Treat You Better

Treat You Better
85. Tujuh hari tujuh malam.



Setelah telepon terputus, Adira dan Tristan tersenyum bahagia.


Adira sengaja tidak memberitahukan mamanya tentang permasalahan rumah tangganya.


Biar masalahnya menjadi urusan pribadi antara Tristan dan dirinya.


“Kamu beneran nggak mau pulang ke rumah kita sekarang?” tanya Tristan lagi untuk memastikan.


Adira menghela nafasnya lelah. Lalu dia berkata.


“Nggak dulu, Kak. Aku pengen di sini dulu selama tujuh hari tujuh malam. Entar kalau udah, baru aku pulang,” jawab Adira menjelaskan dengan santai.


Mulut Tristan menganga tak percaya dengan ucapan Adira.


“Tujuh hari tujuh malam? Kaya mau ngapain aja,” gumam Tristan dalam hati.


Wajahnya terlihat pias mendengar permintaan aneh Adira saat hamil.


Apa benar ini yang dinamakan ngidam? Tanya Tristan dalam hati.


“Kenapa wajah Kakak jadi gitu? Nggak suka kalau aku nginep di sini?” tanya Adira dengan wajah sedihnya.


Tristan langsung gelagapan dan segera mencari jawaban yang pas agar Adira tidak tersinggung.


“Nggak kok. Nggak papa kalau mau nginep di sini dulu selama TUJUH HARI TUJUH MALAM,” jawab Tristan yang penuh penekanan di akhir kalimat.


“Naaah gitu dong. Sekarang aku pengen ke rumah mama Siska. Anterin aku ya, Kak,” pinta Adira dengan puppy eyes nya.


Tristan tersenyum dan mengangguk.


Dia tidak mungkin menolak permintaan Adira untuk mengunjungi rumah kedua orang tuanya bukan?


Justru, Tristan sangat senang bila Adira dekat dengan kedua orang tuanya.


“Ayo, kita berangkat sekarang aja. Aku ambil kunci mobil dulu ya,”


Namun, sebelum Tristan mengambil kunci mobilnya, Adira sudah berkata.


“Kok pake mobil, jalan kaki dong. Aku maunya jalan kaki, biar sehat gitu,” ucap Adira sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Tristan menghembuskan nafasnya lelah.


Jalan kaki menuju rumah orang tuanya dari sini membutuhkan waktu dua puluh menit.


Dan bila mereka berjalan, sudah di pastikan dirinya akan sangat kelelahan karena tidak pernah jalan kaki.


“Apa ini bagian dari ngidam juga?” tanya Tristan dalam hati.


Akhirnya Tristan memilih mengalah dan menuruti kemauan Adira untuk berjalan kaki menuju rumah kedua orang tuanya.


Mereka berjalan beriringan keluar dari rumah.


Karena tidak pernah berjalan kaki, Tristan merasa, kakinya seakan mau copot dari persendiannya.


Keringatnya sudah mengucur deras di sekujur tubuhnya.


Apalagi mereka berjalan kaki pada waktu matahari sedang panas-panasnya.


Sedangkan Adira, dia terlihat biasa saja dan tidak terlihat lelah sama sekali.


Wajahnya malah terlihat sangat bahagia. Padahal, keringat sudah mengalir di kedua sisi pelipisnya.


“Huh ... Akhirnya sampai juga,” ucap Tristan menghembuskan nafasnya lega.


Dia duduk bersandar di dinding teras depan rumah orang tuanya.


Dia juga menyelonjorkan kakinya yang urat-uratnya sudah terlihat jelas karena terlalu lelah berjalan selama dua puluh menit.


Adira juga melakukan hal yang sama dan duduk di sebelah Tristan.


Bu Siska yang melihat kedatangan Tristan dan Adira, dia segera berjalan keluar untuk menyapa.


“Kalian ke sini jalan kaki?” tanya bu Siska saat tak mendengar atau melihat mobil Tristan.


“Iya, Adira yang minta buat jalan kaki. Padahal dari rumah mama Dewi kan cukup jauh,” jawab Tristan masih terlihat ngos-ngosan.


Pasalnya tadi agar cepat sampai karena sudah tidak tahan berjalan kaki, Tristan sedikit berlari.


Melihat anak dan menantunya kelelahan, Bu Siska segera mengambilkan air mineral untuk anak dan menantunya.


Setelah itu, bu Siska memberikannya kepada Tristan dan Adira.


Setelah menggumamkan terima kasih, Tristan segera menenggak habis air mineral tersebut.


Bu Siska sampai menganga tak percaya.


Sedangkan melihat Adira, dia terlihat biasa saja dan minum dengan santainya.


Hanya keringat yang mengalir di kedua pelipisnya.


“Kalian beneran jalan kaki dari rumah Dewi? Astaga dragon ... Itu kan lumayan jauh ....” tanya bu Siska tidak habis pikir dengan anak dan menantunya itu.


“Adira ngidam pengen jalan kaki dari rumah mama Dewi ke sini,” beritahu Tristan yang sudah lebih tenang.


“Aku tuh, kaya dapet adrenalin kalo jalan kaki sejauh ini. Kan aku nggak pernah jalan kaki. Dan hasilnya menyenangkan sekali, Ma,” ucap Adira berbinar, seperti telah menemukan penambangan emas.


Sedangkan bu Siska, dia menggercap bingung.


Setelah sadar, Bu Siska menutup mulutnya dengan telapak tangannya saking tak menyangkanya.


“Kamu hamil, Ra?” tanya bu Siska masih dengan keterkejutannya.


Adira mengangguk dan tersenyum.


“Aaa! Sebentar lagi Mama bakal punya cucu!” pekik bu Siska girang.


Bahkan, bu Siska sampai jingkrak-jingkrak layaknya anak kecil seakan lupa akan umurnya yang sudah tidak muda lagi.


Tristan dan Adira tersenyum bahagia melihat kebahagiaan terpancar di wajah ibunya.


“Kalau begitu, sekarang kamu makan yang banyak. Kalian berdua, ikut Mama masuk sekarang,” titah bu Siska sambil memapah Adira layaknya seorang lansia.


“Aku bisa sendiri kok, Ma,” ucap Adira berusaha menolak halus karena di perlakukan terlalu berlebihan.


“Nggak papa. Tri semester pertama tuh harus benar-benar dijaga. Karena masih dalam kondisi rawan,” ucap bu Siska lembut.


Lalu, ketiganya berjalan memasuki rumah dan duduk di meja makan untuk makan siang.


Memang, Adira dan Tristan belum makan siang sejak tadi.


Belum sempat Tristan duduk, ponselnya berdering menandakan ada telepon masuk.


Tristan segera mencari ponsel yang berada di saku celananya dan melihat siapa yang meneleponnya.


“Papa?” gumam Tristan bertanya lirih. Matanya menatap ke arah Adira.


Gumaman ya tentu masih bisa di dengar oleh bu Siska dan Adira.


“Angkat aja, siapa tahu penting,” ucap Adira memberi ijin.


Tristan menurut, dia segera menempelkan benda pipih itu di telinganya.


“Halo, Pa?”


Tristan berucap setelah telepon tersambung.


Kemudian, pak Hendra bersuara yang tentunya hanya bisa di dengar oleh Tristan.


Adira dan bu Siska berusaha mendengarkan dengan harap-harap cemas.


“Iya. Tristan segera ke kantor sekarang juga, Pa,” ucap Tristan lalu menutup panggilannya.


Adira dan bu Siska saling pandang karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Tristan menghembuskan nafasnya lelah sebelum berucap.


“Ada masalah di kantor, dan aku harus segera ke kantor sekarang, Ra. Kamu sama mama dulu nggak papa ya. Ini darurat soalnya,” beritahu Tristan langsung ke intinya.


Adira yang mengerti ekspresi wajah Tristan yang berubah, dia segera mengizinkan suaminya itu untuk pergi ke kantor.


“Iya. Kakak pergi aja nggak papa. Pasti penting banget makanya kakak harus ke kantor sekarang,” jawab Adira pengertian.


Bu Siska hanya mendengarkan pembicaraan anak dan menantunya itu.


Dia juga penasaran apa yang terjadi di kantor hingga Tristan harus ke kantor.


“Ada masalah apa, Tris? Sangat serius?” tanya bu Siska penasaran.


“Ada pegawai yang korupsi dalam jumlah yang besar, Ma. Ini nggak bisa di biarkan karena akan merugikan perusahaan,” jawab Tristan menjelaskan.


Kepala Adira dan bu Siska terlihat magut-magut tanda mengerti.


“Tristan berangkat sekarang aja ya, Ma,” ucap Tristan lagi sambil menarik tangan ibunya untuk dicium punggung tangannya.


Bu Siska mengangguk mengizinkan.


“Aku pergi dulu ya. Kamu baik-baik di sini.” ucap Tristan pada Adira.


Adira mengangguk dan tersenyum untuk memberikan semangat kepada suaminya itu.


“Hati-hati ya. Semoga masalahnya segera terselesaikan,” ucap Adira sebelum Tristan benar-benar berlalu.


Setelah kepergian Tristan, Adira mendadak tidak selera makan.


Dia takut terjadi sesuatu dengan suaminya itu.


“Aku makan buah aja deh, Ma. Perut aku rasanya mual lagi,” ucap Adira yang memang benar adanya.


Perutnya mendadak bergejolak lagi setelah Tristan pergi.


“Ya udah ... Senyamannya kamu aja. Yang penting kamu harus tetap makan,” jawab bu Siska yang memang mengerti perasaan Adira.


Di saat hamil muda seperti itu, pasti Adira ingin selalu bermanja-manja dengan suaminya.


Apalagi Adira berhasil hamil setelah penantiannya selama dua tahun ini.