Treat You Better

Treat You Better
118. Pergi lagi.



 


Setengah jam kemudian, akhirnya bu Siska sudah sadarkan diri. Pak Hendra tidak pernah beranjak dari duduknya untuk menunggu istrinya sadar.


Bu Siska diam beberapa saat untuk mengingat kejadian yang baru saja dia alami.


Kepalanya terasa pusing dan perutnya terasa mual sekali.


Karena belum juga mengingat apa yang terjadi kepada dirinya, bu Siska akhirnya memilih bertanya kepada suaminya.


“Mama kenapa ya, Pa? Kok pusing sama mual begini?” tanya bu Siska sambil meringis menahan sakit di bagian perutnya.


Pak Hendra menatap istrinya itu dengan tatapan sendu sebelum menjawab pertanyaan bu Siska.


“Mama tadi pingsan dan mengalami sakit mag,” jawab pak Hendra lembut sambil menatap istrinya itu.


Seketika bu Siska mengingat hal yang membuatnya sampai pingsan. Tangisnya kembali pecah saat nama Doni terlintas di pikirannya.


“Doni di mana sekarang, Pa?” tanya bu Siska masih dengan tangis pilunya.


“Ikhlas, Ma ... Ikhlas. Mungkin Allah lebih sayang sama Doni dan nggak mau Doni merasa sakit lagi,” jawab pak Hendra lembut untuk menenangkan Bu Siska.


Pak Hendra segera membawa istrinya itu ke dalam pelukannya. Bu Siska langsung membalas pelukan suaminya itu dan membenamkan wajahnya di dada bidang milik pak Hendra.


Bu Siska menumpahkan semua air matanya di sana. Air matanya seakan tidak pernah ada habisnya untuk keluar.


Setelah tangisannya reda, Bu Siska merenggangkan pelukan dan menatap suaminya itu dengan mata sembabnya.


Dia teringat dengan Amanda yang masih setia dalam tidur panjangnya.


“Aku mau lihat Amanda sekarang juga, Pa,” ucap bu Siska memohon.


“Mama kan belum sehat sepenuhnya. Mama harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran,” jawab pak Hendra melarang dengan cara halus.


“Pokoknya Mama mau lihat Amanda, Pa. Nggak tahu kenapa, firasat Mama nggak baik kali ini,” ucap bu Siska lagi dengan nada khawatirnya.


Pak Hendra menatap bu Siska sebentar untuk mencerna ucapan istrinya itu.


Akhirnya dengan terpaksa, pak Hendra mengizinkan bu Siska untuk ke ruangan Amanda.


“Ayo, papa anterin kalau begitu,” ucap pak Hendra kemudian.


Bu Siska tersenyum tipis dan segera bangkit dari tidurnya. Saat kakinya akan menapak di lantai untuk berdiri, pak Hendra sudah melarangnya terlebih dahulu dan menyarankan dirinya menggunakan kursi roda.


“Nggak usah, Pa. Mama nggak apa-apa, cuma mag biasa doang dan masih bisa jalan,” ucap bu Siska menolak dengan halus.


Karena merasa perdebatannya tidak akan ada habisnya, pak Hendra memilih menuruti keinginan istrinya saja.


Kemudian, keduanya berjalan dengan pak Hendra yang merangkul bahu bu Siska untuk memapahnya.


Setelah sampai di depan ruangan, keduanya sama-sama kebingungan ketika mendapati Vian dan Azka sedang terduduk lesu di kursi tunggu. Sedangkan pintu ruangan Amanda ditutup begitu rapat.


“Apa terjadi sesuatu dengan Amanda, Ka?” tanya pak Hendra khawatir.


Bu Siska mengangguk, pertanyaan yang ada dalam benaknya sudah terwakilkan oleh suaminya.


Azka dan Vian mendongak bersamaan saat mendengar suara pak Hendra berada di sekitarnya.


Azka dan Vian hanya bisa saling pandang karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut pak Hendra.


“Jawab, Ka! Apa terjadi sesuatu pada Amanda?” tanya bu Siska tidak sabaran dan nada bicaranya terdengar khawatir juga ketakutan.


“Saat ada suster yang memeriksa keadaan Amanda, Amanda mengalami kejang-kejang dan sekarang sedang di periksa oleh dokter,” jawab Vian menjelaskan kronologi kejadian.


Bu Siska langsung menutup mulutnya tidak percaya. Dia kembali menangis karena merasa tidak sanggup menerima cobaan bertubi-tubi.


Tidak berselang lama, pintu terbuka dan menampakkan dokter yang menangani Amanda.


Mereka berempat langsung berlari ke arah dokter untuk menanyakan keadaan Amanda yang sekarang.


“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya bu Siska dengan suara paraunya.


Kaki pak Hendra seakan sudah tidak menapak lagi di lantai karena mendengar ucapan sang dokter.


Azka dan Vian juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya karena Amanda tak kunjung membaik setelah dua hari dirawat.


Bu Siska sudah terduduk lemas di bangku karena merasa tidak sanggup lagi menerima kenyataan hidup yang menimpanya.


“Lakukan apapun itu supaya anak saya bisa diselamatkan, Dok. Masalah biaya, berapapun itu akan saya bayar,” ucap pak Hendra tegas.


Dokter mengangguk dan meminta izin untuk kembali menangani Amanda.


Setelah pintu tertutup kembali dari dalam, pak Hendra hanya bisa melihat putri kesayangannya itu dari balik kaca pintu.


Pak Hendra bisa melihat sang dokter sedang menggosokkan dua alat yang mirip setrika ke dada Amanda.


Namun sudah berulang kali dokter berusaha, detak jantung Amanda belum juga kembali.


Pak Hendra menangis melihat putri kesayangannya itu.


Dia seakan tidak sanggup melihat Amanda sedang berjuang dalam hidupnya. Namun rasa ingin melihat Amanda begitu besar.


Pak Hendra bisa melihat wajah para tenaga medis yang ada di dalam sudah terlihat putus asa.


Pak Hendra juga melihat sang dokter meletakkan alat medisnya kembali.


Saat pak Hendra menatap layar monitor yang digunakan untuk memantau keadaan pasien koma atau kritis, seketika itu juga pak Hendra langsung terduduk lemas di lantai.


Vian dan Azka langsung menghampiri pak Hendra. Mereka jelas tahu apa yang telah terjadi di dalam sana. Namun jika boleh bernegosiasi, Azka dan Vian tidak ingin mendengar kabar buruk itu dari sang dokter.


“Kenapa, Pa? Amanda juga ninggalin kita semua?” tanya bu Siska lirih dan begitu terluka.


Belum sempat pak Hendra menjawab, dokter keluar dari ruangan dengan wajah murungnya.


Bu Siskalah yang paling semangat menghampiri sang dokter untuk menanyakan keadaan anaknya.


“Anak saya selamat kan, Dok?” Pertanyaan bu Siska yang tidak mungkin dijawab ‘iya’ oleh dokter.


Bu Siska sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi, namun dia berusaha untuk menyangkalnya.


“Maafkan kami, Bu. Anak ibu tidak bisa di selamatkan lagi. Sekali lagi, kami dari pihak rumah sakit memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami juga turut berduka cita atas meninggalnya anak dan menantu, Ibu,” ucap sang dokter yang begitu memahami perasaan seorang ibu yang kehilangan anak dan menantunya secara bersamaan.


Kali ini Bu Siska tidak pingsan lagi, namun tatapannya berubah menjadi kosong.


Setelah dokter pamit pergi, Bu Siska segera masuk ke dalam ruangan untuk memeriksanya sendiri apakah anaknya sudah benar-benar tiada.


“Amanda bangun! Ini Mama, Sayang,” ucap bu Siska sambil menggoyangkan tubuh Amanda yang sudah terbujur kaku karena nyawa telah meninggalkan raganya.


Azka dan Vian ingin membiarkan Bu Siska mengeluarkan semua unek-uneknya terlebih dahulu.


Dengan masih menangis, Bu Siska membelai lembut wajah Amanda yang terlihat damai dan seperti orang yang sedang tertidur.


Amanda sama sekali tidak terlihat seperti mayat.


“Kamu tahu, Man? Echa tuh selalu nanyain kapan kamu pulang. Echa baru ditinggal dua hari sama kamu tuh udah kangen banget. Kalau kamu pergi untuk selamanya, terus kangen Echa bakal sebanyak apa coba?” ucap Bu Siska tertawa kecil sambil menyeka air matanya.


“Ayo bangun Amanda! Bangun! Jangan tinggalin Mama ... Amanda!” teriak Bu Siska terdengar pilu.


Azka dan Vian tidak sanggup melihat pemandangan yang ada di depannya. Sampai-sampai mereka selalu berusaha menghalau air matanya.


Karena merasa tidak tega, Azka akhirnya mendekati Bu Siska dan berkata.


“Tante udah ya, Tan. Kasihan Amanda kalau kelamaan di makamkan. Aku percaya kalau Amanda sama Doni adalah cinta sejati yang sesungguhnya. Mereka ingin pergi menemui Tuhannya bersama-sama, Allah lebih sayang sama mereka,” ucap Azka menenangkan.


“Tapi kenapa harus secepat ini?” tanya bu Siska masih berusaha menyangkal keadaan.


“Tidak ada yang tahu kapan maut akan datang, Tan. Cepat atau lambat, jika sudah waktunya berpulang, Allah akan mencabut nyawa kita juga,” ucap Azka puitis.


“Mama udah ya. Kita harus urus jenazah Doni dan Amanda sesegera mungkin,” ucap pak Hendra yang sudah berhasil menguasai dirinya kembali.


Tanpa di duga, bu Siska ambruk lagi tepat di pelukan Azka. Pak Hendra segera membawa istrinya itu ke dalam gendongannya.