
Sejak masuk ke dalam ruangannya, kerjaan pak Irawan hanya melamun memikirkan di mana keberadaan anak semata wayangnya.
Dia sangat kecewa dengan Tristan yang lebih mementingkan mantan pacarnya ketimbang istrinya.
Pak Irawan juga tak habis pikir dengan jalan pikiran Tristan. Di saat Adira sedang berjuang mengandung anaknya, dia malah sibuk mengurusi mantanya.
Segala cara sudah pak Irawan lakukan untuk bisa menemukan Adira. Namun, sampai sekarang Adira belum diketahui di mana keberadaannya.
Pak Irawan juga sudah lapor kepada pihak berwajib untuk mau membantunya menemukan anak semata wayangnya.
“Semoga kamu baik-baik saja di manapun berada, Ra.” gumam pak Irawan kepada dirinya sendiri.
“Papa percaya bahwa kamu pasti bisa menjaga diri kamu dengan baik,” ucap pak Irawan lagi.
Pak Irawan menghembuskan nafasnya kasar. Pikirannya sangat lelah memikirkan bagaimana caranya untuk menemukan Adira secepatnya.
Apalagi istrinya, bu Dewi begitu terpuruk dengan kepergian Adira yang pergi tanpa pamit dengannya.
Tiada hari tanpa menangis dan merenungi nasib hidup anaknya.
Hati seorang ibu mana yang akan rela bila anaknya di sakiti hingga pergi entah ke mana.
Pak Irawan berdiri dari kursi kebesarannya dan menatap pemandangan kota dari balik dinding kaca yang berada di ruangannya.
Pak Irawan tersentak dari lamunan saat ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
Pak Irawan segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya.
Setelah melihat nama penelepon, pak Irawan mengernyit bingung karena merasa tidak mengenali nomor penelepon tersebut.
Dengan ragu, pak Irawan akhirnya menerima panggilan tersebut dan segera menempelkan benda pipih itu di salah satu telinganya.
“Halo.” Pak Irawan menyapa untuk pertama kali.
“Papa ....” ucap seseorang di seberang sana yang berhasil membuat pak Irawan terkejut sampai membelalakkan mata.
Pak Irawan mengecek ponselnya lagi barangkali dia salah sambung. Tetap saja, nomor itu adalah nomor yang belum ada namanya di dalam ponselnya.
“Papa!” ucap seseorang lagi dari seberang sana karena tak kunjung mendapat jawaban.
“I–iya. Kamu Adira kan?” ucap pak Irawan terbata, saking tidak percayanya bahwa Adira meneleponnya.
Ya, seseorang tersebut adalah Adira yang telah lama menghilang.
“Iya ... Ini Adira, Pa. Bagaimana kabar Papa sama mama? Sehat kan? Papa tenang aja, di sini Adira baik-baik aja,” ucap Adira panjang lebar sebelum papanya itu beralih mengomelinya.
“Adira ... Adira ... Papa sama Mama tuh khawatir banget sama kamu. Mama kamu nangis terus setiap harinya karena kamu pergi gitu aja tanpa pamit sama kita,” omel pak Irawan panjang lebar.
Adira terdengar terkekeh dari balik telepon. Dugaan bahwa papanya akan memarahinya benar-benar terjadi.
Adira tidak bisa membayangkan akan seperti apa bila mamanya yang mengomel. Pasti akan sepanjang rel kereta api dari Jakarta ke Surabaya.
“Iya maafin Adira ya, Pa. Oh ya, Adira nggak bisa lama karena pinjam HP punya tetangga. Yang mau Adira kasih tahu ke Papa adalah, sekarang Adira sudah berada di tempat yang aman. Papa tenang aja. Papa juga hafal banget sama tempat yang Adira tempati sekarang ini,” ucap Adira mencoba meyakinkan papanya itu.
“Gimana Papa bisa tenang, kalau kamu pergi dalam keadaan bunting begitu,” ucap papa tidak terima dengan kata ‘tenang’ yang Adira ucapkan.
Adira tergelak renyah mendengar ucapan papanya.
Sesuatu hal yang sudah lama tidak Adira lakukan. Entah kapan terakhir kali Adira bisa tertawa bahagia. Adira bahkan sudah lupa bagaimana caranya membuat dirinya tertawa kembali.
Tawanya seakan ikut pergi bersamaan dengan dirinya yang pergi dari hidup Tristan.
“Maafin Adira, Pa. Nanti Adira kirim alamat tempat tinggal Adira yang sekarang. Tapi Papa harus janji jangan kasih tahu siapa-siapa termasuk kak Tristan,” ucap Adira dari seberang sana. Suaranya terdengar melirih saat mengucapkan nama seseorang yang masih menjadi suaminya itu.
Pak Irawan menghela nafasnya dengan kasar sebelum menjawab perkataan Adira.
“Ra ... Saran papa, kalau ada masalah sebaiknya segera di selesaikan. Jangan biarkan sampai berlarut-larut karena itu nggak akan baik,” ucap pak Irawan menasihati.
Adira terdiam sejenak dan tidak menanggapi ucapan papanya itu.
“Adira ....” panggil pak Irawan karena Adira malah diam dan tidak menanggapi.
“Adira masih di sini, Pa. Untuk sekarang, Adira ingin menenangkan hati sama pikiran dulu. Setelah itu, Adira bakal selesaikan semua masalah yang ada,”
Setelah mengucapkan itu, Adira meminta izin untuk menutup telepon karena merasa tidak enak dengan tetangganya bila terlalu lama meminjam.
Pak Irawan menyetujui dan menyuruh Adira untuk segera mengirim alamat tempat tinggalnya yang sekarang.
Setelah alamat di kirimkan, pak Irawan bergegas merapikan meja kerjanya. Dia akan segera pulang menemui istrinya dan akan memberitahukan di mana keberadaan Adira yang sekarang.
Pak Irawan merasa tidak tega bila melihat istrinya yang susah sekali disuruh makan hingga membuat tubuhnya kurus.
........
Setelah telepon terputus, Adira segera mengembalikan ponsel yang dia pinjam. Kemudian dia memberikan sedikit uang sebagai ganti untuk membeli pulsa.
Adira sengaja meminjam ponsel untuk menghubungi nomor papanya yang tentunya sudah Adira hafal di luar kepala.
Adira sudah menjual ponselnya sendiri agar keberadaanya tidak bisa dilacak oleh Tristan.
Membicarakan soal Tristan, Adira jelas sangat merindukan seseorang yang masih resmi menjadi suaminya itu.
Hatinya tidak pernah bisa dibohongi bila Adira masih sangat mencintai Tristan dan berharap Tristan ada di sampingnya saat ini.
Apalagi usia kandungannya yang sudah menginjak delapan bulan dan tinggal menunggu beberapa minggu lagi, Adira akan melahirkan.
Hati kecilnya mengatakan ingin ditemani oleh sang suami tercinta, namun harga dirinya mengatakan jangan dulu.
“Apakah kak Tristan juga menderita seperti aku? Apa kabar kak Tristan sekarang ini?” Monolog Adira pada dirinya sendiri.
“Apa kak Tristan juga sama terpuruknya seperti aku?”
“Apakah kak Tristan juga merindukan aku?”
Masih banyak lagi pertanyaan di benak Adira menyangkut Tristan.
Walau sudah di bohongi dan di khianati, rasa cintanya sama sekali tidak berkurang dan malah semakin bertambah besar karena rindu yang semakin menggunung.
Adira pikir, setelah pergi dan menjauh dari suaminya itu, hidupnya akan baik-baik saja.
Namun Adira salah, hidupnya tidak baik-baik saja setelah memutuskan pergi.
Adira segera menguasai dirinya kembali agar tidak menangis di luar rumahnya.
Dia menggercap-gercapkan matanya agar air matanya tidak luruh karena sejak tadi Adira sudah berkaca-kaca bila mengingat tentang suaminya.
Setelah itu, Adira kembali masuk ke dalam rumah yang selama tiga bulan ini dia tempati.
Adira sekarang ini tinggal di rumah yang dulu menjadi rumah masa kecilnya. Tepatnya berada di kota Solo.
Dulu, keluarganya memang tinggal di kota Solo untuk mencari peruntungan di sana.
Namun, usaha yang dibangun di Solo tidak sejaya seperti usaha yang di bangun di Jakarta.
Karena merasa Jakarta tempat yang tepat untuk mengembangkan usaha, akhirnya keluarga Adira pindah ke Jakarta dan menetap di sana.
Di Solo, dulu mereka tinggal di rumah sederhana yang lumayan dekat dengan kota.
Suasana alam di sana masih sangat asri dan udaranya masih sangat segar.
Itulah mengapa, Adira memilih mengasingkan diri ke tempat ini.
Hamparan sawah hijau yang terbentang di sepanjang jalan menciptakan suasana sejuk bagi siapa saja yang memandang.
Adira semakin betah berlama-lama tinggal di sini yang jauh dari hiruk pikuk dunia.
Di sinilah Adira menemukan ketenangan untuk hati dan jiwanya.
Tempat ternyaman sementara yang akan menjadi tempat menenangkan dirinya.
Karena tempat ternyaman yang sebenarnya adalah berada di pelukan suaminya.
Bagi Adira, Tristan adalah rumah yang sebenar-benarnya rumah.
Entah, apakah Tristan menganggap dirinya sebagai rumah yang sebenar-benarnya rumah atau bukan.
Cinta yang ku beri ...
setulus hatiku ...
entah yang ku terima ...
aku tak peduli ...
aku tak peduli ...
begitulah penggalan lagu yang mewakili perasaan Adira saat ini.
Adira sangat berterima kasih dengan Ebiet G Ade yang telah menciptakan lagu seindah itu.
Lagu yang sanggup menyuarakan isi hatinya.