Treat You Better

Treat You Better
127. Posesif dan agresif



Hari Minggu telah berlalu, Tristan harus kembali bekerja lagi ke kantornya.


Setelah berada di kantor, Tristan harus mendengar kabar bahwa Yekti, sekretarisnya akan mengundurkan diri karena alasan tertentu.


Paginya yang indah seakan rusak karena harus dibuat pusing dengan mencari sekretaris yang baru.


Bukan pusing karena harus menginterview, melainkan karena harus beradaptasi lagi dengan orang baru.


Tapi Tristan berusaha untuk tidak memikirkannya.


Biarkanlah orang kepercayaannya yang memilihkan sekretaris yang cocok untuk dirinya.


Akhirnya Tristan memilih untuk mengecek dan menanda tangani berkas-berkas penting.


Dia harus pulang cepat hari ini karena sudah berjanji kepada Adira untuk mengajaknya mengunjungi rumah Vian dan Kinara.


*


Sesuai janjinya, Tristan pulang pukul dua siang demi untuk memenuhi janjinya pada Adira.


Saat memasuki rumah, dia melihat Echa dan Aarav yang sedang bermain di atas karpet ditemani oleh baby sisternya.


Tristan menyapa kedua anaknya itu terlebih dahulu sebelum menemui istrinya yang sudah Tristan duga pasti sedang berada di kamarnya.


“Hai Echa, hai Aarav. Seru banget mainnya ya? Sampai ayah pulang nggak dilirik sama sekali,” sapa Tristan merasa gemas dengan kedua anaknya itu.


“Jadi kan, Yah?” tanya Echa antusias.


Tristan tersenyum simpul menanggapi pertanyaan anaknya itu.


“Iya, kita akan pergi setelah Ayah sama Bunda bersiap dulu. Echa sama Aarav udah siap nih?” tanya Tristan yang melihat kedua anaknya sudah rapi dan wangi.


“Udah dong. Bunda lagi siap-siap katanya,” jawab Echa semangat.


Setelah itu, Tristan pamit kepada anak-anaknya untuk menemui bundanya dahulu.


Setelah berada di depan kamar, Tristan membuka pintu dengan pelan.


Ceklek.


Mata Tristan langsung di suguhkan dengan pemandangan istrinya yang sedang memilih baju di depan lemari.


Tapi bukan itu fokus Tristan saat ini. Melainkan karena Adira hanya mengenakan pakaian dalamnya.


Tristan segera menutup pintu dan menguncinya dengan pelan agar Adira tidak menyadari dirinya sudah berada di kamar.


Mata Tristan langsung di manjakan dengan lekuk tubuh Adira yang terlihat sangat menggoda.


Entah mengapa tubuh Adira berubah menjadi bagus lagi setelah melahirkan. Mungkin karena pola makan yang Adira terapkan sangat teratur dan sehat.


Tristan merasa insecure ketika melihat tubuhnya yang mulai melebar ke samping.


Apalagi perutnya yang sudah tidak sebagus dulu.


Dulu perut Tristan berbentuk six pack, namun sekarang bentuk perutnya sudah berubah menjadi one pack saja.


Sepertinya, Tristan harus rajin olahraga lagi untuk mengembalikan bentuk tubuhnya.


Tristan bisa memikirkannya itu nanti. Sekarang ada yang lebih penting, yaitu istrinya.


Karena Adira belum menyadari keberadaan dirinya, Tristan berjalan lirih mendekati Adira.


Hap.


Tristan langsung memeluk Adira dari belakang dan mengendus-endus leher jenjang Adira yang sangat wangi.


Wangi yang masih sama, wangi bunga lavender.


“Aku kaget, Mas ....” ucap Adira kesal karena suaminya berhasil memberikan terapi kejut untuk jantungnya.


“Kamu seksoy banget sih,” ucap Tristan yang di luar pembahasan.


“Harus, jaman sekarang menjadi seorang istri tuh harus cantik dan seksoy biar nggak tersaingi sama pelakor,” ucap Adira dengan nada sarkasme.


“Kamu lagi menyindir?” tanya Tristan santai sambil masih mengecupi leher Adira bertubi-tubi.


“Jadi, Mas Tristan merasa tersindir?” jawab Adira yang malah balik bertanya.


“Aku biasa aja karena aku bukan pelakor,” timpal Tristan lagi dengan santainya.


Bibir Adira langsung mengerucut karena mendengar jawaban dari Tristan yang memang ada benarnya juga.


Tristan terkekeh melihat Adira yang semakin hari semakin agresif dan bertambah cantik.


Jika seperti ini terus, tentu Tristan akan dengan senang hati menerima dengan tangan terbuka.


Yaitu sikap posesif dan agresif yang sangat meningkat pesat.


Cup.


“Kayaknya main satu kali nggak bikin kita telat deh,” bisik Tristan tepat di telinga Adira dengan suara baritonnya.


Tubuh Adira terasa meremang mendengar suara serak milik Tristan.


Entah mengapa hasratnya untuk bercinta semakin meningkat akhir-akhir ini.


Adira senang sekali melakukan kegiatan panas di atas ranjang bersama suaminya itu.


Adira membalikkan tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam saja.


Adira tersenyum semanis mungkin untuk suaminya sendiri.


Adira tidak mau kejadian yang berada di YouTube juga menimpa dirinya.


Adira habis menonton video di YouTube yang memperlihatkan istri sah yang sedang melabrak seorang pelakor.


Namun yang sangat membuat Adira geram dan kesal adalah, si pelakor sama sekali tidak merasa bersalah dan malah merasa menang karena berhasil merebut suami orang.


Apalagi si suami malah membela selingkuhannya dibandingkan istri sahnya.


Sungguh miris sekali nasib seorang istri sah.


Adira tidak mau itu terjadi pada kehidupan rumah tangganya.


Adira segera menghilangkan pikiran buruknya dan melakukan aksinya.


Adira berjinjit untuk menggapai bibir Tristan.


Cup. Cup. Cup.


Adira mengecup bibir Tristan berulang-ulang setelah itu, Adira menyesap bibir bagian bawah milik Tristan.


Tristan masih diam dan belum membalas ciuman itu.


Tristan tersenyum di sela ciumannya dengan Adira karena sangat suka dengan sikap agresif yang Adira tunjukkan kepadanya.


Melihat Tristan masih diam, Adira menjauhkan wajahnya dan menatap wajah tampan suaminya itu dengan tatapan mendamba.


“Nggak jadi main satu kali dulu ya?” bisik Adira dengan suara yang dibuat mendayu-dayu.


Adira juga sengaja menggigit lembut telinga Tristan untuk memberikan rangsangan.


Sungguh, Adira sudah seperti wanita penggoda yang menjajakan tubuhnya demi sepeser uang.


Tapi dirinya berbeda, Adira melakukan itu dengan suami sahnya. Jadi, bukan dosa yang Adira dapat, melainkan pahala dan ridho dari Allah SWT.


Jakun Tristan terlihat naik turun pertanda senjatanya di bawah sana sudah tegak menjulang.


Adira tersenyum menggoda menatap suaminya itu.


Tanpa menunggu lama, Tristan segera membawa istrinya itu ke atas kasur untuk memulai perangnya.


Tubuh Adira berada di bawah kungkungan Tristan dan tanpa diduga, Adira segera membalikkan dengan tubuhnya yang berada di atas suaminya.


Adira mulai melepas semua kain yang melekat pada tubuhnya dengan posisi duduk di perut Tristan.


Milik Tristan yang berada di bawah sana semakin sesak dan ingin keluar dari persembunyian Karana melihat aksi erotis yang Adira lakukan.


Setelah itu, Adira juga melepas semua kain yang melekat pada tubuh Tristan dengan tidak sabar.


Keduanya sudah sama-sama polos dan Adira tersenyum melihat itu.


Bibirnya, Adira satukan lagi dengan bibir suaminya sebagai pemanasan sebelum memulai permainan.


Adira bisa mendengar suara laknat keluar dari mulut suaminya itu. Adira semakin tersenyum puas karena berhasil memanjakan suaminya.


Adira melepas ciumannya dan beralih untuk melakukan penyatuan.


“Susah banget sih,” kesal Adira karena milik Tristan tak kunjung masuk ke dalam miliknya.


Tristan terkekeh melihat wajah Adira yang terlihat sangat lucu saat kesusahan memasukkan senjatanya ke dalam sarangnya.


"Biar aku bantu," ucap Tristan sambil tersenyum menggoda ke arah Adira.


Adira berusaha memposisikan diri agar senjata Tristan masuk ke dalam miliknya dengan sempurna.


"Ugh."


Suara laknat itu akhirnya keluar lagi dari mulut Adira setelah milik Tristan berhasil masuk ke dalam sarangnya.