Treat You Better

Treat You Better
The Engagement.



Hari pertunangan Tristan dan Adira akhirnya tiba.


Semua keluarga sudah berkumpul di rumah Adira.


Tak terkecuali keluarga Tristan.


Kakek Tristan juga hadir dalam acara tersebut.


Tidakk ada keluarga lain lagi. Hanya tinggal kakek dari keluarga papa Tristan.


Sedangkan dari keluarga mama, mereka sudah meninggal.


Kedua orangtua Tristan juga sama-sama anak tunggal.


Semua sudah berkumpul di area pesta.


Semua teman Tristan dan Adira hadir dalam acara pertunangan itu.


Doni, Azka, Lidya, dan Kinara.


Amanda jelas hadir. Wong acara abangnya sendiri.


Jangan lupakan Vian pacar Kinara. Dia juga ikut hadir.


Saat acara akan dimulai, Adira terlihat menuruni tangga di iringi oleh Lidya, Kinara, dan Amanda di belakangnya.


Tristan yang sedang asik mengobrol bersama teman-temannya sontak mengalihkan pandangannya menatap Adira.


Tristan benar-benar terpukau dan terpesona.


Adira sangat cantik dengan gaun berwarna putih tulang.



Rambut Adira di sanggul cantik sehingga menampakkan leher jenjangnya.


Tristan tidak bisa berkedip.


Adira terlihat berbeda dari biasanya.


Bisa memiliki Adira, Tristan seperti menemukan berlian yang belum dipoles.


Adira biasanya tampil sederhana dengan riasan tipis, jadi saat dia di dandani Adira jadi terlihat manglingi.


Saat Adira telah sampai di tempat Tristan berdiri, Tristan masih saja terpesona.


“kak...!” panggil Adira membangunkan lamunan Tristan.


Tristan masih saja menatap Adira penuh ke kaguman.


Adira jadi salah tingkah sendiri ditatap seperti itu.


“Woy!!! Sadar!! Adira udah di depan Lo hahah” ucap Azka menyentak Tristan.


Tristan tersadar dan mengsgruk tengkuknya yang tidak gatal .


“Kamu cantik banget Ra... Boleh cium nggak?” ucap Tristan frontal.


Hal itu langsung mendapat sorakan dari para teman-temannya.


Karena Tristan mengatakkanya dengan jelas.


“Sabar woi.. bentar lagi halal!” pekik Doni yang sudah tidak tahan di dekat para orang pacaran sejak tadi.


“Entar deh Tris. Yang ada nanti acaranya kacau karena kalian menghilang hahaha” goda Azka yang berhasil membuat semuanya tertawa.


“selamat malam semuanya... “ sapa MC yang menginterupsi.


“Sepertinya aura kebahagiaan mengisi seluruh ruangan ini ya...(terkekeh). Kalau dilihat-lihat.. yang paling bahagia tuh orang di sebelah sana..” menunjuk Adira dan Tristan yang berdiri berdampingan.


Sontak semua menatap ke arah mereka.


Adira jadi malu menjadi pusat perhatian. Sedangkan Tristan... Dia dengan percaya dirinya memasang senyum manisnya.


“Langsung saja kita ke inti acara.. ayo silahkan Nona Adira dan tuan Tristan naik ke atas panggung untuk sesi tukar cincin...” ucap MC mempersilahkan keduanya naik.


Menurut..


Keduanya naik ke panggung dan berjalan beriringan.


Para tamu undangan berbisik-bisik dengan ketampanan dan kecantikan keduanya.


“Wow... Ini sih bibit unggul ya” ucap salah satu tamu.


“Bener.. ya cowok ganteng yang cewek cantik” sahut tamu disebelahnya.


“Benar-benar pasangan serasi..”


Dan masih banyak lagi bisik-bisik para tamu undangan yang masih bisa Adira dengar samar-samar.


Adira hanya tersenyum sepanjang berjan menuju panggung.


Setelah sampai...


Keduanya melakukan sesi tukar cincin. Dimulai dari Tristan dulu. Setelah berhasil, Adira balas memakaikan cincin untuk Tristan.


Tepuk tangan menggema diruangan setelah cincin berhasil di sematkan di jari manis keduanya.


Setelah itu MC mempersilahkan para tamu undangan untuk menikmati hidangan.


Tidak banyak tamu yang hadir.


Hanya sekitar tiga puluhan orang sudah termasuk keluarga dan teman Adira juga Tristan.


Memang sengaja tidak banyak mengundang tamu, mereka akan mengundang lebih banyak tamu ketika acara pernikahan saja.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat dan acara selesai.


Para tamu juga sudah pulang. Tinggal keluarga Tristan dan para teman-temannya.


“Bentar lagi setelah ini, status Lo bakal beda Ra” ucap Lidya sambil memeluk Adira.


“Iya dong. Jadi nyonya Tristan hahaha” ucap Adira bangga.


Semua ikut tertawa.


Sedangkan Tristan dia tersenyum malu.


Para anak mudah berkumpul di ruang tv, sedangkan para orangtua mereka berada di teras belakang.


“Yah... Bentar lagi Tristan ada teman tidur dong” ucap Vian menggoda.


“Lo kira Cuma temen tidur. Otak Lo emang nggak pernah jauh-jauh dari kasur” ucap Doni yang otaknya sedang dalam mode normal.


“Sok suci Lo bang. Kaya gue nggak tau otak Lo traveling kemana aja dengar kata tidur “ ucap Amanda ketus.


“Kenapa jadi Lo yang sewot??” tanya Kinara heran. Lidya juga mengangguk menyetujui.


“Iya juga ya hehe” jawab Amanda kikuk.


“Tapi benaran enak deh. Bentar lagi Tristan bakal main bola di atas ranjang” ucap Azka terkekeh.


“Yaaah.. otak lelaki tuh emang isinya Cuma begituan” ucap Lidya juga ketus.


“Cuma Vian yang masih normal” bela Kinara kepada Vian.


“mana ada. Dia juga sama kali kaya kita. Ya nggak Vian?” tanya Doni memastikan.


“iya dong” jawab Vian jumawa.


Saat semua sedang asyik berdebat, Tristan menarik tangan Adira untuk meninggalkan mereka semua.


Mereka tidak menyadari kepergian Tristan dan Adira karena saking asyiknya berdebat.


Dia sudah tidak tahan ingin segera mencicipi bibir ranum Adira yang dipoles lipstik dan menggoda imannya.


Setelah sampai di tempat yang aman, yaitu di kamar tamu, Tristan langsung menyandarkan Adira di dinding.


Tangannya mengunci tubuh Adira.


“kakak ngapain sih bawa aku kesini. Nggak enak tau sama yang lainnya” ucap Adira menatap Tristan kesal.


Tristan tidak menjawab. Dia langsung meraup dengan rakus bibir Adira yang sedang menggerucut itu.


Adira kaget. Namun sedetik kemudian Adira membalas ciuman Tristan.


Mereka saling menyesap satu sama lain.


Lidah mereka juga sudah saling membelit satu sama lain.


Saat dirasa oksigen sudah mulai menipis, Tristan melepaskan ciuman itu.


Keduanya terengah-engah.


Tatapan mereka bertemu.


Tristan tersenyum dan mengusap lembut bibir Adira yang basah karena Saliva.


“Manis...” ucap Tristan lembut.


Adira sudah merona dibuatnya.


Dia sudah tidak bisa berkata-kata. Tristan masih saja membuatnya merasa malu-malu embek.


Tristan yang melihat Adira tersenyum sambil menunduk mengangkat dagu Adira lembut.


dia mengecup sekilas bibir Adira lagi.


dia tidak akan kuat jika hanya menatap bibir ranum itu tanpa mencicipinya.


"kamu benar-benar cantik. aku jadi pengen makan kamu" ucap Tristan sensual.


Adira langsung menyentil hidung Tristan


"mulai deh mesumnya. tahan dulu kenapa... bentar lagi kakak bebas mau ngapain aja" ucap Adira sedikit kesal.


beneran nih bebas ngapain aja?" tanya Tristan berbinar.


"iya. kan kita udah halal. jadi katanya lebih nikmat kalau udah halal" jawab Adira polos.


"oooooh... jadi lebih nikmat ya? kata siapa?" tanya Tristan tersenyum menyelidik.


"kata Tante Siska... " sontak Adira menutup mulutnya yang kelewat lancang.


"oooh... jadi mama yang ajarin kamu ya" ucap Tristan tersenyum licik.


"emang kenapa? kan ada benarnya juga" jawab Adira tak mau kalah.


Tristan hanya tersenyum...


dia menatap Adira lekat. tanpa ba bi Bu Tristan menyambar bibir Adira lagi.


keduanya larut dalam ciuman yang entah kapan akan berakhir.


.


.


.


.


.


.


.


jangan lupa like dan comment nya. biar aku makin semangat nulisnya hehe.