
Tristan dan Adira akhirnya sampai di kediaman keluarga Wijaya.
Mereka berjalan beriringan memasuki rumah.
“Eeeh ... Tristan sama Adira akhirnya datang juga,” ucap bu Siska saat melihat anak dan menantunya itu datang dengan bergandengan tangan.
“Iya, Ma. Kita datang nih,” jawab Adira sambil tersenyum manis.
“Udah kangen ya, sama kita?” tanya Tristan kepada bu Siska.
“Kangen dong. Kan dua minggu ini Kita nggak ketemu,” jawab bu Siska, lalu berhambur memeluk Adira dengan sayang.
Saat pelukan keduanya terurai, bu Siska menatap wajah menantunya itu.
Saat bu Siska menemukan ada raut kesedihan disana, bu Siska langsung bertanya.
“Are you okey?” tanya bu Siska memastikan.
Adira mengangguk dan tersenyum tipis.
Walaupun Adira sudah menyembunyikan perasaan sedihnya sebaik mungkin, ibu mertua dan ibu kandungnya tidak pernah bisa di bohongi.
“Adira nangis lagi, Ma,” bisik Tristan sambil memeluk ibunya dari samping.
Bu Siska menghela nafasnya kasar dan matanya menatap Adira lembut.
“Nangis karena biasa lagi? Kamu ya ... Mama kan udah bilang, jangan terlalu dipikirin. Kamu tuh harus bahagia, jangan sampai stress. Kamu tau kan, kalau kamu sampai terlalu stres?” omel bu Siska panjang lebar.
“Tuh dengerin ... Udah kena omel mama aja, baru tuh nurut,” ucap Tristan meledek.
Adira melotot ke arah Tristan.
Lalu Adira tersenyum sendu mendengar celotehan ibu mertuanya.
Adira tahu, ibu mertuanya sangat menyayanginya, sehingga dia akan marah bila Adira sampai stres dan berujung pada kumatnya asam lambung.
“Di bilangin malah senyum-senyum kamu ya,” ucap bu Dewi lagi seperti mengomel.
Adira dan Tristan tergelak bersamaan.
“Iya Mama sayang ... Adira akan berusaha untuk tidak stres,” jawab Adira sambil memegang kedua tangan ibu mertuanya itu.
“Ya udah ayo, kita ke dalam ya. Echa udah nungguin tuh,” ucap bu Siska lagi, lalu bu Siska menggandeng tangan Adira untuk mengikutinya.
“Echa udah datang, Ma? Kenapa nggak bilang dari tadi sih ... Aku kan udah kangen banget,” ucap Adira berbinar, dia segera berlari menuju ke tempat dimana Echa berada.
Tristan dan mamanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Adira.
Saat sudah sampai di ruang keluarga, yang sudah di sulap menjadi ruang bermain anak, Adira semakin tersenyum lebar ketika melihat Echa, ponakannya sedang bermain mandi bola.
“Echa!” panggil Adira girang.
Echa yang merasa namanya di panggil langsung menoleh dan melihat Ontynya sudah berdiri tidak jauh darinya.
Echa tersenyum lucu dan langsung berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Adira.
Jalannya pun masih belum lancar, karena usianya baru satu setengah tahun.
Saat sudah sampai di depan Adira, Echa merengek minta di gendong sambil kedua tangannya di angkat ke atas.
Adira langsung menggendong dan mencium pipi Echa dengan gemas.
“Aduh, kamu lucu banget sih. Ini nih ... Yang bikin Onty kangen terus sama kamu,” ucap Adira sambil mencubit pelan pipi gembul Echa yang seperti akan jatuh dari tempatnya.
Echa yang belum fasih berbicara, hanya tertawa sangat lucu menanggapi ucapan Adira.
“O–ty, Oty.” ucap Echa sangat lucu karena suaranya yang masih cadel.
“Ooo ... Echa udah bisa manggil Onty nih ... Pinter banget anak mama,” ucap Amanda menginterupsi keduanya.
Dia berjalan mendekat ke arah anak dan kakak iparnya itu.
“Udah dari tadi datangnya, Man?” tanya Adira tersenyum bahagia.
“Udah. Kakak aja yang nggak liat aku dan malah fokus nyari Echa ada dimana,” ucap Amanda sambil menipiskan bibirnya.
“Sorry, soalnya gue kangen banget sama Echa. Gue pinjem anaknya sebentar ya, Bu ... Mau saya ajak main,” ucap Adira, lalu berjalan menuju box yang sudah berisi banyak sekali bola.
Amanda menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
Sedetik kemudian, dia tersenyum sendu saat melihat Adira begitu bahagia bermain bersama anaknya.
Anaknya selalu bisa tertawa lebar saat bersama Ontynya itu.
“Semoga Lo segera di beri momongan ya, Ra.” gumam Amanda sambil menatap Adira dan anaknya bergantian.
Tristan dan bu Siska yang mendengar gumaman Amanda, mereka mengaminkannya bersama.
Pandangan ketiganya memandang Adira dan Echa yang sedang bermain bersama dengan gelak tawa bahagia.
.........
Tristan yang tidak tega melihat Adira yang juga kelelahan, akhirnya dia menawarkan diri untuk bergantian memangku keponakannya itu.
Namun Adira menolak dan tidak masalah bila harus memangku Echa.
“Ya udah, kamu duduk nyender sini,” ucap Tristan sambil menepuk bahunya untuk Adira jadikan sandaran.
Kebetulan, keduanya sudah duduk bersisian di double sofa yang tersedia di ruang keluarga.
Yang lain juga berada disana, namun duduk agak jauhan.
Amanda yang melihat Adira begitu telaten merawat anaknya, dia kembali tersenyum.
“Adira sayang banget kayaknya sama Echa,” ucap Doni ikut tersenyum.
“Banget. Semoga Tuhan segera memberikan Adira anak ya,”
Amanda mendoakan kakak iparnya itu tulus.
Dia juga seorang wanita yang mengerti perasaan wanita lainnya.
Di usia pernikahannya yang sudah dua tahun ini, Adira belum juga diberi momongan.
Itu pasti akan membuat Adira terpuruk. Namun Amanda melihat, Adira itu berbeda.
Dia selalu ingin terlihat baik-baik saja di depan semua. Padahal Amanda tahu, bahwa hati Adira rapuh.
Amanda akhirnya berdiri dan menghampiri dua sejoli itu.
“Sini, Kak. Echa biar aku kelonin di kamar aja. Nanti kamu pegel lagi tangannya,” ucap Amanda terkekeh.
Lalu dia mengulurkan tangannya untuk mengambil alih Echa dari pangkuan Adira.
“Baiklah adik ipar ku sayang ....” jawab Adira yang juga terkekeh.
Beruntung Echa tertidur begitu nyenyak. Sehingga saat di pindahkan, dia hanya menguap lalu tidur lagi.
Adira dan Tristan lagi-lagi dibuat gemas dengan keponakannya itu.
“Nyenyak banget ya tidurnya,” ucap Tristan setelah Amanda pergi dari hadapannya.
“Lucu ya si Echa.” ucap Adira sambil mengelus perutnya.
Tristan yang melihat gerakan tangan Adira, dia langsung memeluknya dan mengecup pelipis Adira.
“Sabar ya. Makanya kamu jangan stres. Kan dokter udah bilang, kalau mau cepet hamil, kondisi psikis kamu harus bahagia,” ucap Tristan merasa tak tega.
“Iya. Mulai sekarang, aku akan berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal yang diluar kendali ku,” ucap Adira, mendongak dan tersenyum menatap suaminya itu.
“Gitu dong. Pasti nggak lama lagi kita bakal di kasih kepercayaan sama Tuhan,”
Setelah mengucapkan itu, Tristan langsung ******* bibir Adira lembut. Bahkan dia menyesapnya atas bawah bergantian.
Adira membalas ciuman Tristan tak kalah lembut.
Namun sayang, adegan keduanya terhenti karena suara seseorang yang menginterupsi.
“Woy! Di sini masih ada orang!” pekik Doni menginterupsi kedua manusia itu.
Tristan berdecak sebal, Adira terkekeh di buatnya.
“Ganggu aja Lo. Dasar adik sialan.” umpat Tristan kesal.
“Bukan salah Gue lah. Kalian aja yang nggak tau tempat,” jawab Doni tidak terima di salahkan.
Kemudian, Doni duduk di sofa yang bersebrangan dengan keduanya.
Setelah itu, hanya ada obrolan soal bisnis diantara Tristan dan Doni.
Adira yang merasa bosan, dia berpamitan ke tempat dimana ibu dan ayah mertuanya berada.
Adira merasa rindu dengan kedua orangtuanya yang sudah satu bulan ini sedang melakukan perjalanan bisnis.
Jadi, untuk mengobati rasa rindunya, dia selalu menemui mama dan papa mertua.
Adira merasa, dia mempunyai papa dan mama kedua.
Dia merasa beruntung memiliki mertua yang sudah selayaknya orangtua kandung baginya.