Treat You Better

Treat You Better
Elvan berulah lagi.



“adira. Gimana kabar lo? Kok nggak pernah kerumah lagi?” tanya Elvan saat melihat Adira memasuki area kampus. Elvan langsung mengejar Adira dan menyamai jalannya Adira .


Adira menoleh ke samping dan tersenyum.


“Baik. Lo udah bisa jalan lagi?” tanya Adira. Matanya menyusuri kaki jenjang Elvan yang sudah kokoh berdiri seperti dulu lagi.


“udaah.. gue rajin terapi. Jadi cepet sembuhnya” jawab Elvan dengan senyum bangga.


“Oooh.. baguslah kalau gitu Van. Gue ikut seneng” ucap Adira tulus.


“Ra.. nanti mau nggak makan malam sama gue?” tanya Elvan to the point’  dia masih mengikuti Adira berjalan.


Adira langsung memberhentikan jalannya dan menoleh kepada Elvan.


“makan malam? Buat acara apa?” tanya Adira heran dengan pandangan sedikit tidak suka.


“buat rayain kesembuhan gue Ra” jawab Elvan memohon.


Adira tampak berpikir sejenak. Pasalnya adalah makan malam, bukan makan di kantin. Adira ingin menolak tapi merasa tidak enak hati.


“Gue nggak janji Van. Nanti gue kabarin deh” ucap Adira tegas dan melanjutkan jalannya lagi menuju kelasnya.


“kenapa nggak bisa? Nggak Cuma kita berdua kok Ra. Aku undang yang lain juga” ucap Elvan mencoba meyakinkan.


“Siapa aja yang Lo undang emang?” tanya Adira penasaran.


“Ada pokoknya Ra. Mau ya? Please Ra? Masa Lo nggak datang si?” ucap Elvan memelas.


“Makan malam dimana emang?” tanya Adira yang mulai tak tega.


“di club Ra. Temen-temen gue mau rayain disana” ucap Elvan memberitahu.


“nggak lah. Gue nggak bisa Dateng kalo gitu. Gue nggak bisa dateng ke tempat begituan” ucap Adira to the point’.


“Demi gue Ra . Please!! Datang pokoknya. Gue tunggu Lo nanti. Gue share location. Bye Ra Lo harus datang” ucap Elvan sambil berjalan menjauhi Adira.


Adira bingung dibuatnya. Dia tidak mungkin datang ke tempat haram itu. Bisa di cincang habis tubuhnya oleh kedua orangtuanya.


Tapi jika mengingat Elvan, dia merasa tak enak hati bila tak datang.


Mungkin menghadiri sebentar saja tidak menjadi masalah.


Tapi kenapa di club’? Bukankah masih banyak rumah makan mewah yang bisa di sewa? Memangnya di club’ ada menu makan malam? Entahlah Adira semakin bingung dibuatnya.


.......


Adira ragu ingin datang ke undangan Elvan atau tidak. Setelah meminta pendapat orangtuanya, jelas mereka langsung tidak setuju dan tidak membenarkan keinginan Elvan. Yaitu merayakan hari kesembuhannya di club’.


Namun setelah berkata Tristan akan menemani, Adira langsung di perbolehkan dengan syarat harus bersama Tristan setiap saat.


Itu tidak masalah bagi Adira maupun Tristan. Ya, Adira memang juga menghubungi Tristan untuk menemaninya.


Adira tau, Elvan tidak suka dengan keberadaan Tristan semenjak kejadian di rumah sakit. Bahkan Adira juga sebenarnya masih enggan untuk berbaur kembali dengan Elvan.


Tapi karena persahabatan, Adira menghargai itu. Tristan juga mengatakan dia telah memaafkan kelakuan Elvan.


“Duh.. males banget mas Dateng ke tempat ginian” ucap Adira setelah sampai di depan club yang Elvan kirimkan lokasinya.


“Nanti aku temenin terus” ucap Tristan menenangkan.


“aku nggak mau lama-lama. Sebentar aja langsung pulang ya?” ucap Adira memohon.


Dia datang kesini karena Tristan menyuruhnya datang demi menghargai usaha Elvan. Dan untuk menghindari apabila Elvan menyalahkan Tristan lagi karena Adira semakin jauh darinya.


Tristan merasa tidak enak hati dengan itu. Pasalnya Elvan dan Adira sudah berteman cukup lama dan harus hancur karena sebuah rasa cinta.


“iyaa. Bentar aja nggak papa. Yuk masuk” ajak Tristan sambil menggandeng tangan Adira.


Saat sudah masuk ke dalam club, musik dugem yang begitu keras menggema di ruangan tersebut. Kuping Adira serasa mau jebol.


Tristan dan Adira mencari-cari keberadaan Elvan, mereka berhasil menemukan Elvan dan segera menuju kesana. Elvan bilang dia berada di ruang VIP.


Saat sudah sampai, ternyata Elvan tidak sendiri melain bersama teman laki-laki yang berjumlah sekitar enam orang dan juga ada dua orang wanita yang bergabung di sofa yang di pesan Elvan.


Elvan tersenyum puas melihat Adira dan Tristan datang bersama. Itu artinya, rencananya berjalan dengan lancar sesuai perkiraan.


“Iya. Maaf gue nggak bisa lama” ucap Adira enggan duduk dan masih berdiri.


“Eeiits.... Duduk dulu dong. Mau kemana sih buru-buru banget” ucap salah satu teman pria Elvan.


Adira hanya melirik sinis ke arah pria tersebut. Tristan jelas merasa ada tidak beres disini.


Hap!


Tristan di tangkap oleh empat pria yang bersama Elvan. Tristan langsung di bekap mulutnya dan di ikat kaki dan tangannya. Dan dibawa pergi entah kemana Adira tidak tahu.


Adira menjerit histeris. Apa yang sebenarnya terjadi.


Sedangkan Elvan sang pemilik acara malah diam saja sejak tadi dengan wajah datarnya.


“Van. Bantuan kak Tristan Van. Dia butuh bantuan. Gimana sih Lo!!!” pekik Adira histeris.


Lalu semua yang berada di ruangan itu tertawa sangat keras.


Adira menatap Elvan tajam. Mungkinkah ini ulah Elvan yang sudah direncanakan?


“Lo mau apa ha!! Brengsek Lo! Nggak ada akhlak! Nggak ada otak!!” Pekik Adira lagi merasa tak terima dengan kelakuan Elvan.


Adira hanya bisa menangis tanpa bisa mengejar Tristan. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Tristan.


“Tenang Ra. Lo tenang dulu.. nanti Lo juga bakal tau. Sekarang Lo ikut gue” ucap Elvan dengan begitu santainya. Seolah umpatan dan makian Adira adalah sebuah pujian.


“Brengsek Lo!!” maki Adira lagi tepat di depan muka Elvan. Emosi Adira sudah berada di ujung kepala.


Tapi Adira tetap mengikuti kemana Elvan pergi. Dia membawa Adira dengan mobilnya ke suatu tempat yang Adira tidak tahu.


Seperti baseman yang terlihat sangat menyeramkan menurut Adira.


“Masuk. Ikuti gue” ucap Elvan begitu dingin dan tegas.


Adira sampai merinding mendengarnya. Elvan tidak pernah berbicara seperti itu padanya.


Setelah sampai di dalam, Adira harus menuruni anak tangga yang menghubungkan dengan ruangan bawah tanah.


Setelah sampai, Adira langsung bisa melihat Tristan yang diikat kaki dan tanganya di sebuah kursi. Wajahnya tampak lebam-lebam dan mengenaskan. Bahkan Tristan sepertinya sudah pingsan.


“Kakak!! Bangun. Ini aku!!” ucap Adira memekik sambil menepuk pipi Tristan pelan.


Tristan mulai membuka matanya perlahan dan melihat wajah Adira begitu dekat dengan wajahnya. Tristan tersenyum tipis.


“Kamu ngapain disini. Pergi sekarang.” Perintah Tristan dengan suara lemah.


“Ini semua ulah Elvan. Aku nggak tau kenapa dia melakukan ini” ucap Adira sambil mencobs membuka tali yang mengikat tubuh Tristan.


Prok. Prok. Prok.


Terdengar tepukan tangan tiga kali dari arah depan. Adira memutar bola matanya jengah. Sudah pasti itu Elvan. Dia tidak akan memaafkan Elvan selama-lamanya.


Tanpa di duga, saat Adira masih sibuk melepas tali, tubuhnya ditarik sangat keras oleh seseorang. Siapa lagi jika bukan Elvan


Elvan bahkan menyuruh beberapa orang untuk menangkap Tristan dan mengikatnya lagi.


“lepas!! Lo gila !! Sakit Lo!!” Maki Adira lagi.


“Diam!!! Lo bisa diam nggak!!!” pekik Elvan keras.


Adira berjenggit kaget dengan suara Elvan. Dia tidak pernah melihat Elvan yang seperti ini. Elvan yang seperti haus darah. Adira langsung merinding dibuatnya.


Elvan segera menarik pinggang Adira untuk menempel pada tubuhnya.


Dia mulai memainkan wajah Adira dengan jari-jarinya. Jelas Adira menolak dan melengoskan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Dia merasa jijik dengan Elvan.


“lepas” ucap Adira pelan namun tegas.


“lo tau kan gue udah balas cinta Lo? Gue udah jatuh cinta sama Lo? Tapi kenapa Lo langsung pacaran dan justru Lo udah lamaran sama dia!!” ucap Elvan meninggi saat menunjuk ke arah Tristan.


“Gue udah nggak cinta sama Lo” ucap Adira dengan tatapan tajamnya.


“Berarti gue akan paksa Lo buat jatuh cinta sama gue. Dan Lo harus jadi milik gue” ucap Elvan terdengar begitu menakutkan menurut Adira.