
“Kamu cantik banget Ra” ucap Tristan menatap Adira tak berkedip.
Adira terlihat begitu anggun dan menawan menggunakan kebaya dan riasan sederhana.
Kebaya yang dibuat seperti sangat pas ditubuh Adira hingga menampakkan lekuk tubuh Adira yang sempurna.
Adira hanya tersenyum malu-malu mendapat pujian sekaligus tatapan memuja dari Tristan.
“Jadi nggak sabar buat ke KUA” ucap Tristan lagi masih terpana dan terpesona.
“Udah dong kak. Aku malu tau.. kapan nih jalannya. Bisa telat nanti Lo” ucap Adira memperingati dan untuk mengalihkan tatapan Tristan yang membuatnya salah tingkah.
“Hehe. Oke kita berangkat sekarang” ucap Tristan segera sadar dari ke kagumannya.
Mereka akan pergi ke kampus untuk wisuda Adira. Tristan meminta kepada orangtua Adira agar Tristan saja yang mengantar Adira.
Sebenarnya Adira bisa saja berangkat bersama kedua orangtuanya, namun karena Tristan memaksa, akhirnya Adira hanya bisa menurut.
Tristan melirik lagi ke arah Adira sambil fokus menyetir.
Bibir Adira yang memakai lipstik membuat Tristan ingin menyesap dan merasai bibir candu itu.
Tapi jika Tristan melakukannya, yang ada Adira akan marah karena ini hari pentingnya.
Tristan menggeleng-nggelengkan kepalanya. Dia tersenyum bodoh atas pikirannya sendiri.
Adira yang sadar itu pun bertanya
“kakak kenapa?” tanya Adira penasaran.
“lagi bayangin kalo aku cium bibir kamu terus lipstik kamu luntur..” ucap Tristan dengan polosnya.
“Oohhh... Punya niat jahat ternyata ya. Nggak bakal aku bolehin ya. Tolong.. kali ini aja jangan rusak riasan aku yang udah di buat selama ber jam-jam” ucap Adira dengan wajah menahan kesal.
Tristan terkekeh melihat wajah cemberut Adira yang justru malah terlihat sangat menggemaskan.
“kalo kamu cemberut tuh tambah gemesin dan itu buat aku pengen cium kamu. Jadi jangan cemberut biar aku nggak cium kamu” ucap Tristan tersenyum smirk.
“Isssh... Nyebelin banget sih. Ya udah aku senyum nih” ucap Adira menampakkan senyum lebarnya menunjukkan deretan gigi putihnya.
“hahahaha” Tristan tergelak dengan tingkah Adira.
Berdekatan dengan Adira mungkin bisa membuat Tristan lebih awet muda. Karena setiap kali bersama Adira, Tristan tidak pernah bisa berhenti tersenyum dan tertawa karena tingkah Adira.
Akhirnya mobil yang di kendarai Tristan sampai di kampus tempat Adira menimba ilmu selama tiga setengah tahun.
Tristan memarkirkan mobilnya lalu berniat turun dan membukakan pintu untuk Adira, namun Adira sudah turun duluan.
“Padahal tadi aku mau bukain loh” ucap tristan pada Adira.
“nggak usah. Kaya tuan putri aja pake dibukain segala. Kan aku bisa sendiri kak” ucap Adira sambil terkekeh.
“Kamu emang tuan putri di hati aku” ucap Tristan gombal namun benar adanya.
“Mulai deh .. yuk kita masuk lah. Papa sama Mama pasti udah nungguin. Amanda juga pasti” ucap Adira sambil menggandeng lengan Tristan.
Mereka akhirnya bergandengan memasuki area dimana wisuda diadakan.
Setelah sampai, mereka langsung tahu keberadaan orangtua Adira, Amanda dan orangtua Tristan juga.
Tidak sulit menemukan mereka, karena mereka pasti akan bergabung dan duduk bersama.
“Hay om.. Tante “ sapa Adira kepada pak Hendra dan Bu Siska sambil menyalami kedua orang tersebut.
“Waaah.. kamu cantik banget Ra. Duuuh pip pip pip calon mantu...” ucap Bu Siska dengan banyolannya.
Semua tergelak dengan tingkah Bu Siska. Sedangkan Adira, wajahnya sudah merah merona.
“Bisa aja Tante hehehe” jawab Adira dengan senyum manisnya.
“Mama tuh ya.. nggak boleh kebanyakan main tik tok kayanya” ucap Tristan sambil menyalami kedua orangtua Adira.
“Nggak papa lah Tris. Kan biar mama kamu jadi mama gaul” ucap Bu Dewi membela.
“Bener kamu Dewi. Masa Cuma anak muda yang boleh main tik tok. Kita yang ibu-ibu juga bisa gaul kali” sahut Bu Siska lagi.
“hahahaha.” Semua tergelak dengan tingkah dua ibu itu.
Memang jika Bu Dewi dan Bu Siska sudah bersama, selalu ada saja tingkah lucu yang mereka lontarkan.
“Eh man, Lidya sama Kinara belum Dateng ya?” tanya Adira dan langsung mendudukan dirinya di sebelah Amanda.
“Belum Ra. Mungkin bentar lagi nyampe. Eh gila... “ ucap Amanda sengaja di potong.
“gila kenapa sih?” tanya Adira tak tahu menahu.
“lo cantik banget pake make up. Biasanya kan Lo Cuma pake bedak tipis sama lip tint doang. Nggak nyangka gue kalo Lo bakal cantik gini”. ucap Amanda memuji karena merasa terpukau dengan penampilan Adira.
“Nggak usah lebay deh. Lo juga nggak kalah cantik kok” ucap Adira sambil tersenyum.
“Beneran Ra. Pantes bang Tristan cinta mati sama Lo. Tapi terlepas dari itu semua, good attitude Lo yang bikin orangtua gue sama bang Tristan suka sama Lo” ucap Amanda memuji lagi.
“Aah.. Lo mah bisa aja bikin gue terbang ke langit ketujuh. Nge fly gue di puji gitu sama Lo” jawab Adira terkekeh.
“Terbang aja. Kita terbang bareng-bareng kalo gitu” ucap Amanda asal.
Adira menghembuskan nafas nya.
Amanda tuh kadang emang absurd banget.
“Lagi ngomongin aku ya..” ucap Tristan dengan percaya dirinya. Dia memilih duduk disebelah Adira setelah sebelumnya pamit ijin kepada para orangtua.
“Siapa bilang. Nggak ada yang ngomongin Abang” ucap Amanda ketus.
“Ya udah sih. Kenapa mesti sewot” jawab Tristan santai.
Sebenarnya Amanda kesal bukan karena ucapan Tristan. Melainkan karena jika Adira dan Tristan sudah bersama, maka dirinya hanya akan menjadi patung Pancoran.
Tak di anggap.
Dan sudah pasti, Adira akan di akuisisi oleh abangnya itu.
“Ngapain sih bang. Ganggu aja. Kita tuh lagi talk girls. Jadi karena Abang tuh laki-laki nggak boleh gabung” ucap Amanda mencoba mencari alasan.
“Ya udah tinggal bicara aja. Aku bakalan diem karena aku bukan girl”. Ucap Tristan santai.
Adira terkekeh melihat perdebatan adik dan kakak itu.
Memang ya, tidak ada adik dan kakak yang akur jika bersama, namun akan rindu jika berjauhan.
Huuuft... Adira kadang juga ingin punya saudara. Namun apalah daya dia yang hanya anak tunggal.
Tapi Adira tetap bersyukur. Sebutan saudara tidak hanya untuk saudara sedarah saja bukan?. Bukankah Amanda juga bisa menjadi saudaranya?
Begitu juga dengan Lidya dan Kinara, mereka juga bisa menjadi teman sekaligus saudara untuk dirinya.
“Udaah jangan berantem terus lah. Sesekali akur gitu” ucap Adira menengahi.
Keduanya pun menurut dan memilih diam.
Saat acara akan dimulai, Kinara dan Lidya akhirnya menampakkan batang hidungnya .
“Kalian habis kemana aja sih?” tanya Adira pada Kinara dan Lidya.
“Habis ngobrol dong sama mas pacar” jawab Kinara jujur.
Ya, Vian dan Azka juga datang ke acara wisuda kekasihnya. Tidak berbeda jauh dengan Tristan.
“Eh.. udang Dateng Lo ternyata.” Ucap Azka sambil bersalaman ala cowok dengan Tristan.
“Udah dong. Gue harus paling duluan” ucap Tristan tersenyum bangga.
“Mau duluan atau nggak, kalau belum jamnya mulai acara ya tetep belum mulai” ucap Vian meledek.
“Kan gue ke acara ini karena Adira sama Amanda. Jadi gue bakal jadi yang terdepan buat mereka” ucap Tristan mencari alasan.
Amanda yang namanya disebut hanya bisa memutar bola matanya malas. Apa tadi? Yang terdepan? Buat gue? Dari tadi aja abangnya nempel sama Adira terus.
Selalu saja Amanda yang jadi alibi. Ck.
“Jangan bilang Lo khawatir nggak dapat kotak nasi hahaha” ucap Azka meledek.
“Apaan sih. Emangnya kaya Lo dulu. Palingan juga Lo yang khawatir nggak dapet haha” jawab Tristan dengan ledekan tentunya.
Azka mencebikkan bibirnya kesal.
Mereka tergelak bersama menanggapi. Tak terkecuali Lidya.