
Happy reading!😊😘
.
*****
"Kembalikan penampilanmu."
"Akan kulakukan."
Charles turun dari mobil itu setelah memberikan kecupan di pipi gadis yang dicintainya yang membuat gadis itu merona.
"Kau menjadi maniak ciuman, Charlie."
Charles terkekeh. "Menyetirlah dengan hati-hati."
Sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatian Charles dari mobil sport yang baru saja meninggalkan lobby apartemen tempatnya tinggal.
📩Mi Hermana.
Cepatlah ke sini. Mama tiba-tiba pingsan.
Charles segera berlari ke arah lift. Namun, berkali-kali ia memencet tombol buka, namun hasilnya nihil. Ia terpaksa harus menaiki tangga darurat. Dengan napas terengah-engah, ia berhasil juga menaklukan tangga-tangga yang berkelok itu.
Ia mengambil kunci mobilnya yang sudah sangat lama tak pernah lagi ia pakai. Ia melemparkan ransel sekolahnya asal. Tak ingin menghabiskan waktu, ia tak mengganti pakaian seragamnya.
Kemudian, ia turun. Beruntung kali ini liftnya berhenti, jadi ia tak berlama-lama menuruni tangga darurat lagi.
Ia menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukannya ke arah rumahnya.
Pikirannya kalut. Ia masih membayangkan bagaimana ia kehilangan ayahnya. Dan kini, penyakit ibunya yang sering-sering kambuh membuatnya khawatir.
Ia masih terlalu takut ditinggalkan. Ia takut kesepian tanpa orang yang mengasihinya.
Kecepatan mobilnya kian lama kian bertambah seiring waktu ia berlari. Jalanan sedikit lenggang karena sebentar lagi akan keluar dari jalur pusat kota.
Beberapa saat kejadian itu mendiami pikirannya.
Jalananan mulai sunyi. Hanya satu dua kendaraan saja yang lewat menandakan ia telah keluar dari pusat kota. Suasana mulai terasa mencekam ketika ia memasuki daerah hutan.
Bukan keadaan sepi di tepi hutan yang membuatnya merasa aneh, tapi keberadaan sebuah mobil di belakangnya yang mengikutinya sejak tadi.
Sebuah mobil bermerk Mercedes Benz berwarna hijau tosca berlari membuntutinya dalam jarak yang semakin dekat.
Setelah melewati rimbunnya pepohonan di hutan, mobil yang dikendarai Charles masih berlarian dengan kecepatan di atas rata-rata. Anehnya, mobil yang tadi mengikutinya kini datang dari arah depan dengan kecepatan tinggi.
Ia merasa ada sesuatu. Setahunya, tidak ada jalanan menyimpang ataupun tempat yang bisa dilewati menggunakan mobil di area hutan tadi.
Saat ia masih terbenam dalam pikirannya, mobil itu meluncur dengan cepat dan hampir menabraknya. Untung saja, kelincahannya menyetir mobil tidak sia-sia. Ia membelokkan mobilnya ke tepi.
Sial.
Rem mobilnya tidak berfungsi. Ia masih berusaha mengendalikan dengan cara memutar-mutar setir. Namun, untung tak dapat diraih dan malang tak bisa ditolak. Ia menabrak pagar pembatas jalan.
Sebelum benar-benar terjatuh, ia sempat membuka pintu mobil itu dan keluar dari sana. Karena kecepatan laju mobilnya yang tinggi, ia terhempas jauh dan terjatuh ke jurang.
Seketika, semuanya kabur. Namun, ia masih mendengar sebuah suara yang samar-samar memanggil namanya.
"Charlesss!!!"
Suara itu?! Mendes?!
Semuanya gelap. Ia pingsan.
*****
"Terjadi sebuah kecelakaan tunggal yang mengakibatkan seorang siswa Ezmeralda High School berakhir di UGD. Penyebab kecelakaan belum bisa dipastikan karena semua CCTV di jalan yang ditempuh korban diretas. Setelah polisi memeriksa, ternyata rem mobil korban tidak berfungsi. Dugaan sementara, kecelakaan ini terjadi karena kelalaian diri sendiri korban. Namun, yang menjadi pertanyaannya, mengapa semua CCTV diretas? Apakah kecelakaan ini direncanakan sebelumnya?"
Mata Abbie terbelalak melihat seragam sekolah korban yang sama dengannya.
"Tidak mungkin. Dia tidak pernah memakai mobil ke manapun. Bersamaku dia selalu membawa YZF R16 2017nya." Ia bergumam sendiri.
"Apa kau mengenalnya, sayang?"
"Hah?!"
Ia menggeleng.
Ia melihat ayahnya mengangkat telepon dari seseorang.
"Pergilah tidur. Papa harus mengurus sesuatu."
Sepeninggal putrinya, ia menelepon kembali nomor yang tadi menghubunginya sambil berjalan ke arah ruang kerjanya.
"Bagaimana itu bisa terjadi?"
"Aku bahkan tidak memprediksinya bahwa itu akan terjadi begitu cepat. Aku melihatnya mendapat pesan dari seseorang dan pergi terburu-buru."
Ben menghela napas.
"Bagaimana dengan anak buahmu? Apakah mereka baik-baik saja?"
"Hanya sedikit lecet di kulit. Selebihnya, tidak apa-apa, Tuan."
"Baiklah. Terus awasi keluarga mafia itu. Aku tidak ingin terjadi lagi hal yang seperti ini."
"Aku mengerti, Tuan."
Ia memutuskan sambungan itu.
"Kau bermain-main dengan keluargaku, s**l*n!" Ben mengepalkan tangannya. Terlihat buku-buku jarinya memutih.
*****
Berulang kali gadis pemilik mata cokelat madu itu menghubungi nomor Charles. Tetapi, hasilnya selalu nihil.
"Kenapa dia tidak menjawab teleponku? Apa yang terjadi dengannya? Aaa...tidak, tidak. Positive thinking, Abbie."
Ia menggeleng-geleng kepalanya. Ia terus mondar mandir di kamarnya. Sesekali ia menghentak-hentakkan kakinya karena kesal, sesekali ia meremas rambutnya frustasi.
"Izzy, kau belum tidur?"
Akhirnya, ia memutuskan mengganggu temannya yang bermarga Tyson itu.
Terdengar suara seseorang menguap. Abbie terkekeh.
"Apa kau sudah tidur?"
"Hm."
"Kau tidak berkencan hari ini?"
"Tidak. Casey punya urusan hari ini."
"Kekasihmu orang yang sibuk juga ya."
"Hm. Kenapa kau meneleponku malam-malam begini?"
"Come on, Izabel. Ini masih jam delapan."
"Hah?! Seriously? Aku pikir ini tengah malam."
Tawa Abbie pecah.
"Apa kau ketiduran lagi?"
"Jangan bertanya."
"Ahh...Berarti kau tidak melihat berita di tv itu ya?"
"Berita apa yang membuatmu heboh seperti ini?"
"Siswa sekolah kita memgalami kecelakaan tunggal saat mengendarai mobil di daerah menuju ke timur keluar dari ibukota."
"Apa poin pentingnya?"
"I think he is Charlie."
"What?" Teriakan dan tawa Izzy meledak membuat Abbie menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Wait, kau bilang mobil? Apa kau sedang mengigau? Wake up, Abigail."
"Maksudmu?"
"Kau tahu sendiri cowok cupu itu masuk sekolah kita melalui jalur beasiswa. Bagaimana mungkin ia memiliki mobil?"
"Itu juga yang aku pikirkan."
"Kau sangat mengkhawatirkannya."
"Tentu saja. Olimpiade itu akan dilaksanakan satu hari lagi."
Izzy terkekeh. Ia tahu Abbie tidak mudah mengungkapkan perasaannya.
"Jangan membuatnya berharap."
"Aku tidak melakukannya."
"Kau sedang melakukannya, D'alejjandra."
"Tidak."
"Ya."
"Tidak."
Abbie mengkhiri panggilan itu sepihak.
Sialan. Punya teman sinting memang begini. Pusing sendiri.
Karena tidak tahu lagi harus melakukan apa, akhirnya ia membuka lagi aplikasi instagramnya dan menggeser-geser layar benda pipih itu.
Ia membuat sebuah postingan dengan gambar bayangan kaki panjang miliknya dan milik seseorang. Ia menulis captionnya.
I Miss You.
Ia terkekeh sendiri. Caption konyol. Begitu pikirnya. Padahal baru saja ia bersama-sama dengan orang itu.
Beberapa saat kemudian, postingannya sudah dipenuhi berbagai macam komentar oleh followersnya.
Siapa itu?
Aku penasaran bayangan pria itu milik siapa.
Tidak jomblo lagi?
Sepertinya aku kenal bayangan pria itu.
Kalian berkencan?
Awwhhh...Kau sudah punya pacar sekarang.
Aku iri.
Dari sekian banyak komentar itu, ia merasa ada satu yang tidak muncul. Akun seseorang yang sering mengirimkannya direct message.
csd.
Dimana dia?
.
*****
.
ig @xie_lu13