Treat You Better

Treat You Better
Bersenang-senang



Happy reading!😊


.


*****


Pemilik manik cokelat madu itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menyalip beberapa kendaraan yang berlari dengan kecepatan normal. Teriknya sang surya tak menyurutkan kebahagiaan di antara keduanya.


"Hahahha...mukamu sudah seperti kaleng cokelat yang pecah."


Tawa gadis itu melengking di dalam mobil ketika pria itu menunjukkan foto seorang anak kecil dengan muka berlepotan cokelat.


"Hentikan, Abbie. Semua orang seperti itu ketika pertama kali melakukannya."


"Tidak, tidak. Mukamu aneh dan lucu."


Charles kesal sekaligus bingung. Aneh dan lucu?


Pilihan katanya aneh. Kenapa dia bilang aneh padahal lucu?


"Cih...terserah kau saja. Lagipula wajahku masih sangat imut."


Ia menyangga kedua sikunya di lutut dan menempelkan telapak tangannya di kedua pipinya layaknya seorang anak kecil yang sedang merayu ibunya agar mendapatkan permen. Gadis itu menoleh, ia segera mengedipkan sebelah matanya.


Gadis itu terkekeh.


"Kau menggelikan, Charlie."


"Ayolah, aku tampan. Bahkan melebihi ketampanan idolamu yang sering kau puja itu."


"Beraninya kau membandingkan dirimu dengan Chris Evans-ku. Dia tinggi, tidak sepertimu yang tingginya hanya setengah dari tingginya.---"


"Heiii...Aku juga tinggi. Lihatlah, berapa tinggi idola jelekmu itu? Akhh...sakit."


"Beraninya kau mengatakan Evans-ku jelek. Dia tampan."


"Baiklah. Berapa tingginya?"


"183 cm."


"Tinggiku 179. Berarti tingginya lebih 4 cm saja daripadaku. Cihh...dia tinggi dari mananya, keren iya tampan tidak. Aku lebih darinya."


Ia mendengus ketika menyadari sorotan tajam milik gadis itu seakan membelah tubuhnya. Ia tidak suka pada pria bernama lengkap Christopher Robert Evans itu. Bagaimana gadis itu memuja-mujanya sementara ia mungkin tidak menyadari keberadaan gadis itu.


Miris sekali. Memuja tapi tidak pernah dirasa keberadaannya oleh yang dipuja.


"Ckckck...Percaya dirimu sudah selangit. Apa kau tidak malu dengan badan kurus keringmu itu? Evans-ku memiliki otot yang liat. Bisep dan trisepnya saja sudah seliat itu apalagi perut sixpacknya."


Gadis itu menerawang pada bentuk-bentuk otot yang dimiliki sang idola sebagaimana yang sering dipertontonkan di film-film yang dibintanginya. Ia senyum-senyum sendiri.


"Liurmu sudah menetes."


Sontak gadis itu menyeka sudut bibirnya namun ketika melihat tawa yang pecah dari bibir pria itu, ia kesal sendiri.


"Kau menyebalkan, Charlie." Ia memukul lengan pria itu.


"Siapa suruh kau senyum-senyum sendiri. Apa semenyenangkan itu berkhayal ingin menyentuh otot pria itu?"


Bagaimana dia tahu?


"Otot perutku juga tidak kalah liatnya daripada ototnya. Aku akan memberikannya kalau kau mau menyentuhnya. Gratiss!!"


"Tentu saja dengan senang hati, Charlie sayang." Ia mengucapkan kalimat itu dengan lambat-lambat dan sengaja menekankannya pada akhir kalimat yakni kata 'sayang'.


Charles bergidik melihatnya.


Gadis itu memukul kepalanya dengan keras. "Apa yang kau pikirkan? Kau mesum rupanya."


"Aku tahu sekarang." Sebuah kecupan mendarat di pipinya. Gadis itu merona.


"Apa yang kau lakukan?" Tapi senyum tipis di bibirnya tidak luntur.


"Berbuat mesum."


"Sialan."


Charles terkekeh.


*****


Setelah tiba di tempat yang dituju, keduanya keluar dari mobil. Mata-mata manusia yang haus oleh rasa penasaran segera mendekat.


Apakah pria itu kekasih pewaris tunggal D'alejjandra Group?


Akhh...tampannya.


Aku iri - Aku iri.


Mereka sangat serasi.


Berbagai macam pujian terdengar di telinga mereka. Dan tentu saja, bukan hanya pujian yang terlontar. Banyak pula kalimat-kalimat yang biasa dilontarkan kaum-kaum iri hati.


Dia penjilat.


Hanya seonggok sampah masyarakat yang patut dikasihani.


Dia tidak pantas bersanding dengan gadis itu.


Abbie segera melingkarkan lengannya di lengan pria itu layaknya sepasang kekasih. Ia melangkah melewati kerumunan itu.


"Jangan dengarkan mereka."


Charles terkekeh. "Aku sudah kebal."


"Aku lupa."


Keduanya melewati semua orang dengan senyuman manis di wajah. Abbie bergelayut manja di lengan pria itu. Tak ada rasa takut di dalam dirinya ketika menangkap tatapan sinis dari orang-orang terhadap Charles.


Aku mencintainya.


Abbie terkesiap. Ia lebih banyak melamun tadi.


"Shopping, tentunya."


Ia tersenyum mengalahkan cerahnya matahari yang sedang bersinar.


"Ke sana."


Ia menunjuk tempat penjualan baju.


Berulang kali ia menunjuk dan menyentuh kemudian menggeleng. Lama-lama ia bosan sendiri.


Ketika menyadari ada seseorang yang menunggunya dengan sabar, ia memilih sebuah kemeja pria berwarna cokelat madu seperti manik miliknya.


"Perpaduan yang kontras dengan kulit putih miliknya." Ia berargumen sendiri.


Setelah membayar harganya, ia menarik lagi tangan pria itu ke tempat lain.


"Aku lapar. Mari kita makan."


Charles hanya menurut saja. Kemanapun perginya asal bersama gadis itu, ia akan menurut.


Abbie menghempaskan pantatnya di sebuah kursi di restoran itu. Mereka memilih duduk di pojokan dengan pemandangan indah di sekitar restoran itu terpampang jelas.


"Apa yang kau beli?"


Ia menunjuk pada tas belanja milik Charles setelah memilih menu yang diinginkan.


"Kacamata."


"Hah?!" Ia melongo. "Kapan kau membelinya?"


Setahunya, pria itu menunggunya dengan sabar di tempat ia membeli baju tadi tanpa beranjak. Hanya saja dengan memainkan ponselnya.


"Saat kau sibuk memilih baju."


"Kenapa aku tidak tahu?"


"Ckck...haruskah aku berteriak memberitahumu? Kau saja sangat sibuk tadi. Aku pikir kau akan membeli semua brand yang bergantungan di sana saking lamanya."


Abbie terkekeh.


"Perempuan memang seperti itu."


"Aku mengerti."


Ia mendesah lega karena percakapan keduanya harus terhenti saat pelayan restoran itu mengantarkan makanan di mejanya.


"Buen provecho, seƱor Delore y seƱorita D'alejjandra. (Selamat makan)".


"Gracias."


Pelayan itu meninggalkan mereka setelah menundukkan kepala.


"Dia mengenalmu?" Charles mengangkat bahunya.


"Dia mengenalmu, Abbie. Bukan aku."


"Kenapa dia sangat fasih mengatakannya?"


"Mungkin karena margaku pasaran."


"Tidak mungkin. Setahuku, marga Delore hanya milikmu saja di negara ini."


"Oh ayolah, sayang. Ini bukan hal penting yang pantas diributkan. Aku sudah lapar, mari makan."


Ia tidak ingin melanjutkan topik ini dalam keadaan perut kosong.


"Baiklah. Tapi ini belum selesai. Kau harus pimpin doa sebelum makan."


"Astaga, Abbie. Aku sudah tidak tahan."


"Apa laparmu yang lebih penting daripada Tuhan? Sadarlah, Charlie. Tuhan sudah memberikan kita kekuatan untuk menjalani hari ini, kita harus bersyukur untuk itu. Dan sekarang makanan yang ada di hadapan kita ini juga berasal dari-Nya. Kita harus bersyukur."


"Oke, baiklah. Mari berdoa."


Tuhan Yesus, terima kasih untuk hari ini. Terpujilan nama-Mu di atas bumi ini. Sekarang kedua anak-Mu ini bersyukur atas berkat yang sudah Engkau berikan pada kami. Berkatilah makanan dan minuman yang akan kami santap ini Tuhan. Di dalam nama Yesus, kami memohon. Amin.


Abbie tersenyum. "Gracias."


Sehabis makan, mereka berjalan-jalan menikmati indahnya panorama alam di sekitar pusat perbelanjaan itu sebelum pulang.


Keduanya bergandengan tangan.


"Terima kasih sudah mengajakku ke sini."


Charles berucap tanpa menoleh ke arah gadis itu membuat gadis itu menghentakkan kakinya kesal.


"Baguslah kalau kau tahu berterima kasih. Oh iya...Kau harus memakai kacamata itu lagi mulai besok."


"Why?"


"Nothing. Kau sudah lama tidak memakainya."


Charles tersenyum. Ia tahu yang sebenarnya. Gadis itu cemburu meski ia tak pernah mengatakannya.


"Apa kau pernah memiliki kekasih?"


Pertanyaan Charles membuat gadis bermanik cokelat itu menghentikan langkahnya dan merenggangkan kaitan tangan keduanya.


.


*****


.


ig @xie_lu13