Treat You Better

Treat You Better
134. wajah tenang echa



Akhirnya hari yang ditunggu Adira dan Tristan tiba juga. Yaitu hari di mana umur Echa genap empat tahun. Nanti malam merupakan pesta ulang tahun Echa. Adira sudah memesan kue dan berbagai macam makanan untuk acara yang akan diadakan nanti malam.


Di samping itu, ada duo mama yang membantu Adira mempersiapkan pesta ulang tahun Echa. Pesta ulang tahun kali ini akan sangat berbeda dari ulang tahun sebelum-sebelumnya. Karena di umur Echa yang sudah genap empat tahun itu, dia akan mengetahui keberadaan kedua orang tuanya yang sebenarnya.


“Kamu beneran udah siap kalau Echa tahu semuanya?” tanya mama Dewi yang mengerti kekhawatiran Adira.


“Siap nggak siap, aku harus siap, Ma. Hal seperti ini pasti akan terjadi entah cepat atau lambat,” ucap Adira yakin.


“Bunda! Kalau mengobrol terus kapan berangkatnya. Katanya mau ngajak Echa ke suatu tempat,” pekik Echa yang sudah berada di dalam mobil bersama Tristan. Dia terlihat sangat antusias untuk pergi ke suatu tempat yang sama sekali belum Echa kunjungi.


Entah nanti akan bagaimana sikap Echa serakah mengetahui bahwa ayah dan bundanya telah tiada sejak lama. Karena tidak mau membuat Echa semakin kesal, akhirnya Adira memilih berpamitan kepada mamanya. Namun sebelum itu, Adira berkata.


“Aku titip Aarav ya, Ma. Nggak mungkin kayaknya ngajak Aarav ke makam karena usia Aarav masih kecil,” ucap Adira meminta tolong.


“Pasti. Kamu tenang saja, ada aku sama Siska yang akan menjaga Aarav. Yang terpenting sekarang, kamu siapkan kata-kata agar Echa bisa memahami apa yang kamu katakan nanti,”


Setelah bersalaman dengan mamanya, Adira segera berjalan dan masuk ke dalam mobil. Tristan segera melajukan mobilnya menuju makam Doni dan Amanda. Di perjalanan, Adira berusaha merangkai kata untuk di ucapkan nanti di hadapan Echa.


“Echa nggak mau pindah depan? Bunda pangku?” tanya Adira sambil menoleh ke belakang di mana Echa sedang duduk.


“Echa kan udah besar, Bun. Echa udah berani duduk sendiri,” ucap Echa kesal dengan bibirnya yang sudah mengerucut kesal.


Adira terkekeh melihat wajah lucu yang Echa tunjukkan. “Kamu masih kecil tapi sukanya marah-marah. Nggak takut cepat tua?” tanya Adira bermaksud mengerjai Echa.


“Ayaaah ....” rengek Echa tidak terima dan meminta pembelaan dari ayahnya itu.


“Udah ya, jangan berantem kalian deh. Ini udah mau sampai nih,” ucap Tristan menengahi. Kedua perempuan beda generasi itu pun langsung diam dan menurut dengan lelaki nomor satu di keluarganya.


Akhirnya, mobil yang di kendarai Tristan sampai di pinggiran makam. Tristan segera memarkirkan mobilnya dengan benar agar tidak mengganggu pengguna jalan lainnya.


Setelah mereka semua turun, Echa terlihat mengerutkan kening tanda bingung. Echa bertanya-tanya mengapa dirinya di bawa ke tempat yang sama sekali belum pernah Echa kunjungi.


“Ini tempat apa Bunda?” tanya Echa untuk memecahkan segala kebingungannya.


“Ini namanya makam, Sayang. Nanti kamu bakal tahu,” jawab Adira lembut.


“Ayo kita masuk sekarang saja,” perintah Tristan sambil membawa Echa ke dalam gendongannya. Tujuannya agar Echa lebih cepat sampai dan tidak terlalu banyak bertanya.


Setelah di turunkan dari gendongan Tristan, Echa menatap bingung pada dua batu nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuanya. Echa menatap Tristan dan Adira secara bergantian untuk meminta penjelasan.


“Ini adalah tempat peristirahatan ayah sama bunda untuk yang terakhir kali,” ucap Adira berusaha tersenyum dipaksakan.


Mata Adira mulai berkaca-kaca, bibirnya berusaha untuk mengulas senyum walau dipaksakan. Adira juga berusaha untuk menyembunyikan nada bergetar saat menjawab pertanyaan Echa.


“Ayah dan bunda kan orang baik, jadi Allah pengen ketemu ayah dan bunda lebih cepat. Jadi, Echa nggak perlu nunggu ayah dan bunda lagi sekarang. Karena Echa udah tahu kalau ayah dan bunda berada di atas sana sama Allah,”


Kepala Echa mengangguk seolah mengerti dengan ucapan orang dewasa itu. “Apa ayah dan bunda bisa lihat Echa di sini sekalang? Dali atas sana?” tanya Echa, kepalanya menengadah menatap langit pagi yang begitu indah karena sedang cerah berawan.


Adira berusaha menyembunyikan tangisnya dan menoleh ke samping di mana Echa tidak akan bisa melihat wajahnya yang sudah basah.


“Tentu dong, ayah sama bunda pasti sekarang lagi lihat Echa di sini. Jadi mulai sekarang, Echa nggak perlu lagi nunggu papa dan mama datang, nggak perlu nunggu mereka pulang karena sekarang, Echa sudah tahu di mana bisa menemukan ayah dan bunda,”


kepala Tristan ikut menengadah menatap langit yang cerah. “Karena mereka akan melihat Echa walaupun Echa nggak bisa lihat mereka,”


Adira menjauh karena tak mampu lagi untuk menahan isakannya yang semakin menjadi-jadi.


Echa mengangguk. “Iya, lagian kan Echa udah punya ayah sama bunda balu sekalang. Jadi Echa nggak akan nungguin ayah dan bunda lagi,”


Adira dan Tristan sampai tak percaya pada ucapan anak kecil yang baru berusia empat tahun itu. Yang seolah-olah dia memang sudah mengerti dengan semua yang terjadi.


Justru, wajah Echa terlihat menenangkan saat baru pertama kali tahu bahwa orang tuanya telah meninggal dunia.


Kemudian, Echa terlihat menengadahkan kepala menghadap langit dan memejamkan matanya lalu tersenyum seolah di atas sana dia benar-benar bisa melihat wajah ayah dan bundanya.


Adira semakin menangis sesenggukan melihat Echa yang sama sekali tidak menunjukkan raut kesedihan. Begitu kuat dan tegar sekali rasanya.


Tristan memeluk istrinya untuk menenangkannya. Tristan tersenyum lega melihat Echa yang bisa menerima keadaannya yang sekarang.


*


Setelah pulang dari makam, Adira merasa hatinya lebih lega seakan baru saja mengeluarkan beban berat dalam pikiran dan hatinya. Sesampainya di rumah, duo mama tidak langsung bertanya ini dan itu karena ingin menjaga perasaan Adira.


Setelah Adira dan Tristan membersihkan diri karena habis dari makam, Adira dan Tristan langsung bergabung dengan mama Siska dan mama Dewi. Echa juga Adira suruh untuk membersihkan diri dan berganti baju. Tanpa banyak bertanya, Echa langsung menurut begitu saja. Dia langsung pergi ke kamarnya untuk mandi dengan di bantu oleh baby sisternya.


“Mama lihat, Echa begitu tenang sehabis pulang dari pemakaman,” ucap bu Siska mulai membuka topik pembicaraan. Mulutnya sudah gatal ingin bertanya sejak tadi.


“Ya gitu deh, Ma. Aku bangga banget sama Echa,” jawab Adira sambil berusaha tersenyum walaupun dipaksakan. Adira tidak bisa menahan air matanya saat melihat wajah Echa begitu tenang menatap batu nisan yang berada di hadapannya tadi.


 Echa memiliki hati yang begitu besar untuk menanggapi arti kehilangan dalam hidupnya. Tidak akan mudah berada di posisi Echa yang telah yatim piatu pada usia dua tahun.


Mungkin hal itulah yang membuat Echa tumbuh menjadi anak yang begitu pengertian dan memahami setiap orang yang berada di sisinya.