Treat You Better

Treat You Better
108. Sadar diri.



Adira menatap paperbag yang disodorkan oleh Yoga dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Yoga sudah sangat was-was bila saja hasil kerja kerasnya pagi tadi akan sia-sia.


Sedetik kemudian, ekspresi wajah Adira berubah menjadi senyum berbinar dan berkata.


“Rasa coklat kan, Ga? Aku harus bayar atau gratis nih? Ini kan merek roti terkenal,” cerocos Adira sambil menatap Yoga bahagia.


Fiuuuh.


Yoga dapat bernafas dengan lega karena niatnya mendapat respon baik dari Adira.


“Tenang aja, ini gratis buat kamu, Ra. Aku bikinnya juga agak banyakan, jadi tante sama om juga kebagian,” jawab Yoga tersenyum senang hingga menampakkan gigi putihnya yang berjajar rapi.


“Waaah ... Gratis nih? Makasih banget ya, Ga. Aku terima nih, rotinya,” ucap Adira sambil membuka matanya lebar-lebar.


Adira terlihat begitu lucu saat menunjukkan ekspresi seperti itu.


Yoga tersenyum sambil mengangguk menanggapi pertanyaan Adira.


“Terima kasih banget ya, Ga. Akhirnya, aku bisa makan roti buatan kamu juga ya,” ucap Adira sambil terkekeh pelan.


“Bisa aja kamu, Ra,” jawab Yoga sambil tersipu.


“Aku makan sekarang aja ya. Dedek bayi di perut pengen makan buatan Omnya hehe,” ucap Adira terkekeh, sambil tangannya mengelus perutnya dengan lembut.


“Silahkan, Ra. Itu memang aku buat untuk kamu,” ucap Yoga mempersilahkan dengan senang hati.


Kemudian, Adira mengambil satu roti yang berisi pisang coklat lalu menggigitnya.


Saat pertama kali roti pisang coklat itu mendarat di lidahnya, lidah Adira langsung dimanjakan dengan kelembutan tekstur roti itu. Apalagi coklatnya yang lumer ke mana-mana ditambah, pisang yang pada gigitan pertama terasa begitu manis.


Perpaduan yang pas menurut Adira.


Lidah Adira benar-benar di manjakan.


“Enak banget, Ga,” ucap Adira memuji masih dengan mulut penuh karena mengunyah.


Adira makan roti tersebut dengan lahap hingga coklat yang lumer itu mengotori bibir ranum Adira.


Karena merasa gemas, Yoga berdiri dari duduknya dan mendekatkan tubuhnya kepada Adira.


Tangannya langsung terangkat untuk menghapus coklat yang berantakan ke mana-mana di bibir Adira.


Adira sampai tertegun dengan perlakuan Yoga yang tiba-tiba itu.


Mereka terdiam sejenak dan saling menatap satu sama lain.


Namun, mereka segera tersadar karena suara pekikan seseorang dari luar rumah Adira.


Adira langsung menajamkan telinganya saat mendengar suara itu memanggil nama seseorang yang sangat dia rindukan.


Adira segera mendorong tubuh Yoga dengan pelan, lalu dia berdiri dan menatap dua orang yang sedang berada di luar rumahnya.


Deg.


Jantung Adira berdetak tidak menentu saat melihat orang yang berada di depan rumahnya itu merupakan suaminya. Suami yang telah menorehkan luka di hatinya yang paling dalam.


Tapi anehnya, Adira masih sangat mencintainya. Adira merindukannya.


Ingin rasanya Adira berlari dan memeluk suaminya itu sesegera mungkin. Tapi itu tidak Adira lakukan.


Seketika, Adira menjadi gugup layaknya seorang remaja yang sedang di mabuk asmara.


Adira ingin, suaminya itu melihat ke arahnya. Adira ingin dilihat keberadaannya oleh Tristan.


........


 


Tristan sudah sampai di hotel tempat dia menginap sejak pukul delapan malam tadi. Karena tubuhnya terasa sangat lelah, dia tidak langsung menemui Adira. Dia berniat menemui Adira pagi ini saja.


Takutnya, kalau dia berkunjung malam hari, yang ada akan menganggu waktu istirahat Adira dan kedua orangtuanya.


Tristan sarapan di dalam kamarnya setelah menelepon petugas hotel untuk membawakan sarapannya ke dalam kamar saja.


Setelah mandi dan sarapan, Tristan bergegas keluar dari kamar hotelnya. Dia sudah menyewa sebuah mobil untuk alat transportasinya selama di Solo beberapa hari ke depan.


Setelah masuk ke dalam mobilnya, Tristan segera melajukan kuda besi tersebut menuju alamat yang sudah Doni kirimkan kemarin.


Oh iya, Tristan juga sudah mentransfer uang yang diminta oleh Doni. Padahal Doni bukanlah orang dari kelas menengah. Bisa dibilang, Doni adalah seorang sultan karena telah sukses dengan berbagai usaha yang dia rintis bersama keluarganya.


Tapi begitulah Doni jika sedang bersama Tristan, dia seakan tidak punya uang sama sekali sehingga harus memori Tristan.


“Anggap aja uang jajan buat Echa,”


Begitulah kira-kira ucapan Doni tempo hari jika Tristan mengomel karena selalu di palak oleh Doni.


Tristan tersenyum mengingat sahabat yang juga merangkap menjadi adik iparnya itu.


Dia bersyukur masih mempunyai orang-orang yang begitu menyayangi dan peduli dengannya.


Mobil Tristan berhenti di tengah jalan karena lampu merah sedang menyala.


Tristan melihat sekelilingnya dan begitu takjub dengan keadaan kota Solo itu.


Di pagi hari begini, udaranya masih begitu segar karena belum tercemar dengan adanya kendaraan yang jumlahnya jutaan dan juga, di Kota Solo ini, belum banyak adanya gedung pencakar langit.


Berbeda dengan di Jakarta, di sana sudah banyak sekali kendaraan di pagi hari. Gedung pencakar langit juga hampir memenuhi seluruh wilayah Jakarta.


Saat ada pertigaan, Tristan membelokkan mobilnya memasuki gang yang hanya muat satu mobil saja.


Setelah melewati beberapa rumah, Tristan akhirnya berhenti di depan rumah yang tidak diketahui siapa pemiliknya.


Setelah mobilnya menepi, Tristan segera turun dan menatap salah satu rumah yang menjadi titik koordinat di Google Maps yang dia lihat.


Dia melihat pintu rumah itu terbuka lebar. Itu semakin memudahkan Tristan untuk bisa melihat keadaan di dalamnya.


Tristan berjalan pelan tapi pasti mendekati rumah yang di duga ada Adira di dalamnya.


Setelah mencapai depan rumah tersebut, Tristan bisa melihat dengan jelas wajah istrinya yang sedang tertawa dari kejauhan.


Namun, samar-samar Tristan mendengar suara seorang laki-laki dari dalam.


Tampaknya, Adira sedang mengobrol dengan seorang laki-laki dan Adira terlihat begitu bahagia saat bersama laki-laki yang belum Tristan lihat wajah dan orangnya.


Namun sedetik kemudian, Tristan bisa melihat wajah lelaki itu dari samping.


Tanpa Tristan duga, lelaki itu membungkuk di hadapan Adira seperti akan menciumnya.


Posisi laki-laki tersebut membelakanginya, sehingga Tristan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang di lakukan oleh lelaki itu.


Kaki Tristan terasa lunglai, dadanya mendadak sesak, harapannya untuk bersama Adira seakan hanya tinggal angan-angan saja.


Adira telah melupakannya. Adira sudah mempunyai pengganti dirinya.


“Apa aku tidak seberharga itu? Hingga dengan mudahnya kamu melupakan diriku,” gumam Tristan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tristan sadar diri, mungkin ini balasan untuk dirinya. Ternyata ada di posisi Adira yang dulu melihatnya bersama Sindy, sangatlah menyakitkan.


Dunia seakan runtuh seperti hatinya yang sudah remuk dan harus bertambah remuk karena melihat pemandangan yang tidak dia inginkan.


Setelah berhasil menguasai dirinya kembali, Tristan berbalik dan berniat ingin pergi saja. Namun niatnya itu urung karena panggilan dari seseorang.


“Tristan!” panggil seseorang tersebut terkejut.


Tristan menoleh, dia tersenyum tipis saat melihat siapa seseorang yang memanggilnya itu.


Dia jelas sangat kenal dengan orang tersebut.


“Papa, apa kabar?” tanya Tristan sambil mengulas senyum yang dipaksakan.