Treat You Better

Treat You Better
Kekesalan



Jangan lupa tinggalkan jejak ya!😗


.


.


.


.


.


.


Setelah mempercepat laju mobilnya, Abbie akhirnya sampai di sekolah. Ia buru-buru memarkirkan mobilnya.


"Di mana si cupu itu?" tanyanya ketika ia memasuki kelas.


Semua murid di kelas itu segera menoleh ke arahnya dengan bingung. Abbie yang terengah-engah karena terlalu lelah berlari berusaha mengatur napasnya.


"Di mana si kampungan itu?" tanyanya lagi.


"Tadi dia keluar mengikuti si Asesino itu. Kami tidak tahu di mana keberadaannya sekarang," jawab salah seorang siswa.


Dengan tergesa-gesa Abbie segera melangkah menuju kantor Guru dimana ruangan si Asesino itu berada.


Langkahnya terhenti tepat di depan pintu berwarna merah bata. Di atas pintu tersebut sebuah papan kecil menempel.


Mr. Gregor Di Vaio


Head of Dicipline


Begitu tulisan yang tertera di papan itu.


Seorang guru mata pelajaran Sains yang ditugasi menjadi kepala disiplin di sekolah menengah itu. Pribadinya yang tegas dan tatapan mata tajamnya itu membuat siapapun yang melihatnya langsung menundukkan kepala. Ia layaknya elang pemangsa yang menggunakan ketajaman matanya untuk mengenali mangsa dari ketinggian.


Bukan karena ketegasannya itu yang membuat para siswa takut, tapi karena dia adalah salah satu dari empat pendiri sekolah tersebut. Ia merupakan saudara sepupu pemilik sekolah, Silvester Dominique Dario. Ia disegani banyak pihak. Karena itulah, para jutawan yang seringkali anaknya dihukum langsung oleh Mr. Di Vaio tidak berani mengadukannya. Kekuasaannya di sekolah itu dibilang melebihi kekuasaan kepala sekolah sendiri.


Bukan karena kekuasaannya di sekolah yang ditakuti Abbie, melainkan karena Mr. Di Vaio adalah sahabat ayahnya. Ia patuh dan menunduk pada Mr. Di Vaio sebagaimana ia patuh pada ayahnya. Apalagi kalau tatapan tajam nan intimidasi pemilik manik abu-abu itu membuat nyali Abbie menciut.


Senyuman di bibirnya jarang sekali terlihat. Sehingga siapapun yang melihat Mr. Di Vaio menipiskan bibirnya merupakan sebuah keberuntungan besar. Apalagi kalau senyumannya itu menampilkan lesung pipinya yang tertimbun oleh bulu-bulu kasar yang sering dicukurnya.


Diketuknya pintu merah bata itu dengan jantung berdebar.


"Masuk!"


Sebuah suara berat khas seorang lelaki paruh baya menuntunnya untuk membuka pintu tersebut.


Tatapan tajam pemilik manik abu-abu itu langsung menyambutnya. Dilangkahkannya kakinya dengan kepala tertunduk dan kaki bergetar ke dalam ruangan itu.


Karena ia tidak melihat dengan benar, tiba-tiba saja ia menubruk sebuah lemari yang menempel di dinding di belakang pintu tersebut dengan sangat keras sehingga membuatnya sedikit berkunang-kunang.


"Hwhahahahahahaha..."


Sontak saja perilakunya itu mengundang gelak tawa Mr. Di Vaio. Di susul Charles dengan senyum tipis dan mengulum bibir bawahnya menahan tawa yang hampir pecah.


"Apa kau memiliki mata di tengkuk?" tanya Mr. Di Vaio sambil terus tertawa.


Abbie meringis dan mengusap keningnya yang memerah akibat tubrukkan itu. Ia tersenyum kaku.


Charles yang melihat itu ingin sekali bangun, mengusap dan meniup dahi Abbie. Tetapi, ini di ruangan guru matador yang tidak bisa diprediksi suasana hatinya. Ia hanya bisa diam dan memandangi Cewek itu.


"Antarkan dia ke UKS terlebih dahulu!" perintah Mr. Di Vaio tanpa melihat Charlis.


Segera Charles bangun dari tempatnya dan memegang tangan Abbie.


"Aku baik-baik saja."


"Kau sedang tidak baik."


Suara datar milik guru itu membuat bulu kuduknya bergidik. Mau tidak mau ia mengikuti langkah cowok yang menarik tangannya itu.


"Kau kenapa sehingga tidak melihat ada benda besar di depanmu?" tanya cowok itu ketika mereka di perjalanan.


Yang ditanya hanya mendengus. Ia mengalihkan pandangannya.


Ia baru sadar kalau mereka diperhatikan banyak pasang mata dengan tatapan yang sulit diartikan. Seorang cowok cupu dan penampilan ketinggalan zaman menarik tangan cewek cantik penyandang status Ratu Kecantikan di sekolah itu menuju gedung UKS.


Ia segera menarik tangannya dari genggam cowok berkacamata itu membuat cowok itu menoleh.


"Kenapa?"


"Aku bisa jalan sendiri tanpa kau tuntun," sanggahnya angkuh.


Charles melipat tangannya di dada. Terlihat sok keren tapi tak sedikitpun cocok dengan gayanya yang nerd itu.


"Bagaimana kalau kau menabrak sesuatu lagi atau kakimu terantuk dan kau terjatuh?"


Suara cowok itu terdengar cemas tapi ia segera menutupinya dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Kau meremehkanku? Aku seperti itu karena si rabies itu menatapku seperti hantu beranak." Jawabnya kesal sambil melangkah maju dan menyenggol bahu cowok itu meninggalkan cowok bermanik cokelat itu di belakang.


"Kau baik-baik saja sekarang?" tanya pemilik ruangan itu.


"Ya, sir."


"Syukurlah. Saya hanya ingin memberitahu kalian kalau proses bimbingan kita akan dimulai ketika waktu sekolah berakhir. Maksudnya, kalian berdua akan menjalani bimbingan wajib setiap hari sepulang sekolah. Jadi, tidak boleh ada yang bolos."


"Untukmu Delore, saya tahu kau bekerja part time sepulang sekolah. Jadi, hari ini kau bisa meminta izin kepada atasanmu untuk hal ini. Apapun alasannya kau tidak boleh absen dalam bimbingan ini kecuali sesuatu yang sangat mendesak."


Keduanya mengangguk.


"Hari ini kalian boleh pulang setelah waktu sekolah berakhir. Besok baru kita memulainya," ujarnya mengakhiri ketegangan di air muka Abbie.


"Dan, kau D'Alejjandra..." sambungnya yang membuat cewek itu menelan ludah kasar.


Apalagi ini? Apa aku akan dihukum setelah menabrak lemari berharganya?


Dasar anjing rabies.


"Kalau kau masuk ke ruanganku seperti kau membutuhkan kaca pembesar agar matamu itu bisa berfungsi."


Senyum samar di bibirnya terukir.


Anjing rabies. Harimau gila. Akhh...


Apa-apaan itu? Dia mau mengejekku ya?


Tunggu saja kau, pria tua. Aku akan berpura-pura kesurupan dan menghancurkan barang berhargamu di sini. Dan membuatmu setengah gila.


Charles terkekeh.


Si culun kampungan ini juga tertawa? Kau mau mati rupanya, sialan. Aku akan mematahkan batang hindungmu yang seperti hidung pinokio itu.


Ia geram sambil mengepalkan tangannya.


"Pergilah! Sepertinya aroma bunga tulip di ruanganku telah habis. Aku bisa mati sesak napas kalau kalian berdua ada di sini merampas aroma bungaku," usirnya halus dan terselip nada sindiran untuk Abbie di dalamnya.


Keduanya beranjak dan melangkah keluar.


Tepat setelah pintu ditutup, Abbie langsung melayangkan pukulannya di kepala Charles.


"Kenapa kau tertawa tadi, bodoh?" hardiknya dengan suara keras.


"Tertawa?" tanyanya berpura-pura bingung. "Oh astaga, yang itu? Aku hampir lupa. Untung saja kau mengingatkanku lagi." Senyuman mengejek langsung terukir di bibirnya.


Muka Abbie merah padam karena marah dan kesal.


"Mr. Di Vaio benar. Kau memang harus memakai kacamata juga biar matamu sedikit jeli." Ujarnya yang mendapat tendangan keras di tulang keringnya.


"Akkhhh....sakit, cewek ceroboh!" serunya sambil memegang kakinya yang sakit itu.


Abbie segera berlari sambil menoleh dan menjulurkan lidahnya ke arah Charles.


"Kau pantas mendapatkannya, bodoh. Harusnya aku mematahkan batang hidungmu saja tadi."


"Sialaaannn."


Abbie terkekeh mendengar umpatan Charles. Ia mengangkat lengannya ke atas dan memperlihatkan jari tengahnya yang terulur.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca!😘


.


.


.


.


.


.


Love,


Xie Lu♡


.


ig @xie_lu13