Treat You Better

Treat You Better
Elvan berulah lagi 2.



 


“Berarti gue akan paksa Lo buat jatuh cinta sama gue. Dan Lo harus jadi milik gue” ucap Elvan terdengar begitu menakutkan menurut Adira.


Nyali Adira seketika menciut. Adira tidak pernah melihat sisi dari diri Elvan yang sekarang.


“Gue nggak bisa balik lagi ke Lo” ucap Adira lirih. Dia sudah sangat ketakutan. Apalagi banyak sekali lelaki bertubuh kekar yang menjaga tiap sudut ruangan.


Elvan sudah seperti psikopat yang mempunyai anak buah. Adira bergidik ngeri.


Elvan langsung menghempaskan tubuh Adira begitu saja di lantai. Dia sangat marah dengan jawaban Adira.


Tubuh Adira terbentur dengan lantai dan itu jelas sangat sakit. Tapi Adira berusaha mengabaikan rasa sakit itu.


“Berarti dia juga nggak bisa milikin Lo” ucap Elvan mengarah kepada Tristan. Rahangnya terlihat mengeras.


“maksud Lo?” tanya Adira hati-hati dengan suara bergetar karena takut.


Elvan menatap tajam Adira dan mencengkram dagu Adira keras. Adira meringis menahan sakit karena kuku Elvan seperti tertancap di dagunya.


Tristan yang melihat itu tidak bisa berbuat apapun. Berteriak pun sudah tidak ada tenaga.


“Dia harus MATI! MATI!!” pekik Elvan penuh penekanan.


“Habisi dia sekarang juga!!!” teriak Elvan menyuruh anak buahnya mengerjakan tugasnya.


“jangan!! Ini bukan salahnya. Ini semua salah gue Van. Kita bisa bicara baik-baik! Van!” Adira terus berteriak agar Elvan menghentikan aksinya. Namun seakan semua hanya sia-sia saja.


Lalu terdengar bunyi tembakan begitu saja.


Dor!!!


Tubuh Adira terasa melayang ke udara. Dan tubuhnya tidak sadarkan diri seketika.


..........


Randy terus melajukan mobilnya untuk mengikuti kemana perginya mobil Elvan.


Saat menyadari mobil Elvan berhenti di tempat yang tidak biasa, bahkan mungkin orang akan takut jika memasuki gedung tersebut.


Randy segera menghubungi kenalannya yang berprofesi sebagai polisi untuk membantunya.


Randy sangat takut adiknya akan mencelakai orang lain hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.


Dia berniat untuk menghentikan kegilaan Elvan secepatnya.


Dia memang sudah tau rencana busuk Elvan yang ingin mencelakai Tristan, pacar Adira. Dia juga tau jika Elvan punya rencana cadangan jika Adira tidak datang bersama Tristan.


Randy mendengar semua pembicaraan Elvan di telepon dengan seseorang yang membicarakan rencana tersebut.


Jadilah Randy mengikuti kemanapun Elvan pergi. Agar dia bisa tau dengan baik apa yang akan Elvan lakukan.


Randy masih mengamati dari kejauhan. Dia melihat Elvan berjalan beriringan dengan Adira. Namun ada juga para lelaki bertubuh kekar yang berjalan mengikutinya.


Setelah mereka masuk, Randy ikut masuk ke gedung tersebut. Dia sedikit menjauh dan menempati tempat gelap agar tidak terlihat.


Dia melihat semuanya. Tristan yang diikat di kursi dan sudah babak belur, Adira yang berteriak-teriak, dan Elvan yang benar-benar gila demi mendapatkan Adira.


Randy melihat semua drama di dalam gedung tersebut.


Ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Namun dia tidak menjawab dan langsung mengetikkan pesan singkat. Dia takut ketahuan dan akan bernasib sama.


Setelah beberapa menit pesan terkirim, Randy melihat bayangan temannya bersama beberapa orang se profesi.


Temannya tidak sendiri. Dia juga membawa para teman-temannya untuk mencegah kejadian yang tidak di inginkan.


Tepat saat Elvan mengatakan ‘habisi dia sekarang juga’ polisi tersebut melepaskan pelatuknya dan...


Dor!!.


Peluru terlepas ke udara begitu saja.


“Angkat tangan kalian!” teriak salah seorang polisi sambil mengacungkan senjata apinya.


Elvan gelagapan. Rencananya tidak berjalan dengan lancar. Ini benar-benar diluar dugaannya.


Tanpa pikir panjang, Elvan menarik tubuh Adira yang sudah pingsan ke dalam cekalannya. Elvan tetap kewalahan karena Adira dalam keadaan tidak sadarkan diri.


“lepaskan dia atau anda akan mati tertembak!” teriak polisi itu lagi.


Dor!!


Elvan sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Dia terkulai lemas di lantai. Padahal baru beberapa hari dia bisa berjalan dari patah kaki, sekarang dia akan susah berjalan lagi karena luka tembak ini


Mungkin itu karma untuk Elvan.


Polisi langsung membekukan Elvan dan pelaku lainnya. Elvan sudah pasrah.


Disaat itu juga Randy muncul untuk menolong Tristan dan Adira.


“Lo harus tanggung jawab atas perbuatan kriminal yang Lo lakuin” ucap Randy sebelum menolong Tristan dan Adira.


Dia sengaja muncul dihadapan Elvan.


“jadi... kakak yang gagalin rencana gue?” tanya Elvan tak percaya. Dia juga tersenyum sinis.


“ya. Dan habis ini Lo harus di bawa ke rumah sakit jiwa. Lo harus di periksa” ucap Randy begitu tenang.


Padahal dihatinya dia juga merasakan sakit dan kecewa kepada adiknya itu. Tapi dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


Apa yang kau tanam, akan kau tuai.


..........


Adira memicingkan mata saat sinar matahari terasa masuk kedalam indera penglihatannya. Dia memicing melihat dinding tempat dia terbaring. Dia mencoba mengingat kejadian semalam.


Seingatnya, dia berada di sebuah gedung sepi bersama Elvan dan ada Tristan disana.


“ra, udah bangun?” ucap suara tersebut. Adira mengenal sekali suara itu milik ibunya.


“aku dimana ma?” tanya Adira sambil ingin menegakkan tubuhnya untuk duduk.


“Kamu di rumah sakit sekarang” ucap Bu Dewi. Dia tidak ingin mengatakan atau menanyai apapun dulu. Dia ingin Adira yang bercerita.


Adira mencoba mengingatnya lagi. Yang terakhir kali dia ingat adalah Elvan yang menyuruh anak buahnya untuk menghabisi Tristan.


Lalu terdengar suara tembakan.


Adira langsung membuka matanya lebar-lebar. Dia tidak tau persis suara tembakan itu mengenai siapa.


“Kak Tristan dimana ma?” ucap Adira saat sudah menyadari sepenuhnya .


“dia ada di sebelah ruangan kamu. Dia dirawat juga” ucap Bu Dewi menjelaskan.


“antar aku kesana sekarang ma” ucap Adira buru-buru dan segera berdiri dari ranjang. Beruntung tidak ada selang infus yang terpasang. Karena kondisi Adira baik-baik saja.


“Pelan-pelan Ra” ucap Bu Dewi sambil memegangi lengan anaknya.


Setelah sampai di depan ruangan Tristan, Adira langsung membuka pintu cepat. Bu Dewi sampai meringis melihatnya .


Adira sudah seperti orang dikejar setan. Terlalu terburu-buru.  Padahal keadaan Tristan juga sudah mulai membaik.


“Kak Tristan?!” pekik Adira saat Tristan masih menutup mata. Adira sangat takut apalagi melihat perban di kepala Tristan.


Tristan membuka matanya perlahan saat mendengar suara seseorang memekik memanggil namanya.


“hmm” gumam Tristan menanggapi.


Hanya sebuah gumaman? Padahal Adira sudah sangat khawatir Tristan terkena tembak. Yang di khawatir kan malah sesantai itu?.


“Mana yang kena tembak semalam. Aku nggak sanggup liat. Aku langsung pingsan. Kaka udah nggak papa kan” ucap Adira dengan satu tarikan nafas . Tangannya tidak berhenti mencari luka yang mungkin luka tembakan.


Namun Adira tidak menemukan.


“kenapa nggak ada luka tembak? Terus kemarin yang bunyi dor itu apa?” tanya Adira sangat bingung dengan keadaan.


Tristan hanya mengulum senyum. Adira benar-benar tidak tahu kejadiannya persis.


“Siapa yang tertembak?” tanya Tristan begitu santainya.


“Kakak lah. Kan Elvan suruh habisin tuh. Gilak!” ucap Adira masih dengan pertanyaan kekhawatiran.


“Nggak ada yang tertembak. Kan aku belum nikahin kamu dan hidup bahagia sama kamu”. ucap Tristan dengan senyum manisnya.


“ishh... Masih sakit juga. Bisa-bisanya malah ngomongin cinta”. Jawab Adira kesal sambil memukul lengan Tristan pelan.