Treat You Better

Treat You Better
117. Jodoh vs maut



“Sadar Azka. Lo harus sadar, Lo nggak boleh begini,” ucap Vian sambil berusaha menghalau jalan Azka.


Azka langsung memutar bola matanya malas. Kemudian Azka berkata.


“Lo apa-apaan sih. Gue pengen ke kamar jenazah sekarang juga,” ucap Azka sedikit kesal.


“Ngapain ke kamar jenazah. Sadar Ka, sadar ....” ucap Vian berusaha menenangkan.


Azka menghembuskan nafasnya kasar mendengar perkataan Vian yang seakan-akan dirinya akan melakukan hal yang tidak-tidak.


Azka sadar dirinya sejak tadi hanya diam dan melamun. Mungkin itulah sebabnya Vian merasa khawatir akan keadaan dirinya.


“Gue pengen lihat Doni untuk yang terakhir kali, Yan,” ucap Azka lirih dan sambil menunduk lemah.


Vian langsung tersadar bahwa jenazah Doni yang masih berada di kamar mayat harus segera di makamkan.


“Ayo kita barengan ke sananya,” ucap Vian kemudian dan berjalan lebih dulu di depan Azka.


Tanpa menunggu lama, Azka segera menyusul Vian menuju kamar jenazah.


..........


Di kediaman keluarga Wijaya.


 


Tristan langsung mematung di tempat setelah mendengar ucapan Azka dari seberang sana. Isak tangisnya mulai terdengar pilu.


“Kenapa, Kak?” tanya Adira hati-hati.


“Doni udah nggak ada,” jawab Tristan lemah, air mata mulai membasahi kedua pipinya.


Adira langsung menutup mulutnya tidak percaya. Tangisnya langsung pecah seketika.


Kabar meninggalnya Doni sungguh membuat Adira begitu terkejut dan tidak menyangka bahwa Doni akan pergi secepat itu.


Adira juga teringat akan Echa yang sudah menjadi anak yatim di usianya yang terbilang masih kecil dan belum tahu apa-apa.


Adira menatap Echa yang masih tertidur pulas di atas ranjang dengan wajah lucu dan polosnya.


Hati Adira semakin merasakan kesedihan yang mendalam.


Seketika itu juga, tangis Adira semakin meraung-raung dibuatnya.


“Amanda ... Amanda gimana keadaanya, Kak?” tanya Adira yang teringat akan Amanda.


“Dia masih koma dan belum ada perkembangan,” ucap Tristan yang sudah menangis sesenggukan.


Tristan juga masih tidak percaya bahwa Doni telah meninggalkannya untuk selamanya.


Tristan langsung membawa Adira ke dalam pelukannya. Mereka menangisi Doni yang sosoknya begitu membekas di hati mereka masing-masing.


Tristan teringat semua kebersamaannya dengan Doni yang masih jelas berputar di kepala.


Doni dan Amanda lah yang selalu ada dan membantu dirinya dalam misi pencarian Adira hingga Adira berhasil di temukan.


“Kenapa Doni pergi secepat ini. Dia yang udah bantuan aku buat nemuin kamu dan sekarang, setelah kamu ditemukan dan kamu udah pulang, dia malah ....” ucap Tristan sambil menangis dan tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi.


Adira langsung mengeratkan pelukannya kepada Tristan. Adira tidak bisa merasakan apa yang Tristan rasakan, tapi Adira bisa memahami perasaan suaminya sekarang ini.


“Kamu tahu? Doni adalah orang yang mengusahakan segala cara agar aku bisa bertemu kamu. Doni orang yang sangat berjasa untuk hubungan kita, Ra,” lanjut Tristan lagi yang ucapannya terbata karena sudah sesenggukan.


Di samping itu, banyak sekali kenangan yang berputar di kepala Tristan saat Doni belum resmi menjadi adik iparnya.


Saat dulu Doni masih berstatus menjadi sahabatnya, sahabat rasa saudara.


Kenangan lucu saat Doni melawak juga terngiang di kepala Tristan. Tidak ada satupun kenangan yang terlewat.


Otak Tristan seperti sedang memutar kaset masa lalu tentang kebersamaan dirinya dengan Doni.


“Ra, kamu masih ingat saat Doni minta kembali ke kahyangan?” tanya Tristan sambil berusaha tertawa di sela tangisnya.


Adira ikut tergelak dalam tangisnya. Adira mengangguk merasa mengingat perkataan Doni waktu itu.


Adira masih ingat sekali saat Doni mengatakannya waktu mereka liburan ke Anyer. Kemudian Adira berkata.


Keduanya tergelak bersamaan mengingat kenangannya bersama Doni.


Namun, di dalam tawa itu sangat terlihat jelas adanya kesedihan yang mendalam.


“Doni ....” lirih Tristan lagi memanggil nama sahabat sekaligus adik ipar yang selalu ada untuknya itu.


“Yayah? Napa?” ucap Echa yang berhasil menyadarkan kedua orang dewasa tersebut.


Adira dan Tristan segera menyeka air matanya agar tidak terlihat oleh Echa.


“Echa udah bangun ya?” tanya Adira berusaha mengalihkan pertanyaan yang Echa lontarkan.


“Dah... Nda, yayah?” tanya Echa lagi yang seakan sadar pertanyaannya sedang dialihkan.


“Echa sabar ya ... Bunda sama ayah urusannya belum selesai. Kalau udah selesai pasti mereka pulang buat ketemu sama Echa,” ucap Adira dengan nada suaranya yang terdengar bergetar.


Adira tidak mungkin menjelaskan semuanya kepada Echa yang masih kecil dan belum tahu apa-apa.


Suatu saat nanti, mungkin Echa akan memahami semuanya.


Adira memalingkan wajah untuk menyeka air matanya yang seakan tidak pernah lelah untuk mengalir.


Tujuannya agar Echa tidak mengetahui bahwa dirinya sedang menahan tangis.


Tristan yang tidak tahan melihat keponakannya yang sangat lugu dan lucu, dia memilih keluar dan ingin menumpahkan semua kesedihannya.


Sedangkan Adira, dia harus kuat agar bisa menjaga Echa dengan baik.


“Om Tan, napa?” tanya Echa yang penasaran melihat Tristan keluar dengan sedikit berlari.


“Oooh, mungkin ada telepon. Jadi om harus ngomong diluar,” ucap Adira sekenanya.


Adira juga berusaha mengukir senyumnya.


“Napa luar?” tanya Echa lagi. (Kenapa keluar?)


“Mungkin karena penting banget,” jawab Adira lagi sekenanya.


“Lau nting, hayus luar ya?” tanya Echa dengan polosnya. (Kalau penting, harus keluar ya?)


Adira mengangguk dan tersenyum tipis demi menjawab pertanyaan beruntun dari Echa.


Adira maklum saja, usia Echa memang sedang dalam masa pertumbuhan dan rasa keingintahuannya begitu tinggi. Jadilah seorang anak kecil suka bertanya-tanya.


Tapi Adira senang bila Echa banyak bertanya. Itu akan baik untuk perkembangan otak Echa.


Dengan Echa banyak bertanya, Adira bisa sedikit terhibur dengan pertanyaan absurd yang Echa lontarkan.


Adira mulai sadar bahwa jodoh, maut, dan rezeki sudah di atur sedemikian rupa oleh Allah SWT.


Allah SWT sudah menuliskan takdir yang pasti untuk setiap manusia yang hidup di bumi.


Semua sudah tercatat dengan rapi di Lauhul Mahfuz-Nya.


Kita tidak akan pernah tahu kapan jodoh akan datang menemui kita. Sesuatu yang selalu manusia tunggu-tunggu.


Tapi manusia lupa bahwa, selain jodoh ada juga maut yang kedatangannya sama sekali tidak ditunggu dan tidak diharapkan oleh semua manusia.


Kita tidak pernah tahu kapan maut akan datang menghampiri kita. Bisa jadi, maut akan datang lebih dahulu daripada jodoh kita.


Tugas kita adalah mempersiapkan segala sesuatunya untuk keperluan akhirat kelak.


Namun yang terkadang manusia lupa adalah, mereka begitu terlena dengan gemerlap dunia yang menyuguhkan kenyamanan sementara. Mereka lupa bahwa dunia ini fana.


Karena kehidupan yang sebenarnya akan dimulai setelah kita mati dan meninggalkan dunia untuk selamanya.


Di sana, amal kita akan ditimbang untuk menentukan ke mana kita akan di masukkan, ke neraka atau ke dalam surga.


Tergantung amal ibadah kita.


Jika amal baik kita lebih banyak jumlahnya dari amal buruk kita, maka bisa jadi kita masuk surga.


Namun sebaliknya, jika amal buruk lebih banyak daripada amal baik, kita akan masuk ke dalam neraka. Suatu tempat yang sama sekali tidak ingin manusia kunjungi setelah tiada nanti.