Treat You Better

Treat You Better
Kecelakaan.



 


Elvan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Dadanya bergemuruh menahan amarah. Matanya begitu sakit melihat pemandangan di depan sana. Dia segera berlari menuju motornya terparkir tanpa menghiraukan teman-temannya yang terus memanggil.


Setelah sampai, dia segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin melupakan sejenak kejadian tidak mengenakan menurutnya tadi. Namun semua seakan percuma. Karena pikirannya seakan terus berkelana menampilkan potongan-potongan Adira dan Tristan yang begitu mesra.


Sungguh, Elvan merasakan kekalutan dalam hatinya. Dia benci seperti ini.


Semakin lama, semakin kencang pula laju motor yang Elvan kendarai. Karena pikiran sedang berkecamuk, tanpa Elvan sadari, tepat di pertigaan jalan ada truk melaju dari arah berlawanan. Elvan sudah tidak bisa menghindar lagi karena kejutan yang tiba-tiba.


Tepat saat itu juga motor Elvan kehilangan keseimbangan menabrak truk bermuatan tersebut.


BRAK!!!


Terdengar dentuman yang sangat keras berasal dari motor Elvan yang sudah menabrak mobil truk tersebut.


Sayup-sayup Elvan mendengar suara jeritan dan kegaduhan di sekitarnya. Lalu setelah itu gelap.


..........


Malam sudah semakin gelap. Tidak ada bulan maupun bintang yang menghiasi dinding langit. Tristan dan Adira memutuskan untuk pulang setelah menghabiskan telur gulungnya. Sungguh, perut Adira luar biasa. Bisa menampung makanan yang sebegitu banyaknya.


Mungkin dulu sewaktu pembagian pembuatan perut, Adira mendapatkan bahan karet pada perutnya. Sehingga bisa muat begitu banyak makanan. Mulai dari pecel lele, bubur kacang ijo, dan yang terakhir telur gulung yang habis enam gulung. Sedangkan yang empat gulung Tristan yang memakannya.


Saat mobil sudah berada di pertigaan, keadaan tiba-tiba macet dan di depan sana ada kerumunan.


Apa yang terjadi sebenarnya?. Tanya Tristan dalam hati.


“Ada kecelakaan kayanya deh kak”. Ucap Adira seakan mengerti isi hati Tristan.


“kayaknya iya deh”. Ucap Tristan menganggapi.


Mobil melaju ke depan perlahan-lahan. Karena di depan sana sudah ada polisi lalu lintas yang menangani kemacetan.


Saat sudah semakin dekat dengan tempat kejadian perkara, mereka bisa melihat ada truk yang sudah ringsek di bagian depan seperti telah di hantam dengan sangat keras.


Adira meringis melihat itu. Entah bagaimana nasib sang sopir.


Adira tidak tau saja, jika kecelakaan itu juga ada Elvan sebagai korban.


Adira melihat ambulans datang, lalu setelah itu korban terluka segera dinaikkan ke tandu dan dibawa ke dalam ambulans.


Melihat banyak darah berceceran, Adira enggan melihat ke arah depan dan memilih memainkan ponselnya.


“Mau turun nggak? Atau kita disini aja?”. Tanya Tristan yang sebenarnya merasa kasihan dan ingin membantu. Tapi dia harus menawarkan kepada Adira dahulu. Karena dari tadi Tristan melihat ekspresi Adira seperti ketakutan.


“Kalau nggak usah gimana? Udah ada yang bantu kok. Aku takut liat darah banyak gitu”. Ucap Adira sambil meringis merasa ngeri dengan kecelakaan di depan sana.


“Ya udah nggak usah. Kasian kamu juga”. Putus Tristan kemudian tak ingin memaksa. Walau sebenarnya jiwa kemanusiaannya meminta menolong.


Setelah korban berhasil di evakuasi, akhirnya jalanan kembali normal dan Tristan segera melajukan mobilnya menuju rumah.


 


Di tempat lain, tepatnya di rumah sakit Elvan di tangani, dia sedang berjuang antara hidup dan mati. Kondisinya tidak sadarkan diri dan banyak darah yang keluar di sekitar kepalanya.


Dokter sedang mengusahakan yang terbaik untuk pasiennya.


Diluar ruangan, tidak ada yang menunggui Elvan sama sekali. Termasuk keluarganya.


Polisi sudah menghubungi kerabat Elvan, namun belum ada satupun yang datang.


.........


Adira akhirnya tiba dirumahnya jam sembilan malam. Di saat dia ingin keluar dari mobil tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan nama Elvan yang tertera sebagai penelepon.


Adira melirik Tristan sekilas dan meminta ijin untuk mengangkatnya.


“Angkat aja Ra. Siapa tau penting”. Ucap Tristan yang sudah sepenuhnya terfokus ke Adira.


“Oke”. Jawab Adira langsung mengangkat telepon tersebut dan masih dengan posisi yang sama. Duduk di dalam mobil Tristan.


'Halo?'. Ucap Adira sesaat panggilan telah tersambung.


'...........'.


Adira mengernyit dan agak menjauhkan ponselnya dari telinga. 'apa ini tidak salah sambung?'. Tanya Adira dalam hati.


'..........'


'Apaa!!!'. Pekik adira. Mulutnya menganga tak percaya, tubuhnya tiba-tiba merosot tak berdaya.


Pikiran Adira seketika tertuju pada kecelakaan di pertigaan yang dia lihat tadi.


Tristan yang menyadari perubahan wajah Adira pun penasaran dan segera bertanya.


“Siapa Ra? Dan ada apa?”. Tanya Tristan sambil menatap ke arah Adira.


“Polisi, Elvan kecelakaan dan sedang ditangani sama dokter”. Ucap Adira dengan suara melirih. Tatapannya kosong, menatap arah depan.


Dia prihatin dengan keadaan Elvan. Entah apa yang akan dikatakan oleh Papanya Elvan nanti. Akan berubah perhatian, atau malah akan semakin memaki. Karena Adira tau persis sikap Papa Elvan. Sama halnya dengan Elvan yang sering kerumahnya, Adira dulu juga sering main ke rumah Elvan. Dulu saat masih SMA.


“Kamu mau kesana? Sekarang?”. Tawar Tristan yang mempunyai ide untuk menemani Adira.


Adira langsung menatap Tristan. Benar, Adira harus segera kesana.


“Kakak mau Nemenin nggak?”. Tanya Adira kemudian.


“aku antar sekarang kalo mau”. Tawar Tristan lagi yang mencoba mengerti kondisi Adira.


“Nggak papa kalo aku kesana?”. Tanya Adira khawatir Tristan akan cemburu.


“Nggak papa, aku percaya sama kamu”. Ucap Tristan sambil tersenyum tipis ke arah Adira.


“Ya udah kita kesana”. Putus Adira kemudian.


Setelah berucap seperti itu, Tristan segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Elvan dirawat. Sedangkan Adira sibuk menghubungi orangtuanya untuk memberi tahu tentang kecelakaan Elvan.


Adira juga menelpon teman-temannya. Lidya, Kinara, dan juga Amanda untuk menjenguk Elvan.


Setelah semua diberitahu, Adira meletakkan ponselnya di dalam tas dan menghembuskan nafasnya lelah. Kepalanya mendadak nyeri.


“Kamu baik-baik aja kan?”. Tanya Tristan yang sebenarnya merasa cemburu karena Adira terlihat begitu mengkhawatirkan Elvan.


Ada rasa nyeri di bagian dadanya. Tapi Tritan tidak boleh egois.


“Aku baik. Cuma aku tuh mikir gimana nanti reaksi Papa Elvan. Apa akan berubah perduli atau masih acuh tak acuh”. Jawab Adira sambil menerawang ke arah depan.


“Acuh tak acuh? Emang selama ini gitu ya papanya Elvan?”. Tanya Tristan yang memang tidak tahu menahu.


“Iya. Makanya aku kasian. Bukan karena aku masih cinta ya. Kakak jangan mikir kekhawatiran aku tuh karena masih cinta”. Ucap Adira langsung tersenyum ke arah Tristan.


Tristan terkekeh menanggapi. Adira seperti cenayang yang selalu mengerti isi hatinya.


“Iya kan? Pasti kakak mikirnya kesitu?”. Tebak Adira dengan tatapan menyelidik.


“Nggak lah. Mana ada begituan”. Ucap Tristan berusaha menepis tuduhan.


“Bohong. Aku tuh tau kakak cemburu. Tapi aku suka kok. Itu tandanya kakak beneran cinta dan sayang sama aku”. Ucap Adira dengan senyum menyengir.


Tritan terkekeh lagi.


“Seratus buat kamu!”. Jawab Tristan membenarkan ucapan Adira.


“Tlima kacih pak gulu (terima kasih pak guru)”. Ucap Adira dengan menirukan suara anak kecil. Wajahnya dibuat seimut mungkin .


Lagi-lagi Tristan terkekeh. Adira adalah mood booster terbaiknya.


Dia bisa menjungkirbalikkan moodnya secara tiba-tiba.


Ah, Tristan jadi makin cinta.


Adira benar-benar tidak bisa berhenti tersenyum melihat kekehan Tristan karena dirinyalah penyebabnya.


Adira menatap Tristan dengan tatapan terpesona.


'sungguh indah ciptaan-Mu Ya Allah'. Ucap Adira dalam hati.