnya.


Tidak ada siapa-siapa.


“Apa wanita itu tertabrak?” gumam Tristan sudah ketakutan.


Akhirnya dia memilih keluar dan memeriksanya terlebih dahulu.


Tristan mencari ke sekeliling, namun tidak ada siapa-siapa.


Kemudian Tristan berjalan menuju depan mobilnya.


Betapa terkejutnya Tristan kala dia melihat seorang wanita yang sedang berjongkok dengan kepala menunduk dan tubuh gemetaran.


Tristan tidak bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah wanita tersebut karena minimnya cahaya.


Akhirnya, Tristan memilih berjalan mendekat dan bertanya.


“Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang luka?” tanya Tristan hati-hati.


Dia ikut berjongkok untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.


Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap Tristan dengan tatapan mata penuh harap.


“Tolong aku ... Tolong aku ....” ucap wanita itu lirih.


Betapa terkejutnya Tristan ketika melihat wajah wanita itu.


Walaupun gelap, Tristan bisa melihat jelas siapa wanita itu.


Di wajahnya sudah dipenuhi luka lebam. Di sudut bibir dan hidung wanita itu juga  mengeluarkan darah yang terlihat masih segar.


Tristan langsung meringis merasa ngilu melihat keadaan wanita itu.


“Kenapa aku harus menolong kamu?” tanya Tristan dingin, wajahnya terlihat datar.


“Tolong aku ... Aku benar-benar butuh pertolongan,” ucap wanita itu memohon dan dengan wajah memelas.


Dari kejauhan, Tristan melihat ada dua lelaki berbadan tegap, berbaju serba hitam, dan menggunakan kacamata hitam seperti seorang pengawal, berjalan mendekati mobilnya.


Melihat wajah wanita itu semakin ketakutan, Tristan menebak jika wanita ini sedang bermasalah dan di kejar oleh lelaki berbadan tegap itu.


Tanpa menunggu lama, Tristan segera menggendong tubuh wanita itu ke dalam mobil. Kemudian dia keluar lagi untuk menemui dua lelaki itu.


“Apa anda melihat seorang wanita yang melewati jalan ini?” tanya salah satu lelaki itu dengan suara baritonnya.


“Tidak.” jawab Tristan singkat.


“Apa anda yakin? Karena kami melihat wanita itu berjalan ke arah sini,” ucap salah satu lelaki itu lagi.


“Maaf, tapi saya tidak melihatnya,” jawab Tristan lagi.


Tristan pura-pura mengambil ponselnya dan memanggil seseorang.


Kemudian, dua lelaki itu pamit untuk pergi.


“Terima kasih. Kamu pergi dulu,” ucap salah satu lelaki itu.


Tristan mengangguk.


Setelah kepergian dua lelaki itu, Tristan menghembuskan nafasnya lega.


Dia segera berjalan dan masuk ke kursi kemudi.


Tanpa menoleh ke belakang, Tristan berkata.


“Turun. Aku hanya bisa bantu sampai di sini,” ucap Tristan masih dengan suara dinginnya.


Tidak ada jawaban dari seseorang yang berada di kursi belakang.


“Sindyana!” sentak Tristan.


Namun tetap tidak mendapat jawaban.


Akhirnya Tristan menoleh dan langsung mendapati Sindy sudah terkapar pingsan dengan lengannya yang mengeluarkan begitu banyak darah.


Tanpa berpikir panjang, Tristan langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


Sebenarnya, dia bisa meninggalkan Sindy di tengah jalan. Namun sebagai manusia, Tristan masih mempunyai rasa kasihan terhadap sesama.


Setelah sampai, Tristan segera memanggil petugas rumah sakit untuk segera membawakan brankar agar Sindy cepat di tangani.


Setelah Sindy berhasil di bawa dengan brankar, Tristan mengikuti ke mana Sindy akan dibawa.


Sindy dibawa ke sebuah ruangan UGD untuk segera mendapatkan penanganan.


Salah satu suster yang keluar dari ruangan segera menyuruh Tristan untuk mengurus administrasi.


Tristan menurut dan berjalan dengan langkah gontai menuju meja resepsionis.


Niatnya ingin pulang menemui istrinya yang sudah seharian ini tidak Tristan lihat, harus gagal karena menolong seseorang dari masa lalunya.


Setelah administrasi selesai, Tristan memilih duduk di kursi tunggu yang berada di luar ruangan tempat Sindy di tangani.


Dia menunduk dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Belum hilang rasa lelahnya karena bekerja seharian, kini lelah itu harus bertambah karena menolong seseorang dari masa lalunya.


Dia tidak mungkin meninggalkan Sindy begitu saja karena Tristan menjadikan dirinya wali dari Sindy saat tadi mengurusi administrasi.


Dia bingung harus menghubungi siapa. Karena Tristan juga tidak tahu di mana kedua orang tua Sindy tinggal.


Akhirnya dia memilih untuk menunggu sampai Sindy selesai di tangani.


Setelah menunggu selama satu jam lamanya, akhirnya Tristan melihat dokter keluar dari ruangan.


Tristan segera berjalan mendekati sang dokter dan bertanya.


“Bagaimana keadaan pasien, Dok?” tanya Tristan sambil menegakkan tubuhnya.


“Anda siapanya pasien?” tanya dokter memastikan.


“Saya ... Teman kerjanya, Dok.” jawab Tristan sambil berpikir sejenak.


Tidak mungkin bila dia mengatakan bahwa dia adalah mantan pacarnya bukan?


“Apa anda tahu, apa penyebab pasien bernama Sindy mengalami luka-luka seperti itu?” tanya dokter lagi, masih belum mau memberitahu keadaan Sindy yang sebenarnya.


“Saya menemukannya di jalan dengan keadaan yang sudah penuh luka,” beritahu Tristan langsung ke intinya.


“Baiklah, sepertinya pasien mengalami penganiayaan. Untuk bisa mengetahui lebih lanjut, kami akan melakukan pemeriksaan IMR,” ucap sang dokter memberitahu.


Tristan mengangguk tanda mengerti.


“Lakukanlah, Dok. Agar pasien bisa segera pulih,” ucap Tristan mendoakan.


Dia mendoakan seperti itu karena tidak ingin berurusan terlalu lama lagi dengan Sindy.


“Sayangnya, saat ini pasien belum sadarkan diri. Sehingga kami belum bisa bertanya lebih lanjut,” lanjut sang dokter lagi.


“Apa akan lama, pasien tersadar, Dok?” tanya Tristan lagi.


“Mungkin besok pagi, pasien sudah sadar,” ucap dokter.


Setelah itu, sang dokter berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya.


Tristan mempersilahkan dan memberi jalan kepada sang dokter untuk lewat.


Setelah itu, Tristan hanya mengintip lewat kaca yang menempel di pintu.


Pintu rumah sakit itu di desain dengan adanya kaca berukuran 30×30 cm.


Dengan begitu, pengunjung yang ingin menjenguk pasien, bisa melongok dahulu untuk memastikan bahwa ruangan yang akan di kunjunginya sudah benar.


Setelah melihat keadaan Sindy yang masih terbaring lemas di atas brankar, Tristan memilih untuk pulang dan akan datang ke sini lagi besok pagi.


Tristan menatap arloji yang berada di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Istrinya pasti sudah tertidur karena lelah menunggunya.


Rasa bersalah semakin menjalar di hari Tristan.


Apalagi, Adira pasti akan bertanya mengapa dirinya pulang malam.


Dan Tristan tidak mungkin berkata jujur bahwa dia habis mengantar Sindy ke rumah sakit.


Itu pasti akan membuat Adira di serang rasa cemburu.


Dan lebih parahnya lagi, Tristan takut Adira akan berpikir macam-macam dan membuat Adira terserang stres.


Itu tidak akan baik untuk kehamilan Adira.


Mungkin tidak masalah jika Tristan berbohong. Tristan melakukan kebohongan itu demi kebaikan Adira juga.