Treat You Better

Treat You Better
Lanjut atau terus?



 


“I want you, Adira”. Ucap Tristan dengan suara berat dan tatapan sayu menahan hasrat. Adira menelan salivanya mendengar suara Tristan yang begitu seksi. Hatinya mengatakan menolak, namun tubuhnya seakan kebalikannya.


Adira akui, dia sudah terbuai dengan belain Tristan. Akhirnya Adira mengangguk dengan ragu. Dia juga sudah terbakar gairah.


Karena sudah mendapatkan persetujuan, Tristan melanjutkan aksinya lagi. Dia seakan langsung lupa dengan prinsip hidupnya.


Dia mengawali dengan mengecup dahi, pipi kanan dan kiri, kedua mata, dagu dan berakhir di bibir.


Mata Adira terpejam merasakan sentuhan Tristan yang begitu lembut. Dengan lihai Tristan mulai menyesap bibir Adira. Adira balas menyesap.


Adira membuka sedikit bibirnya untuk memberi akses lidah Tristan masuk ke dalam rongga mulutnya. Saling menyesap dan membelit lidah satu sama lain.


Tangan Adira sudah di kalungkan di leher Tristan. Begitu juga tangan Tristan tak tinggal diam. Dia membuka satu persatu kancing kemeja yang Adira kenakan. Sangat mudah, hingga kemeja tersebut berhasil terlepas dan dibuang asal.


Tristan menghentikan ciumannya dan menatap kagum dua gundukan di dada milik Adira yang masih terbungkus benda keramat. Adira langsung merona dan menutupi benda tersebut dengan kedua tangannya. Tristan segera menyingkirkan tangan Adira dan mengganti dengan tangannya. Tristan meremas gundukan itu dengan lembut. Sangat pas ditangannya. Tidak terlalu besar dan tidak kecil juga. Standar SNI lah.


Tristan masih setia meremas gundukan tersebut. Adira sampai mati-matian untuk menahan desahannya. Dia terlalu malu. Akhirnya dia menggigit bibir bawahnya. Dan itu justru membuat Adira terlihat sangat seksi Dimata Tristan. Tubuhnya terasa panas. Padahal AC di kamarnya masih setia menyala. Akhirnya Tristan membuka kemejanya dan membuangnya begitu saja.


Tristan menautkan bibirnya dengan bibir Adira lagi. Tangannya masih sibuk meremas gundukan itu. Posisi mereka adalah Tristan di atas dan Adira di bawah Kungkungan tangan kekar Tristan.


Ciuman Tristan beralih ke leher dan memberi tanda disana. Lalu turun lagi dan sampailah dia pada dua gunung milik Adira. Dia melesakkan wajahnya di antara dua gundukan itu. Tangannya sibuk membuka pengait bra. Tristan melepas benda keramat penjaga gunung Adira dengan mudah dan melemparnya ke sembarang arah.


Dia bisa melihat dua benda kenyal menyembul begitu saja. Tristan segera menyesap pucuk merah muda itu seperti bayi yang sedang menyusu. Satu tangannya dia gunakan untuk memilin yang satunya lagi.


“Ughh....” satu ******* berhasil lolos dari bibir Adira begitu saja setelah mati-matian menahannya. Adira benar-benar merasakan sensasi melayang luar biasa. Dia belum pernah merasakan hal seperti itu. Ini yang pertama untuknya.


“emmhh....” desis Adira lagi yang berhasil membuat gairah Tristan semakin besar. Dia sudah tidak tahan untuk segera menuntaskan keinginannya.


Namun saat nafsu keduanya sudah berada di puncak, pintu tiba-tiba diketuk dari luar.


Tok. Tok. Tok. !


Tristan masih belum menanggapi. Dia masih melanjutkan aksinya.


Tok. Tok. Tok!


Tristan menggeram kesal. Dengan sangat terpaksa dia melepaskan Adira dan menyuruh Adira memakai bajunya kembali sesudah dia membantu memungut nya dari lantai. Dia lupa satu hal, dia tidak memakai bajunya kembali dan hanya menyisakan celana bahan yang dia kenakan tadi.


Dia berjalan membuka pintu, dan betapa terkejutnya dia saat yang berdiri di depan pintu adalah Mamanya.


Tidak jauh berbeda dengan Adira, dia juga sangat terkejut dan lagi-lagi merasa malu karena terpergok sedang berduaan di kamar.


'duuuuuh..  mati gue!. Mau di taruh dimana ni muka.’ Ucap adira dalam hati.


Adira segera turun dari ranjang dan berdiri tidak jauh dari ranjang.


Bu Siska langsung masuk begitu saja karena tadi saat sedang berjalan ke kamarnya, dia mendengar suara wanita di dalam kamar putranya.


Dan benar saja, Adira yang ada di dalam kamar anak laki-lakinya.


Bu Siska masih bungkam namun matanya menelisik penampilan Adira dan Tristan bergantian. Matanya memicing seakan ingin menebak sesuatu.


Apalagi melihat anaknya sudah tidak memakai baju bagian atasnya dan menampakkan kotak-kotak pada perutnya.


Dugaan Bu Siska semakin terbukti saat melihat tanda merah di leher Adira. Sebagai orangtuanya jelas Bu Siska tau, tanda apa itu. Penampilan Adira juga sangat berantakan. Rambutnya acak-acakan.


“Ma.. ada apa?”. Tanya Tristan dengan nada takut. Tapi dia berusaha dibuat se santai mungkin.


“Kamu!!. Jangan ajarin Adira yang nggak-nggak ya!!” pekik Bu Dewi sambil menjewer kuping anaknya.


Adira sangat terkejut. Reaksi Bu Dewi diluar ekspektasi nya. Dia juga masih belum berani untuk bicara.


“Aw! Ma! Aw! Sakit ma. Lepas dulu! Aw!!” ucap Tristan mengaduh merasakan panas dan sakit di bagian telinganya. Tangan Bu Siska juga tidak tinggal diam. Satu tangannya yang nganggur dia gunakan untuk menggeplak bokong Tristan.


Adira meringis melihat itu. Entah rasanya se perih apa. Karena dari suaranya saja begitu keras. Apalagi rasanya. Mungkin setelah ini akan ada bekas tangan Bu Siska yang menempel di tubuh Tristan.


Power of emak-emak emang nggak bisa diragukan lagi.


Saat sedang larut memperhatikan anak dan ibu itu, Adira tiba-tiba dipanggil oleh Bu Siska.


“Adira.. sini kamu”. Ucap Bu Dewi dengan nada tegas.


Adira menelan ludahnya kasar. Apa dia juga akan mendapatkan seperti yang Tristan rasakan?.


Namun tak urung Adira tetap maju selangkah demi selangkah.


“I-iya ta-tante”. Jawab Adira terbata. Dia sudah ketakutan bercampur malu.


“Bilang sama mama papa kamu, hari Minggu malam kami orangtua Tristan ingin berkunjung ke rumah kamu”. Ucap Bu Siska masih dengan nada tegas.


“Bu-buat a-a-apa Tan?.” Tanya adira terbata. Dia takut akan digeret keliling kompleks bila ketahuan kumpul kebo. Ya Tuhan!!!. Wajah Adira makin pias dibuatnya.


“Buat lamar kamu lah. Tante nggak bisa biarin kalian terus melakukan dosa seperti ini. Kalau sudah sah kan dapat pahala malah”. Jawab Bu Siska melembut sambil mengelus rambut Adira sayang. Berbanding terbalik dengan ekspresi yang ditunjukan pada Tristan. Dia malah mendapat amukan. Sedangkan Adira? Dia begitu disayang.


“Sebenarnya yang anak mama, aku apa Adira sih?”. Tanya Tristan kesal dengan kelakuan ibunya.


“Diam kamu!! Berisik!”.


Tuuh kan. Sama Adira aja lembut banget. Masa sama anak sendiri kasar banget.


“Iya Tante. Nanti aku bilang ke mama sama papa”. Jawab Adira karena tidak punya pilihan lain.


“Bagus. Lebih cepat lebih baik. Kalau gitu, Tante ke kamar dulu ya. Nanti turun kita makan sama-sama”. Ucap Bu Siska lembut sebelum berlalu meninggalkan dua sejoli itu.


Adira dan Tristan saling melempar tatap. Tristan tersenyum penuh kemenangan. Karena sebentar lagi Adira akan dia lamar.


Sedangkan ekspresi Adira sangat datar membuat Tristan mengerutkan kening.


“Mau lanjut atau terus nih?”. Tanya Tristan dengan senyum nakal.


“Ha?. Itu bukan pilihan namanya!”. Ketus Adira.


“Emang kakak nggak malu apa. Aku tuh malu banget”. Ucap Adira sambil merengek dan menutupi wajahnya.


“Kalo aja ada kantong ajaib Doraemon. Aku mau pinjam huhuhu.” Ucap Adira dengan tangisan pura-pura.


“Udah lah. Yang penting kan bentar lagi kita nikah”. Ucap Tristan begitu senangnya.


Adira langsung melotot dan bibirnya sudah maju lima Senti.


Sebelum Tristan jadi sasaran kemarahan Adira, dia segera lari terbirit-birit menuju kamar mandi dan menutup pintunya.


“Kak Tristan!!!!!!”. Pekik Adira menggema di seluruh penjuru rumah.


Yang di teriaki malah tertawa begitu keras di dalam kamar mandi. Ada hikmah di balik musibah.


Eits... Bukan musibah sih ya kalau begituan?.