
Happy reading!😊😘
*****
Setelah acara kencan singkat ala keduanya, Charles menyempatkan diri mampir ke tempat kerja paruh waktunya meskipun waktu bekerja sudah hampir habis. Dengan senyum lebar penuh kebahagiaan, ia memasuki bangunan putih tulang itu setelah melambaikan tangan tanda perpisahan kepada kekasihnya.
"Sepertinya kau sangat menikmati kencan kalian," sindir seseorang kepadanya.
Ia menoleh dan mendapati pria berambut putih sedang duduk bersila di kursi pelanggan. Ada juga Franklyn di sana sedang meladeni ocehan-ocehan yang keluar dari mulutnya sambil terus menatap gadis bermanik biru di meja kasir di depannya.
"Kau di sini? Kau selalu ada di segala tempat dimanapun kami pergi. Apa kau selalu begini?" Ia menyindir balik Philip dan berjalan ke arah meja itu dan duduk di sana.
"Ck, ini tempat yang umum. Siapapun bisa masuk ke sini asal punya uang, jadi kau jangan heran. Dan, seperti yang kau tanyakan aku memang selalu memperhatikan gerak-gerik kalian, khususnya kau. Aku tidak ingin kau menyakiti saudariku."
"Saudari?"
Dari sekian banyak kalimat yang dikatakan Philip, hanya satu kata itu yang membuatnya fokus. Saudari?
"Ya, dia saudariku. Adikku, bodoh. Hanya saja dia terlalu payah dalam memahami ikatan kekeluargaan kami."
"Oke, baiklah. Aku tidak ingin berdebat denganmu karena suasana hatiku sedang baik sekali. Kau tidak perlu khawatir, aku mencintainya, mana mungkin aku menyakiti orang yang aku cintai. Simpan saja kekhawatiranmu itu untuk dirimu sendiri karena Abbie-ku pasti akan sangat membencimu kalau dia tahu kau menguntit kami."
"Mencintainya? Ck, kau sangat percaya diri. Lalu, bagaimana dengannya? Apa dia juga mencintaimu seperti kau mencintainya, atau malah sebaliknya? Sadarlah, Charlie. Dia masih belum bisa melupakan kekasih lamanya yang aku hajar waktu itu. Menguntit? Aku hanya memastikannya selalu aman dari apapun."
Mengingat cerita Philip waktu itu bahwa ia menghajar Levin dengan alasan tertentu membuat Charles seketika muram. Sekarang ia baru menyadari bahwa apa yang dikatakan Philip ada benarnya juga, mungkin gadis itu masih belum bisa melupakan kekasih pertamanya sehingga ia harus membuatnya menunggu lama setelah pernyataan cintanya yang pertama kali. Waktu itu ia tidak egois, ia memberi jeda pada gadis itu untuk memikirkan segalanya, tetapi tadi? Ia seakan memaksa gadis itu agar membalas kata cintanya sehingga mau tidak mau gadis itu membalasnya meskipun kata cinta itu diucapkannya berulang kali.
"Ada apa dengan ekspresimu itu? Apa sekarang baru kau menyadarinya?" tanya Philip membuat Charles gelagapan namun ia berusaha untuk tetap santai.
"Meskipun aku terpaksa untuk mengakuinya, sepertinya apa yang kau katakan itu ada benarnya juga."
"Jangan pesimis, mungkin saja dengan melihat pengorbananmu dia bisa meyakinkan hatinya."
Keduanya terdiam, semakin larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Franklyn sedari tadi hanya duduk manis dan diam mendengarkan perdebatan keduanya sedangkan matanya selalu tertuju pada gadis di depannya yang tersenyum manis pada siapapun.
"Frank, bagaimana?" Charles mencairkan suasana yang kembali membeku. Ia memperhatikan arah pandang Frank dan mendapatinya sedang memperhatikan Metti dalam diam.
"Tidak ada kemajuan." Ia mendesah.
Sekian lama ia mengejar gadis itu, tapi yang didapatinya hanyalah ruang hampa tanpa udara. Tak sedikitpun gadis itu goyah olehnya, mungkinkah gadis itu mati rasa atau dia yang terlalu berharap lebih sehingga apapun yang ia lakukan tidak ada artinya bagi gadis bermanik biru safir itu.
"Mungkin belum saatnya." Ia menepuk pundak temannya untuk memberi dukungan.
Charles menunjuk dengan dagunya ke arah Metti. "Frank menyukainya tapi dia tidak."
Seketika tawa Philip pecah. Ia sampai memegang perutnya yang terasa keram karena terlalu banyak mengeluarkan energi.
"Oh, jadi kau hanyalah manusia biasa, Frank. Aku pikir dengan tampangmu yang seperti itu bisa memikat gadis manapun yang kau mau, tapi...aku salah besar." Philip tertawa lagi, bukan tawa bahagia seperti tadi tapi lebih ke tawa mengejek.
"Kau pikir aku apa? Aku juga manusia, Phil."
"Ya, ya. Kau manusia biasa setelah aku tahu bahwa ada juga yang tidak menyukaimu."
"Sialan."
Philip terkekeh kemudian ia bangun dari kursinya. Kaki-kaki berototnya membawanya ke arah meja kasir itu dan terlibat percakapan dengan Metti, sesekali Charles dan Franklyn melihat Metti merona ketika Philip berbicara.
"Apa yang kau katakan?" Franklyn berbicara tegas ketika ia melihat senyuman aneh di bibir Philip.
"Aku menyuruhnya tidur sendiri karena aku ingin meminjammu darinya."
"Kau gila, Phil."
"Aku tahu."
Charles terkekeh. Ia tahu kadar otak Philip, sesekali waras dan sesekali tidak, kadang bisa diajak serius tapi kadang juga sangat menyebalkan karena candaannya.
*****
Gadis bermanik cokelat madu itu masih duduk di meja belajarnya sambil membolak-balikkan novel yang dipegangnya. Ia tidak fokus bahkan untuk membaca bagian yang paling ia gemari, ia hanya membukanya saja tanpa berniat membaca. Sesekali matanya melirik pada beberapa bingkai foto yang ia taruh di atas mejanya. Foto-foto kebersamaannya dengan Charles dan Izzy di sekolah. Adapula foto waktu keduanya mengikuti olimpiade itu dengan Philip yang dijadikannya fotografer dadakan. Yah, hasilnya lumayan, tidak terlalu buruk.
Abbie mengingat lagi sahabat lamanya. Ia rindu pada senyuman hangat Philip yang selalu diberikan padanya. Tetapi, kenangan itu langsung ditutupi oleh ingatan tentang keadaan Levin yang sangat mengerikan waktu itu. Levin yang bersimbah darah karena dipukuli sahabatnya meski sampai sekarang ia tidak tahu alasan Philip memukul mantan kekasihnya. Yang ia dengar dari mulut Levin adalah Philip mengaku bahwa keduanya adalah pasangan kekasih.
Ia frustasi sekarang. Elliza tidak menyetujui hubungannya dengan Charles, pria yang membuatnya mati kutu, pria bergaya kampungan dan berkacamata itu tapi berhasil mengambil hatinya. Andai saja Elliza tidak memberikan reaksi apa-apa seperti saat ia memberitahu hubungannya dengan Levin waktu itu, sudah pasti Abbie akan bersorak gembira dan bisa saja menjadi gila sekarang. Tetapi, apalah daya. Sebuah khayalan tetaplah khayalan dan menjadi ilusi yang bermuara di alam sadar tanpa tahu bahwa bumi itu bulat.
Ibunya melarangnya berhubungan dengan kekasihnya lagi. Entah apa yang akan dilakukan ibunya nanti terhadap Charles, Abbie tidak tahu pasti. Yang ia tahu adalah ibunya seseorang yang tidak suka diperdaya apalagi oleh orang-orang terdekatnya. Seandainya ia melanggar titah sang ratu Elliza, sudah pasti ia akan ditendang jauh ke udara dan juga sesuatu yang besar akan menimpa Charles. Tidak, Abbie tidak ingin terjadi apa-apa pada kekasihnya, apalagi kalau pelakunya adalah ibunya sendiri. Ia pasti tidak akan memaafkan dirinya sendiri dan juga Charles akan membencinya.
Akkh...baru dalam hitungan jam saja sudah membuatku seperti ini. Bagaimana kalau mama memberitahu papa tentang Charles? Aku bisa saja dicincang dan dijadikan daging rempah-rempah kemudian diekspor ke luar negeri. Oh, aku lupa. Papa pasti sudah tahu terlebih dahulu sebelum mama.
"Haruskah seperti ini?"
*****