Treat You Better

Treat You Better
92. Menyesal



Sudah dua minggu ini Sindy dirawat di rumah sakit. Keadaanya sekarang sudah membaik.


Sindy mengalami trauma karena kekerasan seksual dan kekerasan fisik yang dilakukan oleh pacarnya.


Sudah selama itu juga, Tristan selalu mengunjungi rumah sakit tanpa sepengetahuan Adira dan juga keluarganya.


Tristan selalu bisa mengatur waktu. Dia datang ke rumah sakit saat akan berangkat ke kantor.


Semua biaya rumah sakit Sindy, Tristan yang menanggungnya.


Saat ini, Tristan sedang berada di rumah sakit. Dia bertekad bahwa kunjungannya kali ini adalah kunjungan yang terakhir.


Dia sudah tidak tega lagi jika harus berbohong terlalu lama dengan Adira.


“Karena kamu sudah sehat, aku sudah berkeputusan bahwa hari ini adalah hari terakhir aku mengunjungimu. Sudah terlalu banyak kebohongan yang aku buat kepada Adira,” ucap Tristan dingin. Wajahnya terlihat datar menatap Sindy.


Sindy tampak murung mendengar penuturan Tristan. Seandainya bisa, Sindy ingin merebut kembali cinta Tristan.


Namun, saat mengunjungi dirinya di rumah sakit setiap harinya, Tristan jarang sekali mau berbicara panjang lebar dengan Sindy.


Sindy merasa, Tristan sudah memasang tembok yang begitu tinggi sehingga sulit untuk Sindy raih.


Sindy sadar sekarang, bahwa Adira adalah pemenangnya. Namun Sindy tidak akan menyerah begitu saja.


Sekuat apapun Sindy berusaha untuk merebut Tristan dari Adira, tetap saja itu tidak akan menggoyahkan rumah tangga keduanya.


“Akan aku pastikan bahwa hari ini bukanlah hari terakhirmu mengunjungiku, Tris,” gumam Sindy dalam hati.


Sindy sudah punya rencana agar selalu bisa bertemu Tristan. Setelah Tristan menolongnya, Sindy mengira bahwa Tristan masih punya sedikit cinta untuknya.


Karena itulah, Sindy akan berusaha untuk menumbuhkan rasa cinta itu kembali di hati Tristan.


Gila bukan?


Tapi begitulah Sindy yang akan selalu berusaha dengan cara apa saja untuk mendapatkan semua yang dia inginkan.


Sindy lupa, bahwa tidak semua yang berada di dunia akan selalu berada di genggamannya.


“Aku pergi. Tolong jangan ganggu hidup aku lagi,” ucap Tristan sebelum benar-benar pergi meninggalkan Sindy sendirian di dalam ruangan yang sepi itu.


Sindy tersenyum kecut menatap kepergian Tristan.


Sindy juga sudah menangis. Namun dia berusaha untuk menyeka air matanya.


 


Sore harinya, Tristan pulang dari kantor tepat pukul lima sore. Dia langsung mencari keberadaan istrinya.


Tristan ingin menghabiskan waktu bersama sang istri sore itu.


Dia berniat untuk mengganti waktu yang selama dua minggu ini Tristan gunakan untuk bolak-balik rumah sakit.


Apa lagi jika bukan karena untuk mengunjungi Sindy setiap pagi dan sore.


“Adira!” panggil Tristan saat tak menemukan istrinya di setiap sudut rumahnya.


“Adira pergi ke mana sore hari begini?” monolog Tristan bertanya pada dirinya sendiri.


“Mas Tristan udah pulang? Nyari neng Adira ya?” tanya teh Ratih yang mendekati Tristan karena mendengar nama Adira di panggil.


“Iya. Teteh tahu ke mana perginya Adira?” tanya Tristan sambil menatap teh Ratih berharap menemukan jawaban di mana istrinya berada.


“Tadi pamit ke supermarket buat beli susu ibu hamil gitu. Tadinya saya yang mau beliin, tapi neng Adira bilang, biar neng Adira saja, sekalian jalan-jalan. Begitu Mas,” ucap teh Ratih menjelaskan.


Bahu Tristan merosot mendengar penuturan dari asisten rumah tangganya.


“Terima kasih, Teh.” ucap Tristan kemudian.


Dia segera berjalan menuju mobilnya terparkir. Dia akan menyusul Adira.


Dia merasa sudah gagal menjadi suami siaga untuk istrinya yang sedang hamil.


Tristan menyesal terlalu sibuk mengurusi Sindy dan mengabaikan kebutuhan gizi istri dan anaknya.


Tristan sampai tidak tahu apakah Adira makan dengan benar akhir-akhir ini?


Apakah Adira tidak merasakan mual lagi?


Tristan menjambak rambutnya kasar dan memukul kepalanya sendiri berulang-ulang, berharap bahwa otak bodohnya bisa sedikit berkurang.


Sambil mengemudikan mobilnya, Tristan menangis merasa menyesal karena perbuatannya sendiri.


“Maafin aku, Ra. Aku memang bodoh.” monolog Tristan di sela tangisnya.


Di tengah jalan menuju supermarket, Tristan melihat Adira yang sedang berjalan kaki sendirian di trotoar.


Rasa bersalah semakin mengisi relung hati Tristan. Di saat istrinya sedang berjuang mengandung anaknya, Tristan malah berjuang untuk kesembuhan mantannya.


“Suami macam apa aku.” Gumam Tristan merasa bersalah.


Setelah menepikan mobilnya, Tristan segera turun dan mengejar Adira.


Beruntung, Adira berjalan dengan santai sehingga Tristan tidak sampai kehilangan jejak Adira.


“Adira?” pekik Tristan memanggil Adira.


Adira yang merasa namanya dipanggil pun menoleh, dan mendapati suaminya sudah berdiri di seberang jalan tidak jauh darinya.


“Kak Tristan!” jawab Adira dengan suara lantangnya.


Kemudian, Adira menyeberangi jalan tanpa menoleh kiri dan kanan untuk menghampiri suaminya yang sudah menunggunya.


Tristan yang melihat senyum bahagia penuh cinta di wajah Adira, semakin merasa bersalah dan tidak pantas di cintai sedalam itu oleh Adira.


Karena saking bahagianya di jemput suaminya, Adira sampai tidak melihat sekeliling bahwa ada mobil yang melaju ke arahnya.


“Adira awas!!” pekik Tristan histeris karena melihat mobil yang melaju ke arah Adira.


Adira yang tidak paham hanya mengernyit bingung dan melanjutkan langkahnya yang sudah berada di tengah-tengah aspal.


“Adira minggir!!” pekik Tristan lagi.


Adira langsung menoleh ke kiri dan mendapati sebuah mobil mewah sedang melaju ke arahnya.


Kaki Adira seperti membeku dan tidak bisa di gerakkan hingga Adira berdiri terpaku di tengah jalan.


Adira menutup matanya rapat-rapat karena sudah di pastikan dirinya akan tertabrak.


Semua yang melihatnya ikut histeris dan berteriak begitu kencangnya.


Brakk!


Ciiiiiit!


Terdengar bunyi decitan dari ban mobil karena mengerem dadakan.


Tristan merasa nyawanya melayang saat menyaksikan Adira yang hampir saja tertabrak bila pengendara mobil itu tidak menghentikan mobilnya.


Iya, Adira tidak tertabrak, dan suara BRAK tadi adalah suara kantong kresek yang jatuh ke aspal.


Tristan masih terpaku di tempatnya berdiri. Apalagi saat menyadari siapa orang hampir saja menabrak istrinya.


Tangan yang berada di sisi tubuhnya sudah mengepal sempurna.


Pengendara mobil itu keluar dengan tergesa apakah dia sudah menabrak seseorang atau tidak.


Adira masih enggan membuka matanya saat orang-orang mulai mengerubunginya.


“Adira ....” ucap seseorang tersebut saat menyadari bahwa orang yang hampir di tabraknya adalah Adira.


Sedikit demi sedikit Adira membuka matanya karena takut bila saat membuka mata, Adira sudah berada di alam yang berbeda.


Setelah matanya terbuka sepenuhnya, Adira mengamati sekeliling, dia masih berada di tempat yang sama.


Kemudian dia beralih menatap suaminya yang terpaku menatapnya di seberang sana.


“Kamu nggak papa kan, Ra?” tanya seseorang itu lagi.


Adira langsung tersadar dan menatap orang yang menanyainya.


“Elvan? Kamu ....” ucap Adira terhenti saat melihat bahwa Elvan yang hampir saja menabraknya.


“Iya ini aku. Kamu nggak papa kan? Ada yang luka nggak? Maafin aku ya, aku nggak hati-hati bawa mobilnya,” ucap Elvan memberondong.


Elvan juga membolak-balik tubuh Adira untuk memastikan bahwa Adira baik-baik saja.


“Aku nggak papa. Aku yang salah karena nyeberang nggak liat-liat. Maafin aku ya, Van,” ucap Adira merasa bersalah.


“Nggak papa. Yang terpenting kamu baik-baik saja.” jawab Elvan.


Kemudian, Elvan menatap satu kantong kresek yang isinya sudah keluar.


Susu untuk ibu hamil dan beberapa camilan untuk ibu hamil juga.


Elvan segera memungut kantong kresek itu dan memasukkan semua barang yang telah keluar dari tempatnya.


Adira hanya diam memandangi Elvan. Matanya juga bergantian menatap Tristan yang hanya diam menyaksikan interaksi dirinya dan Elvan.


Karena takut Tristan salah paham, Adira segera merebut kantong kresek itu dari tangan Elvan dan mengucapkan terima kasih. Lalu Adira berkata lagi.


“Itu (sambil menunjuk ke arah Tristan) suami aku udah nunggu. Aku tinggal dulu ya. Maaf dan terima kasih,” ucap Adira tersenyum tipis.


“Tunggu Ra. Aku belum sempat meminta maaf langsung sama suami kamu. Bila diizinkan, aku mau meminta maaf sekarang juga mumpung ada kesempatan,” ucap Elvan sambil memegang pergelangan tangan Adira.


Adira menatap pergelangan tangannya yang di pegang oleh Elvan. Kemudian Adira melepaskannya secara halus.


Tristan yang melihat itu, dia menatap tajam ke arah Adira dan Elvan. Rahangnya sudah terlihat mengeras, gigi-giginya mengetat menahan amarah dan cemburu.


Adira menatap Tristan dahulu, kemudian dia mengangguk mengizinkan Elvan untuk berbicara dengan Tristan.


Karena mobil sudah menepi, Elvan mengikuti Adira dari belakang.


Setelah sampai di hadapan Tristan, Adira langsung mengambil posisi berdiri di samping suaminya. Dia juga menggengam tangan suaminya yang mengepal hingga menampakkan buku jarinya.


Tristan langsung mengalihkan tatapannya menghadap Adira. Adira mengangguk meyakinkan bahwa tidak ada hubungan apapun antara dirinya dan Elvan.


Tatapan tajam yang semula Tristan layangkan akhirnya melembut menatap Elvan yang juga menatapnya dengan tatapan bersahabat.


“Kalau tidak menganggu, aku ingin berbicara dengan kalian berdua,”


Ucap Elvan memohon dengan sopan.