
Pagi hari di kediaman Tristan.
“muka kenapa tuh kusut begitu. Kaya baju nggak di setrika aja” ucap Bu Siska kepada Tristan.
Mereka sedang sarapan bersama. Tristan juga ikut sarapan bersama kedua orangtuanya.
“palingan juga karena kangen sama Adira ma” timpal pak Hendra sambil tersenyum meledek.
“suka banget si kalian godain aku” ucap Tristan sambil bibirnya monyong lima centi.
“nggak Lah. Bercanda. Sarapan yang banyak biar kuat menahan rindu hahaha” ucap Bu Siska sambil tertawa. Pak Hendra juga ikut tertawa menanggapi.
Sedangkan Tristan, jelas dia semakin cemberut saja. Mengapa mamanya tidak bisa mengerti perasaanya sama sekali.
“Amanda ada telfon nggak pagi ini ma?” tanya Tristan mencari tau. Karena sejak tadi Adira belum juga menghubunginya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
“udah tadi telfon dan pagi-pagi banget mulai kegiatan gitu katanya” jawab Bu Siska menjelaskan.
‘kenapa Adira belum juga mengabari sih. Nggak mungkin kalo belum bangun kan?” batin Tristan merasa frustasi.
“Kenapa emangnya? Adira belum telfon kamu?” tanya pak Hendra menebak.
“Iya pa” jawab Tristan lirih
Lalu orangtua Tristan tertawa sangat lepas melihat wajah pasrah anaknya.
Karena tidak mau menjadi bulan-bulanan orangtuanya, akhirnya Tristan memilih untuk berangkat ke kantor saja. Setelah sampai kantor nanti, dia akan mencoba untuk menghubungi Adira. Mungkin saja tidak ada sinyal. Sehingga Adira belum juga menghubunginya.
Setelah sampai di kantor, Tristan segera membuka ponselnya dan mencari nama Adira. Dia segera menghubungi Adira. Beruntung nomornya terhubung. Tepat di dering ketiga telepon tersambung.
“halo” sahut Adira di seberang sana.
Akhirnya Tristan bisa mendengar suara Adira. Senyum mengembang di bibir milik Tristan.
“kenapa belum ngabarin dari tadi sih?” tanya Tristan to the point.
Sedangan Adira diseberang sana terkekeh menanggapi.
“Iya maaf kak. Disini tuh lagi ada kegiatan posyandu gitu. Jadi aku juga ikut bantuin. Belum sempet deh hubungin kakak” jawab Adira menjelaskan.
“Oooooh.... Gitu ya. Kirain sengaja nggak hubungin aku” ucap Tristan lagi.
“Enggak lah. Tau nggak kak?” tanya Adira.
“nggak” jawab Tristan polos.
“hahaha. Aku tuh udah rindu banget. Padahal baru dua hari” ucap Adira lirih.
Jika bisa, Adira saat ini ingin memeluk Tristan dan mencari kenyamanan disana. Tidak jauh dengan Adira, Tristan juga merasakan hal yang sama.
“kalau video call bisa nggak Ra. Kangen nih pengen liat muka kamu” ucap Tristan.
“Nanti aja gimana. Setelah selesai tugasnya. Nggak enak sama yang lain. Nanti aku hubungin duluan” tolak Adira secara halus.
“ya udah deh. Lanjutin dulu. Aku mau kerja dulu soalnya” ucap Tristan pasrah.
“oke kak. Semangat kerjanya biar modal buat nikah segera tercapai. Hahaha” jawab Adira menggoda. Tristan akhirnya bisa tertawa. Adira memang sumber mood booster baginya.
Akhirnya telepon terputus. Tristan melanjutkan pekerjaannya dengan senyum di terukir di bibirnya.
.........
“Oek...Oek..”
“Bentar ya dek. Di timbang dulu” ucap Adira saat sedang menimbang bayi. Bayi tersebut menangis setelah di letakkan di tempat penimbangan. Mungkin karena takut atau jauh dari ibunya.
“ lima kilo dua ons ya Bu”. Ucap Adira setelah berhasil menimbang.
Kemudian bergantian dengan anak-anak lainnya hingga posyandu selesai.
Adira menghela nafas lega. Akhirnya pekerjaannya selesai juga. Tapi dia juga mendapatkan kesenangan tersendiri bisa berbaur dengan anak-anak kecil yang tentunya lucu dan menggemaskan.
Malam akhirnya tiba. Adira telah menyelesaikan ritual membersihkan diri. Sesuai janjinya, dia akan menghubungi sang pacar melalui video call. Beruntung di rumah pak kepala desa di pasang wifi. Jadi Adira bisa menghubungi keluarga dan Tristan sepuasnya. Kemarin Adira belum diberi kata sandinya, sekarang dia sudah mendapatkannya.
Adira segera mencari ponsel dan segera mengirim pesan dulu kepada orangtua nya. Setelah itu baru Adira menghubungi Tristan.
“Hay kak” sapa Adira melambaikan tangan setelah sesaat sambungan video call tersambung.
Diseberang sana Tristan tersenyum sendu menatap wajah Adira. Wajah cantik yang selama dua hari ini dia rindukan.
“Baru pulang kerja ya?” tanya Adira karena masih melihat Tristan menggunakan baju kerjanya.
“Iya.. ini mau mandi” ucap Tristan sambil menunjukkan handuk di tangan.
“Ya udah mandi dulu gih. Aku tungguin” ucap adira memerintah.
“bentar Lah.. masih kangen” ucap Tristan. Dia mengelus layar ponselnya dimana wajah Adira nampak disana. Kemudian usapan itu berakhir di bibir ranum milik Adira .
Tristan tersenyum konyol dengan tingkahnya sendiri. Hal itu memicu kernyitan di dahi Adira.
“kenapa kok senyumnya gitu banget?” tanya Adira.
“Nggak.. baru dua hari tuh rasanya kaya dua tahun. Lama banget.” Ucap Tristan manja.
“gimana hari ini? Menyenangkan?” tanya Adira mengalihkan pembicaraan. Sejujurnya Adira juga merasakan hal yang sama.
Tristan tersenyum sendu dan enggan menjawab pertanyaan Adira.
“Aku mandi dulu ya. Tapi jangan dimatiin telponnya. Aku bentar doang mandinya.” Ucap Tristan kemudian.
“ya udah sana. Iya nggak aku matiin kok aku tungguin deh” ucap Adira Sambil tersenyum sangat manis.
Kemudian Tristan tampak berlari ke kamar mandi yang sempat tertangkap dilayar ponsel milik Adira. Dia terkekeh melihat tingkah tristan.
Benar, Cuma lima menit Tristan telah terlihat lagi di layar ponsel Adira dengan bertelanjang dada.
“Cepet banget mandinya” ucap Adira untuk mengalihkan matanya dari perut kotak-kotak milik Tristan.
“Cepet dong. Takut keburu di matiin video nya.” Jawab Tristan sambil mengusap-usap rambunya yang masih basah.
Tristan terlihat sangat seksi dengan rambut basah dan perut kotak-kotaknya yang terlihat di layar ponsel Adira. Seketika itu juga Adira menelan Saliva nya.
‘bisa-bisanya gue berpikiran yang iya-iya’ batin adira.
“kakak pakai baju gih” suruh Adira yang tidak rela mata sucinya ternodai.
“Kenapa emangnya?” tanya Tristan berniat menggoda.
“masuk angin nanti” jawab Adira asal.
Lalu Tristan menghilang dari layar hp dan kembali lagi dengan sudah memakai kaos rumahan.
“Naa.. gitu kan enak liatnya hehe” ucap adira kemudian.
Kemudian obrolan itu berlanjut hingga hampir tengah malam. Hingga Adira benar-benar tertidur, Tristan baru mematikan sambungan telepon itu.
........
Setelah tiga Minggu keluar dari rumah sakit, akhirnya dengan usahnya yang begitu keras Tristan bisa berjalan kembali. Sudah dua Minggu ini dia berjalan tanpa memakai alat bantu.
Elvan tersenyum puas pada dirinya sendiri. Dengan dia bisa berjalan, dia akan segera melakukan aksinya untuk mendapatkan Adira. Jika cara lembut tidak bisa, maka cara kasar pun tidak apa-apa.
Sekarang Elvan sedang duduk di sisi ranjang sambil memandangi foto Adira yang berada di ponselnya.
“Lo cantik banget sih. Kenapa gue baru menyadari itu” monolog Elvan pada dirinya sendiri.
“gue bakalan dapatin Lo dengan cara apapun.” Monolog Elvan lagi sambil mengusap-usap layar ponselnya.
Kalau dilihat, keadaan fisik mungkin Elvan sudah pulih dan sehat. Tapi dari segi psikis, sepertinya sakit. Mungkinkah karena kurang perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya, Elvan menjadi sosok yang seperti itu?.